
"Verda."
Verda menoleh saat Teti menghampirinya di pantri kantor. Teti melangkah hati-hati, entah mengapa Verda merasa tatapan Teti tidak seperti biasanya.
"Ada apa, Tet?" tanya Verda sambil menyeruput teh yang telah ia seduh.
"Verda, apa kemarin kau ada ke kota sebelah?" tanya Teti.
Verda tertegun mendengar pertanyaan Teti. Sungguh tiba-tiba sekali Teti bertanya seperti itu.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Verda.
"Habisnya, aku seperti melihatmu, mau kusapa tapi takut salah orang," jawab Teti sambil tersenyum.
Verda seketika menegang, namun ia berusaha untuk menutupinya.
"Oh begitu, untung saja tidak kau sapa ya, nanti dikira kau tukang gendam, hehe," Verda terkekeh.
Teti tidak menanggapi guyonan Verda, ia hanya mengedikkan bahunya.
"Aku balik ke mejaku ya, masih banyak kerjaan," Verda berpamitan.
"Ya," sahut Teti masih tak melepaskan tatapannya dari Verda.
Verda merasa was-was, instingnya mengatakan bahwa Teti mungkin mengetahui sesuatu. Ia hafal betul gerak-gerik Teti ketika mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Karena Verda pun juga seperti itu.
...*****...
Tok... Tok...
Teti mengetuk pintu ruang kerja Vedra.
"Ved," sapa Teti sambil memasuki ruang kerja pria itu.
"Ini laporan yang kau minta," Teti menyerahkan dokumen yang sudah dicetaknya ke meja kerja Vedra.
"Terima kasih," sahut Vedra dengan segera memeriksa laporan tersebut.
"Oh ya, Ved, ngomong-ngomong, kemarin kau ada ke kota sebelah ya?" tanya Teti.
Vedra terkesiap mendengar pertanyaan Teti, namun sebisa mungkin ia tutupi dengan ekspresi datarnya.
"Kota sebelah mana, Teti?" tanya Vedra tanpa teralih dari dokumen yang diperiksanya.
"Kota S," jawab Teti dengan cepat.
Vedra mengarahkan pandangannya ke arah Teti.
"Tidak, aku tidak ada keluar kota," jawab Vedra.
"Oh begitu," kata Teti. "Maaf ya, aku bertanya seperti itu karena aku sepertinya ada melihatmu, ingin kusapa tapi takut salah orang! Untung saja aku tidak menyapa orang itu ya, haha," Teti tertawa.
Tawa Teti terdengar mencurigakan di telinga Vedra.
"Teti, kau bisa kembali ke mejamu," tukas Vedra.
"Oh, oke, laporanku beres ya?" tanya Teti.
"Ya," sahut Vedra singkat.
Mendadak Vedra merasa was-was dengan pertanyaan Teti.
Mengapa Teti bertanya begitu ya? Vedra jadi bertanya-tanya sendiri.
...*****...
Begitu jam makan siang tiba, Verda segera menuju ke pantri untuk menyantap makan siangnya. Menu makan siang hari ini adalah nasi padang. Entah mengapa Verda lebih suka dengan nasi padang yang waktu itu dibeli Vedra.
"Verda, aku beli sushi nih," Ican menghampiri Verda dengan satu kantong plastik yang ia pamerkan.
__ADS_1
"Ya elah, kau sudah makan duluan," Ican terdengar kecewa.
"Kau beli di mana, Can?" tanya Verda.
"Ini, teman kuliahku jualan makanan Jepang begitu," sahut Ican sambil mengeluarkan semua makanan yang dibelinya di depan Verda.
"Bah, Ican, Verda saja yang diperhatikan!" ceplos Nita begitu memasuki pantri.
"Yee, masa iya, aku perhatikan kalian yang sudah punya suami! Nanti aku disangka pebinor!" Ican menanggapi tudingan Nita.
"Ya, diperhatikan sebagai teman dong, Can!" sahut Teti.
"Ogah, nanti kalian baper, aku yang dilabrak suami kalian," cibir Ican.
