Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 038


__ADS_3

Verda keluar lebih dulu dari ruangan Pak Handoko dengan perasaan kesal yang harus pandai-pandai disembunyikannya. Hanya saja ekspresi wajahnya jelas tidak bisa berbohong.


"Ada apa, Verda? Kenapa kau dan Ved dipanggil ke ruangan Pak Handoko?" tanya Nita ketika melihat Verda kembali duduk di kursinya.


Verda menghela napasnya berat sambil menahan kekesalan yang bergemuruh di dadanya.


"Nit, apa kau tahu, Pak Handoko akan dimutasi ke kantor pusat?" tanya Verda.


"Wah serius?" tanya Nita.


Teti yang sedari tadi memasang radar untuk memantau aktivitas rekan-rekan kerjanya langsung mendongak dari kubikelnya.


"Ya, dan apa kau tahu yang lebih mengejutkan lagi?" tanya Verda.


"Oh waaw! Aku terkejut!" Ican tiba-tiba sudah ada di belakang Verda dan Nita.


"Ih, apa sih, Can?!" sungut Nita.


"Justru kau yang bikin kaget, Can!" Teti menepuk bahu Ican.


"Aduh sakit, Tet!" Ican mengaduh.


"Hihh, kalian ini mau dengar cerita aku nggak sih?!" cibir Verda.


"Oh oke oke!" sahut Ican dan Teti.


"Lanjut! Lanjut!" sahut Nita.


"Orang yang akan menggantikan posisi Pak Handoko sebagai manajer cabang adalah Vedra," Verda melanjutkan.


Ican, Teti, dan Nita terdiam sejenak. Mereka masih mencerna perkataan Verda yang membuat mereka seketika membeku.


"Oh my, oh my!" seruan Teti langsung membuat Ican terpaksa membekap mulut Teti.


Ican harus melakukannya sebelum mengundang perhatian pegawai lain yang saat ini sedang sibuk bekerja.


"Hmmph, hmph!" Teti meronta dalam bekapan Ican, membuat Ican akhirnya melepaskan bekapannya.


"Ican! Bisa mati aku! Kau mau suamiku kawin lagi gara-gara aku mati?!" sungut Teti.


"Yee, makanya kau jangan ribut begitu!" cibir Ican.


"Aduh, aduh, kalian ini mau lanjut dengar tidak sih?" sergah Verda dengan nada kesal.

__ADS_1


"Oke, Bun! Lanjut, Bunda!" kata Ican setengah berbisik.


Verda mengatur napasnya, ada emosi yang terdengar dari nada bicaranya.


"Awalnya Vedra sepertinya menolak lantaran merasa bahwa ia akan mengundurkan diri karena menikah dan bertepatan dengan masa kontrak kerjanya yang akan berakhir. Tapi Pak Handoko bilang, anggap saja mendapat kontrak kerja dengan posisi baru," lanjut Verda.


"Wah! Luar biasa, Vedra! Sungguh rejeki sekali ya dia, begitu menikah langsung dapat posisi manajer cabang!" ceplos Nita.


"Hebat sekali ya, Vedra langsung jadi manajer cabang padahal baru kerja berapa tahun di sini," Teti menimpali.


"Hmm, tapi kenapa Pak Handoko tidak memilihmu ya, Verda? Kau kan lebih senior daripada Vedra," ceplos Ican.


"Ican!" Teti menyikut rusuk Ican lalu melotot ke arah pria yang saat ini tengah mengaduh kesakitan.


Ekspresi Verda yang tadinya begitu masam saat mendengar perkataan Teti, berubah semakin masam karena mendengar ceplosan Ican.


"Ayo, kita kembali bekerja," ajak Teti.


Teti mengerjapkan matanya ke arah Nita.


"Oh, oke! Ayo lanjut kerja lagi," Nita bergegas kembali ke meja kerjanya.


Nita, Teti, dan Ican saling melemparkan pandangan mereka ke arah Verda yang saat ini termenung di belakang meja kerjanya.


...*****...


Ican yang saat ini sedang mengaduk-aduk kopinya merasa sangat terintimidasi oleh Teti dan Nita yang menghampiri pria itu di pantri. Ican masih mengaduk-aduk kopi, pria itu merasa kantuknya seketika hilang bukan karena meminum kopinya melainkan dua wanita yang saat ini seakan merundungnya.


"Aduh, maaf ya, aku tuh hanya penasaran. Verda itu kan seniornya Vedra. Tapi kenapa Pak Handoko lebih memilih Vedra untuk jadi pengganti beliau, bukannya Verda?" sahut Ican.


