
Vivie melemparkan pandangannya kepada kedua orang tuanya yang terlihat membolak-balik dokumen portofolio psikiater yang direkomendasikan dari beberapa rumah sakit jiwa yang dihubungi Vivie.
Vivie terpaksa melakukannya lantaran ia sangat yakin bahwa kakaknya benar-benar sudah mengalami gangguan jiwa. Obsesi Verda terhadap idolanya membuat Verda berhalusinasi tingkat dewa. Kondisi Verda diperparah dengan sikap menolak untuk pulang ke rumah lantaran sudah mengaku memiliki seorang suami.
"Ayah, apa kita perlu menghubungi psikiater yang dulu merawat Verda?" tanya Ibu.
"Ibu, tapi bukankah menurut hasil diagnosa psikiater, Verda sudah dinyatakan sembuh?" Ayah balik bertanya.
Verda pernah menjalani perawatan mental selama dua tahun sebelum akhirnya dinyatakan sembuh tiga belas tahun yang lalu.
"Yah, pokoknya kita coba saja yang mana yang bagus untuk Verda. Kalau bisa jangan laki-laki. Berbahaya sekali sekarang ini, sedikit-sedikit beritanya pencabulan!" keluh Bu Eva.
Vivie menunggu dengan sabar, kakaknya yang saat ini katanya akan pulang membawa suaminya. Vivie sungguh sedih mendengar kakaknya yang seperti itu. Obsesi berlebihan kepada pria yang dipujanya hingga berhalusinasi seperti itu.
Ting..Tong..
Suara bel berbunyi, Bi Sri dengan sigap membuka pintu depan karena majikannya sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Mbak Verda," Bi Sri menyambut kehadiran Verda.
"Bi Sri, ayah dan ibu ada?" tanya Verda.
"Semuanya menunggu Mbak Verda di ruang keluarga," jawab Bi Sri.
Verda masih berdiri di ambang pintu, mengawasi Vedra yang saat ini sedang memarkirkan mobil Verda di garasi.
"Pak Yanto ke mana ya, Bi?" tanya Verda.
"Pak Yanto minta libur, Mbak, katanya ada acara keluarga," jawab Bi Sri.
"Oh, begitu, pantas saja," sahut Verda.
"Siapa yang Mbak Verda tunggu?" tanya Bi Sri.
"Suamiku, Bi," jawab Verda.
"Su-suami?" tanya Bi Sri keheranan.
Duh, Mbak Verda, kasihan sekali, cantik-cantik tapi sudah gila, Bi Sri membatin.
Belum selesai Bi Sri membatin, seorang pria turun dari mobil Verda. Pria itu segera menghampiri Verda.
"Sayang, ini Bi Sri," Verda mengenalkan pria itu pada Bi Sri.
Pria itu mengangguk dan hanya mengulas senyum yang membuat Bi Sri kehilangan kata-katanya.
"Ayo kita masuk," ajak Verda.
__ADS_1
Bi Sri masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, entah mengapa ia merasa bahwa sepertinya ia pernah melihat pria itu di suatu tempat, tapi di mana ya?
Verda segera memasuki ruang keluarga. Terlihat keluarganya sedang duduk bersantai di sofa.
"Ayah, Ibu, Vivie!" seru Verda menghampiri mereka.
"Verda!" Ibu menyambut pelukan Verda bersama ayahnya.
"Kak Verda!" Vivie ikut merangkul Verda.
"Oh ya, Ayah, Ibu, Vivie, perkenalkan, ini suamiku."
Seluruh mata saat ini tertuju pada sosok pria bertubuh tinggi, memakai kemeja berwarna biru langit dengan jas hitam. Pria itu mengulas senyum yang memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. Rambutnya yang hitam ditata bergaya comma style, matanya tajam dengan manik mata berwarna hitam.
Vivie ternganga, ia bahkan lupa cara menutup mulutnya. Entah mengapa ia merasa pernah melihat pria yang saat ini sedang memperkenalkan diri dengan suara baritonnya.
"Nama saya Vedra," kata pria itu.
Pria itu segera menyalami ayah dan ibu Verda yang mematung.
Verda mengulas senyumnya saat membekap mulut Vivie yang sudah macam kudanil mangap.
"Awas, Vie, mulutmu nanti kemasukan gajah!" ejek Verda.
Vivie melotot lebar, kedua bola matanya bahkan sudah nyaris lepas saking kagetnya.
"Kak Verda! Siapa laki-laki itu?" tunjuk Vivie.
Vivie mengerjapkan matanya, berharap bahwa saat ini ia pasti sedang ikut berhalusinasi juga.