"Haha," Nita dan Teti tertawa terbahak-bahak.
Verda hanya menyeringai sambil mengunyah sepotong sushi yang dicomotnya.
"Haha, tapi memang ya, sekarang ini nampaknya memang sedang zamannya orang yang lajang mengincar pasangan orang, benar begitu kan, Verda?" Teti mencomot sepotong sushi sambil mengulas senyum misterius ke arah Verda.
Verda masih mengunyah sushinya, tatapan Teti sungguh mengintimidasi Verda.
"Teti, apa maksudmu?" tanya Ican usai menelan sushi yang dicomotnya.
"Ya, kenapa ya, orang yang masih lajang sekarang tuh lebih senang dengan orang yang sudah punya pasangan sah?" kata Teti, pandangan matanya masih tertuju pada Verda.
Verda merasa tatapan Teti sungguh membuatnya sulit untuk menelan sushinya. Verda jadi makin yakin bahwa Teti pasti mengetahui sesuatu.
"Haha, Tet, katanya sih punya orang jauh lebih menantang, makanya yang lajang suka sama yang punya pasangan, apalagi yang sah!" Nita tergelak menimpali Teti.
"Huuh! Maaf ya, aku lajang tapi sukanya ya lajang juga! Ogah deh dengan pemain ganda, cuma jadi cadangan!" cerocos Ican.
"Haha, kalian ini membahas apa sih? Aku sungguh tidak mengerti arah pembicaraan kalian," Verda tertawa menanggapi obrolan rekan-rekannya.
"Entahlah, Teti ngomongnya ngelantur gitu, pasti habis nonton serial Pemain Layangan kan? Serial bertema perselingkuhan yang sedang ramai! It is your dream not me!" tukas Ican sambil mencomot kembali potongan sushi yang masih tersisa.
"Wah, sudah hampir jam satu, harus kembali ke meja nih, duluan ya, kerjaanku masih banyak," Verda berpamitan.
Verda bahkan tidak menghabiskan nasi padangnya dan langsung meninggalkan pantri.
Sepanjang sisa hari, Verda sungguh merasa tidak tenang dengan tatapan yang dilemparkan Teti padanya. Bahkan saat melihat Verda memasuki ruangan Vedra, Teti masih tetap memandanginya.
...*****...
"Tet, kau kenapa sih? Dari tadi kulihat matamu sampai mau lepas gara-gara melotot terus," kata Nita.
"'Nit, ikut aku," kata Teti sebelum beranjak dari tempat duduknya.
Teti segera menuju ke toilet diikuti oleh Nita. Keduanya memasuki toilet dan kemudian saling berpandangan di depan cermin besar di hadapan mereka.
"Nita, seingatku waktu itu kau pernah bilang ya, kalau Ved punya aroma yang sama dengan Verda?" tanya Teti.
Nita yang kadang-kadang ingat tapi seringnya lupa itu berpikir beberapa menit sebelum akhirnya menepuk kedua tangannya. Maklum saja banyaknya pikiran membuat fungsi otak Nita melemah.
"Nah iya, aku lupa mau cerita sama kau! Kapan hari aku melihat Verda dan Ved pergi ke penatu bersama!" kata Nita.
"Nit, aku loh kemarin melihat mereka bersama di kota sebelah," ucap Teti.
"E... eh, serius?" mulut dan mata Nita melebar drastis.
"Ya, aku melihat mereka di sebuah toko perhiasan mewah yang ada di pusat perbelanjaan kota sebelah! Mereka terlihat sangat akrab, malah lebih akrab dari yang kukira selama ini," kata Teti.
"Dan, apa kau tahu, mereka mengelak loh! Padahal aku jelas-jelas melihat mereka bersama! Mataku ini masih sehat lho, yah biar kata ada minus satu setengah, tapi aku melihat dengan jelas mereka dari depan toko!" lanjut Teti.
"Mereka tidak melihatku karena terlihat asyik berbincang sambil memilih perhiasan!" Teti menjelaskan.
