Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 077


__ADS_3

Sinar matahari menerobos melalui celah-celah tirai yang tertutup. Verda menggeliat pelan, membuka mata lalu mengeluarkan kepalanya dari ceruk leher Vedra yang memeluknya dengan erat.


Verda mengulas senyumnya, memandangi wajah Vedra yang masih terlelap. Verda tidak tahu, ia selalu senang melihat wajah tidur pria itu, begitu nyenyak seperti bayi. Sungguh membuat Verda begitu usil ingin mengganggunya. Jari Verda bermain-main di ruas wajah, menyusuri tulang hidung yang tinggi, dan berakhir pada bibir yang terkatup rapat.


Hap..


Jari Verda tertangkap, terperangkap dalam mulut Vedra.


"Haha! Ved," Verda tertawa.


Mata Vedra terbuka perlahan sambil mengulum lembut jari Verda, membuat Verda seketika merasa geli.


"Ved!" Verda mencubit cuping hidung Vedra.


Vedra melepas jari Verda dan memberikan kecupan yang biasa mereka lakukan saat terbangun dari tidur.


Kecupan lembut yang selalu sukses membuat mereka kembali merasakan kobaran gairah pagi. Verda memeluk Vedra yang sudah membawanya ke bawah kungkungannya. Perlahan-lahan menyesap lembut bibirnya. Bermain-main sejenak dengan lidah yang saling beradu lembut.


Vedra melepas ciumannya, mengecup lembut kening Verda yang saat ini menatapnya dengan tatapan berbinar-binar.


"Verda, apa tidurmu nyenyak?" tanya Vedra.


"Hmm, aku selalu tertidur nyenyak saat bersamamu," jawab Verda.


Lengkungan senyum Vedra terlihat jelas, tatapan matanya berbinar-binar memandangi wajah Verda yang begitu cantik saat bangun tidur. Tanpa riasan, kulit yang sehat, bibir berwarna merah muda lembut itu benar-benar membuatnya kecanduan untuk menyesap setiap rasa manis, membuat Vedra menjadi manusia paling serakah di dunia.


Menambang gairah pagi sungguh menjadi ritual serangan fajar yang menyenangkan. Rasa kantuk pun segera sirna dan tergantikan dengan bulir-bulir keringat yang membanjiri tubuh mereka berdua.


Dering ponsel Verda memenuhi kamar, bertepatan dengan selesainya penambangan kenikmatan pagi yang mereka lakukan.


Verda mengambil ponselnya, mengerutkan kening.


"Tumben ayahku menelepon," kata Verda.


"Lekas dijawab," sahut Vedra.


Verda menjawab telepon dari ayahnya.


"Halo, Ayah, tumben pagi-pagi menelepon," jawab Verda.


"Pagi apanya? Ini sudah hampir tengah hari, Verda," sahut Pak Daus di seberang sana.


Verda mengulas senyumnya, sambil mempererat pelukannya pada Vedra.


"Bawa suamimu kemari, ada yang harus Ayah bicarakan dengannya," kata Pak Daus.


"Ayah, ada apa lagi sih?" keluh Verda.


"Ayah tunggu satu jam lagi, kalau memang dia adalah seorang laki-laki sejati!"

__ADS_1


Tut.. Tut..


Pak Daus menutup teleponnya.


Vedra menatap Verda yang nampak kebingungan.


"Baiklah aku akan menemui ayahmu, Verda," Vedra melepas pelukan Verda dan beranjak dari tempat tidur.


"Ved, tidak usah pedulikan ayahku," tukas Verda.


"Verda, aku ini laki-laki sejati," sahut Vedra segera menghilang dari balik pintu kamar mandi.


"Ved! Siapa yang bilang kau perempuan sih?" cibir Verda.


...*****...


Pak Daus menyesap teh dari cangkirnya, tak lepas mata beliau mengarahkan pandangan kepada pria yang saat ini terlihat begitu tegang. Sementara satu orang pria lain di ruangan itu terlihat mengulas senyum penuh kemenangan.


"Ini Abim, pria yang lebih kurestui untuk menikahi Verda," Pak Daus memperkenalkan pria yang duduk bersisian dengannya.


Vedra begitu was-was, ketar-ketir hatinya jika Abim dapat mengenalinya. Namun nampaknya Abim sungguh tidak mengenali Vedra, karena penampilan Vedra yang jelas begitu berbeda dari saat ia dan Abim bertemu pertama kali.


Verda memang punya bakat untuk menjadi juru rias, itulah yang ada dalam pikiran Vedra setiap kali Verda merias wajahnya.


"Kau bisa mengajukan permintaan apa pun padaku, dengan catatan kau harus melepaskan Verda," kata Abim.


Nada bicara Abim terdengar begitu angkuh, menunjukkan kepada Vedra betapa ia berkuasa dengan uang yang ia miliki. 


Pria ini menurut Abim hanya bermodal ketampanan dan tubuh tinggi yang sama sekali tidak berguna jika harus dibandingkan dengan kekayaan yang dimiliki oleh Abim.


Terlintas dalam benak Vedra bahwa mungkin saja penawaran ini merupakan solusi terbaik untuk permasalahan yang saat ini tengah melanda dirinya, terutama mengenai masalah keuangannya.


Saat ini banyak beban yang harus ditanggung oleh Vedra. Pernikahan antara Vedra dan Verda terlaksana sebagai bentuk tanggung jawab Vedra yang menjaminkan diri secara sukarela demi photo card idola Verda.


