Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 018


__ADS_3

Bu Fadlun nampak bersungut-sungut kesal karena para tamu sudah mulai berdatangan namun pengantinnya masih belum berada di pelaminan.


"Kenapa juga lama betul itu si Vedra?! Ngapain dia sama istrinya? Lama betul!" omel Bu Fadlun.


"Siapa yang masih di dalam rumah? Tolong panggilkan Vedra!" perintah Bu Fadlun.


Semua mata langsung tertuju pada Vedra dan juga istrinya yang melangkah menuju ke pelaminan. Mereka semua melongo melihat penampilan istri Vedra yang benar-benar mencuri perhatian lantaran berpenampilan begitu seksi. Gaunnya yang mencetak jelas lekukan tubuh jelas membuat semua laki-laki ternganga.


Bu Fadlun bahkan tak bisa menutup mulut beliau. Saat ini dalam benak beliau penampilan menantunya mendefinisikan makna berpakaian tapi telanjang. Sungguh penampilan menantunya membuat Bu Fadlun harus banyak-banyak menyebut nama Tuhan daripada menyebut nama penghuni satu kebun binatang.


Vedra dan Verda sudah berada di pelaminan, menyambut para tamu yang mulai menyerbu mereka untuk memberi selamat sekaligus melihat kemolekan istri Vedra dari dekat.


"Selamat ya, Vedra! Akhirnya kau menikah juga!"


"Cantiknya istrimu!"


"Tidak sia-sia kau cari istri jauh-jauh ya!"


Vedra mengulas senyumnya mendengar komentar para tamu yang memberinya selamat.


"Terima kasih Julak, terima kasih," Vedra menanggapi.


"'Terima kasih," Verda menyalami para tamu berusia paruh baya yang berebut bersalaman dengannya.


"Umma ae, bungas! Bungas banar!" seru mereka antusias.


Pujian betapa cantiknya Verda tentu tidak disetujui oleh para ibu-ibu julid yang jengah melihat kelakuan suami mereka.


"Cantik apanya?! Apa maksudnya pakai baju kurang bahan begitu?"


"Sengaja mau telanjang ya?!"


"Apa perempuan kota besar memang begitu? Terlampau modern!"


Mulut-mulut nyinyir dari tetangga Bu Fadlun membuat tensi Bu Fadlun makin meninggi.


Awas kamu, Vedra! Awas! Batin Bu Fadlun sambil mengepalkan kedua tangannya dengan gemas.


"Bah, cantiknya istrimu, Ved! Tidak salah kamu telat kawin! Dapatnya putri duyung begini!"


Anwar melontarkan pujian begitu menyalami Vedra. Tangan Anwar mencengkeram erat seakan hendak meremukkan telapak tangan Vedra.


Buk.. Buk..! Anwar juga menepuk keras punggung Vedra saat mereka berangkulan.


"Dasar sampah kau, Ved!" desis Anwar di telinga Vedra. "Siti begitu menderita, kau malah enak-enak begini!"


Vedra mengulas senyum untuk menutupi rasa sakit di tangan dan punggungnya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah datang, Anwar," kata Vedra.


Anwar menatap sinis ke arah Vedra lalu beralih pada Verda.


"Amboi! Cantiknya gerangan biduan dangdut ini! Abang mau digoyang dong!" seru Anwar sambil bersiul-siul.


Pria yang sudah menjadi duda sebanyak tiga kali itu jelas tergoda oleh pesona Verda. Para mantan istrinya tidak ada yang berpenampilan macam Verda. Anwar mengulas senyum penuh kemenangan dengan ekspresi mencemooh.


Verda terperangah karena dikatai biduan dangdut oleh pria brewokan bertampang sangar itu. Pria brewokan itu jelas sedang merendahkan Verda.


"Abang mau digoyang? Ada uang berapa? Tak ada uang Abang ditendang!" Verda membalas Anwar.


Kini giliran Anwar yang terperangah karena wanita dihadapannya jelas sedang merendahkannya. Mengatai Anwar tidak punya uang jelas adalah kebenaran. Tak heran pria pengangguran yang doyan mangkal di warung kopi Acil Ijum itu kerap digugat cerai para perempuan yang menjadi istrinya.


"Huh!" Anwar mendengus kesal lalu meninggalkan pelaminan bersama rekan-rekan yang menemaninya.


Vedra melirik ke arah Verda yang nampak tersenyum sinis, mulutnya terlihat mencibir.


Dasar orang kampung!


Vedra sungguh tidak mengerti, Anwar masih tetap seperti itu. Anwar selalu merundung Vedra ketika masih sekolah dulu hanya gara-gara Vedra menolak cinta Siti yang merupakan adik dari Anwar.


Vedra benar-benar tak habis pikir bahwa Verda begitu berani menantang Anwar seperti itu. Tanpa sadar pria itu mengulas senyum samar yang seketika harus sirna tatkala matanya bertumbukan dengan tatapan sinis dari Ibunya. Ibunya sungguh sudah melotot begitu lebar hingga bola mata beliau terlihat hendak keluar.


Mampus aku! Batin Vedra.


...*****...


Wanita paruh baya itu didampingi oleh seorang wanita yang nampak memasang ekspresi masam. Wanita itu adalah Siti yang datang menemani sang Ibu.


