Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 060


__ADS_3

Vedra mengedarkan pandangannya begitu memasuki kamar Verda. Kamar itu berukuran besar, bahkan lebih besar dari rumah Vedra. Di sepanjang tembok bercat putih itu, poster-poster besar tertempel rapi. Terdapat lemari kaca besar di salah satu sudut ruangan berisi kumpulan album dari boyband Fancy yang disusun berdasarkan tahun rilisnya. Selain album, terdapat juga pernak-pernik yang jumlahnya cukup banyak, sepertinya merupakan koleksi pribadi Verda.


Mata Vedra tertuju pada sebuah poster besar yang memenuhi dinding kamar. Vedra mengenali sosok itu sebagai Jehun. Jehun berdiri tegak dengan memakai setelan jas hitam dan kemeja biru muda, persis seperti penampilan Vedra saat ini.


Apa poster ini yang dimaksud dengan Bi Sri? Vedra bertanya-tanya dalam hati.


Tidak, Jehun-lah yang meniru style-ku! Aku bahkan sudah sekolah saat dia baru lahir! Batin pria itu.


"Ved, tunggu di sini saja, aku masih harus menemui orang tuaku," kata Verda.


"Hmm, ya, silakan," kata Vedra.


"Ved, jangan sentuh-sentuh Jehunku!" tukas Verda sebelum keluar dari kamarnya.


"Ya, aku tidak akan menyentuhnya," sahut Vedra.


Vedra segera duduk di sofa berwarna krem yang berhadapan langsung dengan layar televisi berukuran besar yang menempel di tembok.


Vedra mengambil remote untuk menyalakan televisi. Begitu televisi menyala, seketika Vedra tersentak kaget karena televisi menayangkan video musik boyband Fancy. Suara yang menggema memenuhi kamar membuat Vedra memutuskan untuk mematikan saja televisi tersebut.


Vedra menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, matanya menengadah ke langit-langit kamar yang juga dipenuhi poster.


Seketika Vedra merasa merinding sendiri karena semua poster itu seakan tertuju padanya. Seakan semua pria tampan dalam poster itu tak senang dengan keberadaan Vedra.


"Astaga, Verda, kamarmu sungguh menakutkan," Vedra berbicara dengan dirinya sendiri.


...*****...


Verda menyuapkan potongan kue red velvetnya, sementara Vivie masih mengawasi kakaknya secara saksama. Vivie meletakkan cangkir teh, usai menyeruput teh susu kesukaannya.


"Kak Verda, mengaku saja padaku, kakak dan pria itu tidak benar-benar menikah kan?" tanya Vivie.


Verda masih mengemut pelan-pelan kue red velvet yang lumer di lidahnya.


"Kenapa kau berpikir begitu, Vie?" tanya Verda.


"Ya, karena di kepala Kak Verda kan hanya ada Jehun! Meski pria itu berdandan dan terlihat seperti Jehun, tetap saja dia bukan Jehun!" seloroh Vivie.


Verda terdiam lalu melayangkan pandangannya ke arah Vivie.


"Vie, apa kau yakin, suamiku terlihat seperti Jehun?" tanya Verda.


"Kak, suami Kakak itu bahkan terlihat seperti Jehun kw super di mataku!" sahut Vivie.

__ADS_1


"Ah, masa sih, Vie? Aku tidak melihat adanya kemiripan antara suamiku dengan Jehun. Jadi tolong jangan menyamakan suamiku dengan Jehun," ucap Verda tertawa renyah.


Vivie memicingkan matanya, ia sungguh mencium aroma-aroma mencurigakan dari pernikahan kakaknya dengan pria asing tersebut.


"Kalau menurut Kakak, pria itu tidak mirip dengan Jehun, lantas kenapa Kakak mau menikah dengannya?" tanya Vivie penuh selidik.


Verda mengulas senyumnya, ia tentu tidak boleh mengatakan hal yang sebenarnya kepada siapa pun sesuai dengan perjanjian yang sudah ia sepakati dengan Vedra.


"Apa Kakak sedang mengandung anak pria itu?" tanya Vivie.


Verda mencomot kembali potongan kue red velvetnya.


"Aha, jadi benar Kakak sedang hamil anaknya ya?" Vivie mengulangi pertanyaannya.


"Vie, aku tidak sedang mengandung anak siapa pun. Lain ceritanya kalau aku hamil anak Jehun," sahut Verda.


Vivie kembali mendelik gusar, ia sungguh tidak paham dengan pola pikir kakaknya ini.


"Kak, apa Kakak terpaksa menikahi pria itu, karena Kakak tidak mau rujuk lagi dengan Kak Abim?" tanya Vivie.


Verda kembali menyuapkan potongan terakhir kue red velvetnya.


"Vie, aku menikah dengan suamiku sama sekali tidak ada hubungannya dengan Abim. Lagipula berapa kali harus kukatakan padamu bahwa tidak ada tempat untuk mantan!"


