
"Sebenarnya aku sungguh sedih sekali, Mbak, hubunganku dan Vedra harus berakhir seperti ini."
Silvia menyeka air matanya, ada rasa lega yang membuat bebannya terasa jauh lebih plong setelah menceritakan semua yang ia alami kepada Ratih. Ratih adalah sepupu Silvia yang sementara ini tinggal bersama Silvia karena ada urusan pribadi.
Ratih memang mendengar kabar bahwa Silvia akan menikah namun ia tidak tahu siapa pria yang akan menikahi Silvia. Selama Vedra dan Silvia berkencan, keduanya memang tidak pernah mengunggah kebersamaan secara terang-terangan terlebih di sosial media.
"Silvia, aku rasa menghindar bukan solusi untuk masalah kalian. Kalian sungguh harus membicarakan masalah ini agar ke depannya tidak akan ada masalah lain. Lihatlah bagaimana tadi dia mengejarmu seperti itu, hanya karena ingin menjelaskan hal yang menurutnya perlu untuk dijelaskan," Ratih menanggapi.
"Silvia, sekarang pria itu sudah menikah, rasanya sungguh tidak pantas jika dia mengejarmu seperti itu," lanjut Ratih.
"Dan sepertinya, kau memang harus meminta penjelasan mengenai hubungan kalian. Pernikahan kalian batal, namun pria itu menikahi wanita lain. Menurutku sungguh aneh sekali, kenapa? Karena itu artinya selama kalian berhubungan, pria itu juga mempunyai hubungan dengan wanita lain kan?"
Silvia tertegun, namun hati kecilnya menolak.
"Vedra bukan pria seperti itu, Mbak Ratih," kata Silvia.
"Kalau memang menurutmu mantan kekasihmu bukan pria macam itu, lantas mengapa dengan mudahnya dia menikahi wanita lain?" tanya Ratih.
Silvia teringat pertemuannya dengan Vedra beberapa waktu yang lalu ketika pria itu menemuinya saat Silvia sedang bekerja. Pria itu mengatakan pada Silvia mengenai sebuah rencana yang menurut Silvia sangatlah nekat. Menikahi wanita lain demi membuktikan bahwa ramalan buruk tentangnya adalah omong kosong semata.
"Silvia, lebih baik kau temui saja pria itu, nanti aku akan meminta Bayu untuk menemanimu. Untuk jaga-jaga, siapa tahu, pria itu berbuat nekat," usul Ratih.
Silvia masih terlihat ragu.
"Silvia, kau sungguh harus menuntaskan masalah ini secepatnya daripada ke depannya akan menimbulkan masalah lain," Ratih meyakinkan Silvia.
...*****...
Atas usul dari Ratih, Silvia pun akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Vedra bertemu. Apa yang dikatakan oleh Ratih ada benarnya. Lebih baik mereka bertemu, bicara, dan sama-sama mencari solusi. Menghindar hanya akan membuat Vedra makin getol mengejar Silvia.
Terlebih saat ini Vedra sudah menikah, sungguh tidak enak rasanya jika sampai istri Vedra tahu bahwa Vedra masih menemui Silvia.
Hati Silvia jelas terasa sangat sakit karena mengetahui bahwa Vedra telah menikah dengan wanita lain. Apakah selama ini ternyata Vedra berhubungan dengan wanita lain di belakang Silvia makanya hasil ramalan Vedra begitu buruk?
Entahlah, Silvia tidak tahu. Ia hanya bisa meminta penjelasan langsung dari Vedra.
Silvia menunggu di salah satu kafe yang dulunya biasa mereka datangi. Mereka berdua selalu disibukkan dengan pekerjaan yang membuat mereka jarang bisa meluangkan waktu bersama.
"Daripada uangnya buat nongkrong-nongkrong, lebih baik ditabung untuk biaya pernikahan kita, Silvia," begitulah kata Vedra setiap kali Silvia mengajaknya ke tempat-tempat tongkrongan anak muda.
"Tapi tempat ini bagus, dan harga makanannya masih terjangkau dibandingkan makan di mall," kata Silvia.
"Ya, baiklah, nanti habis gajian saja ya," kata Vedra.
"Sekalian saja tahun depan setelah kita menikah," gerutu Silvia.
"Ya, ya, baiklah, ayo kita pergi sekarang," sahut Vedra sambil mengacak rambut Silvia dengan gemas.
"Silvia."
Lamunan Silvia buyar saat melihat sosok Vedra yang sudah duduk tepat di hadapan Silvia.
"Ved," Silvia terpana melihat penampilan Vedra.
Pria itu memang selalu berpenampilan rapi, namun tatanan rambut pria itu jelas langsung mencuri perhatian Silvia. Vedra tak pernah menata rambutnya seperti itu sehingga jelas membuat perubahan yang cukup signifikan.
__ADS_1
Selama ini Silvia selalu terpana dengan penampilan Vedra yang memiliki tinggi di atas rata-rata pria pada umumnya dengan tubuh yang proposional. Semua orang akan mengira Vedra adalah model karena pria itu memiliki tinggi lebih dari 180 cm, lebih tepatnya 185 cm.
"Vedra, terima kasih sudah datang menemuiku," kata Silvia.
"Tidak, Silvia, justru aku yang berterima kasih karena kau bersedia untuk bertemu dan bicara denganku," kata Vedra.
