Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 053


__ADS_3

"Verda, tolong setelah mandi handuknya dijemur, jangan dibiarkan di atas tempat tidur seperti ini," tukas Vedra.


Verda yang saat ini sedang sibuk memakai rangkaian perawatan kulitnya nampak mengabaikan Vedra. Vedra mendelik gusar, sudah berkali-kali ia mengingatkan hal tersebut, namun sepertinya Verda sama sekali tidak menggubrisnya.


"Verda," kata Vedra yang merasa tak terima Verda mengabaikannya.


"Ya sudah, kau jemur saja sendiri!" cibir Verda dengan ketusnya.


Vedra menghela napas berat mendengar jawaban dari Verda.


Verda segera naik ke tempat tidur, bersandar pada tumpukan bantal sambil berkutat di depan layar gawai cerdasnya. Sesekali Verda memijat betisnya yang pegal karena seharian memakai sepatu hak tinggi.


"Verda," kata Vedra.


Verda masih tetap diam sambil memijat kakinya.


"Kemarikan kakimu, biar kupijat," kata Vedra.


"Tidak perlu," kata Verda masih dengan nada ketus.


Vedra menarik napas lalu mengambil kaki Verda ke pangkuannya.


"Ved!" sergah Verda.


"Verda, apa yang membuatmu marah padaku? Apa lagi salahku?" tanya Vedra.


"Apa sih, Ved?!" Verda menarik kakinya namun Vedra menahan kaki Verda.


"Verda, apa kau sungguh masih tidak menerima keputusan manajemen yang menunjukku untuk menjadi manager cabang? Apa kau sungguh masih menentang keputusan tersebut?" tanya Vedra sambil memijat kaki Verda.


Verda memasang ekspresi kesal yang tak bisa disembunyikannya.


"Verda, kenapa kau seperti ini lagi? Bukankah beberapa waktu yang lalu kita sudah menyepakati masalah ini?" tanya Vedra.


"Ya, kita sudah sepakat, tapi sebagian diriku masih menentang hal tersebut dan menganggap ini tidak adil untukku!" jawab Verda.


Vedra hanya bisa menghela napasnya, menatap Verda yang masih terlihat kesal padanya.


"Verda, begini saja, daripada kau terus merasa kesal dan marah padaku, lebih baik kau tunjukkan saja kepada manajemen bahwa kau jauh lebih kompeten dariku," kata Vedra.


Verda melayangkan tatapan skeptis ke arah Vedra yang masih memijat telapak kakinya.


"Kita bahkan sudah sepakat untuk menyembunyikan pernikahan kita demi melindungi karir kita. Sehingga saat ini yang bisa kau lakukan adalah bekerja dengan baik dan benar, bagaimana?" tanya Vedra.


Verda masih terlihat merengut.


"Aku rasa solusi itulah yang bisa kutawarkan padamu," kata Vedra.


Ayolah, Verda! Jangan memasang ekspresi seakan aku adalah orang yang sudah bersalah padamu! Memangnya apa salahku?! Batin Vedra.


"Baiklah, sepertinya itu ide yang terdengar bagus," sahut Verda.


"Apa kau punya solusi lain yang sesuai dengan keinginanmu?" tanya Vedra.


"Ved, tolong agak naik sedikit, di situ lebih pegal," sahut  Verda sambil menunjuk betisnya.


"Oke... oke," sahut Vedra.


"Ved, apa kau tahu kenapa aku kesal padamu?" tanya Verda.


"Apa?" tanya Vedra.

__ADS_1


"Kau belum juga membuka kado yang sudah kupesan sebagai hadiah pernikahanmu," sahut Verda sambil menunjuk bungkusan yang teronggok di sudut kamar di samping lemari.


Vedra menatap Verda yang masih memasang wajah cemberut. Ia melepaskan pijatan dari kaki Verda, turun dari tempat tidur dan mengambil bungkusan kado tersebut.