"Ooh, jadi ini ya maksud kau membicarakan masalah perselingkuhan waktu kita makan siang bersama?" Nita mencoba menarik kesimpulan dari penjelasan Teti.
Teti dan Nita saling bersitatap.
__ADS_1
"Aduh, aku sih ya, asalkan bukan suamiku yang selingkuh, aku sebenarnya tidak masalah, tapi masalahnya, ini teman kita loh," kata Nita.
"Nah, itu dia, Nit, sepertinya kita harus membicarakan ini pada Verda! Kau pasti tahu kan, kalau ada orang yang berbuat zina di satu tempat, nanti balanya bisa berimbas kepada kita semua loh!" ucap Teti.
"Ih, amit-amit lah, Tet! Jangan sampai seperti itu!" kata Nita.
"Apa sebaiknya aku saja ya yang bicara pada Verda?" kata Teti.
"Nah iya, coba kau bicarakan baik-baik! Yah, sekalian nasehatilah sebagai teman yang baik!" usul Nita.
...*****...
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, satu per satu karyawan mulai meninggalkan meja kerja mereka.
"Duluan ya," Nita berpamitan.
"Aku juga duluan, ada acara nih," Ican ikut berpamitan.
"Sampai besok!" sahut Verda dari kubikelnya.
Verda masih harus mengerjakan beberapa laporan, ia melihat Vedra yang juga sudah meninggalkan ruang kerjanya. Pria itu sudah berpamitan padanya karena harus pergi nge-gym.
Teti menghampiri meja kerja Verda, ia menarik kursi kosong dan segera duduk di samping Verda.
"Verda," kata Teti sambil menatap lurus ke arah Verda.
"Ada apa, Teti? Tumben kau belum pulang," sahut Verda.
"Hmm, ya, karena ada hal yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Teti.
"Ada apa sih, Tet? Kau serius sekali, serem loh, hehe," Verda terkekeh.
"Verda, sebaiknya kau akhiri saja hubunganmu dengan Vedra," ucap Teti.
Verda terperangah, ia benar-benar terkejut mendengar ucapan Teti.
"Teti, apa maksudmu?" tanya Verda.
Teti menyeringai misterius.
"Verda, kau dan Vedra sedang menjalin perselingkuhan kan?!"
Verda terperanjat mendengar ucapan Teti.
"Astaga, Teti, bagaimana kau bisa berpikir aku dan Vedra melakukan perselingkuhan?" Verda mengerutkan keningnya.
Teti menatap lurus ke arah Verda.
"Verda, aku sesungguhnya tidak bermaksud untuk ikut campur dengan urusan pribadimu. Mau kau berhubungan dengan siapa sebenarnya itu bukan urusanku. Tapi, karena sudah cukup lama kita saling mengenal, dan aku peduli padamu, jadi aku rasa sebaiknya aku harus mengatakan hal ini padamu," kata Teti.
"Ved sudah menikah, dia pria yang sudah memiliki istri. Jika hubungan kalian sampai diketahui oleh istri Ved, sungguh berbahaya sekali, Verda! Kau bisa dilabrak istri sah Vedra!"
"Aku ini loh, pernah punya pengalaman ikut melabrak pelakor suaminya tanteku, hihh, habis itu organ intim si pelakor diberi cabai satu kilo! Sampai menangis-menangis minta ampun itu perempuan! Mengerikan sekali kan?!"
Verda merasa ngilu mendengar cerita Teti. Makan gorengan pakai cabai saja rasa pedasnya menggigit lidah, apalagi organ intim?! Hihh!!
"Maka dari itu, Verda, daripada kau nanti dilabrak istri Ved, terus viral gara-gara masuk lambe-lambean dan akhirnya mempermalukan kita semua, pasti mengerikan sekali kan?!"
...*****...
Pembaca setia acil otor..
Terima kasih sudah membaca lagi episode ini.
Kondisi otor masih kurang fit, jadi untuk up episode agak slow. Harap maklum ya, hehe.
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like dan favorite supaya nggak ketinggalan update ya.
Sampai jumpa di episode selanjutnya.
__ADS_1