Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 052


__ADS_3

"Terima kasih kepada rekan-rekan semua yang selama ini telah bekerja dengan baik di bawah arahan saya. Terima kasih atas loyalitas dan dedikasi rekan-rekan semua untuk Valid Corp."


Pak Handoko memberi sambutan pada acara makan malam dalam rangka perpisahan beliau.


"Vedra, sekarang semua rekan-rekan di sini menjadi tanggung jawabmu," lanjut Pak Handoko sambil menepuk punggung Vedra.


Vedra mengangguk pelan saat semua mata tertuju ke arahnya.


"Saya tunggu rekan-rekan yang lain di kantor pusat," kata Pak Handoko.


Plok..plok..


Ican menjadi orang pertama yang bertepuk tangan paling keras sebelum akhirnya semua pegawai kantor cabang Valid Corp. menyusul memberi tepuk tangan yang begitu meriah.


Verda menjadi salah satu orang yang bertepuk tangan seadanya. Ia menjadi orang yang masih belum bisa menerima keputusan manajemen untuk menunjuk Vedra sebagai manajer cabang kota ini. Verda masih merasa diperlakukan tidak adil, sebagai seorang senior yang dilampaui oleh juniornya.


Pak Handoko mengajak semua pegawai cabang Valid Corp. untuk makan malam di sebuah restoran yang terletak di pinggir pantai. Semua karyawan duduk secara lesehan di gazebo panjang berkapasitas hingga empat puluh orang. Restoran bernama Birunya Laut tersebut dipilih langsung oleh Pak Handoko lantaran restoran ini menjadi restoran favorit Pak Handoko.


Satu per satu hidangan seafood mulai dari ikan bakar, kepiting asap, udang, hingga cumi lada hitam mendarat di meja makan. Berbakul-bakul nasi putih hangat langsung menjadi buruan para karyawan yang memang sudah merasa lapar.


"Jadi, besok Pak Handoko sudah harus ada di kantor pusat?" tanya Teti.


"Benar," jawab Pak Handoko.


"Wah, Pak, berikan info kalau ada posisi di kantor pusat yang kosong ya," kata Nita.


"Aih, berarti sebentar lagi, jangan-jangan Vedra yang akan dipanggil ke kantor pusat," Ican menimpali.


"Makanya kalian semua bekerja dengan lebih giat dan lebih baik lagi," kata Pak Handoko memberi nasihat.


Verda menyeruput es kelapa muda dengan perasaan gusar usai mendengarkan cerocosan Ican. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kantor pusat Valid Corp. merekrut karyawan dengan posisi manajer cabang untuk bergabung di kantor pusat. Ibaratnya, kantor cabang menjadi tempat para karyawan untuk menempa kemampuan terbaik yang mereka miliki.


"Ved, ini tambah lagi nasinya," kata Teti menyodorkan sebakul nasi.


"Ini tambah lagi kepiting asapnya, ambil saja bagianku dan Teti," Nita menyodorkan satu piring kepiting asap ke arah Vedra.


"Terima kasih," sahut Vedra.


"Ved, ngomong-ngomong, apa kau suka dengan kado yang kami berikan sebagai hadiah pernikahanmu?" tanya Teti.


"Hmm, ya, terima kasih," jawab Vedra sambil melirik sekilas ke arah Verda yang nampak memasang ekpresi masam.

__ADS_1


Sejujurnya Vedra masih belum membuka kado yang masih ia biarkan teronggok di sudut kamarnya. Ia terlalu sibuk, belum ada kesempatan untuk membongkar isi kado tersebut meski Verda sudah berkali-kali mengingatkan agar ia segera membuka kadonya.


Dia kenapa memasang ekspresi seperti itu? Memangnya apa lagi salahku? Batin Vedra.


"Verda, kau mau udang? Cumi? Atau aku?" tanya Ican.


"Apa sih, Can?!" gerutu Verda.


"Verda, kau dari tadi cemberut terus. Kau kenapa? Sakit perut?" tanya Ican.


"Tidak, aku tidak apa-apa," sahut Verda dengan cepat.


"Verda, apa kau sungguh tidak tahu? Di jidatmu itu kalau kau sedang bete, muncul tulisan-tulisan gaib yang bisa kubaca melalui mata batinku," Ican berujar sembari terkekeh geli.


