Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 090


__ADS_3

Awan gelap berarak memenuhi langit di pagi hari. Angin dingin berembus kencang, disertai kilat-kilat yang menyambar disusul gemuruh halilintar, menyemarakkan semesta yang begitu suram.


Kesuraman itu pun tak luput menyelimuti Vedra yang saat ini mematung sambil menatap ke luar jendela rumahnya.


Vedra dengan gawai cerdas yang masih menempel di telinga kirinya berkali-kali menghela napas berat. Pagi-pagi sekali ibunya sudah meneleponnya dan sudah lebih dari lima belas menit ibunya terus mencecarnya tanpa henti.


"Apa semua uangmu kamu gunakan untuk memanjakan istrimu itu sampai kamu tidak berkenan mengeluarkan uangmu untuk Ibumu ini?!"


"Ibu, maaf, bukannya aku tidak berkenan, tapi saat ini aku belum punya uang lebih, Bu," kata Vedra.


"Lagipula arisan macam apa yang Ibu ikuti sampai memerlukan sepuluh juta? Arisan sosialita kampung mana lagi yang Ibu ikuti?" tanya Vedra.


Vedra berusaha menyembunyikan rasa jengkelnya. Bulan kemarin ibunya sudah menerornya dengan permintaan dana sebesar lima juta untuk arisan. Dan kini meminta dikirimi dana sebesar sepuluh juta dengan alasan untuk arisan lagi.


"Ved! Kamu ini ya, Ibu baru kali ini ikut arisan kamu sudah ngomongnya tidak enak begitu! Selama ini Ibu tidak pernah sekalipun ikut arisan, semua uang yang Ibu punya, Ibu beri untukmu! Bahkan Ibu sampai meminta bapakmu untuk menjual kebunnya sebagian, demi siapa? Demi bayar arisan Ibu? Bukan! Supaya kamu bisa beli mobil! Supaya kamu tidak dipandang sebelah mata hanya karena kamu itu anak dari kampung!" Bu Fadlun mencecar Vedra.


Vedra bisa membayangkan bagaimana urat leher ibunya akan menegang dan nampak serupa macam tali jemuran pakaiannya lantaran emosi yang tergambar jelas dari suara beliau.


"Ibu membelikanmu mobil yang bagus, tapi yang kamu bawa ke sana kemari itu justru istrimu! Bukannya kamu bawa Ibu jalan-jalan! Sekarang giliran Ibu minta kamu sisihkan sepuluh juta untuk arisan Ibu, kamu malah bilang tidak punya uang! Terlalu kamu, Ved! Sungguh terlalu!" cecar ibunya.


Vedra lagi-lagi menghela napas.


"Kamu itu ya, uang orang tua semua-semua untuk kamu! Tapi sekarang begitu kamu punya uang, semua uangmu untuk istrimu begitu?!" lanjut Bu Fadlun.


"Ibu, cukup, Bu," kata Vedra berusaha menenangkan ibunya.


"Cukup apanya?! Kamu itu ya, makanya cari istri jangan yang modelnya macam istrimu itu! Bisanya hanya menghabiskan uang saja! Dasar babinian kada tahu diuntung! Dasar babungulan!" sembur Bu Fadlun penuh kemarahan.


Lagi-lagi Vedra hanya bisa menghela napas berat. Ia sungguh tak ingin ibunya mengatakan sumpah serapah yang tidak ingin didengarnya.


"Baik Bu, aku mengerti, nanti akan kuusahakan dulu dananya," kata Vedra mengalah.


"Kirim langsung ke Reni! Hari ini langsung kirim!" tandas Bu Fadlun.


"Iya Bu, aku mengerti," tukas Vedra.


"Ya sudah, Ibu tunggu!"


Tut... tut...


Sambungan telepon terputus, Vedra memijat pelipisnya.


Dari mana tanggal segini ia bisa mendapatkan uang sepuluh juta untuk membayar arisan ibunya?


"Ada apa, Ved?" tanya Verda yang langsung memeluk Vedra dari belakang.

__ADS_1


"Telepon dari ibuku," jawab Vedra sambil memutar tubuhnya, menghadap ke Verda.


"Yakin, ibumu?" tanya Verda penuh selidik.


"Memangnya menurutmu siapa yang akan meneleponku pagi-pagi begini?" tanya Vedra.


"Hm, memangnya kenapa ibumu menelepon pagi-pagi begini?" tanya Verda.


Verda menatap Vedra yang nampak enggan untuk menjelaskan.


"Ved, apa yang menelepon sungguh ibumu?" tanya Verda lagi.


"Kau sungguh ingin tahu?" tanya Vedra.


"Ya, mana aku tahu kalau ternyata yang meneleponmu ternyata bukan ibumu, tapi wanita lain," sahut Verda.