Sialnya, pria itu tidak menghilang dari pandangan Vivie dan malah mengulas senyum ramah ke arah Vivie.
"Kak Verda, jambak rambutku!" pinta Vivie.
"Vie, apa sih! Jangan bicara yang aneh-aneh!" sergah Verda.
"Sayang, ayo duduk, jangan berdiri terus," Verda merangkul pinggang Vedra dan mengajak Vedra duduk di sofa.
Verda segera bergelayut manja di lengan Vedra. Di hadapan mereka, ayah dan ibu Verda masih mematung, kehilangan kata-kata.
Ayah dan Ibu Verda terlalu terkejut. Selama ini Verda tidak pernah sekali pun membawa dan mengenalkan seorang pria kepada keluarganya. Terlebih pasca bercerai dari Abim. Hanya pria-pria dalam poster yang menempel di dinding kamar Verda-lah yang diperkenalkan oleh Verda kepada keluarganya sebagai pria yang mengisi hati, jiwa, dan pikiran Verda.
Sekarang seorang pria nampak duduk dengan tenang, mengulas senyum yang terlihat kaku saat Verda bergelayutan manja di lengannya.
"Verda, kamu pasti bercanda kan? Tidak mungkin pria ini suamimu!" Pak Daus, ayah Verda segera terlepas dari keterpakuannya.
"Verda, bagaimana bisa tiba-tiba begini?" tanya Bu Eva.
__ADS_1
"Sayang, kamu membawa buku nikah kita kan?" tanya Verda.
Vedra mengangguk pelan, sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sepasang buku nikah yang langsung diperlihatkan sebagai bukti otentik bahwa keduanya memang telah menjadi suami istri yang sah.
Vivie dan kedua orang tuanya benar-benar membeku. Sementara saat ini Vedra merasa bahwa giginya sudah kering karena harus menyeringai terus. Belum lagi Verda yang menempel-nempel padanya seperti ini membuatnya nelangsa. Benda padat dan kenyal yang menempel di lengannya jelas memancing kebangkitan sesuatu yang saat ini tidak perlu bangkit karena bukan pada waktu dan tempatnya.
Lagi-lagi kedua orang tua Verda dan juga Vivie saling melemparkan pandangan. Mereka sungguh masih belum bisa mencerna semua hal yang terasa begitu tiba-tiba seperti ini.
"Verda, kita harus bicara," kata Pak Daus.
"Silakan, Ayah," jawab Verda.
"Tidak, jangan di sini, di atas saja," ajak Pak Daus.
"Ayo, Sayang," ajak Verda pada Vedra.
"Tidak, dia tinggal di sini saja," tolak Pak Daus.
"Sayang, tunggu di sini ya," Verda berpamitan pada Vedra.
"I-iya, Sayang," nada bicara Vedra terdengar begitu canggung.
Yah, Vedra memang baru belajar memanggil 'sayang' untuk Verda ketika mereka dalam perjalanan menuju ke rumah orang tua Verda. Rasanya sungguh canggung memanggil Verda dengan panggilan sayang, karena selama ini Vedra hanya memanggil wanita yang ia cintai dengan sebutan 'sayang'.
Vedra menunggu di ruang keluarga, Bi Sri menghampirinya dengan membawakan nampan berisi beberapa cangkir teh.
"Ini diminum dulu tehnya, Mas," kata Bi Sri.
"'Terima kasih, Bi Sri," ucap Vedra.
"Mas, apa sebelumnya kita pernah bertemu ya?" tanya Bi Sri.
"Maaf, ini pertama kalinya saya kemari," jawab Vedra.
Sebenarnya ini ketiga kalinya Vedra menginjakkan kaki ke rumah ini. Dua kali datang bertandang, ia tidak menjumpai penghuni rumah ini.
"Oh begitu, habisnya, penampilan mas ini rasanya familiar sekali. Seperti pernah lihat di mana begitu," kata Bi Sri mencoba mengingat-ingat.
Vedra menyeringai, yah, sepertinya penampilannya benar-benar terlihat sangat aneh. Memakai setelan jas yang jujur saja terasa sempit karena jas ini satu-satunya jas yang ia punya untuk menghadiri wisudanya satu dekade yang lalu. Belum lagi Verda juga menambahkan riasan untuk wajahnya.
"Oh ya, di dinding kamar Mbak Verda!" seru Bi Sri tiba-tiba.
"Mas ini persis terlihat seperti keluar dari gambar-gambar yang menempel di dinding Mbak Verda!" Bi Sri menegaskan.
"Hehe," Vedra menyeringai.
"Tidak bisa, Verda!"
__ADS_1
Terdengar teriakan Pak Daus dari lantai dua yang membuat Vedra seketika menegang.
...*****...