"Kau itu ya, seperti tidak sudi saja mendapatkan kado pernikahan! Kau sama sekali tidak terlihat antusias saat mendapatkan hadiah! Apa kau ini tidak pernah mendapatkan hadiah?" tanya Verda yang terdengar mencecar.


Vedra memutar bola matanya mendengar cecaran Verda.


"Verda, tolong jangan berpikir seperti itu. Aku bukannya tidak antusias mendapatkan hadiah, dan bukannya aku tidak sudi atau pun tidak suka diberi hadiah. Hanya saja, aku tidak sempat membukanya karena tidak ada waktu," Vedra menjelaskan.


"Hih, alasanmu saja!" sungut Verda.


"Lagipula kenapa tidak kau saja yang membukanya? Toh bukankah kau juga yang membelinya?" tanya Vedra.


"Vedra, itu hadiah pernikahanmu dari orang-orang kantor. Sehingga aku merasa bukan hakku untuk membukanya," jawab Verda.


"Ini kado pernikahanmu bukan kado pernikahanku," Verda menegaskan.


"Semua orang tahunya kan yang menikah itu kau, bukan aku!"


Vedra mengambil pisau cutter untuk membuka bungkusan kado tersebut.


"Ved, sepertinya aku harus mengambil video unboxing supaya memudahkan ketika mengajukan komplain ke penjualnya," kata Verda.


"Oh begitu, tapi aku tidak punya tripod untuk meletakkan ponselku," kata Vedra.


"Akan kurekam, kau mulai saja unboxingnya," ucap Verda begitu antusias.


"Hmm, baiklah," sahut Vedra.


Vedra mulai membuka bungkusan kado dengan sangat hati-hati. Terdapat sebuah kotak yang diberi lakban cokelat mengelilingi sisi-sisi kotak tersebut. Begitu membuka lakban yang merekat, mata Vedra langsung tertuju pada isi dari kotak tersebut. Ia mengeluarkan satu per satu sesuatu yang dibungkus dalam kemasan plastik transparan.


Vedra mengeluarkan isi plastik transparan tersebut yang berupa piyama set berwarna hitam putih dengan motif papan catur. Tangan Verda langsung menyambar sebuah amplop tebal yang terselip dalam lipatan piyama.


Vedra memegangi sisi amplop sesuai perintah Verda.


"Siapa yang akan pulang secara mandiri? Jeng.. jeng..," kata Verda sambil membuka isi amplop itu dengan hati-hati.


"Yah, Jonah!" keluh Verda saat melihat photo card yang ia keluarkan dari dalam amplop.


"Buka lagi selanjutnya, semoga saja photo card Jehun!" perintah Verda lagi.


Vedra melengos, ia mengeluarkan satu per satu piyama set dari dalam kotak tersebut. Ada satu lusin piyama dengan warna dan motif yang sama.


"Ved, pegang ponselku, arahkan ke semua amplop," perintah Verda lagi.


"Baiklah," sahut Vedra.


Kini giliran Verda sendiri yang membuka satu per satu isi amplop itu.


"Verda, banyak sekali piyama yang kau beli," kata Vedra.


"Ya harus banyak, supaya kesempatanku untuk mendapatkan photo card Jehun lebih besar!" sahut Verda.


"Kau harus tahu, Ved, ini bukan piyama sembarangan. Piyama ini merupakan proyek dari Fancy x Sleepwear," lanjut Verda. "Piyama berkualitas premium yang dipakai oleh member Fancy kini bisa dipakai juga oleh para penggemar. Dan bonusnya adalah photo card eksklusif, foto polaroid, dan foto strip ini," Verda menjelaskan.


Verda kembali membuka amplop lain, mengeluarkan satu per satu photo card, foto polaroid, dan foto strip yang lagi-lagi membuatnya tidak bersemangat.


"Yah, ke mana Jehun?! Kenapa Jehun tidak pulang mandiri?!" keluh Verda.


Photo card sang idola belum juga didapatkan oleh Verda meski ia sudah membongkar hampir sepuluh amplop tebal berwarna hitam itu.