"Terima kasih ya, Acil Badiah, Siti, sudah datang," kata Bu Fadlun.


Siti mengulas senyum terpaksa, mata besarnya yang cekung jelas tidak bisa menyembunyikan sorot penuh kesedihan.


"Siti, semoga cepat menyusul juga ya," kata Bu Fadlun membesarkan hati Siti.


Semua orang di kampung ini sangat tahu bahwa Siti sangat menyukai Vedra. Berkali-kali Siti memohon kepada Bu Fadlun untuk bisa dijodohkan dengan Vedra. Namun tentu saja Bu Fadlun harus menolak Siti secara halus. Bu Fadlun enggan punya menantu dari kampungnya sendiri. Tidak level!


"Terima kasih atas doa pian, Acil Fadlun, menantu pian sungguh cantik dan begitu seksi. Namanya juga perempuan dari kota besar ya," kata Siti dengan suaranya yang bergetar.


"Sungguh tidak kusangka, seleranya Vedra ternyata  macam perempuan nakal. Tak kusangka Acil Fadlun mau punya menantu model begini. Bajunya kuntilanak jauh lebih sopan daripada baju menantu pian yang macam orang bertelanjang," ketus Siti dengan sinisnya, dingin, tajam, dan menusuk.


"Hush, Siti," tegur Bu Badiah.


Siti menelengkan kepalanya, kini ia beralih ke arah Vedra dan juga istrinya. Tatapan skeptis Siti menelaah penampilan istri Vedra dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. 


"Vedra, selamat ya, akhirnya kau menikah juga," kata Bu Badiah menyalami Vedra.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu," ucap Vedra.


Bu Badiah menatap terpana kepada sosok istri Verda yang terlihat luar biasa memukau.


"Cantik sekali istrimu, Vedra," Bu Badiah menyalami Verda.


"Terima kasih, Bu," Verda menanggapi pujian Bu Badiah.


"Oh, jadi ini Silvia ya, yang begitu dibangga-banggakan! Perempuan kota besar yang memikat hatimu, Vedra. Perempuan yang begitu cantik, berpendidikan tinggi dan dari keluarga berada! Tapi ternyata penampilannya macam wanita jalan* tak tahu malu yang berniat untuk telanjang di muka umum!" Siti berkoar-koar heboh.


"Eh, Silvia atau Verda ya? Aku dengarnya sih calon istrimu itu Silvia, tapi kenapa di undangan jadi Verda ya?" tanya Siti dengan suara menyebalkan yang dibuat-buat.


Ucapan Siti rupanya didengar oleh para tamu karena Siti mengucapkannya dengan sangat keras seakan ia baru saja menelan toa masjid.


"Hush, Siti," desis Bu Badiah.


Verda melihat gestur Siti yang jelas sedang menabuhkan genderang perang kepadanya. Dari sudut matanya, ia bisa melirik Vedra yang terlihat menegang. Desas-desus para tamu langsung merebak lantaran terprovokasi ucapan Siti.


"Jadi, kau Silvia atau Verda sih?" tanya Siti sambil memasang senyum sinis yang benar-benar menyebalkan.


Verda melengkungkan senyumnya, membatin kesal pada wanita yang nampak punya masalah pribadi dengan Vedra. Hal itu terdengar jelas dari ucapan-ucapan sinis yang terlontar dari mulut wanita berperawakan kurus bak balita kurang gizi.


"Mbak Cantik, tidak peduli Silvia, Verda, atau siapa pun, toh saat ini yang menjadi istri dari Vedra yang sah secara agama dan hukum yang berlaku adalah saya!" Verda mengangkat tangannya, memamerkan cincin  berlian bermata besar yang melingkar di jari manis kirinya.


Cincin itu jelas hanya aksesoris yang dimiliki Verda, namun karena tersemat di jari manis kiri membuat cincin itu menjelma menjadi cincin kawin Verda. Daripada memakai cincin milik perempuan lain, lebih baik Verda memakai cincin miliknya sendiri.


Verda mengulas senyum penuh kemenangan yang membuat mental dan keberanian yang tadi dikumpulkan oleh Siti, ambyar seketika.


Siti memasang ekspresi kesal, ia menghentak kakinya dengan keras di hadapan Verda lalu berlari tunggang langgang bak orang dikejar anjing galak.


"Siti!" Bu Badiah berjalan cepat mengejar Siti.


"Vedra, Vedra, kau ini selain dikenal sebagai selebriti kampung, rupanya kau ini playboy kampung juga ya?" Verda terkekeh.


Vedra hanya memasang ekspresi datar, tidak menanggapi perkataan Verda yang terdengar kembali mengejek dan menyindirnya. Namun dalam hati saat ini ia benar-benar hanya bisa berharap acara resepsi pernikahan ini segara berakhir.


...*****...


Catatan dari Acil Author


*pian \= anda


*julak \= sebutan untuk orang yang dituakan


*bungas banar \= cantik sekali


Mohon maaf kalau ada kurang dalam mengartikan, maklum Acil Author ini blasteran. 🙏

__ADS_1


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


Acil Author sayang pembaca semua 💜💜💜💜


__ADS_2