
"Nomor antrian 020, silakan ke customer service satu,"
Pengumuman tersebut memanggil si pemegang kertas antrian yang sudah menunggu selama hampir dua jam. Pria itu segera menuju ke meja customer service berparas manis yang sedang menunggu. Senyum si customer service mendadak hilang begitu mendapati si pemegang kertas antrian nomor dua puluh yang langsung duduk di hadapannya.
"Selamat siang, dengan saya Silvia, ada yang bisa dibantu?" customer service memperkenalkan dirinya dengan perasaan tegang.
"Saya lupa PIN kartu debit saya," kata pria itu.
"Baik, apa formulirnya sudah diisi dengan lengkap?" tanya Silvia.
Pria itu menyerahkan lembar formulir pada Silvia.
"Bisa tolong disiapkan nomor antrian, KTP, kartu debit, dan buku tabungannya?" tanya Silvia.
Silvia ragu untuk membalas tatapan pria berkacamata yang saat ini tak putus-putusnya menatap ke arahnya. Pria itu membuka tasnya, mengeluarkan semua dokumen yang dibutuhkan oleh customer service itu.
"Kenapa kau sampai datang kemari, Vedra?" kata Silvia.
Vedra diam dan masih mengamati Silvia yang nampak berhati-hati saat memeriksa dokumen yang diserahkan oleh nasabahnya. Bagi Vedra hanya ini satu-satunya cara agar bisa bertemu dengan Silvia pasca wanita itu memutuskan kontak seakan hendak menghilangkan jejak.
Silvia bekerja sebagai customer service di salah satu cabang dari bank pemerintah terbesar di tanah air.
"Aku baru menemuimu sekarang, karena kurasa ada baiknya memberimu ruang dan waktu untuk berpikir atas keputusan yang kau ambil mengenai hubungan kita," kata Vedra.
"Silvia, aku sungguh tidak ingin pernikahan kita harus dibatalkan secara sepihak seperti ini."
"Vedra, tolong jangan membahas masalah pribadi di saat aku sedang bekerja," kata Silvia.
"Aku terpaksa membahasnya di jam kerjamu karena kau sudah tidak bisa kuhubungi lagi. Kau bahkan memblokir nomor teleponku, membuatku seketika lenyap dari hidupmu," tukas Vedra dengan tenang.
Silvia menelengkan kepalanya, mengamati apakah akan ada yang mendengar pembicaraan mereka. Untunglah rekan Silvia, penghuni meja nomor dua sedang beristirahat sehingga meja tersebut kosong.
"Vedra, aku harus menghindarimu," tukas Silvia.
"Silvia, aku sungguh tidak tahu apa salahku hingga kau mengakhiri hubungan kita seperti ini. Katakan padaku, apa salah dan kurangnya aku? Aku akan memperbaikinya," Vedra menatap Silvia.
__ADS_1
Tatapan memohon dan memelas dari seorang pria yang tidak ingin pernikahannya batal hanya karena ramalan konyol.
"Vedra, aku tidak bisa menentang ramalan itu," kata Silvia.
"Silvia, apakah aku harus membuktikan kepadamu bahwa ramalan itu tidak benar?" tanya Vedra.
"Apakah aku perlu menikahi wanita lain dan memberimu bukti bahwa wanita yang kunikahi akan baik-baik saja?"
Silvia tidak menjawab, matanya mulai berkaca-kaca. Tak pernah terbayangkan olehnya akan ada wanita lain yang menggantikan posisinya.
Ia sangat mencintai Vedra, namun ramalan dan perintah dari orang tuanya adalah sesuatu yang mutlak dan harus diturutinya sebagai anak yang berbakti pada orang tua.
"Silvia, wanita yang kucintai dan ingin kunikahi adalah kau! Aku ingin hidup bersamamu sesuai dengan rencana yang telah kita susun bersama!" kata Vedra.
"Ved, cukup," sergah Silvia tertahan.
Silvia mengambil selembar tisu yang ada di sudut meja kerjanya. Menyeka air matanya yang tumpah tanpa permisi sambil memfotokopi KTP dan kartu debit di mesin printernya.
Vedra terenyuh mendengar sergahan Silvia.
"Silvia, jika seandainya aku menikahi wanita lain, dan wanita itu baik-baik saja, dan semua ramalan itu hanya isapan jempol belaka, apakah kau akan kembali ke sisiku?" tanya Vedra.
