Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 021


__ADS_3

Bu Fadlun masih menghitung kembali lembaran uang yang saat ini sudah dikumpulkannya setelah membongkar ratusan amplop berisi uang angpao yang diberikan tamu.


Sudah menjadi tradisi bahwa setiap malam usai acara berlangsung, beliau dan keluarga yang dipercayanya menghitung jumlah uang angpao yang diterima dan dicatat. Fungsi dari catatan tersebut adalah mengembalikan kepada pemberi angpao ketika si pemberi uang angpao mengadakan acara.


"Wah, amplop dari Haji Benu kenapa cuma segini? Padahal aku memberinya banyak waktu lima anaknya bikin acara," keluh Bu Fadlun kepada kakaknya, Inam.


"Mungkin bisnisnya Haji Benu sedang turun. Apalagi kabarnya sekarang menantunya yang pegang," sahut Acil Inam.


"Menantunya Haji Benu memang harat!" cibir Bu Fadlun.


"Menantu ikam jua harat! Hati-hati memang ikam! Habis ikam diinjak-injak lawan menantu ikam!" sahut Acil Inam mengompori.


Menantumu juga angkuh! Hati-hati, habis kamu diinjak-injak sama menantumu, begitulah arti ucapan Acil Inam.


"Jengkel aku sama Vedra itu! Calon istrinya yang bernama Silvia itu begitu cantik, orangnya sopan, kerjanya di bank pemerintah, dari keluarga baik-baik yang terpandang! Tapi kenapa Vedra justru menikah dengan perempuan yang tidak jelas dan macam perempuan nakal begitu!" sungut Bu Fadlun.


"Kalau memang menantu ikam tuh perempuan baik-baik, mana mau pakai baju macam telanjang! Susu ganal diurak! Kada tahu disupan!" lanjut Acil Inam.


Dada besar diumbar, tidak tahu malu, itulah maksud dari Acil Inam dengan menggunakan bahasa dan logat Banjar yang begitu kental.


"Acil Fadlun, kalau menurut ulun, Vedra mungkin terpengaruh lingkungan hidup di kota besar. Bukannya pian dengar sendiri, Vedra mengatakan wanita di kota besar lebih mengekspresikan diri, contohnya saja artis ibukota," Reni menyampaikan pemikirannya.


"Reni, babinian babaju kurang bahan itu pasti bajual diri! Inya urak susu ganal biar lalakian hancap kaluar duit!" Acil Inam menyela Reni.


Maksud dari perkataan Acil Inam adalah perempuan yang memakai pakaian kurang bahan pasti menjual diri. Dia umbar dada besar supaya lelaki segera mengeluarkan uang mereka.


"Haih, pusing aku ini, Kak! Vedra kemarin belum kawin aku pusing, sekarang sudah kawin bikin aku tambah pusing! Bisa-bisa makin naik tensiku ini!" gerutu Bu Fadlun.


"Yah, mau bagaimana lagi, sekarang keputusan ada di tangan kamu. Amun ikam tidak suka dengan menantu ikam, lebih baik bilang dari awal! Jangan sampai jadi duri dalam daging! Musuh dalam selimut!" Acil Inam menambahkan.


"Tapi bagaimana ya? Saat ini Vedra sepertinya sudah tergila-gila dengan perempuan itu."


Acil Inam terkekeh menatap adiknya yang benar-benar terlihat pusing.


"Gampang saja, tunggu saja nanti tanggal mainnya! Biarkan saja dulu Vedra mabuk cinta begitu! Nanti kalau sudah waktunya, kamu harus ambil tindakan tegas!" pungkas Acil Inam.


...*****...


"Verda, kau bisa turun, biar aku usir kecoaknya," kata Vedra.


"Hihh! Jijik aku!" Verda menggeleng.


"Iya, makanya turun dulu, bagaimana aku bisa mengusir kecoaknya kalau sambil menggendongmu seperti ini?" tanya Vedra.

__ADS_1


Vedra menyerahkan handuk kimono milik Verda. Verda melepaskan rangkulannya dari Vedra dan memakai kembali handuknya.


Vedra menyiramkan air ke arah kecoak yang hinggap di dinding. Kecoak menyebalkan itu akhirnya melarikan diri melalui celah-celah kayu.


"Kecoanya sudah pergi, kau bisa mandi," kata Vedra.


"Ved, kau di sini saja ya, temani aku mandi!" pinta Verda.


"A-apa?" Vedra terkesiap.


"Bagaimana kalau kecoanya kembali lagi? Kau bahkan tidak membunuh kecoak itu kan?" tanya Verda.


