
"Selamat pagi, Verda!"
Ican menyapa Verda yang baru saja datang dan langsung duduk di meja kerjanya.
"Pagi, Can," sahut Verda tanpa semangat.
"Verda, kau lagi sakit ya? Mukamu kenapa merah begitu?" tanya Ican.
"Hah? Mukaku kenapa?" tanya Verda.
"Coba sini kupegang jidatmu, jangan-jangan kau demam!" Ican menyodorkan tangannya ke arah Verda.
Vedra yang sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam dus untuk dibawa ke ruangan barunya langsung melirik tajam ke arah Verda dan juga Ican.
Verda menunduk lalu mengambil cermin saku berbentuk kepala hello kitty dari dalam tasnya. Ia segera mengamati wajahnya.
"Oh, astaga, aku memakai blush on terlalu merah! Ahaha," Verda tertawa.
"Oh, ya ampun! Kok bisa kau memakai blush on terlalu merah?" tanya Ican.
Verda mengambil bedak dari dalam pouch make upnya. Ia segera memulaskan bedak agar menetralkan warna blush on yang terlalu tebal di kedua pipinya.
Aduh, blush on-ku benar-benar terlalu merah! Batin Verda sambil mencuri pandang ke arah Vedra.
Vedra sebenarnya menyadari bahwa ada yang salah dengan riasan Verda, namun ia terlalu takut untuk menatap Verda. Ia benar-benar merasa malu karena sudah bersikap lepas kontrol seperti itu.
Verda berhak marah padanya, mendiamkannya seperti ini. Ia sudah begitu lancang melakukan hal yang sungguh memalukan baginya. Birahi membuatnya meluapkan gairahnya. Gairah pria kesepian yang membutuhkan belaian dari wanita.
Vedra segera membawa barang-barangnya ke dalam ruangan kerjanya yang baru. Semua mata mengikuti langkahnya, kecuali Verda yang masih berkutat dengan warna perona pipinya yang terlalu merah.
"Aduh! Kenapa malah jadi seperti memakai topeng begini? Apa sebaiknya kuhapus saja ya riasanku dan kuulangi saja?" keluh Verda.
Dengan tergesa-gesa, Verda membawa pouch make up-nya menuju ke toilet. Terdapat dua bilik di dalam toilet tersebut, sehingga bukan hal yang aneh jika melihat ada karyawan pria yang keluar dari bilik khusus pria.
Di hadapan cermin lebar di depan wastafel, ia segera menghapus riasannya yang membuat wajahnya seakan memakai topeng.
Verda mencuci wajahnya dengan sabun lembut dan membilasnya dengan air bersih.
Pintu toilet terbuka, kepala Teti muncul di celah pintu.
"Verda, kau dicari Ved!" Teti mengabari Verda.
"Oh, oke," sahut Verda.
Verda mengeringkan wajahnya dengan tisu lembut. Bertanya-tanya mengapa Vedra memanggilnya.
Verda menyapukan kembali rangkaian perawatan kulitnya. Mulai dari toner, pelembab, serum, krim siang, hingga tabir surya.
Ican memasuki toilet, matanya langsung tertuju pada Verda.
__ADS_1
"'Wah, Verda," Ican terpana memandangi cermin yang memantulkan bayangan Verda.
"Apa sih, Can?" tanya Verda.
"Aku sungguh terpesona melihat wajah tanpa riasanmu," sahut Ican. "Kau sungguh terlihat lebih cantik tanpa riasan."
"Aku jadi tidak sabar untuk melihatmu setiap pagi saat kau bangun di sampingku!" lanjut Ican.
"Mulutmu, Can!" Verda terkekeh.
"Verda!" Teti kembali muncul dari celah pintu. "Ya elah, ini orang, malah pacaran di sini!"
"Siapa yang pacaran sih, Tet? haha," Verda terkekeh.
"Buruan, dicari Vedra tuh, Vedra sampai menunggu di mejamu," sahut Teti.
"Ya, ya, sebentar," sahut Verda.
Verda segera keluar dari kamar mandi dan langsung memasuki ruangan kerja Vedra tanpa permisi.
"Ada apa, Ved?" tanya Verda.
Alis Vedra berkerut, melihat Verda yang langsung nyelonong seperti itu. Vedra berusaha untuk bersikap profesional, meski saat ini ia sedang berdebar tak karuan lantaran kembali mengingat kejadian erotis yang sudah ia lakukan terhadap Verda. Namun sebisa mungkin ia menyembunyikannya demi profesionalitas.
"Verda, lain kali, ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan ini," kata Vedra.