Jika Vedra menerima tawaran Abim, tentu saja masalah Vedra akan selesai. Melimpahkan tugas suci dari Verda yakni mencari, menemukan, dan mendapatkan kembali kumpulan photo card Jehun kepada Abim.


Dengan uang dan kuasa yang dimiliki oleh Abim, tentu saja tugas suci dari Verda jauh lebih mudah ketimbang harus meminta membangun seribu candi dalam semalam.


Hanya saja jika Vedra melakukan itu, sama saja ia lari dari tanggung jawabnya. Sama saja ia menjual istrinya kepada pria lain demi utangnya. 


Sungguh pengecut sekali jika ia melakukan itu kan?


Dan masih banyak pertimbangan lain yang harus dipikirkan oleh Vedra masak-masak. Terutama perasaan Verda.


Vedra teringat pembicaraan mereka beberapa waktu yang lalu, alasan mengapa Verda tak ingin rujuk dengan Abim.


...*****...


"Aku tidak mengerti, Ved, mengapa orang tuaku ingin aku rujuk dengan Abim," kata Verda sambil bersandar di dada Vedra.

__ADS_1


"Karena Pak Abimanyu bukan pria kaleng-kaleng sepertiku," sahut Vedra seraya tertawa.


"Menurut Abim, dia ingin rujuk denganku lantaran ingin menebus semua kesalahan yang pernah ia lakukan terhadapku. Entah mengapa orang tuaku malah setuju dengan ide gilanya itu," tukas Verda.


"Verda, jika aku memposisikan diriku sebagai orang tuamu, mereka jelas lebih menginginkan punya menantu yang luar biasa daripada pria sepertiku yang menurut pandangan mereka, macam membandingkan keju dan singkong," sahut Vedra.


"Hmm, begitu ya, itu berarti orang tuaku tidak mempertimbangkan kebahagiaanku," ucap Verda sambil mengubah posisinya.


Ia berbaring sambil memandangi wajah Vedra. Mata mereka saling bertemu, sorot kesedihan dan ketakutan tergambar jelas di mata Verda.


"Ved, apa kau tahu, aku tidak bisa melupakan bagaimana Abim menyakitiku! Dia tidak memandangku sebagai seorang wanita! Dia hanya ingin menjadikanku sebagai pemuas hasratnya! Memaksaku untuk melayaninya, Abim bahkan pernah mencekikku karena aku menolak untuk melayaninya!"


Tubuh Verda bergetar, air mata mulai berlinangan.


"Verda," Vedra mengusap air mata Verda dengan jarinya.


"Ketika dia mencekikku, aku menggigit tangannya, aku berlari keluar dari kamar, bersembunyi, mengunci diri di tempat yang sekiranya aman untukku! Aku bersembunyi di dalam kamar kosong. Abim menggedor pintu kamar dengan segenap kemarahannya! Menyumpahiku dengan segala macam sumpah serapah, satu kebun binatang disebutnya!"


"Dia mendobrak pintu, menemukanku di sudut lemari, menyeretku keluar dengan menjambak rambutku. Saat itu yang bisa kulakukan hanyalah menangis dan memohon pengampunannya."


Vedra tertegun mendengar cerita Verda. Ia jadi teringat mengapa Verda kerap heboh dan panik ketika mendengar suara gedoran pintu. 


"Aku bahkan masih mengingat bagaimana dia mengataiku hanya perempuan jelek yang sama sekali tidak menarik pria manapun! Kalau bukan karena dijodohkan, tidak akan ada pria yang menginginkanku!"


"Kemarahan Abim makin menjadi saat aku balas mencekik benda pusakanya saat dia hendak merenggut keperawananku!" lanjut Verda.


Terdengar nada bangga dari ucapan Verda yang membuat Vedra merinding sendiri.


"Oh wow, itu mengerikan sekali, Verda," Vedra menanggapi.


Ngilu membayangkan hal tersebut.


"Ya, aku bahkan berpikir untuk mencabut barangnya seperti mencabut singkong!" 


"Aduh! Verda, itu sadis sekali," Vedra berkomentar.


Verda menatap Vedra yang nampak menyeringai ngeri.


"Ya, habisnya apa yang bisa aku lakukan untuk melindungi diriku sendiri? Gara-gara banyaknya konflik internal, aku dan Abim akhirnya bercerai, namun dampak perceraian itu membuat kondisi psikisku terganggu dan harus mendapatkan perawatan mental. Belum lagi, trauma yang kurasakan membuatku enggan menjalin hubungan dengan pria," lanjut Verda.


"Namun saat bersamamu sungguh berbeda, Ved, dan itulah yang kurasakan. Aku merasa nyaman saat bersamamu, aku merasa terlindungi, kau memberiku rasa aman dan nyaman yang kubutuhkan," kata Verda.


"Verda."


"Aku mungkin bisa memaafkan kejadian yang telah berlalu, tapi aku tidak bisa melupakan semua kejadian buruk yang menakutiku selama hampir separuh hidupku, Ved, aku sungguh takut!"


Verda kembali menangis dalam pelukan Vedra. Vedra bisa merasakan ketakutan yang dirasakan oleh Verda. 


"Verda, aku akan melindungimu."

__ADS_1


...*****...


 


__ADS_2