Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 061


__ADS_3

Verda menegang saat mendengar Vedra menyebutkan nama Silvia dalam tidurnya. Entah apa yang sedang dimimpikan oleh pria itu sampai memanggil nama Silvia.


Dalam benak Verda saat ini dipenuhi adegan-adegan yang dilakukan oleh Vedra padanya. Momen-momen erotis yang terjadi di antara mereka pastilah juga dialami oleh Vedra dan Silvia. Bahkan dengan wanita-wanita lain yang pernah ada dalam hidup Vedra.


Huh, dasar playboy!


Rasa kesal membuat pikiran Verda berkabut. Dicubitnya dengan keras hidung Vedra.


"Aduduhh!" seru Vedra.


Pria itu terlonjak kaget, meringis menahan sakit yang membuatnya seketika terbangun.


"Aduh, Verda, sakit sekali, hidungku bisa lepas!" keluh Vedra.


"Ved, apa kau berharap aku membangunkanmu dengan sebuah ciuman seperti dalam dongeng Putri Tidur?" tanya Verda dengan nada mengejek.


Vedra mencebik sedangkan Verda menyeringai menyembunyikan rasa kesalnya pada sang playboy cap gayung pecah ini.


"Dasar tukang tidur! Segera bangun dan bantu aku berkemas," kata Verda.


Verda segera mengemasi album dan koleksi pernak-pernik dari idola kesayangannya. Ia juga mulai mengemasi semua pakaian yang ada di ruang pakaiannya.


"Verda, aku rasa kau tidak bisa membawa semua barang-barangmu ini ke rumahku, rumahku tidak akan sanggup menampung barang-barangmu ini," tukas Vedra.


"Kenapa juga kau membangun rumah sekecil itu?" tanya Verda.


"Verda, semakin besar rumah yang dibangun, semakin banyak pula biaya yang harus dikeluarkan. Belum lagi perawatannya pun juga lebih besar dibanding dengan rumah berukuran kecil. Rumah yang kecil juga lebih mudah dibersihkan," jawab Vedra diplomatis.


"Lagipula untuk apa aku memiliki rumah yang besar, sedangkan yang akan tinggal di rumah itu hanya aku dan istriku saja," lanjut Vedra.


"Oh," sahut Verda.


"Begini saja, aku rasa kau sebaiknya bawa barang-barang yang benar-benar kau perlukan saja," usul Vedra.


"Ved, semua barang-barang ini kuperlukan," sahut Verda.


Vedra mencebik, entah mau ditaruh di mana semua barang-barang milik Verda. Diletakkan di dalam rumah tidak ada tempat, ditaruh di luar rumah, kalau sampai rusak, Vedra harus bertanggung jawab lagi.


Huh, serba salah sekali!


...*****...


"Hei, kau, Jehun kw super!"


Langkah Vedra terhenti saat hendak menurunkan kardus berisi barang-barang Verda dari kamar Verda.


Wanita berparas manis itu memanggil Vedra.


"Kemari, kita bicara sebentar," ajak Vivie.


Vedra mengikuti Vivie ke arah balkon. Vivie melipat tangannya di depan dada. Sikapnya jelas mengintimidasi Vedra.


"Aku sungguh tidak tahu mengapa kakakku bersedia menikahimu padahal ada banyak pria yang jauh lebih layak untuk kakakku daripada pria yang hanya bermodal tampang sepertimu!"

__ADS_1


"Gara-gara kau, hubungan kakakku dengan kedua orang tuaku jadi renggang! Dan kakakku harus kehilangan banyak hal hanya demi memilihmu!" cecar Vivie.


Vivie segera pergi meninggalkan Vedra yang mematung mendengar cecaran Vivie.


...*****...


Vedra memasukkan barang-barang Verda ke dalam mobil daring yang dipesan oleh Verda. Verda kehilangan hak pakai atas mobilnya karena sang ayah menarik fasilitas tersebut.


"Kakak, sering-sering pulang ya," Vivie memeluk erat Verda.


"Apa sih, Vie, tidak usah terlalu berlebihan!" cibir Verda.


"Aku pergi ya, Vie," kata Verda.


"Iya, Kak," Vivie melepas kepergian kakaknya.


Ayah dan Ibu Verda memutuskan untuk tidak menemui Verda. Mereka masih ngambek karena belum bisa menerima keputusan Verda. Entah apa yang harus dilakukan oleh Pak Daus saat menghadapi Abim.


...*****...


Mobil daring berhenti di area gedung parkir kota, salah satu slot parkir disewa oleh Verda untuk memarkirkan mobilnya. 


Vedra memasukkan kembali barang-barang Verda ke dalam mobilnya. Mereka harus bergegas pulang karena Vedra ada janji temu bersama teman-temannya.


Sesampainya di rumah, Vedra menyimpan barang-barang Verda di ruang tengah.


"Verda, nanti saja aku rapikan barang-barangmu, aku harus pergi," kata Vedra.


Vedra tidak menjawab pertanyaan Verda.


Dia pasti akan menemui Silvia! Dia bahkan menyebut nama Silvia dalam tidurnya! Sungguh menyebalkan sekali! Batin Verda seketika gusar.