"Sungguh, ibuku," kata Vedra.


"Ya, terus kenapa ibumu meneleponmu?" tanya Verda ingin tahu. "Apa ibumu sakit dan memintamu untuk menjenguk beliau?"


"Tidak, Verda, ibuku baik-baik saja," jawab Vedra.


"Jadi kenapa?" tanya Verda, mengalungkan tangannya ke leher Vedra lalu bergelayut manja di dada pria itu.


"Ibuku minta uang sebanyak sepuluh juta untuk bayar arisan," jawab Vedra.


"Terus?" tanya Verda.


"Sudahlah, Verda, tidak perlu dibahas, kepalaku rasanya jadi makin pening," sahut Vedra.


"Kepala yang mana yang pening?" tanya Verda sambil menciumi Vedra. "Kepala yang atas atau yang bawah ini?"


"Vedra, tolong jangan memulai ya, kita bisa terlambat ke kantor," kata Vedra sambil membalas ciuman Verda.


"Ved, akan kupinjamkan uang untukmu," kata Verda.


"Verda, terima kasih, tapi aku rasa tidak perlu," sahut Vedra.


"Ved, daripada nanti kau dimarahi dan dibuat pusing lagi," kata Verda.


"Aku tidak mau kau pusing-pusing, Ved," Verda memeluk Vedra.


"Verda, tidak perlu begitu, nanti bebanku bertambah lagi, sudah cukup hingga kini aku belum mencari photo card Jehun karena keterbatasan dana yang kumiliki. Tapi aku janji, saat keadaan keuanganku membaik, aku pasti akan membeli semua photo card Jehun untukmu." 


"Ved, bagiku sungguh tidak masalah jika ibumu memang meminta uang sepuluh juta. Yang penting beliau tidak berpikir untuk menyuruhmu pulang kampung dan menyuruhmu kawin dengan perempuan di kampungmu!" tukas Verda.

__ADS_1


"Verda, bagaimana kau bisa berpikir begitu?" tanya Vedra keheranan.


Verda tidak menyahut dan kembali memeluk Vedra. Sebenarnya sedari tadi ia mencuri dengar pembicaraan antara Vedra dengan Bu Fadlun. Verda bahkan mendengar dengan jelas teriakan-teriakan Bu Fadlun yang mencecar Vedra lantaran menikahi wanita yang hanya bisa menghabiskan uang Vedra saja.


Verda merasa harga dirinya terkoyak lantaran ibu mertuanya yang bersikap skeptis padanya.


...*****...


Nita berjalan mengendap-endap ke kubikel Verda. Wanita itu nampak begitu was-was sambil menutupi belakang roknya dengan dokumen yang ia bawa.


"Verda, kau ada bawa pembalut lebih?" tanya Nita. "Aku lagi bocor nih, kehabisan belum beli, Teti juga kehabisan tuh." 


"Sebentar," kata Verda sambil membuka lemari penyimpanan di bawah meja kerjanya.


Verda mengambil satu bungkus pembalut yang masih utuh lalu menyerahkannya pada Nita.


"Terima kasih," Nita mengambil satu buah dan langsung berlari ke toilet.


Verda tertegun melihat stok pembalutnya yang masih utuh. Ia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia datang bulan.


Verda membuka kalender di gawai cerdasnya. Tanggal terakhir kali ia datang bulan adalah bulan lalu. Jadwal haidnya memang tidak dapat diprediksi, namun setiap bulan tamu bulanannya pasti datang. Entah di awal bulan, di tengah, atau pada akhir bulan.


Verda menegang, tamu bulanannya bulan ini belum kunjung datang padahal sudah mendekati akhir bulan dan bulan akan segera berganti.


Jantung Verda bergemuruh, keringat dingin mulai merembes keluar, seketika ia menjadi gelisah. 


Verda selalu takut saat mengalami datang bulan lantaran haid yang benar-benar sangat menyakitkan. Namun kini ia justru lebih takut lagi karena belum juga datang bulan.


Kenapa aku belum datang bulan juga ya? Masa sih aku hamil?


Apa? Hamil?!


Verda terpaku dengan kata hamil yang tiba-tiba menyusup masuk ke dalam otaknya.


...*****...


Terjemahan ala kadarnya dari acil otor.


Kada : Tidak


Babungulan : Bodoh


Pembaca setia otor, terima kasih ya sudah membaca sampai episode ini.


Kondisi otor masih kurang fit, garap episode jadi terseyok-seyok. Tapi otor tetap berusaha menulis biar kata sehari cuma beberapa patah kata.

__ADS_1


Yuk, mari ikuti terus kisah ini sampai tuntas ya.


🥰🥰


__ADS_2