Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 011


__ADS_3

"Ved, kau ada masalah apa dengan Verda? Aku mendengar kalian sempat bersitegang saat lembur beberapa waktu yang lalu."


Ican menarik kursinya, mendekat ke arah Vedra yang masih berkutat dengan angka-angka pada layar monitor komputernya.


"'Masalah?" tanya Vedra tanpa mengalihkan pandangan.


"Iya, aku sempat mendengar, Verda bicara dengan Nita dan Teti, katanya kau macam orang yang tidak berkenan ganti rugi karena sudah menghilangkan paket Verda, tapi kau bisa membeli tas dan sepatu baru, bahkan akan menikah," cerocos Ican.


Tubuh Vedra langsung merosot dari posisinya. Terkaget-kaget mendengar cerocosan Ican.


Astaga! Bisa-bisanya wanita itu menjadikanku sebagai bahan gosip! Vedra merutuk dalam hatinya.


"A-aku rasa ini hanya kesalahpahaman saja," Vedra menanggapi.


"Eh, benarkah? Tapi memang sih, sepatu dan tas yang kau pakai itu baru!" lanjut Ican sambil melirik ke bawah meja kerja Vedra.


"Tidak, aku hanya baru terlihat memakainya saja," pungkas Vedra.


"'Oh begitu, tapi serius kau akan menikah?" tanya Ican.


Vedra hanya memasang ekspresi datar.


"Wah, aku sungguh tak menduga lelaki sepertimu ternyata bisa menikah juga! Padahal tampang-tampangmu sudah macam biarawan, Ved," seloroh Ican.


"Yah, selamat untukmu, ditunggu undangannya!" Ican segera mendorong kursinya kembali ke posisi semula.


Vedra menghela napas berat, sudut matanya melirik ke meja kerja wanita yang nampaknya sudah menyebarkan gosip tentang dirinya. Ia bukannya tidak mau membayar ganti rugi, hanya saja saat ini ia memang sedang kesulitan keuangan. Tidak sedikit jumlah dana yang ia gelontorkan untuk membiayai pesta pernikahannya dengan Silvia yang berujung pada kegagalan.


Pernikahan kali ini tidak boleh gagal, Vedra bahkan berinisiatif untuk mencari pengantin pengganti. Namun menjalani pernikahan kontrak ternyata membutuhkan nominal yang begitu fantastis. Tiga ratus juta bagi karyawan swasta macam Vedra jelas amatlah fantastis.


Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan rekan untuk menikah tanpa harus mengeluarkan banyak uang?


Seseorang yang, ayo menikahlah denganku, aku sudah membiayai semua biaya pernikahan, dan kita jalani pernikahan sesuai kesepakatan saja! Itulah yang kini terlintas dalam benak Vedra.


Sudut mata Vedra menangkap sosok wanita yang saat ini sedang berbincang-bincang dengan beberapa pegawai. Terlihat beberapa kali wanita itu menelengkan kepalanya ke arah Vedra.


Apa wanita itu sedang menggunjingkanku lagi? Dasar tukang gosip itu! Keluh Vedra dalam hati.

__ADS_1


Vedra memijat pelipisnya, wanita itu membuatnya kembali mengingat tentang ganti rugi yang harus ia lakukan hanya gara-gara tidak sengaja membuang foto-foto pria yang menurut wanita itu sungguh langka.


Vedra bahkan sudah mencoba menanyakan langsung kepada petugas kebersihan kantor, yang mengaku selalu membersihkan apa pun yang ada di tempat sampah seluruh karyawan setiap harinya.


Vedra juga sempat mencari-cari di toko daring yang menjual pernak-pernik original yang ternyata harganya memang begitu fantastis hanya untuk selembar foto.


Wanita itu bahkan meminta jaminan dari Vedra. Vedra bahkan tidak tahu bisa menjaminkan apa selain dirinya.


Tunggu, menjaminkan diri?


Batinnya bergelut hanya karena sebuah kata yang menyusup di sel-sel otaknya yang saat ini sedang tidak berada dalam kondisi terbaiknya. Wanita itu sudah membuatnya menanggung malu akibat menggunjingkan hal-hal yang harusnya hanya cukup mereka saja yang tahu, orang lain tidak perlu tahu.


Jika wanita itu kubiarkan, tidak kuberi jaminan, entah apa yang akan dia lakukan!


Di saat itulah terlintas dalam benak Vedra, bagaimana jika ia menjaminkan dirinya dengan menawarkan pernikahan kepada wanita itu?


Pertimbangan Vedra adalah jika ia menikahi wanita itu, siapa tahu wanita itu berbaik hati dengan meringankan materi kerugian yang harus menjadi tanggung jawab Vedra.


