
Ada dua hal yang selalu dilakukan oleh Vedra ketika memasuki awal bulan, terlebih setelah gaji masuk ke rekeningnya.
Yang pertama adalah memeriksa semua keperluan yang ada di rumahnya. Memeriksa kebutuhan dapur menjadi salah satu tugas yang sangat penting. Melihat apakah stok makanan yang disiapkannya sudah habis ataukah masih ada yang tersisa.
"Beras, minyak goreng, gula, garam, gas, habis," gumam pria itu sambil mencatat di kertas memo berwarna kuning.
"Bawang merah, bawang putih, bawang bombay, habis," lanjutnya.
Ia membuka lemari es, memandangi rak pembeku yang kosong.
"Ayam, daging, ikan, habis," gumamnya lagi.
Setelah memeriksa semua kebutuhan dapur, pria itu pun mulai melanjutkan hal kedua yakni membuat anggaran belanja dapur.
Pria itu dengan cekatan menuliskan semua hal yang harus dibelinya untuk membuat anggaran belanja dapur selama satu bulan. Selain kebutuhan dapur, ia juga harus membuat anggaran pembelian sabun-sabunan.
Kemudian ditambahkan dengan seluruh pengeluaran akrual seperti kredit mobil, cicilan tanah, bahan bangunan rumah, cicilan pembangunan rumah, cicilan ponsel, kuota internet, pembayaran air, hingga listrik.
"Hmm, sepertinya pemakaian listrik akhir-akhir ini melonjak karena pemakaian AC," gumam Vedra.
Ya, selama ada Verda, AC yang biasa hanya dinyalakan oleh Vedra ketika hari benar-benar sangat terasa panas, kini harus menyala terus.
"Apa kami harus patungan membayar listrik?" gumam Vedra. "Tidak, tidak, ini rumahku, sudah menjadi tanggung jawabku."
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang dan Verda masih belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidurnya. Sungguh berbeda dengan Vedra yang justru tidak pernah bangun terlalu siang. Ia lebih suka bangun pagi dan melakukan banyak aktivitas seperti berolahraga pagi, dilanjutkan dengan mencuci dan menjemur pakaian, menyetrika pakaiannya, hingga memasak. Kegiatan seperti itulah yang biasa ia lakukan pada hari Minggu.
Ponsel Vedra berdering, Ibunya meneleponnya.
"Iya, halo Bu," jawab Vedra.
"Ved, kamu ini, sama sekali tidak ada memberi kabar orang tuamu!" cecar Ibunya di seberang sana.
"Maaf Bu, akhir-akhir ini aku benar-benar sedang sibuk," Vedra meminta maaf.
"Kamu itu ya, mentang-mentang sudag menikah, lantas apa kau bermaksud melupakan orang tuamu?" tanya Ibunya dengan nada ngegas.
"Maaf Bu, sungguh, begitu selesai cuti, pekerjaanku langsung menumpuk, dan harus segera kuselesaikan," jawab Vedra.
"Halah, alasan! Bilang saja kamu sibuk menggarap ladang istrimu!" cecar Bu Fadlun.
Vedra menghela napas berat.
"Ved, mulai bulan ini, Ibu ikut arisan lima jutaan, kamu langsung transfer ke Reni saja, dia yang kelola arisannya!" kata Bu Fadlun.
"Apa? Lima juta?" tanya Vedra tertahan. "Arisan apa itu, Bu?"
"Ya pokoknya arisan! Ibu sudah sampaikan ke Reni, kamu yang bayar! Segera kirimkan uangnya, sebentar akan digoncang!" sahut Bu Fadlun sebelum menutup teleponnya.
Vedra memijat kepalanya, ada anggaran lain yang tiba-tiba mendadak muncul di luar prediksinya. Lima juta setara dengan anggaran untuk membayar cicilan mobil, tanah, dan pembangunan rumahnya.
__ADS_1
Meski bulan depan ia bisa menerima gaji dengan posisi sebagai manajer cabang, hanya saja bagaimana ia bisa melalui bulan ini?
Sementara itu, Bu Fadlun tersenyum-senyum bersama Reni.
"Acil, lima juta itu terlalu sedikit, harusnya Acil minta lebih banyak lagi, dengan begitu uang Vedra tidak akan dikuasai oleh istrinya!" kata Reni.
"Yah, sudah terlanjur Ren, bulan depan saja minta lebihnya," sahut Bu Fadlun.
"Iya Cil, pokoknya jangan kasih napas itu istrinya Ved!" tukas Reni.
...*****...
"Promo hari ini, minyak goreng dua liter merek Kunci Perak diskon dua puluh persen! Harga beras cap Mangga Muda kemasan lima kilogram diskon sepuluh persen!"
