Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
Lemin - 062


__ADS_3

"Selamat pagi, Verda!"


Sapaan Ican yang secerah mentari pagi menyambut kedatangan Verda. Verda meletakkan tas kerjanya di atas meja lalu menghempaskan bokongnya ke atas kursi.


"Verda, siang ini makan ayam geprek di Kedai Bang Jali, lagi ada promo grand opening, beli satu gratis satu!" kata Ican.


"Benarkah?" tanya Verda sambil mengamati riasannya di depan cermin saku berbentuk kepala hello kitty.


"Kalau memang tidak diskon, tidak apa-apa, nanti aku yang traktir," kata Ican.


"Icaan! Kok cuma Verda yang ditraktir?" Nita menyahut dari kubikelnya.


"Wah, pelanggaran ini! Emak-emak di sini butuh makan juga, Can!" Teti menimpali dari kubikelnya.


Ican terkesiap, padahal tadinya ia pikir kedua emak-emak itu belum datang.


"Ahaha, oke, oke! Kita pergi jam 12 teng!" sahut Ican mengalah.


Padahal Ican sungguh berharap bisa makan siang berdua Verda saja. Nita memberi kode ke arah Ican, menunjuk ke arah pantri. Ican segera menuju ke sana.


Di pantri, Nita dan Teti langsung menghampiri Ican.


"Can, nanti pas pergi, kita beda tujuan kok, biar kau dan Verda bisa berduaan," kata Nita.


"Serius?" Ican terperangah.


"Bercanda," sahut Teti.


"Yee, kalian bagaimana sih," keluh Ican.


Teti kembali terkekeh.


"Can, kita kan teman. Kita dukung kalau kau memang seriusan dengan Verda," kata Teti.


"Eh, serius kalian dukung aku?" tanya Ican.


"Hei, ini lampu hijau dari kami, jadi harus kau manfaatkan sebaik-baiknya," sahut Nita.


"Bagaimana, Ved, apa kau setuju mendukung Ican dan Verda?" tanya Teti


Teti melemparkan pertanyaan pada Vedra yang sedari tadi menunggu di depan microwave, mendidihkan air panas untuk membuat secangkir kopi.


"Ved?" tanya Teti.


Vedra mengeluarkan cangkir berisi air panas dari microwave, lalu menuangkan satu sachet kopi hitam instan ke dalam cangkirnya.


"Terserah," sahut Vedra dingin.


"Yah, kau ini sesama teman harus saling mendukung," ucap Nita.


"Tidak asyik kau, Ved," gerutu Ican.


Vedra segera keluar dari pantri. Entah mengapa ia merasa kesal mendengar obrolan rekan-rekan kerjanya.


Mendukung Verda dan Ican? Huh, yang benar saja! Batinnya.


Ia segera memasuki ruang kerjanya, sekilas ia melihat Verda yang terlihat sibuk berkutat di meja kerjanya.


...*****...


"Verda, lima belas menit lagi kita pergi," kata Ican dari kubikelnya.


"Ya," sahut Verda.


Entah mengapa Ican persis seperti alarm di ponsel yang mengingatkannya setiap lima belas menit sekali.

__ADS_1


Verda segera menyelesaikan laporan yang diminta oleh Vedra sebelum jam makan siang.


"Oke, sudah selesai," gumam Verda segera menuju ke mesin fotocopy.


Menunggu hasil cetak laporan yang dikerjakannya sedari pagi. Begitu semua dokumen sudah selesai dicetak, ia segera menuju ke ruangan Vedra.


Tok..Tok..


"Ved," Verda memasuki ruang kerja Vedra.


"Ini laporan yang kau minta." 


Diletakkannya laporan itu di atas meja kerja Vedra, kemudian ia segera pergi.


Vedra mengambil laporan yang dibuat Verda, memeriksa laporan itu dengan cermat. 


"Kenapa ada selisih?" gumam Vedra.


Kring..


Telepon di meja kerja Verda berdering. Verda mendelik gusar, rasanya malas untuk menjawab telepon saat memasuki jam istirahat.


"Verda, ayo kita pergi," ajak Teti.


"Oke," sahut Verda memilih mengabaikan telepon yang masih berdering.


Verda pun segera meninggalkan kantor bersama ketiga rekannya.


Merasa teleponnya tidak dijawab oleh Verda, Vedra pun keluar dari ruangannya. Mengedarkan pandangannya ke meja kerja karyawan yang sudah mulai kosong. Salah seorang pegawai terlihat masih berada dikubikelnya.


"Ali, Verda ke mana ya?" tanya Vedra pada Ali.


"Oh, Mbak Verda sudah istirahat," jawab Ali.


"Istirahat?" Vedra mengerutkan keningnya sambil menatap sekilas jam tangannya.


"Ck," Vedra berdecak kesal.


Vedra mengirimkan pesan pada Verda.


Verda, laporanmu ada selisih, tolong segera kembali usai makan siang.


...*****...