__ADS_1


Vedra mengambil sebuah amplop, memandangi detail amplop tebal yang membuatnya keheranan. 


"Huhh, sama sekali tidak ada Jehun! Sungguh belum rezekiku!" keluh Verda lagi.


"Hmm, Verda, aku sungguh tidak mengerti mengapa photo card itu begitu penting," kata Vedra.


"Ved, photo card itu adalah barang eksklusif dari para idola. Foto terbaik yang diambil secara selfie, yang dikhususkan untuk para penggemar. Foto pada photo card biasanya tidak diunggah ke media sosial. Sehingga benar-benar sangat eksklusif yang hanya tersedia saat membeli album fisik maupun pernak-pernik yang dijual dari toko resmi milik agensi," Verda menjelaskan panjang lebar.


"Karena photo card ini dibagi secara random alias acak, maka kemungkinan untuk mendapatkan photo card idola tergantung dari jumlah barang yang kau beli. Semakin banyak kau membeli album fisik ataupun pernak-pernik, semakin besar kesempatan untuk mendapatkan photo card idola," lanjut Verda.


"Maksudmu, konsep photo card ini seperti mengikuti undian?" tanya Vedra.


"Ya, memang seperti itu konsepnya. Pada photo card berlaku hukum ekonomi dan hukum rimba," jawab Verda.


"Harga sebuah photo card menjadi lebih mahal karena untuk mendapatkannya juga tidak murah. Itulah yang membuat photo card jadi begitu berharga," lanjut Verda.


"Tak jarang pula sebagai penggemar kami harus berperang dalam pelelangan photo card yang sungguh menguras isi rekening! Haha," Verda tertawa renyah.


Vedra mencebik, lagi-lagi ia merasa semakin bersalah karena sudah membuang paket berisi photo card bernilai fantastis.


"Huh! Kesal sekali, aku sudah beli satu lusin piyama set, tapi photo card Jehun sama sekali tidak ada," keluh Verda.


Verda menyusun semua photo card, foto polaroid, dan foto strip yang membuatnya merasa kecewa dan ingin menangis.


"Huuh, tangan penjualnya tidak wangi, sampai tidak ada satu pun photo card Jehun yang bisa kudapatkan!" Verda melanjutkan keluhannya.


Vedra membuka amplop yang ia pegang. 


"Verda, Jehun itu kalau tidak salah yang mukanya begini ya?" tanya Vedra sambil memperlihatkan photo card yang ia keluarkan.


Verda tertegun saat melihat photo card Jehun yang ada di tangan Vedra.


Mata Verda membesar, pupilnya bergetar, seketika kebahagiaan meledak dalam dada Verda.


"Jehun!" seru Verda langsung mengambil photo card di tangan Vedra.


"Jehun! Cintaku!" seru Verda. "Oh My! Oh My!" Verda bersorak kegirangan.


Vedra mencebik melihat Verda yang begitu kegirangan dan langsung memeluk Vedra.


"Terima kasih sudah membawa Jehun pulang, Ved! Muachh!" Verda mengecup pipi Vedra berkali-kali.


Vedra yang menegang dan oleng seketika terhempas di atas tempat tidur. 


"Jehun! Cintaku! Bujangku!" seru Verda histeris.


...*****...


Pembaca setia yang masih mengikuti karya ini, Acil otor ucapkan terima kasih banyak untuk dukungan dari pembaca yang bener-bener bikin otor semangat.


Sekilas tentang photo card.


Photo card bentuknya yang bagaimana sih?


Ini Acil otor kasih lihat koleksi punya Acil otor. Belum punya banyak, maklum harganya lebih mahal dari beras, jadi harus nabung recehan dulu. 🥺🥺



Ini dapatnya dari mana?


Dari pembelian album, atau langsung beli di toko online yang terpercaya. Banyak kok penjual yang jual photo card ketengan tapi belum tentu terpercaya, jadi biasanya harus beli album impor dari koriya. 😁

__ADS_1


Dukung terus perjuangan Ved, demi mengumpulkan semua kumpulan photo card idola.


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2