"Ved, aku hanya sekadar mengingatkanmu. Kau sungguh harus segera mencari, menemukan, dan mendapatkan kembali semua photo card itu. Semakin cepat kau dapatkan, semakin baik untuk kita berdua," kata Verda.


"Ya, aku akan mengusahakan sebisaku, Verda," kata Vedra.


"Aku pergi dulu," pamit Vedra.


"Ya, pergilah, dan kembalilah tanpa babak belur!" cibir Verda.


"Verda, pintu rumah harus selalu kau kunci," pesan Vedra.


"Ya!" sahut Verda sekenanya.


Verda terdiam menatap rumah yang kosong. Saat ini ia benar-benar merasa kesepian. Ia melangkah memasuki kamar tidur. Merebahkan dirinya sambil berselancar di sosial media.


"Dia pasti mau menemui Silvia! Dia pasti akan babak belur lagi dihajar sampai setengah mampus seperti waktu itu dan minta aku menjemputnya lagi! Ya, pasti begitu! Apa dia pikir aku ini sopir mobil daring?!" Verda mengomel meluapkan kemarahannya.


"Sialan kau, Ved! Sialan!"


...*****...


Bian mondar-mandir di depan meja kerja Pamela, sekretaris bosnya yang cantik namun begitu kaku. Pamela bahkan tidak peduli meski Bian sudah menunggu selama satu jam.

__ADS_1


"Bian, please! Aku pusing melihatmu mondar-mandir begitu!" tegur Pamela yang akhirnya merasa terusik dengan kelakuan Bian.


"Pams, kau tidak tahu betapa aku sangat antusias karena bos memanggilku lagi! Aku rasa bos sungguh tertarik untuk menjadikanku sebagai adik ipar beliau!" kata Bian dengan segenap rasa antusiasnya.


Pamela memutar bola matanya, ia sungguh mengasihani Bian lantaran pria itu nampaknya berharap sangat untuk menjadi adik ipar bos besar.


Pintu ruangan terbuka, seorang wanita dengan pakaian yang nampak kusut keluar dari ruangan itu dengan air mata berlinang.


Pamela dengan sigap menyerahkan tas wanita itu. Pamela biasa menjadikan dirinya sebagai tempat penitipan tas, mengingat kebanyakan para wanita yang masuk ke ruangan bosnya akan berlari keluar dan meninggalkan barang bawaan mereka. Pamela sungguh kerepotan jika harus mengembalikan barang-barang yang tertinggal, sehingga ia berinisiatif meminta kepada para wanita itu untuk menitipkan tas mereka padanya.


"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Pamela.


"Apa aku terlihat baik-baik saja?! Hiks!" sahut wanita itu sambil merampas tasnya dari Pamela.


"Semoga hari Anda menyenangkan," kata Pamela.


Wanita itu mendengus keras, langkahnya terlihat gontai meninggalkan meja Pamela.


"What another poor girl," Pamela mencebik.


Bian mengerti maksud Pamela. Para wanita yang biasa datang dan pergi dari kehidupan bos besar yang terkenal sebagai pencari cinta sejati.


Bian mengetuk pintu ruangan bosnya. Langkah Bian begitu hati-hati saat memasuki ruangan besar itu.


"Lipstik sialan!" geram pria itu sambil membersihkan noda lipstik yang mengotori wajahnya.


"Permisi, Pak," kata Bian.


"Oh, ya, kau," sahut pria itu.


Bian segera berdiri di depan meja kerja pria itu.


"Pams, I need something for cleaning this damn thing!" pria itu menelepon Pamela.


Pamela mengerti apa yang dimaksud oleh bosnya, dengan segera membawa pembersih make up untuk beliau.


Bian meneguk ludahnya, ini bukan sekali dua kali ia melihat wajah bosnya belepotan lipstik dari para wanita yang memuja bosnya. Entah mengapa hati kecil Bian sedikit menolak pria macam bosnya untuk berhubungan dengan kakak iparnya. Dalam benaknya tidak menutup kemungkinan kakak iparnya akan berakhir seperti para wanita yang dicampakkan oleh pria tersebut.


"Pak, saya ingin menyampaikan mengenai pertemuan Anda dengan kakak ipar saya, mohon maaf, Pak, jadwal yang Anda tawarkan belum ada yang pas dengan jadwal kakak ipar saya," kata Bian.


Bian terpaksa memberikan jawaban seperti itu lantaran Vivie yang belum juga mendapatkan jawaban apakah Kak Verda bersedia mengikuti kencan buta dengan bos Bian.


"Oh, begitu, baiklah, tidak masalah, sepertinya lebih baik kami tidak perlu bertemu," pria itu menanggapi dengan santai.


Bian terdiam.


"Sungguh wanita yang terlalu jual mahal, membuat ekspektasiku tentangnya terlalu tinggi, namun ujung-ujungnya hanya mengecewakan. Haha..."


"Baik, saya mengerti, Pak, kalau begitu saya permisi," Bian pamit undur diri.


Dalam hatinya, Bian sungguh merasa kecewa karena kesempatannya untuk menjadi adik ipar bos besar harus pupus. Namun hati nuraninya merasa sedikit lega karena kakak iparnya tidak perlu menjadi korban pencarian cinta sejati bosnya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2