Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 087


__ADS_3

Suasana pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota nampak begitu ramai. Maklum akhir pekan di awal bulan merupakan momen yang paling sempurna untuk menghabiskan uang. Gerai-gerai membuka penawaran diskon besar-besaran di depan pintu masuk.


Para pegawai dari setiap gerai menyerahkan brosur kepada setiap pengunjung yang kebetulan lewat di depan gerai mereka.


"Beli dua gratis satu atau diskon lima puluh persen, Kakak! Silakan mampir," salah satu pegawai menyerahkan brosur kepada Verda.


"Terima kasih," kata Verda.


Di tangan Verda sudah ada setumpuk brosur yang diterimanya sejak melangkah masuk ke pusat perbelanjaan begitu ia dan Vedra meninggalkan hotel tempat mereka menghabiskan malam panjang berdua.


Lokasi pusat perbelanjaan tersebut berada dalam komplek yang sama dengan hotel tempat mereka menginap karena saat ini mereka sedang berada di luar kota.


"Ved, kita ke toko baju dulu," Verda menarik lengan Vedra.


Mereka berdua memasuki toko baju impor yang selalu menyediakan koleksi pakaian terbaru.


"Ved, kau biasa belanja kemeja impor di mana?" tanya Verda.


"Daring," jawab Vedra.


"Apa kau tidak pernah belanja langsung di toko seperti ini?" tanya Verda.


"Bukan tidak pernah, hanya jarang saja," jawab Vedra.


"Kenapa? Harganya jauh lebih murah daripada kemeja Prada-mu?" tanya Verda.


"Bukan begitu. Aku membeli kemeja yang mahal sesuai dengan kualitasnya, jadi aku tidak perlu membeli kemeja berkualitas rendah walau harganya lebih murah dan bisa beli banyak, namun ujungnya justru hanya memenuhi lemari saja," jawab Vedra.


"Lalu kalau belanja seperti ini, jujur saja akan membuang waktu lebih lama, mulai dari memilih, antre mencoba di ruang ganti, sampai antre lagi di kasir," lanjut Vedra.


"Wah, aku sungguh tidak berpikir ke sana, Ved! Haha! Bagiku, asalkan aku suka, pas untukku, pasti langsung kubeli," Verda tertawa.


Verda terhenti di depan deretan kemeja bermotif abstrak yang langsung menarik perhatiannya.


"Ved, aku rasa kemeja ini cocok untukmu," kata Verda.


"Hmm, apa kemeja itu dipakai Jehun?" tanya Vedra.


"Haha, aku rasa Jehun tidak pernah memakai kemeja bermotif abstrak seperti ini," sahut Verda seraya tertawa.


"Aku rasa aku tidak cocok memakai kemeja seperti itu," sahut Vedra.


"Ved, ini cocok untukmu," Verda mengambil kemeja itu dan menyampirkannya di tubuh Vedra.


Verda mengulas senyumnya sambil meraba-raba dada bidang Vedra.


"Verda, jangan menggodaku," Vedra menahan tangan Verda.


"Hihi," Verda terkekeh geli melihat Vedra yang salah tingkah.


Verda merangkul pinggang Vedra dan bergelayut manja.


"Aku tidak menggodamu, Ved, aku hanya ingin menjahilimu! Hihi," lagi-lagi Verda terkekeh geli.


Verda tersentak kaget karena tiba-tiba saja Vedra mengecup pipinya sekilas lalu kabur begitu saja.


"Ved!" pekik Verda tertahan lalu mengejar langkah Vedra.


...*****...


Usai membeli beberapa pakaian, keduanya kembali melanjutkan penyisiran ke kawasan restoran yang menjual beraneka hidangan, baik hidangan lokal maupun kuliner mancanegara seperti masakan Jepang, Korea, Thailand, hingga Tiongkok.


"Ved, kau mau makan apa?" tanya Verda.


"Terserah saja," sahut Vedra.


"Mana ada restoran yang namanya terserah, Ved!" cibir Verda.

__ADS_1


Vedra menyeringai melihat Verda yang manyun seperti itu.


"Apa kau mau makanan Korea?" tanya Verda.


"Maksudmu, kue beras super pedas yang dibeli Ican waktu itu?" Vedra balik bertanya.


"Makanan Korea tidak hanya kue beras itu, Ved, itu di sana sepertinya enak," Verda menunjuk ke gerai yang menjual hidangan khas Korea.


Verda segera menarik tangan Vedra, mereka memasuki gerai yang nampak dipadati pengunjung.


Restoran tersebut menyajikan hidangan daging panggang, terdapat pipa penghisap asap yang menggantung di atas pembakaran.


Mereka segera mencari meja kosong yang letaknya agak jauh dari pintu masuk, sudut terpencil yang tersisa dari semua meja yang sudah terisi pengunjung.


Pelayan segera menyerahkan buku menu untuk mereka. Vedra terperangah melihat daftar harga yang tertera pada buku menu. Semua daging dihitung per seratus gram dan tidak ada menu paket hematnya.


"Verda, sebaiknya kita makan di tempat lain saja," kata Vedra.


"Ada apa, Ved?" tanya Verda.


"Ini bisa untuk lauk makan di rumah sebulan!" jawab Vedra.


"Haha, ya ampun, Ved, kau tidak perlu mencemaskan itu! Aku yang traktir!" kata Verda.


