
Verda memasuki ruang keluarga, atmosfer di ruangan tersebut benar-benar menyesakkan. Verda duduk di samping Vedra yang terlihat menunduk sambil menautkan semua jarinya. Sementara itu Abim terlihat memasang senyum penuh kemenangan yang tak bisa disembunyikannya.
"Verda, Ayah sudah memutuskan bahwa, Ayah akan mengadakan kompetisi yang jujur dan adil kepada mereka berdua," kata Pak Daus.
"Kompetisi? Apa maksud Ayah?" tanya Verda.
"Ya, karena pria itu merasa lebih layak untuk mendampingimu dibandingkan dengan Abim. Ayah tentu harus tahu, apa yang membuat pria itu merasa lebih unggul dari Abim. Padahal sudah jelas menurut Ayah, Abim jauh lebih unggul dalam semua hal daripada pria itu," Pak Daus menunjuk Vedra dengan dagunya.
"A-Ayah!" sergah Verda.
"Bagaimana menurutmu, Abim?" Pak Daus melemparkan pertanyaan ke Abim.
Abim menyeringai, ia sudah bisa merasakan hawa angin kemenangan yang menyejukkan hatinya.
"Pak Daus, saya rasa sungguh tidak masalah jika Anda memutuskan seperti ini. Asalkan dengan catatan bahwa kompetisi ini dilakukan secara jujur dan seadil-adilnya, dan bagi pihak yang kalah tentu harus sadar diri dan mau menerima konsekuensinya," jawab Abim dengan nada menantang.
"Kau sungguh tidak masalah kan?" Pak Daus beralih pada Vedra.
Vedra menatap ke arah Verda yang terlihat luar biasa cemas.
"Hm, ya, saya terserah saja," jawab Vedra.
"Ved!" Verda melotot ke arah Vedra.
"Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa kompetisi ini bukan untuk memperebutkan Verda. Verda bukanlah komoditas. Kompetisi ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi yang saya miliki!" Vedra menegaskan.
Pak Daus terkejut mendengar perkataan Vedra. Sungguh di luar ekspektasi Pak Daus. Padahal Pak Daus berpikir bahwa pria itu akan berkoar-koar heboh memproklamirkan perjuangannya demi Verda.
Ekspresi Abim mengeras, pria itu sungguh memprovokasinya, menantang harga dirinya.
"Wah, kau sungguh pria yang menarik!" Abim bertepuk tangan menyembunyikan rasa kesalnya.
"Baiklah, saya sungguh menantikan kekalahanmu, wahai pria bermulut besar!" lanjut Abim.
...*****...
Gemericik air mengalir dari miniatur air terjun yang menjadi dekorasi kolam ikan peliharaan ayah Verda adalah tempat yang paling menarik perhatian Vedra ketika berada di kediaman orang tua Verda, bukan bangunan bergaya modern dan minimalis macam istana, ataupun interior dan perabot mewah yang mengisi rumah tersebut.
Vedra duduk menyendiri di gazebo sambil berpikir, berapa estimasi biaya yang dihabiskannya jika ia ingin memiliki kolam ikan seperti ini di pekarangan rumahnya, mengingat ia masih memiliki sisa tanah yang bisa dimanfaatkan.
"Ved!"
Verda menghampiri Vedra dan langsung memeluk pria itu begitu erat. Tiba-tiba Verda menangis dalam pelukannya.
"Verda, ada apa?" tanya Vedra.
"Hiks, Ved! Apa kau benar-benar bodoh? Atau sudah gila? Bagaimana kau bisa dengan mudah menerima kompetisi tanpa memikirkan konsekuensinya?" tanya Verda.
__ADS_1
"Kau pasti tahu kan, konsekuensi yang harus kau terima jika kau sampai kalah?"
Verda menatap Vedra yang nampak mengerutkan alisnya.
"Apa kau benar-benar ingin menyerahkanku kepada Abim secara cuma-cuma?!"
Verda masih mencecar Vedra dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat pria itu seakan kehilangan kemampuan untuk menjawab.
"Vedra!" Verda mengguncang bahu Vedra dengan keras.
Vedra mengusap air mata yang membasahi pipi Verda.
"Verda, berapa kali harus kukatakan padamu bahwa aku bersedia mengikuti kompetisi ini bukan untuk memperebutkanmu. Kau bukan barang komoditas. Ini menyangkut harga diriku, Verda. Harga diri sebagai seorang pria sejati," Vedra berusaha menjelaskan.
"Dan kupastikan aku tidak akan kalah semudah itu," lanjut Vedra.
Vedra mengambil bibir Verda dan mengecupnya sekilas.
