Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 019


__ADS_3

"Tolong tahan, satu, dua, ti..."


Cekrek.. Ckrekk..


Kilatan lampu blitz menghujani Verda dan Vedra yang berpose di depan kamera. Awalnya mereka terlihat begitu canggung karena harus berpose begitu dekat untuk menampilkan keintiman dari pasangan suami istri.


"Bang, tangannya pegang pinggang istrinya, lebih dekat lagi," pinta tukang foto yang mengarahkan gaya.


Verda melingkarkan tangannya di leher Vedra. Ia baru menyadari bahwa pria itu memang lebih tinggi darinya. Mereka memang tidak pernah sedekat ini sebelumnya, sehingga mereka berdua luar biasa canggung.


"Ya, satu kali lagi, tangan istri di dada suami ya, saling menatap, tahan senyumnya," tukang foto kembali mengarahkan gaya.


Sesi foto untuk mereka berdua menjadi akhir dari acara resepsi pernikahan tersebut. Para tamu berangsur-angsur meninggalkan tempat acara. Yang tersisa hanyalah anggota keluarga besar Pak Padri dan Bu Fadlun yang nampak sibuk membungkus lebihan makanan.


Verda segera memasuki rumah, berkumpul di ruang keluarga dan duduk bersimpuh di lantai beralaskan permadani bergaya Turki.


Makanan prasmanan seperti daging, ayam goreng, opor telur, mie goreng, dan soto terhidang di tengah mereka.


"Kalian semua tolong keluar dulu, aku mau bicara sama mereka," pinta Bu Fadlun kepada semua orang yang berada di ruangan itu.


"Ayo dimakan dulu, kalian pasti lapar kan," Pak Padri mengajak makan bersama.


Verda mengambil semangkuk soto, hidangan berkuah itu jelas akan menghangatkan perutnya. Vedra segera menyantap isi mangkuknya karena ia baru merasa lapar.


"Vedra, coba kamu jelaskan alasan mengapa kau bukannya menikahi Silvia dan malah membawa perempuan ini kemari," tukas Bu Fadlun dengan nada bicara yang sinis dan menusuk.


"'Kamu pasti dengar sendiri kan, orang-orang menjadikanmu sebagai bahan pembicaraan! Semua orang sudah tahu bahwa kau akan menikahi Silvia, tapi kenapa kau justru menikahi perempuan ini?!"


Sejujurnya Verda geram mendengar ibu mertuanya yang jelas sedang mendiskreditkan Verda. Perempuan ini punya nama! Nama perempuan ini adalah Verda! Ingin rasanya Verda menyahut seperti itu.


Ini masalah Vedra dan orang tuanya, sehingga lebih bijaksana jika Verda tidak mencampuri masalah tersebut dan lebih memilih untuk menyantap soto hangat yang begitu segar dengan perahan jeruk limau.


"Ibu, Bapak, saat ini, aku rasa lebih baik kita tidak perlu mempermasalahkan mengapa wanita yang menjadi istriku bukanlah Silvia. Saat ini wanita yang kunikahi adalah Verda, dan aku harus bertanggung jawab penuh atas hidup Verda yang sudah bersedia menjadi istriku," jawab Vedra dengan tegas.


Bu Fadlun tercengang mendapat jawaban Vedra yang begitu tegas.


"Vedra, yang benar saja! Kau benar-benar seperti orang yang membeli kucing dalam karung!" sergah Bu Fadlun.

__ADS_1


"Terserah Ibu mau berkata apa, tapi inilah keputusan yang sudah kuambil," jawab Vedra.


"Aduh, anak ini!" Bu Fadlun memegangi belakang lehernya yang mendadak terasa kram.


"Ibu, sudah, tidak perlu dipermasalahkan lagi. Sebagai orang tua kita cukup mendukung Vedra saja, Vedra sudah dewasa dan sudah bisa bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya," Pak Padri menyela.


Bu Fadlun mendengus keras, wanita paruh baya itu segera bangkit dan pergi sebagai bentuk ketidaksetujuannya terhadap keputusan Vedra.


Vedra menghela napas berat, rasanya ia tidak sanggup jika harus mengatakan kepada kedua orang tuanya bahwa Silvia membatalkan pernikahan mereka hanya gara-gara ramalan konyol. Sungguh memalukan jika orang-orang sampai mengetahui ramalan-ramalan yang jelas menjatuhkan harga diri Vedra.


"Jadi, Verda, kau sudah lama mengenal Vedra?" tanya Pak Padri.


"Iya Pak, lumayan," jawab Verda.


"Jadi, kamu tidak masalah menikah dengan Vedra?" tanya Pak Padri.


"Tidak masalah," jawab Verda.


Pak Padri mengulas senyum ramah. Setidaknya pria paruh baya itu tidak perlu merasa cemas karena anaknya pada akhirnya menikah juga setelah sebelumnya mengalami dua kali kegagalan.