Vedra bisa mendapat pengantin pengganti dan membayar ganti rugi dengan harga yang lebih terjangkau. Bukankah ini terdengar seperti ide yang sangat  fantasis?!


Dengan begitu, Verda tidak akan berkoar-koar ke mana-mana lagi, menuntut tanggung jawab Vedra. Sungguh rencana yang terdengar sempurna dan harus segera direalisasikan.


Jam 8 malam, Manja Kopi.


...*****...


Verda menatap pantulan dirinya di depan cermin rias. Ia sudah memakai bando berbentuk kuping kelinci berwarna merah muda. Perlahan ia mulai mengusapkan pembersih wajah berbentuk padatan minyak ke wajahnya, memberi pijatan lembut pada wajah untuk membersihkan riasan, debu, dan kotoran yang menempel di wajahnya.


Menikah dengan laki-laki itu?!


Verda kembali terngiang-ngiang perkataan dari pria yang menawarkan pernikahan sebagai jaminan untuk bertanggung jawab atas kerugian yang dialami oleh Verda.


Kegagalan pernikahannya dengan Abim jelas masih menyisakan trauma yang membuat Verda jadi enggan untuk menikah lagi.


Abim yang terlihat lembut saja, bisa beringas dan begitu horor ketika sudah menyangkut masalah kebutuhan biologis.


"Tunggu, Vedra bilang dia hanya menjadikan pernikahan ini sebagai jaminan, dan tidak berarti mereka harus menjalankan kehidupan pernikahan," gumam Verda.

__ADS_1


"Kenapa juga ya dia pakai acara membuang paketku? Tunggu, jangan-jangan paketku bukan dibuangnya, tapi dia mengambilnya lalu menjualnya lagi! Makanya dia bisa punya sepatu dan tas keluaran terbaru dari Prada yang digunakan oleh Jehun!" Verda melanjutkan hipotesisnya.


"Tunggu, jangan-jangan photo card itu masih disimpan oleh Vedra di suatu tempat sambil menunggu pembeli yang bisa menawar harga lebih tinggi untuk koleksi photo card itu!" gumam Verda.


"Apa jangan-jangan dia mafia yang tergabung dalam sindikat penculikan photo card idola yang beberapa waktu ini sedang ramai menjadi perbincangan di sosial media?" Verda kembali bertanya-tanya.


Verda mengusap wajahnya dengan kapas lembut, memulai tahap pemakaian rangkaian perawatan kulit agar kulit wajahnya selalu nampak muda dan kencang meski usianya sudah tiga puluh tiga tahun.


"Kak Verda!"


Vivie menerobos ke dalam kamar Verda. Verda memang kerap tidak mengunci pintu kamarnya sebelum ia tidur. Ada rasa trauma jika mendengar pintu kamarnya diketuk ketika ia masih dalam kondisi terjaga.


"Aduh Vie, ada apa sih, mengagetkanku saja!" keluh Verda.


"Kak, aku, Bian, Ayah dan Ibu berencana untuk liburan pekan depan, apa Kak Verda mau ikut?" tanya Vivie.


"Ke mana?" tanya Verda.


"Aku dan Bian mau ke Bali, Ayah dan Ibu ingin ke Jogja," jawab Vivie.


"Aduh Vie, aku rasa aku tidak bisa cuti karena rekan kerjaku sudah mengajukan cuti menikah! Dia sewot sekali saat aku cuti nonton konser bulan lalu!" keluh Verda.


"Yah, resiko pekerja kantoran seperti kakak ya begitu!" Vivie terkekeh kecil.


"Oh ya, ngomong-ngomong, kenapa Ayah dan Ibu liburan ke Jogja? Apa ayah dan ibu mengikuti tur?" tanya Verda.


"Tidak, aku dengar mereka mendapat undangan dari keluarga Pak Baskara, aku sempat mendengar pembicaraan Ayah dan Pak Baskara, katanya Kak Abim serius ingin rujuk dengan Kak Verda! Kak Abim bahkan siap membatalkan pernikahannya dengan calon istrinya demi Kak Verda!" sahut Vivie.


Jder...!


Verda bisa merasakan tubuhnya seakan baru saja tersambar petir gara-gara berteduh di bawah pohon.


"Aduh, dasar laki-laki itu! Dia benar-benar gila!" rutuk Verda.


"Ya, Kak Abim kan memang sangat tergila-gila pada  kakak!" Vivie terkekeh. "Terlebih Kakak hingga kini masih betah melajang, ya jangan salahkan Kak Abim kalau Kakak seakan memberinya kesempatan untuk rujuk lagi."


"Vivie, apa kau tidak lihat? Mereka semua adalah suamiku!" Verda menunjuk semua poster yang ada di tembok kamarnya.

__ADS_1


"Ya, suami halu!" Vivie terkekeh.


...*****...


__ADS_2