
Vedra terbangun dari tidur begitu mendengar bunyi alarm dari ponselnya. Ia menggeliat perlahan, tubuhnya terasa sakit karena selama dua malam ini ia tidur di ruang tamu hanya beralaskan bed cover. Vedra masih terlalu sungkan untuk berbagi tempat tidur dengan Verda. Ia terlalu takut jika dirinya lepas kendali, biar bagaimanapun, ia adalah seorang pria dengan orientasi seksual yang sehat. Sungguh berbahaya jika ia tergoda pada Verda yang harus ia akui memang sangat menggoda sisi maskulinnya.
"Sepertinya aku harus membeli kasur dan AC lagi, jadi Verda tidak perlu tidur di kamarku," gumam Vedra sambil melipat kembali bed covernya.
"Eh, tunggu, tapi kalau aku beli AC lagi, daya listrik di rumah ini tidak cukup. Belum lagi pulsa token listrik pasti membengkak. Tidak bisa! Ini menambah bebanku saja!" Vedra bermonolog.
Vedra menghela napas berat, seandainya saja Ibunya memberinya uang angpao pasca acara resepsinya, setidaknya saat ini ia tidak akan mengalami kesulitan keuangan. Yah, seandainya saja wanita yang dinikahinya adalah Silvia pastinya ia tidak akan mengalami hal seperti ini. Toh mereka berdua berjuang bersama kan?
"Ck," Vedra berdecak kesal.
Ia teringat kembali pria lain yang berfoto bersama Silvia. Haruskah ia meminta penjelasan pada Silvia tentang siapakah pria itu?
Vedra membuka pintu kamarnya dan mendapati Verda yang masih tertidur pulas. Batin Vedra merutuk, bagaimana wanita ini bisa tertidur pulas di tempat tidurnya sementara Vedra harus bersakit-sakitan lantaran tidur di lantai?
"Verda, bangun, kau harus ke kantor pagi ini!" Vedra membangunkan wanita itu.
Verda tak bergeming, wanita itu masih memeluk guling dengan begitu erat.
"Verda!" panggil Vedra.
Vedra sungguh tidak mau Verda terlambat bangun. Kemarin wanita itu mengomeli Vedra karena tidak membangunkannya hingga Verda bangun kesiangan.
Vedra mengambil guling yang dipeluk Verda secara paksa, berharap wanita itu akan segera bangun.
"Verda, kau benar-benar bisa terlambat jika tidak bangun sekarang!" tukas Vedra.
Tiba-tiba Verda menarik kembali guling yang ditarik paksa oleh Vedra. Vedra terhuyung dan langsung jatuh ke atas tempat tidur. Verda masih dengan mata yang tertutup mengulas senyum lebar sementara Vedra hanya bisa mematung lantaran Verda langsung memeluknya dengan begitu erat seakan Vedra adalah guling.
"Jehun," ucap Verda dalam tidurnya.
"Ve-Verda," Vedra tergagap.
Ia tidak tahu harus berbuat apa, posisinya saat ini benar-benar serba salah. Ia bisa saja mendorong Verda menjauh darinya, hanya saja jika ia melakukannya, Verda pasti akan marah dan sikap seperti itu jelas bukan sikap seorang gentleman sejati. Namun kalau dibiarkan begini saja, sungguh berbahaya bagi kesadarannya sebagai seorang laki-laki yang normal dan sehat. Verda yang tidur hanya mengenakan kamisol bertali tipis berwarna hitam dan celana gemas berwarna senada sungguh meresahkan Vedra.
"Jehun," Verda kembali berucap.
Vedra menegang karena tangan Verda menyusup masuk ke dalam kausnya, meraba otot-otot perutnya hingga ke sekitar dadanya. Bibir Verda menyusuri leher Vedra, membuat jantungnya berdebar begitu kencang.
Berkali-kali ia memaklumi dirinya bahwa ia adalah seorang pria normal yang sehat dengan tubuh yang memang tercipta untuk bereaksi, fitrah sebagai seorang manusia yang diberi hasrat manusiawi.
Apa ini yang namanya rejeki yang harus ditolak?
"Verda, aku bukan Jehun!" Vedra gemetaran menahan rasa geli sekaligus birahinya.
Verda terkesiap mendengar suara yang terdengar begitu dekat di telinganya. Suara itu memaksa otak Verda untuk segera aktif guna memulihkan kesadarannya.
Verda menggeliat pelan bersamaan dengan terbukanya kelopak matanya dalam kecepatan rendah. Verda tertegun, saat ini pandangannya tertuju pada leher yang saat ini sedang diciuminya. Verda mendongak, mengarahkan pandangannya pada pria yang menegang seperti batang pohon pisang.
__ADS_1
"Ve-Ved!" ucap Verda tertahan.
Vedra hanya terdiam berusaha untuk menjaga dan mengendalikan dirinya yang kini berada dalam pelukan seorang wanita berpenampilan seksi dan menggoda.
Verda berusaha tetap tenang, rasanya ia terlalu gengsi jika harus menjerit histeris sementara pria yang dipeluknya ini nampak tenang-tenang saja.
