Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 050


__ADS_3

Verda menyeruput es green tea latte, kemudian mencomot sepotong sandwich tuna sebagai menu makan siangnya, serta sepotong kue red velvet sebagai makanan penutup. Sementara itu, Vivie lebih memilih vanila frapuccino dan sepotong kue red velvet.


Duduk nongkrong di kafe tadinya sering mereka lakukan bersama sebelum Vivie menikah dan Verda masih menjadi pengangguran alias belum mendapatkan pekerjaan.


Verda kerap berpetualang mencari teh hijau dan kue red velvet yang begitu disukainya lantaran kedua menu tersebut merupakan hidangan kesukaan Jehun, sang idola Verda.


Kini mereka berdua duduk di salah satu meja favorit Verda setiap kali nongkrong di Kedai Kopi Manja. Meja yang berada tepat di samping jendela besar, langsung menghadap ke arah jalan raya.


"Apa Kakak begitu marah pada Ayah dan Ibu sampai kabur dari rumah?" tanya Vivie usai menyeruput minumannya.


"Siapa yang kabur dari rumah, Vie?" tanya Verda.


"Siapa lagi kalau bukan Kakak," sahut Vivie.


"Vie, aku tidak kabur dari rumah," kata Verda.


"Kalau Kakak tidak kabur dari rumah, terus kenapa Kakak tidak pulang ke rumah?" tanya Vivie.


"Vie, aku tidak pulang ke rumah karena aku tinggal bersama suamiku," jawab Verda sambil mengunyah potongan terakhir sandwich isi tunanya.


Vivie mendelik gusar sambil memotong kue red velvet.


"Kak Verda, apa Kakak terkena wabah virus halu? Teman Kakak yang dipanggil Ican itu bahkan mengaku bahwa aku adalah adik iparnya! Haha," Vivie tergelak.


Verda menghela napasnya.


"Vie, aku benar-benar sudah menikah," kata Verda.


"Kakak menikah dengan siapa? Jehun? Jonah? Milk? Taewoo? Siapa lagi ya namanya itu, banyak sekali," Vivie menyebutkan nama-nama anggota boyband Fancy yang diingatnya.


Verda kembali mendelik gusar, ternyata semua orang memang menganggapnya berhalusinasi.


"Kak, kalau Kakak begini terus, jangan salahkan Ayah dan Ibu untuk setuju dengan permintaan rujuk Kak Abim! Ayah dan Ibu hanya terlalu cemas Kak Verda belum kunjung menikah lagi dan lebih memilih untuk menggilai para pria di atas kertas itu!" lanjut Vivie.


Verda menyesap es green tea lattenya dengan tenang. Sepertinya percuma saja Verda bersikeras, karena semakin tidak percaya pula Vivie padanya.


"Lagipula ya, apa benar ada pria sungguhan yang Kakak inginkan untuk menikahi Kakak? Secara standar Kak Verda haruslah macam Jehun! Kalau bukan Jehun, Kakak tidak mau! Kalau menunggu sampai ketemu yang macam Jehun, sampai di alam baka juga tidak mungkin ada, Kak!" cerocos Vivie.


"Vie, begini saja, kita buat kesepakatan! Nanti akan kubawa suamiku, tapi kau harus membantuku meyakinkan kepada Ayah dan Ibu untuk menghentikan keinginan Abim untuk rujuk denganku! Aku sungguh tidak tertarik untuk rujuk dengan Abim!" potong Verda.


"Aduh Kak, apa Kakak akan membayar laki-laki untuk menjadi suami Kakak?" tanya Vivie.

__ADS_1


"Vie, kalau aku harus membayar laki-laki untuk menjadi suamiku, laki-laki itu haruslah Jehun!" sahut Verda.


"Lagipula daripada menggunakan uangku untuk membayar laki-laki untuk jadi suami, lebih baik semua uang itu kubelikan album Fancy sebanyak-banyaknya, supaya semakin banyak pula koleksi photo card yang kumiliki!" lanjut Verda.


"Ya ampun, Kakak ini, terniat sekali sih!" cibir Vivie.


"Vie, aku bekerja keras, menghasilkan uang sendiri agar setiap album Fancy dan semua pernak-pernik dapat kubeli, itu merupakan bentuk dukungan penuhku untuk mereka. Setiap hari aku bekerja dari pagi sampai malam, begitu pula dengan member Fancy yang berusaha keras berlatih, menggarap proyek baru demi para penggemarnya. Intinya kami sama-sama berjuang kan!" lanjut Verda dengan penuh kebanggaan.