Verda tidak menanggapi guyonan dari Ican. Saat ini ia memang sedang dalam kondisi mood yang seketika memburuk. Terlebih melihat Teti dan Nita yang nampak bergerak cepat untuk melakukan aksi penjilatan atasan.


Sesi makan malam berjalan dengan cepat. Di penghujung acara, mereka semua berfoto bersama dengan Pak Handoko sebagai kenang-kenangan.


"Pak, ini hadiah kenang-kenangan dari kami semua, mohon diterima dengan senang hati," Teti menyerahkan sebuah bungkusan besar ke arah Pak Handoko.


"Boleh saya buka sekarang?" tanya Pak Handoko.


"Tahun depan juga boleh, Pak," sahut Ican.


"Kami ucapkan terima kasih banyak dan selamat bertugas di tempat yang baru, Pak," Vedra menyalami Pak Handoko.


"Terima kasih, selamat menjabat posisi baru ya, Ved," kata Pak Handoko.


Satu per satu para pegawai bergantian menyalami Pak Handoko. Verda menjadi orang terakhir yang menyalami pria paruh baya itu.


"Verda, baik-baik, ya, sama Ved. Kalian sudah tidak perlu berebut cuti lagi," kata Pak Handoko.


"Haha, iya Pak, tapi kami tetap berebut kamar mandi," sahut Verda seraya tertawa.


Vedra menegang mendengar perkataan Verda.


"Oh, haha, sepertinya perlu pengadaan toilet lagi agar tidak perlu berebut," Pak Handoko menanggapi guyonan Verda.


Verda mengulas senyumnya. Tidak mungkin kan Verda memperjelas kamar mandi mana yang ia maksud?


Pak Handoko pun akhirnya berpamitan kepada semua rekan kerjanya.

__ADS_1


"Bubar, bubar! Besok kerja lagi!" seru Teti.


"Ya, kalian emak-emak pulang sana! Aku dan Verda mau lanjut nongkrong, bagaimana Verda?" tanya Ican.


"Maaf Can, lain kali saja, aku mau pulang," sahut Verda.


"Ya elah," cibir Ican.


Nita dan Teti terkekeh, lucu rasanya menyaksikan kegigihan Ican dalam mendekati Verda.


"Teman-teman, duluan ya!" Verda berpamitan dan segera menuju ke tempat parkir.


Ican mencebik saat Nita dan Teti masih cekikikan lantaran penolakan Verda atas ajakan Ican.


"Ican, kau sungguh serius ingin mendapatkan Verda?" tanya Nita.


"Apa aku tidak terlihat serius ya?" Ican balik bertanya.


"Haha," Nita dan Teti tertawa mendengar pertanyaan dari Ican.


"Ved, bagaimana menurutmu? Berapa besar peluangku untuk mendapatkan Verda?" tanya Ican ke arah Vedra.


Vedra mengernyit, ingin rasanya ia berkata, "peluangmu untuk mendapatkan Verda adalah seratus persen jika saja kau adalah Jehun."


"Semoga berhasil," kata Vedra tanpa ekspresi.


Vedra segera melangkah pergi meninggalkan Ican yang terlihat keki sendiri sementara Teti dan Nita kembali tertawa terbahak-bahak.


"Can, kalau kau serius dengan Verda, itu berarti kau juga harus serius mencari pekerjaan lain kan?" tanya Teti.


"Tidak apa, Tet, begini-begini Abahku juragan ikan di seberang! Aku bisa meneruskan usaha Abahku!" jawab Ican penuh percaya diri.


"Ahaha!" Nita dan Teti kembali tergelak.


"Ya sudah, kita lihat saja nanti, apa kau bisa meluluhkan hati Verda!" sahut Nita.


"Ya, rasanya aku jadi ingin bertaruh denganmu, Can!" Teti menimpali.


"Tidak, tidak perlu taruh-taruhan! Aku sudah yakin dan membulatkan tekadku! Aku ini laki-laki sejati yang harus mendapatkan apa yang kumau dengan usahaku sendiri! Terlebih demi Verda!" Ican berorasi seakan ia adalah ketua para demonstran.


Nita dan Teti kembali tergelak heboh, mereka sungguh menantikan pertunjukan tersebut.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2