"Yah, mungkin mereka sama-sama satu frekuensi!" tukas Nita.


"Frekuensi apaan sih, Nit?" tanya Ican.


"Ya, siapa tahu, istrinya Vedra ternyata masih ada hubungan persaudaraan dengan Pak Handoko. Lihat sendiri kan, begitu Vedra menikah, tiba-tiba tampuk kekuasaan Pak Handoko diserahkan begitu saja pada Vedra," Nita menjelaskan asumsinya.


"Hmm, benar juga, Nit. Sumpah aku tidak kepikiran begitu," sahut Ican.


"Tidak menutup kemungkinan kalau ternyata istri Vedra masih punya hubungan saudara dengan Pak Handoko. Terlebih Vedra macam menyembunyikan rapat-rapat pernikahannya," Teti menimpali.


"Wah, kalian memang terbaik! Verda sepertinya harus tahu mengenai masalah ini!" kata Ican antusias.


"Loh, Can, kau ini jangan cari gara-gara deh!" sergah Nita.

__ADS_1


"Teman-teman, Verda harus tahu masalah ini, supaya dia jangan terlalu berkecil hati dan memaklumi bahwa junior dia lebih unggul karena adanya pengaruh orang dalam!" tukas Ican.


Nita dan Teti kembali berpandangan, mereka sepertinya menyetujui pemikiran Ican.


"Can, kau benar-benar serius ya naksir Verda?" tanya Nita.


Ican menyeringai sambil menyeruput kopinya.


"Yee, nih anak ditanya malah cengar-cengir macam sapi saja," Nita mendorong bahu Ican.


"Aduh, tante-tante ini, memangnya kenapa sih kalau aku serius naksir Verda? Verda loh cantik, seksi aduhai!" Ican terkekeh.


"Eh, cie, ada Pak Manajer Cabang yang baru!" 


Teti menyapa Vedra yang kebetulan baru tiba di pantri. Vedra hanya diam dengan ekspresi datarnya, menuju ke tempat dispenser untuk mengisi kembali tumbler kedap panas miliknya yang kosong.


"Ved, selamat ya, atas promosimu," kata Nita.


"Rezekimu bagus sekali, Ved. Begitu habis nikah, kau langsung dapat promosi jabatan. Sepertinya istrimu pembawa rejeki untukmu ya," Teti menimpali.


"Terima kasih," sahut Vedra dingin.


"Jadi, kapan nih, acara makan-makannya?" Ican berseloroh.


"Kapan-kapan," sahut Vedra dingin sambil meninggalkan pantri.


"Hih, tuh orang memang tidak asyik ya? Kok mau ya, wanita secantik itu menikahi Vedra?!" cibir Ican.


"Yee, tanya dong, Can, Vedra ke dukun mana. Siapa tahu dukunnya ampuh bisa membuatmu mendapatkan Verda, haha," Teti terkekeh.


...*****...


Verda masih diam termenung di depan layar monitor komputernya. Saat ini pikirannya sedang terbang ke awang-awang. Ia benar-benar merasa tak ingin melakukan apa pun bahkan untuk sekadar membuka akun media sosialnya seperti yang ia lakukan saat memantau kegiatan sang idola.


Ya, Verda merasa kehilangan semangat kerja. Ia merasa selama ini sepertinya kerjanya sungguh tidak bagus di mata Pak Handoko karena beliau lebih memilih Vedra yang notabene adalah juniornya sebagai manajer cabang.


Verda merasa kesal saat matanya kembali menangkap sosok Vedra yang kembali dari pantri sambil membawa tumbler kedap panas. Pria itu kembali duduk di meja kerjanya, berkutat di depan layar monitor, mengabaikan segala yang berada di sekitarnya.


Cita-cita Verda sungguh sederhana. Ia ingin bisa bergabung di kantor pusat Valid Corp. Menjadi pegawai di kantor pusat yang jelas jauh lebih bonafit ketimbang hanya menjadi staf yang berada di kantor cabang. 


Salah satu cara cepat untuk bisa bergabung menjadi pegawai kantor pusat tentu saja harus menunjukkan prestasi kerja yang sangat baik. Menjadi manajer cabang adalah salah satu cara cepatnya selain harus mengikuti tes internal yang luar biasa sulit.


Namun tiba-tiba posisi itu justru didapatkan oleh Vedra yang notabene adalah juniornya. Harga diri Verda pun otomatis terluka.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2