Seorang pegawai toserba berkoar-koar heboh dengan memakai pengeras suara. Pegawai itu bertugas menginformasikan barang-barang yang sedang mendapatkan harga spesial. Tugas yang sederhana namun mengundang banyak pengunjung untuk menyerbu toserba tersebut.
Vedra menjadi salah satu dari sekian banyak pengunjung yang datang ke toserba. Ia mengambil troli dan dengan gesit berlomba untuk mengincar barang-barang kebutuhan pokok yang sedang diskon.
Untuk kebutuhan pokok Vedra tidak memuja merek dagang tertentu. Misalnya harus minyak goreng dengan tiga kali penyaringan, gula pasir premium merek nyonya cantik, atau pun kecap manis yang kedelai hitamnya dirawat seperti anak sendiri. Selama barang itu sedang diskon, itu sudah lebih dari cukup.
Begitu memasuki rak deterjen, Vedra dengan gesit mengambil dua bungkus terakhir deterjen cair.
"Tunggu, anak muda!" seru seorang ibu-ibu dengan gesit menahan tangan Vedra.
"Ada apa, Bu?" tanya Vedra.
Vedra menahan dua bungkus deterjen itu dengan gerakan defensif.
"Tidak bisa Bu, saya yang lebih dulu mendapatkannya!" tolak Vedra.
"'Mengalahlah anak muda!" desak si Ibu.
"Mengalah? Maaf Bu, saya tidak bisa mengalah untuk deterjen yang sedang diskon tiga puluh persen dengan bonus pelembut pakaian!" sergah Vedra.
"Dasar kau anak muda, tidak mau kurang lebih!" suara ibu itu meninggi dua oktaf.
Semua pembeli menoleh ke arah mereka.
"Maaf Bu, bukannya saya tidak mau kurang lebih! Toh memang saya yang lebih dulu mendapatkan deterjen ini! Lagipula saya bayar pakai uang saya sendiri! Jadi saya rasa tidak akan merugikan siapa pun!" sahut Vedra langsung memasukkan dua bungkus deterjen itu ke dalam troli.
Vedra segera pergi meninggalkan si ibu yang terlihat keki sendiri.
Bodoh amat! Bodoh amat! gerutu Vedra.
Vedra kembali melanjutkan petualangannya menyusuri rak-rak itu. Ia jadi teringat saat pergi belanja bersama Silvia. Silvia yang tinggal di mess karyawan dan kerap mendapat titipan belanja bulanan membuat Vedra terkadang menemani Silvia untuk belanja.
"Untuk barang-barang yang habis dipakai lebih baik beli yang diskon saja, Ved," begitulah prinsip Silvia.
Kemudian mereka berpencar, menjadi pemburu barang-barang diskon. Saling pamer saat berhasil mendapat barang-barang tersebut.
__ADS_1
Silvia jelas merupakan sosok wanita yang diidamkan oleh Vedra. Silvia yang cantik, sederhana, bijaksana dalam mengatur dan mengelola keuangan.
Melihat sosok Silvia yang begitu teliti saat membeli barang selalu membuat Vedra mengulas senyumnya.
Silvia memakai baju berwarna biru muda, mendorong troli, dan memilih kecap manis dari rak.
"Vedra."
Suara Silvia memanggil nama Vedra.
Ya ampun, apa aku sedang berimajinasi? Batin Vedra.
"Silvia!"
Sosok seorang wanita yang memanggil nama Silvia membuat Vedra tersadar bahwa sosok Silvia sungguh nyata, bukan hanya dalam khayalannya saja.
Wanita itu menoleh ke arah Vedra yang terpaku.
"Hih, laki-laki ini lagi!" ceplos wanita itu. "Ayo, Silvia, kita pergi, tidak usah rebutan barang sama laki-laki itu, jadi laki-laki tidak kurang lebih betul!" sengit wanita itu sambil mengajak Silvia pergi.
"Silvia, tunggu...," sergah Vedra.
"'Mbak Ratih, ayo kita pergi," ajak Silvia.
"Silvia tunggu, kita harus bicara!" seru Vedra.
Silvia segera pergi bersama wanita bernama Ratih itu.
"Silvia, kamu kenal laki-laki itu?" tanya Ratih.
"Iya, Mbak," jawab Silvia.
Ratih masih melihat pria itu memanggil nama Silvia berkali-kali.
"'Mantanmu ya?" tebak Ratih.
Silvia mengangguk pelan.
"Kamu mau bicara sama dia?" tanya Ratih.
"Sudah tidak ada yang perlu kami bicarakan lagi, Mbak," jawab Silvia.
Vedra menghela napasnya, tidak peduli berapa banyak mata yang melihat ke arahnya. Silvia sudah menghilang dari pandangan bersama wanita yang tadi saling berebut deterjen dengannya.
Sial! Vedra mengumpat dalam hatinya.
Lagi-lagi ia kehilangan jejak Silvia.
...*****...
__ADS_1