"Oh, maaf, kalau begitu, akan kuulangi lagi," ucap Verda.
Vedra mengeluarkan daftar pekerjaan yang harus diambil alih oleh Verda.
"Verda, aku lupa menyampaikan, ada beberapa laporan yang kukerjakan di luar SOP, setiap bulan Pak Handoko memintaku untuk membuat laporan tersebut dan mengirimkannya langsung ke pusat," Vedra menjelaskan. "Sehingga tugas ini harus kau ambil alih."
"A-apa?" Verda terperangah.
Ia melemparkan tatapan skeptis ke arah Vedra.
"Ved, pekerjaanku sendiri sudah banyak, ditambah dengan pekerjaanmu jelas membuatku overload, Ved!" keluh Verda.
"Verda, aku sudah mengajukan permohonan penambahan karyawan yang bisa membantumu, namun untuk sementara ini, tolong kau kerjakan sambil menunggu karyawan itu datang," Vedra menjelaskan.
"Ved! Kau mau aku pulang pagi ya?!" Verda melotot ke arah Vedra.
"Apa kau tahu, berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh kantor pusat untuk mengirimkan karyawan supaya menjadi rekan kerjaku? Setelah satu tahun, barulah mereka mendatangkan dirimu!" tandas Verda.
"Setiap hari aku terpaksa lembur sampai jam sepuluh malam! Bengek aku, Ved!"
Vedra mengerutkan keningnya.
"Verda, aku rasa jika jam kerjamu dipakai secara efektif, menurutku kau tidak perlu pulang sampai jam sepuluh malam," tukas Vedra.
__ADS_1
"Sarapan pagi dan bergosip dari jam delapan hingga jam sembilan, istirahat siang dari jam dua belas hingga jam dua siang, camilan sore jam empat hingga setengah lima sore. Dua setengah jam setiap hari dikalikan lima hari kerja, sudah dua belas jam tiga puluh menit terbuang cuma-cuma," Vedra menjelaskan.
"Ya ampun, Ved, kau sampai tahu sedetail itu?!" Verda terperangah.
"Verda, aku bukan orang yang baru bertemu denganmu kemarin sore," kata Vedra.
"Mulailah menggunakan jam kerja seefektif mungkin. Sehingga kau bisa punya banyak waktu untuk bersantai di rumah sambil menyaksikan Jehun," lanjut Vedra dengan suara yang rendah.
"Toh, di rumah kau tidak melakukan pekerjaan apa pun," Vedra merendahkan lagi suaranya, nyaris berbisik.
"Tidak melakukan pekerjaan apa pun?" tanya Verda dengan suara meninggi.
Vedra mengacungkan telunjuk ke depan bibirnya, memberi kode agar Verda bisa mengkondisikan suaranya.
"Aku mendukung Fancy, perang menghadapi para haters Fancy sampai dini hari, kau bilang tidak melakukan pekerjaan apa pun?" Verda mencecar Vedra dengan berbisik.
Vedra memutar bola matanya.
"Verda, tolong bersikap profesional, jika kau memang masih ingin terus bekerja," kata Vedra dengan tegas.
"A-apa?" Verda terperangah.
"Kembalilah bekerja dan jangan buang-buang waktu," lanjut Vedra.
Verda terperangah mendengar pria itu memberinya ultimatum.
Tok.. Tok..
Nita mengetuk pintu ruangan Vedra yang terbuka.
"Permisi, Ved, ini dokumen penawaran dari PT Dwida," Nita menyerahkan sebuah map ke meja kerja Vedra.
"Terima kasih, sebentar saya periksa," kata Vedra.
Nita segera keluar dari ruangan kerja Vedra. Verda mendengus kesal ke arah Vedra. Ia segera beranjak dari kursi, ia bergegas menuju ke pintu.
"Verda, tunggu," cegah Vedra.
"Ada apa lagi? Kau mau mengataiku tidak becus bekerja?" tanya Verda.
"Tidak," jawab Vedra.
Vedra menghampiri Verda. Entah mengapa Verda jadi merasa deg-degan karena pria itu berdiri di hadapannya. Menatapnya dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan. Selama beberapa detik mereka saling berpandangan. Hal itu membuat Verda jadi teringat betapa erotisnya hal yang mereka lakukan bersama.
"Kau melupakan daftar pekerjaan ini," Vedra menyerahkan dokumen yang ditinggal Verda.
"Oh, ya," sahut Verda kikuk.
Verda keluar dari ruangan kerja Vedra dengan jantung yang bergemuruh.
__ADS_1
Sial, aku kenapa sih?! Kok begini amat sama Ved! keluh Verda dalam hatinya.
...*****...