"Apa yang kau lakukan, Ved?" tanya Verda setenang mungkin.
"Kau memelukku," jawab Vedra dengan intonasi sedatar mungkin.
"Hmm, ya, aku tahu kau memelukku, tapi kenapa aku bisa sampai memelukmu seperti ini? Apa kau sedang berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan?" tanya Verda.
Alis Vedra saling bertaut, ia jelas kurang setuju dengan tudingan Verda.
"Aku hanya berusaha membangunkanmu, dan tiba-tiba saja kau langsung memelukku seperti ini, mengira bahwa aku adalah Jehun," jawab Vedra.
Verda memutar bola matanya, sesungguhnya ini benar sangat memalukan. Namun melihat Vedra yang bersikap stay cool akhirnya membuat Verda merasa bahwa ia punya harga diri sebagai seorang wanita. Ia bukan wanita murahan dan jangan sampai Vedra berpikir bahwa Verda berusaha menggodanya.
"Jadi, sampai kapan kau akan memelukku seperti ini, Verda?" tanya Vedra.
"Hmm, aku tidak memelukmu. Aku hanya tidak sengaja mengira bahwa kau adalah guling," jawab Verda.
Verda melepaskan pelukannya dari Vedra, ia juga menarik perlahan kakinya yang melingkari pinggang pria itu. Verda mengumpat dalam hatinya, mengapa ia bisa bersikap bodoh dengan memeluk pria itu?
Vedra segera beranjak dari tempat tidurnya, ia membuka lemari pakaiannya untuk mengambil pakaian ganti.
Verda mengambil ponselnya yang berada di rak yang terletak di kepala ranjang.
"Oh tidak!" Verda terlonjak kaget, ia menyadari bahwa ia sudah bangun kesiangan.
Verda segera keluar dari kamar, menyerobot Vedra yang hendak menggunakan kamar mandi.
"Ved, aku mandi duluan!" tukas Verda.
Vedra menghela napas berat. Sepertinya ia harus bangun lebih pagi lagi agar tidak berebut menggunakan kamar mandi.
"Ved! Tolong ambilkan handukku!" seru Verda.
Kepala Verda yang mencuat di antara celah pintu kamar mandi membuat Vedra yang berkutat di dapur terkejut.
"Aku lupa membawa handukku, tolong ya," pinta Verda.
"Ya, akan kuambilkan," sahut Vedra.
Vedra keluar dari rumah dan mengambil handuk berwarna merah muda yang dijemur Verda di teras.
"Ini handukmu," kata Vedra
__ADS_1
"Terima kasih!" Verda menyambar handuk dari tangan Vedra.
Verda segera memakai handuk dan keluar dari kamar mandi dengan cepat. Ia segera menuju ke ruangan tempat kopernya berada. Dengan segera ia membuka koper dan mengambil pakaiannya. Verda mengambil blouse berwarna dusty pink dan rok pensil berwarna krem.
"Oh tidak! Pakaianku kusut begini," keluh Verda.
"Ved!" seru Verda sambil keluar dari ruangan pakaiannya.
"Ada apa?" tanya Vedra.
"Ved, kau punya setrika?" tanya Verda.
"Ada," jawab Vedra.
"Kau biasa menyetrika sendiri?" tanya Verda.
"Ya," jawab Vedra singkat.
"Tolong setrika pakaianku yang kusut ini!" Verda menyerahkan pakaiannya pada Vedra.
"Segera ya!" tukas Verda.
Verda segera memakai rangkaian perawatan kulitnya sambil mengawasi Vedra yang menyetrika pakaiannya.
"Apa kau sungguh tidak bisa menyetrika sendiri, Verda?" tanya Vedra.
"Aku tidak bisa menyetrika, makanya aku minta tolong padamu," jawab Verda sambil mengulaskan serum ke wajah dan lehernya.
"Kenapa kau tidak bisa menyetrika? Apa menyetrika sungguh sesulit itu?" tanya Vedra.
"Aku tidak bisa! Toh selama ini di rumahku ada Bi Sri! Kau tenang saja Ved, ini keadaan darurat, ke depannya seluruh pakaianku akan kubawa ke penatu," jawab Verda.
"Hm, ya, itu lebih baik," sahut Vedra.
Verda mencuri pandang ke arah Vedra yang masih menyetrika blouse. Tangan pria itu terlihat cekatan membolak-balikkan blousenya.
"Verda, ini pakaianmu," kata Vedra.
"Oh, oke!" sahut Verda.
Verda segera berdiri dari tempat duduknya dan mengambil pakaiannya, tiba-tiba saja handuk yang membelit tubuhnya terlepas. Vedra terperangah melihat tubuh Verda yang benar-benar polos.
Sementara Verda ia nampak santai, mengabaikan handuknya dan bergegas ke ruangan untuk memakai pakaiannya.
Oh tidak! Batin Vedra meronta karena bagian tubuhnya yang tersembunyi ikut meronta.
...*****...
__ADS_1