"Jadi, jangan terlalu mencemaskanku, cemaskan saja ayahmu, pastikan beliau menyiapkan materi kompetisi yang benar-benar jujur dan seadil-adilnya. Jangan sampai karena beliau berpihak pada Abim, lantas beliau membocorkan materi kompetisi kepada jagoannya," ucap Vedra.
"Sepertinya aku harus meminta jaminan kepada ayahku," kata Verda.
"Jaminan untuk apa?" tanya Vedra.
"Jaminan untuk memastikan bahwa ayahku akan bersikap netral dan tidak memihak kepada siapapun," jawab Verda.
Verda mengulas senyumnya, lalu kembali mengambil bibir Vedra. Mereka kembali saling menyesap rasa manis yang begitu menggelora.
"Ehem, Kak Verda!"
Vivie berdeham, namun rupanya kakaknya sama sekali tidak peduli. Masih tetap asyik berciuman sambil rebahan.
"Kak Verda!" seru Vivie.
Verda terkesiap, ia segera bangkit dari tubuh Vedra dan langsung menyeringai. Sementara itu, Vedra terlihat langsung membuang wajahnya, merasa sungkan karena kepergok seperti ini.
"Ih, ada apa sih, Vie? Ganggu saja," cibir Verda.
"Kak, pindah ke kamar deh, jangan di sini!" gerutu Vivie.
Verda melepaskan cengiran kuda.
"Tapi sebelum itu, segera temui ayah!" lanjut Vivie.
...*****...
"Verda, Ayah ingin membicarakan masalah kompetisi ini," kata Pak Daus.
__ADS_1
"Ya, aku juga ingin membicarakan masalah tersebut, Ayah," sahut Verda.
Pak Daus melemparkan tatapan tak bersahabat pada Vedra yang duduk di samping Verda.
"Aku setuju dengan kompetisi tersebut dan berusaha untuk tidak menentangnya, hanya saja, Ayah harus menjamin bahwa kompetisi ini benar-benar dilakukan secara jujur dan adil. Ayah tentu tidak boleh memihak Abim," kata Verda.
"Ya, dan kamu juga tentu tidak boleh memihak pria itu," sahut Pak Daus.
Verda memandangi Vedra yang mengangguk pelan.
"Ya, aku tidak akan berpihak pada siapapun agar netralitas ini dapat terjaga," ucap Verda.
"Oleh karena itu, untuk sementara ini, Ayah meminta padamu untuk tidak tinggal bersama pria itu," Pak Daus kembali menunjuk dengan dagunya.
"Ayah, kenapa aku tidak boleh tinggal bersama suamiku?" tanya Verda.
"Tentu saja untuk menjaga netralitas," sahut Pak Daus. "Kalau kalian selalu bersama, otomatis kalian tentu tidak bisa menjaga netralitas, bisa jadi kalian merencanakan sesuatu yang membuat kompetisi ini jadi tidak jujur dan adil lagi."
Verda mendelik gusar, entah apa yang saat ini sedang direncanakan oleh ayahnya.
"Verda, ikuti saja apa yang ayahmu inginkan," Bu Eva yang sedari tadi diam mengawasi akhirnya angkat suara.
Vedra mengangguk pelan ke arah Verda, menyetujui apa yang disampaikan oleh Bu Eva.
"Sampai kapan Ayah berencana memisahkanku dari suamiku?" tanya Verda.
"'Sampai kompetisinya selesai," jawab Pak Daus.
"Memangnya kapan kompetisinya akan diselenggarakan?" tanya Verda lagi.
"Masih harus menunggu jadwal Abim dulu, kamu pasti tahu kan betapa sibuknya Abim, tidak seperti model lepas yang punya banyak waktu kosong," sindir Pak Daus.
Verda dan Vedra kembali saling menatap, Vedra mengangguk pelan, mengisyaratkan bahwa ia menerima semua peraturan yang ditetapkan oleh orang tua Verda.
"Satu hal lagi yang perlu saya sampaikan, kalian tidak boleh saling bekerja sama, jika sampai saya tahu kalian melanggar peraturan yang telah ditetapkan, maka saya berhak mendiskualifikasimu dari kompetisi. Dan itu artinya, kau harus berbesar hati untuk melepaskan Verda," pungkas Pak Daus.
"Baik, saya mengerti," jawab Vedra. "Kalau begitu saya permisi," kata Vedra pamit undur diri.
Vedra beranjak dari sofa dan bergegas pergi, Verda segera mengikuti langkahnya.
"Ved," kata Verda.
"Tidak apa-apa, Verda, ini hanya sementara kan," ucap Vedra.
Verda memeluk kembali Vedra, tak ingin berpisah dari Vedra.
Vedra mengecup kening Verda sebelum meninggalkannya.
__ADS_1
...*****...