"Verda, tapi tetap saja, lebih baik untuk belanja dapur," kata Vedra.


"Mbak!" Verda melambaikan tangannya ke arah pelayan.


Pelayan segera menghampiri mereka.


"Pesan masing-masing dua set beef premium, beef sirloin, beef wagyu sliced, beef tender. Selada 4 porsi, kimchi 2 porsi, toppoki 1 porsi, nasi 2 porsi," Verda menunjuk satu per satu pesanannya.


Vedra merasa ketar-ketir dengan banyaknya pesanan yang dipesan Verda. Meski Verda bilang akan mentraktirnya, namun tetap saja, Vedra punya harga diri yang harus dijaganya. Biar bagaimana pun ia punya kewajiban untuk membayar makanan, sudah cukup Verda yang membayar biaya hotel dan memberinya beberapa lembar kemeja baru.


Pesanan pun datang dan langsung memenuhi meja.


"Ada apa, Ved?" tanya Verda.


"Ya tujuannya supaya kita memasaknya sendiri, Ved," sahut Verda. "Kau tidak pernah makan ini sebelumnya?"


"Ya, ini pertama kalinya untukku," jawab Vedra.


"Serius? Kenapa tidak pernah?" tanya Verda keheranan.


"Ya, harganya mahal, jadi, lebih baik untuk belanja bulanan," jawab Vedra diplomatis.


"Hmm, kalau begitu, makanlah yang banyak, Ved, kalau kurang, pesan saja lagi," kata Verda.


Verda mulai memasukkan mentega ke dalam panggangan bundar di hadapan mereka, lalu memasukkan potongan bawang putih dan bawang bombay, mengaduk-aduknya dengan sumpit. Setelah wangi, barulah Verda menuangkan daging yang sudah diberi saus marinasi.


Vedra mengulas senyumnya.


"Ada apa, Ved?" tanya Verda.


"Ini pertama kalinya aku melihatmu memasak," jawab Vedra.


"Aku tidak bisa memasak, Ved! Aku hanya memasukkan semua ini seperti yang biasa dilakukan Vivie saat kami makan bulgogi bersama-sama," sahut Verda.


"Jadi, ini pertama kalinya kau memasak untukku?" tanya Vedra.


"Ahaha, jadi menurutmu aku sedang memasak untukmu?" Verda balik bertanya.


"Ved, coba kau periksa, apa sudah matang?" tanya Verda.


Vedra mengambil sumpit dan mengaduk-aduk daging.


"Wah, aromanya luar biasa, karena diiris tipis, jadi dagingnya cepat matang," kata Vedra.

__ADS_1


Verda mengambil selembar daun selada dan mengisinya dengan irisan daging panggang lalu menggulungnya.


"Ved, a..," Verda menyuapkan gulungan daging ke mulut Vedra.


Vedra segera melahap gulungan daging beserta jemari Verda.


"Ved!" Verda melotot ke arah Vedra yang tersenyum dengan mulut penuh dengan daging.


Pria itu mengunyah sambil menyeringai memegangi tangan Verda.


"Verda, aku jadi ingin memakanmu lagi," ucapnya usai menelan daging yang dikunyahnya.


Verda tertawa sambil mencubit gemas lengan Vedra.


...*****...


Selesai makan, keduanya kembali melanjutkan petualangan mereka. Pergi ke pusat perbelanjaan di luar kota jelas membuat mereka bebas untuk saling bergandengan tangan tanpa perlu merasa was-was ada yang mengenali mereka.


Mereka memasuki toko perhiasan mewah yang begitu eksklusif.


"Ved, aku ingin kau mencari cincin untukku," kata Verda.


"Cincin?" tanya Vedra.


"Ya, aku ingin kau memilih yang sesuai dengan seleramu," jawab Verda.


"Verda, mana bisa begitu," sahut Vedra.


"Ved, ayolah!" desak Verda.


"Verda, begini ya, jujur saja, aku belum punya uang lebih untuk membelikanmu cincin," kata Vedra.


"Ved, aku tidak memintamu untuk membelikanku cincin, aku hanya memintamu untuk memilih," tukas Verda.


Vedra terdiam.


"Ved, apa di matamu aku terlihat seperti wanita yang hendak menguras isi dompet pria yang jalan bersamaku?" tanya Verda dengan nada skeptis.


Vedra masih terdiam.


"Ved, kau salah jika menilaiku seperti itu!" kata Verda.


"Maaf, Verda, aku hanya berusaha jujur dengan mengatakan apa yang ada dalam pikiranku," ucap Vedra.


Verda mengulas senyumnya.


"'Jadi, menurutmu, mana cincin yang bagus untukku?" tanya Verda.


Vedra segera mengarahkan pandangannya ke dalam etalase yang memajang puluhan cincin dengan harga yang fantastis.


Di saat itulah sepasang mata yang kebetulan melintas di depan toko perhiasan itu terhenti.


Vedra? Verda?


...*****...


Hai pembaca semua, acil otor menyapa lagi.


Terima kasih sudah membaca sampai episode ini.


Kondisi otor agak drop, angka kasus om-om corn naik lagi, bikin stress dan bete.


Jadi, otor mau menghibur diri dengan hal-hal yang bikin hepi demi meredam emosi.


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2