"Ya, ya, terserah Kakak saja! Yang pasti sekarang Kakak harus pulang ke rumah! Hentikan acara ngambek-ngambek yang Kakak lakukan!" Vivie menyela.


"Aduh, anak ini!" keluh Verda.


"Kakak, begini saja, daripada menghalu seperti itu, ini sih saranku saja ya," kata Vivie.


Verda kembali menyuapkan potongan kue red velvet ke mulutnya.


"Bian mengatakan bahwa bosnya saat ini sedang mencari pendamping, dan menurut Bian, Kak Verda merupakan kandidat yang potensial untuk direkomendasikan," kata Vivie.


"Aduh, apalagi sih, Vie?!" keluh Verda.


"Bagaimana, Kak? Tertarik untuk ikut kencan buta dengan bosnya Bian?" tanya Vivie.


Verda menyuapkan potongan terakhir kue red velvet ke dalam mulutnya.


Verda mengulas senyumnya.


"Vie, berapa kali kukatakan padamu, aku tidak tertarik dengan perjodohan! Aku sendiri yang memilih pria yang kuinginkan!" cibir Verda.


"Ya terus saja Kakak seperti itu sampai lebaran monyet!" Vivie balas mencibir kakaknya kemudian tertawa mengejek.


"Ya sudah, Vie, jam istirahatku sudah mau selesai, aku harus kembali ke kantor," kata Verda sambil melirik jam tangannya.


"Baiklah, Kak," sahut Vivie akhirnya mengalah. "Kakak nanti pulang kan?" tanya Vivie.


"Vie, kita kan sudah membuat kesepakatan," sahut Verda.


Verda segera merangkul Vivie sebelum ia pergi. Vivie melambaikan tangannya mengiringi kepergian Verda.


"Duh, Ayah dan Ibu mau Kak Verda rujuk dengan Kak Abim, tapi Bian mau agar Kak Verda dijodohkan dengan bosnya, Kak Verda hanya mau dengan Jehun! Di sini rasanya akulah yang benar-benar akan gila!" Vivie bermonolog sendiri.


...*****...

__ADS_1


Bian, pria berusia dua puluh tujuh tahun itu melangkah cepat saat mendapat telepon dari sekretaris bos besarnya yang bernama Pamela.


Pamela segera membukakan pintu ruang kerja bos besar dan mempersilakan Bian untuk duduk menunggu di sofa. Ada perasaan tegang yang membuat perut pria itu mendadak kram.


Bos besar melangkah dari meja kerjanya yang luas, duduk bergabung bersama Bian di sofa. Pria bersetelan jas mewah itu mengulas senyum ramah, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Namamu Bian dari departemen HR ya?" tanya Bos besar dengan suaranya yang tidak rendah dan tidak pula tinggi.


"Benar, Pak," jawab Bian seakan tersedot dalam sorot mata tajam pria itu.


Pria bersenyum ramah dengan tatapan mata tajam itu menunjuk ke atas meja kaca yang dipenuhi dengan foto-foto wanita. 


"Ini wanita yang kau rekomendasikan untukku?" tanya pria itu mengambil salah satu kertas dari tumpukan foto-foto tersebut.


Bian meneguk ludahnya sambil mengangguk takut-takut.


"Be-benar, Pak," jawab Bian tergagap.


"Dari semua foto yang dikirimkan padaku, kebanyakan semua menampilkan wajah-wajah dengan sudut terbaiknya," kata pria itu. "Tapi, kenapa kau malah mengirimkan foto wanita berkacamata hitam ini padaku?" tanya pria itu lagi.


"Ma-maaf, Pak," Bian tergagap.


"Ha-habisnya, kakak ipar saya itu tidak fotogenik saat di foto. Jadi hanya foto itu saja yang menurut saya terlihat estetik," jawab Bian.


Pria itu memegangi dagunya.


"Aturkan pertemuanku dengannya minggu depan di restoran Hotel J, jam tujuh malam," kata pria itu dengan nada memerintah.


"Ba-baik, Pak," jawab Bian.


"Baiklah, silakan kembali bekerja."


"Baik, Pak, terima kasih," Bian pamit undur diri.


Begitu keluar dari ruangan bos besar, Bian mengepalkan tangannya, membentuk pose kemenangan yang tak terlihat oleh siapa pun.


Strategi untuk mencuri perhatian bosnya dengan mengirimkan foto kakak iparnya yang bertema misterius ternyata berhasil. 


Janji temu sudah dibuat, kini tinggal bagaimana meminta tolong pada Vivie agar kakak iparnya bersedia datang ke kencan buta untuk menemui bosnya.


Semoga saja Vivie berhasil membujuk Kak Verda, batin Bian.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2