Verda menyeruput teh hijaunya.


Vivie mengerutkan keningnya, ia sungguh tidak mengerti kenapa kakaknya sampai menikahi pria itu.


"Verda, kemari," panggil Bu Eva.


"Ada apa, Bu?" tanya Verda.


"Ayahmu mau bicara," jawab Bu Eva.


Verda segera mengikuti ibunya menuju ke ruang keluarga yang berada di lantai bawah.


Pak Daus sudah menunggu Verda. Verda segera duduk di sofa menghadap ayahnya.


"'Verda, Ayah tanya sekali lagi padamu. Apa kau serius menikah dengan pria itu?" tanya Pak Daus.


"Serius, Ayah, aku dan Vedra sudah resmi menikah," jawab Verda.


"Apa pria itu bersedia bertanggung jawab penuh terhadapmu?" tanya Pak Daus.

__ADS_1


"Tentu saja," jawab Verda.


"Baiklah, kalau begitu, mulai sekarang, karena sudah ada yang bertanggung jawab penuh terhadapmu, maka Ayah akan mencabut tunjangan uang jajan dan menarik semua fasilitas yang Ayah berikan untukmu," kata Pak Daus.


"Kita lihat saja, apakah penghasilan seorang model lepas dari pria pilihanmu itu bisa memenuhi semua kebutuhan dan keinginanmu," lanjut Pak Daus.


Verda mengulas senyumnya.


"Verda, Ayah melakukan semua ini semata-mata bertujuan untuk mengetahui sampai di mana tanggung jawab penuh pria itu terhadapmu. Tanggung jawab seorang suami tidak hanya sebatas tanggung jawab lahir dan batin, tapi mengenai layak atau tidak layak. Kamu pasti paham maksud ayah kan?"


"Baik, Ayah, aku mengerti," jawab Verda.


Verda segera meninggalkan ruang keluarga, sementara Vivie menyelinap masuk menemui kedua orang tuanya. 


Vivie segera memberikan laporannya kepada kedua orang tuanya. Vivie bisa disebut sebagai agen ganda karena ia menyampaikan berita kepada  orang tuanya dan juga kakaknya. Vivie jelas kesulitan untuk berpihak pada salah satu dari orang tuanya atau kakaknya karena mereka semua sangat penting dalam hidup Vivie.


"Jadi, Verda tidak mau mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa dia sampai mau menikah dengan pria itu," Pak Daus mengangguk pelan.


"Tapi bagaimana dengan Abim ya? Ibu jadi kepikiran," kata Bu Eva.


Di saat Bu Eva kepikiran dengan Abim, di situlah Vivie jadi kepikiran dengan Bian. Bian juga berencana menjodohkan Verda dengan bosnya.


Bahkan bosnya Bian sudah meminta agar Bian mengatur kencan buta untuknya. Namun berhubung saat ini bosnya Bian masih begitu sibuk, Bian belum berani menentukan pertemuan tersebut.


...*****...


Verda memasuki kamarnya, ia mendapati Vedra yang tertidur di sofa. 


"Dasar tukang tidur," cibir Verda.


Verda segera duduk di samping Vedra, mengamati wajah pria itu secara saksama lalu membandingkannya dengan poster Jehun yang menutupi permukaan dinding kamarnya.


"Bagaimana bisa mereka bilang kau mirip Jehun? Apa yang membuatmu mirip dengannya?" Verda bertanya-tanya.


Verda menyusuri wajah Vedra dengan telunjuknya, membandingkan garis wajah Vedra dengan Jehun. Keduanya memang sama-sama punya rahang yang tegas. Verda menyapukan jarinya ke bibir pria itu. Ia masih bisa merasakan kehangatan bibir pria itu di bibirnya. Verda masih bisa merasakan debaran jantungnya yang menggila karena ciuman yang benar-benar membuatnya tak bisa menahan diri.


Jauh dalam lubuk hatinya, Verda jelas mendambakan sentuhan seorang pria yang nyata. Pria yang bisa memberinya sentuhan-sentuhan yang membuat gairahnya berkobar.


Selama ini ia takut menjalin hubungan lantaran masih trauma dengan perlakuan Abim kepadanya. Abim bahkan pernah mencekiknya hanya karena Verda menolak untuk menerima ciuman pria itu.


Namun Vedra berbeda, pria itu benar-benar bersikap lembut padanya. Menyentuhnya dengan sentuhan-sentuhan yang membuat Verda justru menikmati buaiannya.


Verda membelai lembut rambut Vedra yang jatuh menutupi kening pria itu. Tiba-tiba tangan pria itu menangkap tangan Verda dan membawa Verda ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"'Hmm, Silvia," gumam pria itu dalam tidurnya.


...*****...


__ADS_2