...*****...


Verda duduk di kursi yang ada di belakang meja belajar pria itu. Banyak buku-buku yang tersusun rapi dalam rak. Yah, tidak heran sih, pria itu kan memang kutu buku. Namun siapa yang bisa menduga bahwa pria kutu buku sepertinya ternyata seorang playboy terselubung?


...*****...


Vedra mengetuk pintu kamar Ibunya. Kepala Acil Inam muncul di ambang pintu.


"Acil, ada Ibuku?" tanya Vedra.


"Ada apa?" tanya Acil Inam.


Vedra menerobos masuk ke kamar Ibunya. Matanya menyapu ruangan kamar yang saat ini dipenuhi amplop putih yang merupakan angpao dari para tamu. Bu Fadlun terlihat membuka satu persatu amplop, memeriksa isinya dan menyuruh Reni, keponakan Bu Fadlun untuk mencatat setiap nama yang tertera pada amplop beserta nominalnya.


"Ibu," kata Vedra menghampiri Ibunya.


"Ada apa? Ibu malas bicara denganmu! Malas melihatmu!" Bu Fadlun mengabaikan kehadiran Vedra.

__ADS_1


"Sana, keloni saja istrimu! Kamu ini, sudah disekolahkan tinggi-tinggi, mahal-mahal, jauh-jauh! Tapi dapat istri yang gayanya persis perempuan nakal begitu! Dasar bungul!" Sengit Bu Fadlun sambil menyobek amplop yang tersegel.


Vedra mengerutkan alisnya mendengar kata bungul yang berarti bodoh.


"Ibu, tidak etis jika hanya menilai sesorang dari penampilannya saja," kata Vedra.


"Hancap banar ikam, himung itu pang susu lawan burit ganal!" nada bicara Bu Fadlun naik tiga oktaf.


Perkataan Bu Fadlun berarti Vedra sudah kepincut perempuan dengan dada dan bokong yang besar.


Acil Inam dan Reni terlihat terkekeh mendengar cerocosan Bu Fadlun. Urat leher Bu Fadlun nampak mengembang hingga tiga kali lipat dari ukuran normal.


"Ibu, ini bukan masalah dada dan bokong yang besar. Verda bersedia menikah denganku itu sudah lebih dari cukup, Bu," Vedra membela dirinya.


"Ved, kamu ini macam laki-laki yang tidak laku saja! Di kampung ini banyak perempuan yang rebutan menjadi istrimu! Tapi Ibu tidak mau karena Ibu pikir kamu harus dapat yang lebih bagus! Perempuan yang tidak sekadar cantik, tapi punya pendidikan tinggi, dari keluarga baik-baik! Istrimu itu terlampau modern! Berpakaian tapi telanjang! Tak salah Siti mengatai istrimu macam perempuan nakal!" Bu Fadlun masih meneruskan omelannya.


"Ibu, wanita di kota besar memang kebanyakan berpenampilan seperti itu, tapi itu tidak menjadi patokan bahwa mereka adalah perempuan nakal! Mereka hanya ingin mengekspresikan diri!" Vedra mencoba menjelaskan.


"Apa telanjang itu bentuk mengekspresikan diri?" Reni menimpali dengan sinisnya.


Vedra melotot ke arah sepupunya itu.


"Tidak usah julid ya kau, Reni! Kalau saja bentuk tubuhmu tidak macam tandon air begitu, kau pasti lebih berani mengekspresikan diri kan?!" balas Vedra tak kalah sinis.


"Mulutmu, Ved! Aku jadi macam tandon air begini karena melahirkan tiga anak ya! Lihat saja, istrimu nanti jadi tandon air juga kalau sudah punya anak! Tidak usah sok ya!" sungut Reni menahan rasa kesalnya.


Sepupunya itu jarang bicara, tapi kalau sudah berkomentar pasti pedas.


"Haji Banun, lima ratus ribu!" Bu Fadlun kembali melanjutkan aktivitasnya.


Reni segera mencatat di buku catatannya.


"Ibu, bisakah uang angpao ini Ibu berikan untukku?" tanya Vedra.


"Tidak bisa! Ini uang akan ibu bagikan kepada semua panitia tim sukses acara resepsi pernikahanmu, semua orang yang sudah membantu!" sahut Bu Fadlun.


"Ibu?" Vedra terperangah mendengar keputusan Ibunya.

__ADS_1


"Kenapa? Ada masalah? Apa istrimu itu yang menyuruhmu untuk meminta semua uang angpao ini? Kok enak sekali! Di sini semua orang repot, lelah mengurus pernikahan, dia datang cuma jadi pajangan tapi menginginkan uang angpao ini! Hoho, tidak bisa!" cecar Bu Fadlun.


...*****...


__ADS_2