Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 016


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Vedra melintasi jalan poros yang berkelok, melewati kawasan hutan, perbukitan, dan lembah yang berkelok-kelok. Jarak tempuh memakan waktu sekitar delapan hingga sepuluh jam melalui jalur darat untuk bisa sampai di kampung halaman Vedra.


Vedra sudah berusaha menghemat waktu perjalanan dengan tidak banyak singgah agar ia bisa tiba tepat waktu. Harusnya acara ngunduh mantu dilaksanakan besok, namun Verda tidak bisa mengambil cuti kerja lagi lantaran wanita itu baru saja mengambil cuti sehingga Verda hanya bisa mengambil izin dua hari.


Verda terlihat menikmati perjalanan mereka. Dengan kamera ponselnya, menjepret semua pemandangan yang mereka lalui.


Wanita itu sungguh terlihat seperti orang kota yang baru melihat hutan, itulah yang ada dalam pikiran Vedra.


Vedra segera menambah kecepatan mobilnya begitu melintasi jalan yang sepi agar cepat sampai di tujuan.


"Yaah, di sini tidak ada sinyal ya?" tanya Verda.


"Ya, masih agak susah sinyal, karena masih di kawasan perbukitan," sahut Vedra.


"Masih jauh ya?" tanya Verda.


"Masih tiga hingga empat jam lagi, jika tidak ada masalah," sahut Vedra.


"Oh, apa kau sering pulang untuk mengunjungi orang tuamu?" tanya Verda.


"Tidak," jawab Verda. "Perjalanan menuju ke kampung halamanku sangat melelahkan karena melalui jalur darat seperti ini."


...*****...


Verda mengambil alih untuk mengemudikan mobil Vedra karena pria itu terlihat mulai kelelahan. Lagipula Verda juga sudah mulai bosan hanya duduk di kursi penumpang.


"Jangan ditabrakkan, cicilan mobil ini masih empat tahun lagi," pesan Vedra.


"Hei, asal kau tahu ya?! Aku bahkan sudah bisa mengemudi sejak SMP!" sahut Verda merasa bahwa Vedra meremehkan kemampuan mengemudinya.


Awalnya Vedra merasa tegang sendiri karena ini pertama kalinya ia disupiri oleh seorang wanita. 


Yah, tidak buruk juga, aku jadi bisa bersantai, batin Vedra.


Mobil yang dikemudikan Verda memasuki gerbang sebuah kota kecil. Ia memperlambat laju mobil yang tersebut, mobil pajeroh sport berwarna hitam itu jelas langsung menyita perhatian penduduk sekitar.


"Simpang tiga di depan belok kiri, ikuti saja jalan yang ada," Vedra memberi komando.


"Ya, ya, masih jauh ya?" tanya Verda.


"Tidak juga, sudah mulai dekat," jawab Vedra.

__ADS_1


Mobil masih tetap melaju dengan kecepatan stabil, hingga akhirnya mata Verda tertuju pada rombongan penduduk yang menunggu di atas mobil pick up, membawa spanduk besar bertuliskan:


Selamat datang kebanggaan kampung baru, Vedranata beserta Istri.


"Hahaha!" Tawa Verda meledak.


Vedra memasang ekspresi datar, namun sejujurnya ia benar-benar malu sekali.


"Haha! Kebanggaan kampung! Sungguh luar biasa!" Verda masih tertawa terbahak-bahak sambil memukuli kemudi.


Vedra membuka kaca jendela mobilnya, rombongan itu pun langsung mengawal mobil Vedra bak pasukan pengiring presiden.


"Wah, aku sungguh tak menyangka kau begitu terkenal di kampungmu, wahai pria kebanggaan kampung! Kau sudah macam idola yang akan mengadakan jumpa fans saja!" Verda tergelak.


"Apa kau juga akan memberikan tanda tanganmu kepada para penggemarmu itu?" tanya Verda dengan nada mengejek.


"Berhenti mengejekku! Ini benar-benar sangat menyebalkan," Vedra mencebik.


"Selebriti kampung! Ahaha," Verda masih tergelak mengejek Vedra.


...*****...


Semua orang langsung berhenti beraktivitas begitu melihat iring-iringan mobil yang menjemput kedatangan Vedra.


Vedra segera menghampiri kedua orang tuanya. Mengambil dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian lalu merangkul mereka berdua.


"Vedra!" kata Ibu dan Bapak melepas rindu mereka.