"A-anu, Verda, rasanya tidak pantas aku menemanimu mandi," sahut Vedra.


"Pokoknya kau harus tetap di sini dan menemaniku mandi! Aku tidak mau tahu!" kata Verda dengan nada memerintah.


"Hmm, ya, baiklah, yang penting kau jangan merasa risih," kata Vedra.


"Aku justru merasa risih dan terganggu kalau itu kecoak kembali lagi! Itu salahmu kenapa tadi kau hanya mengusirnya, harusnya kau bunuh itu kecoak!" keluh Verda.


"Verda, kalau aku membunuh kecoak itu, lalu teman-temannya datang untuk membalas dendam, bagaimana?" tanya Vedra.


"Ih, bisa-bisanya kau berpikir seperti itu!" gerutu Verda.


"Ya..ya, baiklah pakar kecoak! Aku mau mandi, tunggulah di sini!" pinta Verda.


Vedra segera berbalik, menghadap ke arah pintu. Suara gemericik air yang membasahi tubuh Verda benar-benar membuat Vedra panas dingin sendiri.


...*****...


Plok..Plok..!


Verda menepuk nyamuk yang beterbangan di sekelilingnya.


"Hihh! Nyamuknya besar-besar!" rutuk Verda.


Verda mendengus kesal, ia sungguh tidak bisa tidur dengan nyenyak. Udara yang panas membuat keringatnya bercucuran. Maklum, di rumah ini tidak tersedia penyejuk udara. Membuka jendela kamar juga sangat percuma karena membuat nyamuk-nyamuk akan bertandang secara berjamaah.


Verda benar-benar kesal melihat Vedra yang sudah nampak tertidur nyenyak dalam posisi memunggunginya.


Verda mengambil kipas angin portable, namun sama sekali tidak bisa menyejukan pori-porinya yang terus mengeluarkan keringat.


"Apa aku buka baju saja ya?" Verda menimbang-nimbang untuk membuka baju tidurnya yang berupa kamisol bertali tipis dengan celana pendek berbahan silk ice.

__ADS_1


Verda kembali berbaring di atas kasur dari kapuk yang keras dan tidak bersahabat di tubuhnya. Sudah macam kasur untuk therapedic saja.


Verda menoleh ke arah pria yang masih memunggunginya. Bagi Verda ini jelas bukan hal pertama baginya berbagi kamar dan berbagi tempat tidur bersama pria.


Saat menikah dengan Abim, ia juga tidur di tempat tidur yang sama dengan Abim. Hanya saja, Verda tidak bisa tidur dengan tenang lantaran Abim seakan selalu siap untuk menerkamnya.


Sungguh bukan suatu hal yang indah untuk dikenang.


"Aduh, panasnya, banyak nyamuk pula!" keluh Verda.


Tanpa pikir panjang Verda segera membuka pakaiannya yang basah karena keringat. 


Cepatlah pagi! Batin Verda kembali berbaring lalu berusaha memejamkan matanya.


...*****...


Vedra menggaruk tangannya yang gatal karena nyamuk yang menyerangnya.


Pria itu berguling, memperbaiki posisi tidurnya. Ia tersentak kaget karena tangannya menyentuh sesuatu yang kenyal, lembut, dan padat, membuat otaknya tersadar untuk membuka mata.


Astaga! Vedra menjerit dalam hati, menarik tangannya yang tak sengaja menyentuh dada Verda yang terpampang di hadapannya.


Wanita itu tidur tanpa mengenakan pakaian dan hanya mengenakan penutup segitiga bermuda saja.


Bagian tubuhnya yang tersembunyi segera menegang dan memaksa untuk dibebaskan hanya karena melihat tubuh yang seakan memanggilnya untuk segera dijamah. 


Vedra berguling menjauh, meringkuk berusaha menahan diri untuk tidak berbuat hal di luar kehendaknya.


Malam ini sungguh menjadi malam paling menegangkan bagi Vedra. Malam untuk menguji keimanan dan kesabarannya sebagai pria yang sehat dan memiliki orientasi seksual yang normal.


...*****...


Catatan Author


Pembaca semuanya, hari ini acil author up episode terbaru. Real life masih kejar tayang, tapi author berusaha untuk tetap up secara berkala.


Ikuti terus kisah janda cantik dan seksi bersama lelaki jaminannya ya?


Supaya nggak ketinggalan notifikasi, yuk difavorite-kan.


You are my favorite 💜


Sampai jumpa di episode selanjutnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2