Pelayan segera menyerahkan daftar menu untuk mereka berdua.
"Kau mau pesan apa, Silvia?" tanya Vedra.
"Aku pesan seperti biasanya saja," jawab Silvia.
"Baiklah," sahut Vedra. "Manggo smoothies dan es americano tanpa gula," kata Vedra.
"Kau mau makan apa, Silvia?" tanya Vedra.
Silvia tertegun saat melihat cincin kawin yang tersemat di jari Vedra. Seketika ada rasa kecewa yang menggelegak dalam darah Silvia.
"Tidak, Ved, aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk icip-icip makanan," tolak Silvia.
Vedra tertegun mendengar nada bicara Silvia yang berubah menjadi lebih dingin dan menusuk.
"Baiklah, itu saja dulu," kata Vedra pada pelayan.
Begitu pelayan meninggalkan mereka, Silvia segera memasang sikap defensif.
Keduanya saling tidak mengatakan apa pun selama beberapa saat sampai akhirnya pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
"Terima kasih," kata Vedra ke arah pelayan itu.
"Ved, jujurlah padaku, apa selama kita bersama kau berselingkuh dariku?" tanya Silvia.
"Silvia, aku tidak pernah berselingkuh darimu," jawab Vedra dengan tegas.
"Kalau kau memang tidak berselingkuh dariku, lantas bagaimana kau bisa menikahi wanita lain secepat ini?" tanya Silvia.
Ada kemarahan yang terdengar jelas dari nada bicara Silvia.
"Silvia," kata Vedra dengan nada setenang mungkin.
Silvia membuang pandangannya dari Vedra.
"Untuk apa aku serius menikahimu jika aku berselingkuh darimu?" tanya Vedra.
"Aku serius ingin menikahimu, menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk pernikahan kita, namun dengan mudahnya kau membatalkan pernikahan kita tanpa ada alasan yang jelas," kata Vedra.
"Ved, aku hanya menuruti kemauan orang tuaku," kata Silvia.
"Apakah mengikuti orang tua adalah alasan yang jelas?" tanya Vedra.
"Kau membatalkan pernikahan kita, hanya karena mengikuti ramalan yang jelas sekali berupaya mendiskreditkanku. Dan sekarang kau menuduhku berselingkuh darimu. Tega sekali kau, Silvia," kata Vedra.
"Ved, sekarang aku tanya, siapa yang lebih tega? Kau bahkan bisa menikahi wanita lain, secepat ini menggantikan posisiku! Dan kau tidak terima aku mengatakan bahwa kau berselingkuh dariku? Kau jangan playing victim, Ved!" sergah Silvia.
Silvia menatap Vedra, air mata Silvia mulai turun membasahi pelupuk matanya.
__ADS_1
"Para peramal itu benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya tentangmu, Ved," kata Silvia.
"Para peramal itu tidak mengenalku, Silvia! Mereka mengatakan hal yang jelas-jelas tidak sesuai dengan apa yang ada pada diriku! Kau lebih mengenalku daripada mereka! Tapi bagaimana bisa kau lebih percaya kata-kata mereka, Silvia?" tanya Vedra.
Derai air mata Silvia makin deras. Dada Silvia pun mulai terasa sesak.
"'Dan yang harus kau tahu, Silvia, aku menikahi wanita lain untuk membuktikan padamu, bahwa semua perkataan para peramal yang begitu kau dan keluargamu agung-agungkan itu hanyalah omong kosong! Para pembual yang benar-benar sangat merugikanku!" tandas Vedra.
"Hei, bung!"
Seorang pria memotong perkataan Vedra.
Vedra menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Vedra mengenali pria itu dari foto yang diunggah di sosial media Silvia. Pria bernama Bayu yang menurut Silvia adalah sepupunya.
Bayu langsung menarik paksa Vedra.
"'Ikut aku!" geram pria itu.
...*****...
Bugh..
Satu pukulan dari Bayu membuat Vedra tersungkur di lantai area parkir.
"Dasar bedabah! Beraninya kau membuat Silvia menangis!"
Bayu kembali menendangi Vedra berkali-kali.
"'Dan kau juga mengejek tradisi keluarga kami! Itu sama saja kau menghina keluarga kami!" raung Bayu.
Vedra terguling dengan posisi meringkuk, darah segar mulai mengalir keluar dari mulutnya.
"Bayu!" seru Silvia.
Silvia berlari ke arah Bayu, yang sedang memukuli Vedra.
"Hentikan, Bayu!" Silvia menahan Bayu.
"Silvia, orang ini kurang ajar sekali!"
"Bayu, cukup!"
"Tidak, Silvia! Dia harus tahu, bagaimana rasanya setengah mati karena berani menghina keluarga kita! Itu sama saja dia menghinaku!"
"Bayu, kumohon, hentikan, Vedra bisa mati," kata Silvia memohon.
"Si-Silvia!" kata Vedra sambil menahan rasa sakitnya.
"Akan kubuktikan, akan kubuktikan, omong kosong mereka!" ucapnya dengan suara parau.
Silvia masih berlinangan air mata, melihat Vedra yang bicara dengan terbata-bata.
"Ayo kita pergi, Silvia!" ajak Bayu.
Silvia pun pergi meninggalkan Vedra yang tersungkur di tanah dan menjadi tontonan orang-orang yang berdatangan karena mendengar adanya perkelahian.
__ADS_1
...*****...