Nada bicara wanita itu dipenuhi keraguan yang terdengar sangat jelas. Ucapan Silvia jelas berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam hati Silvia.
"Kau tidak boleh melakukan itu Ved, itu bukanlah hal yang benar!" lanjut Silvia.
"Lantas bagaimana caranya agar aku bisa berada di sisimu? Jika hanya itu satu-satunya cara yang bisa kulakukan, maka aku akan melakukannya!" Vedra berkata dengan nada tegas.
Silvia menunduk dan menggeleng lambat-lambat.
"Tidak, Ved! Kita tidak boleh menentang takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan!" Silvia kembali menyeka air matanya.
"Takdir yang digariskan oleh Tuhan? Kau bahkan begitu percaya dengan ramalan yang diramalkan oleh manusia!" sergah Vedra.
Silvia menggeleng.
__ADS_1
"Vedra, silakan ke teller untuk registrasi PIN baru," Silvia menyerahkan formulir yang sudah diregistrasi oleh Silvia.
Vedra tertegun melihat air mata yang kembali berlinangan dari mata Silvia. Silvia dengan cepat menyeka air matanya.
Vedra menghela napas berat, ia mengambil formulir tersebut.
"Silvia, aku tidak pernah lupa PIN kartu debitku," kata Vedra sebelum beranjak dari tempat duduknya.
Silvia memalingkan wajahnya, Silvia bahkan tahu bahwa Vedra menggunakan tanggal hari jadi mereka untuk semua PIN, termasuk kunci ponsel pria itu.
Silvia segera memasang papan pemberitahuan di mejanya bahwa ia sedang istirahat begitu Vedra beranjak dari tempat duduknya.
Silvia tergesa-gesa menuju ke toilet dan kembali menangis tersedu-sedu. Kembali menangisi hubungannya yang terpaksa harus diakhiri lantaran terdesak oleh keadaan.
...*****...
Semua ramalan itu omong kosong! Semua ramalan itu omong kosong!
Vedra mengaduk-aduk es kopi americanonya dengan gusar. Saat ini rasa kecewa jelas sedang menyergapnya. Hatinya benar-benar sangat terluka lantaran Silvia dan keluarganya harus membatalkan pernikahan mereka secara sepihak di detik-detik terakhir.
Vedra bisa membayangkan dengan jelas bagaimana jika keluarga besarnya tahu bahwa Vedra kembali gagal menikah. Ibunya bahkan sudah mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan untuk pesta pernikahannya. Entah seberapa besar rasa malu yang harus ditanggungnya.
Mencari pengantin pengganti adalah satu-satunya cara agar pernikahan tetap terlaksana sesuai dengan rencana yang telah disusun.
Hanya saja, Vedra tidak mungkin mencari pengantin pengganti secara asal-asalan. Wanita yang menjadi pengantin pengganti untuknya jelas harus sesuai dengan standar yang ditetapkan olehnya.
Wanita itu jelas harus setara dengan Silvia. Berwajah cantik, berpenampilan menarik, berpendidikan, dan berkepribadian santun. Hanya saja jika memang harus diganti, itu artinya wanita itu harus lebih segalanya dari Silvia. Sehingga saat kedua orang tuanya bertanya mengapa Vedra mengganti calon istrinya, Vedra bisa mengutarakan alasan bahwa wanita yang dipilihnya untuk menjadi istrinya adalah wanita yang pantas menjadi istrinya dan tentu lebih segalanya dari Silvia.
Maka dari itulah, Vedra menghubungi biro jodoh untuk menemukan wanita dengan kriteria dan standar yang telah ia tentukan.
Sejelek-jeleknya seorang laki-laki tentu mendambakan istri yang berparas cantik dan berpenampilan menarik.
Pihak biro jodoh mengirimkan portofolio beberapa wanita yang memiliki kriteria yang sesuai dengan keinginan Vedra.
Tiga orang wanita itu cantik dan berpenampilan menarik kalau dilihat berdasarkan foto yang dikirimkan oleh agen biro jodoh. Hanya saja saat ini teknologi sudah terlalu canggih, semua wanita jelas terlihat cantik dan menarik saat difoto dan melalui tahap penyuntingan yang berlebihan.
__ADS_1
Vedra menunggu dengan sabar hingga salah satu dari ketiga kandidat wanita yang diinginkannya datang dan menghampirinya.
...*****...