Pukul tiga sore, rombongan Verda baru kembali dari istirahat makan siang. Verda segera duduk di kursinya sambil mematut diri di depan cermin saku hello kitty. Ia menyisir rambutnya dan menyemprotkan kembali parfum beraroma maskulin lantaran merasa tubuhnya beraroma terbakar matahari.


Kedai ayam geprek Bang Jali sungguh dipadati pengunjung yang tergiur promo grand opening. Pengunjung yang membludak menyebabkan antrian yang mengular naga. Belum lagi ditambah jalan yang macet akibat rush hour. 


Kring..


Telepon di meja kerja Verda berdering, ia segera menjawabnya.


"Siang, Verda."


"Verda, ke ruanganku sekarang."


Tut..tut..


Verda menoleh ke ruangan Vedra. 


"Ada apa sih?" gumam Verda.


Verda memasuki ruang kerja Vedra, disusul Ican, Nita, dan Teti. Vedra masih duduk tenang di kursinya sementara keempat rekan kerjanya terlihat diam. 


"Teman-teman, sebenarnya istirahat siang itu dari pukul dua belas hingga pukul satu siang, atau dari pukul dua belas hingga pukul tiga sore?" tanya Vedra.

__ADS_1


Pertanyaan to the point yang langsung membuat keempat manusia di hadapan Vedra saling melemparkan pandangan.


"Maaf, Ved, tadi tempat makannya antriannya macam antre pembagian sembako dari pemerintah, belum lagi, jalanan juga macet," jawab Nita.


"Iya, Ved, mana tadi taksi daringnya salah jalan gara-gara menghindari macet, eh malah terjebak macet," sambung Teti.


Vedra melemparkan tatapan skeptis.


"Memangnya apa yang kalian makan, sampai kalian mau mengantri seperti itu?" tanya Vedra.


"Ayam geprek Bang Jali, lagi grand opening, Ved," jawab Ican.


"Memangnya di sekitar sini tidak ada penjual ayam geprek?" tanya Vedra.


"Ada, tapi bukan Bang Jali, Ved," sahut Verda.


"Tapi ada kan yang lebih dekat?" tanya Vedra lagi. "Yang aku tegaskan di sini, untuk apa cari makan jauh-jauh kalau yang dekat ada. Tidak perlu buang-buang waktu. Sudah buang-buang waktu, pekerjaan jadi terbengkalai," kata Vedra.


"Tapi, ini kan sekali-sekali, Ved, tidak tiap hari," Ican menyanggah.


"Sekali-sekali? Memangnya kemarin-kemarin kalian on time kembali ke meja kerja?" tanya Vedra.


Vedra melipat tangannya di depan dada, sikapnya persis seperti guru yang sedang menyidang murid yang bandel.


"Ved, aku bahkan bekerja sampai malam untuk mengganti waktu yang terpakai," ucap Verda.


"Bekerja sampai malam lalu mengajukan permohonan lembur! Sungguh tidak etis sekali," sergah Vedra.


"Aku tidak akan mengajukan permohonan lembur!" kata Verda.


"Tidak mengajukan permohonan lembur, tapi ujung-ujungnya mengeluh dan merasa bahwa perusahaan seakan tidak peduli pada karyawannya!" tukas Vedra lagi.


Verda tertegun begitu pula Ican, Nita, dan Teti.


"Daripada buang-buang waktu, lebih baik mulai besok, tunjangan uang makan tidak perlu dicairkan! Lebih baik mulai menggunakan jasa katering saja, jadi tidak ada alasan lagi untuk keluyuran cari makan siang!" kata Vedra.


"Loh, Ved! Mana bisa begitu!" sergah Nita dan Teti.


"Ini sudah menjadi wewenangku! Aku yang punya kuasa di sini! Silakan ikuti atau pergi, itu saja pilihan yang bisa kutawarkan! Sekarang kalian bisa kembali bekerja," tukas Vedra.


Verda mendelik gusar melihat sikap bossy yang ditunjukkan oleh Vedra.


"Verda, tolong tetap di sini sebentar," kata Vedra.


Verda menatap malas ke arah Vedra.


"Ini laporan yang kau buat ada selisih. Laporanmu ini sudah diminta pihak pusat jam dua siang ini, tapi sekarang sudah lewat dari jam tiga. Apa kau tahu artinya?" tanya Vedra.


Verda tidak menjawab.


"Verda, tolong bekerja lebih baik lagi," kata Vedra.


Verda mendelik gusar, saat ini ia merasa malu dan sungkan lantaran hasil kerjanya yang sepertinya dianggap tidak becus oleh Vedra.


"Kembalilah bekerja," tukas Vedra.


Verda segera pergi tanpa mengatakan apa pun, ia segera kembali ke meja kerjanya.


"Huh! Dasar kau, Can! Ini gara-gara kau mengajak makan ayam geprek jauh-jauh!" keluh Nita.


"Sudah jauh, rasanya biasa banget, pulang-pulang kena labrak Ved! Hihh!" gerutu Teti.


"Yee, mana aku tahu, di iklannya sih gembar-gembor begitu!" cibir Ican.


Verda terdiam, tenggelam dalam rasa kesal yang berkecamuk dalam dadanya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2