"Ibu, Bapak," kata Vedra.


"Loh, Vedra, mana istrimu?" tanya Ibu.


"Masih pakai sepatu, Bu," jawab Vedra.


"Pakai sepatu?" tanya Bapak keheranan.


Selama mengemudi Verda memang melepas sepatu hak tingginya. Wanita itu pun segera membuka pintu dan keluar dari mobil.


Semua mata terpana melihat sosok seorang wanita yang langsung menyita perhatian mereka. Wanita itu bertubuh ramping, mengenakan kemeja putih, dan rok pensil di atas lutut serta sepatu hitam tinggi.


Verda membuka kacamata hitamnya begitu menghampiri kedua orang tua Vedra yang terkejut dan terheran-heran melihat wanita yang berdiri di hadapan mereka.

__ADS_1


"Selamat sore, Ibu, Bapak," sapa Verda.


Kedua orang tua Vedra masih tercengang, ketika wanita cantik itu mengambil dan mencium punggung tangan mereka bergantian. Keduanya masih mematung sebelum akhirnya tersadar bahwa wanita yang dibawa oleh Vedra bukanlah Silvia.


"Bapak, Ibu, ini istriku, Verda," kata Vedra memperkenalkan Verda.


Verda mengulas senyum lebar, namun kedua orang tua Vedra masih membeku.


...*****...


Acil Fadlun adalah orang tua yang selalu melakukan segala cara agar anaknya berada di level yang tidak akan bisa dijangkau oleh para gadis di kampungnya. Ia rela hanya makan ikan asin yang diberi cacahan lombok dan bawang merah serta kecap yang penting bisa menguliahkan Vedra hingga lulus S2.


Acil Fadlun juga menyuruh suaminya untuk menjual sebagian kebun untuk membelikan Vedra barang-barang mewah supaya menunjang penampilan Vedra.


Tidak apa-apa orang tua hidup prihatin yang penting anak hidup penuh dengan kemewahan, itulah motto hidup Acil Fadlun.


"Kalau Vedra berpenampilan mewah, maka jodohnya juga pasti perempuan yang mewah!" begitulah hal yang selalu dipropagandakan oleh Acil Fadlun.


"Vedra itu cocoknya ya dengan wanita dari kota besar, wanita cantik, berpendidikan tinggi, dan tentunya tidak bisa dibandingkan dengan perempuan-perempuan yang ada di kampung ini! Selera Vedra terhadap wanita sangatlah tinggi!" Acil Fadlun berkoar-koar heboh.


Menolak satu per satu wanita yang datang secara sukarela untuk menjadi menantunya sudah menjadi hal yang sering dilakukan oleh Acil Fadlun.


Acil Fadlun masih mengingat dengan jelas, dua bulan yang lalu, ia dan suaminya pergi ke Kota Y untuk berkunjung ke rumah calon istri Vedra. 


Acil Fadlun disambut oleh seorang wanita berparas cantik dan manis bernama Silvia. Acil Fadlun merasa nyaman dengan kepribadian Silvia yang ramah dan supel. Silvia juga berasal dari keluarga berada dan terpandang di kota asalnya.


Wanita yang menurut Acil Fadlun benar-benar sempurna untuk mendampingi Vedra. Namun siapa sangka, saat ini wanita yang dibawa pulang oleh Vedra adalah sosok asing yang penampilannya langsung menjadi buah bibir para tetangga.


"Ya ampun! Perempuan itu sungguh istrinya Vedra?"


"Apa kalian lihat susunya besar sekali, macam perempuan yang sudah punya anak!"


"Umma ay! Bisanya susu dan bokongnya besar begitu padahal pinggangnya ramping!"


"Mana penampilannya macam perempuan pelakor di televisi!"


"Ternyata begitu saja ya, seleranya si Vedra! Selera laki-laki hidung belang!"


Begitulah para tetangga mulai menggunjingkan menantu Acil Fadlun yang memiliki penampilan terlampau modern. Telinga Acil Fadlun sampai panas mendengar gunjingan tersebut. 


"Acil Fadlun, apa tidak salah Vedra menikah dengan perempuan macam begitu? Bukannya kata Acil, Silvia itu cantik dan anggun macam istrinya Pangeran William, si Kate Kate itu?" tanya Reni.

__ADS_1


"Aku mau bicara sama Vedra," sahut wanita paruh baya itu dengan emosi yang bergemuruh dalam dadanya.


...*****...


__ADS_2