
Langit nampak berwarna biru cerah tanpa tertutup gumpalan awan berbentuk bak gula-gula kapas mengambang di angkasa. Semilir angin berembus kencang, mengajak pepohonan untuk berdansa di tengah teriknya radiasi yang dipancarkan oleh matahari yang berjarak kurang lebih seratus lima puluh juta kilometer dari bumi.
Panas pada lapisan terluar dari matahari yang diberi nama korona oleh para ilmuan memiliki temperatur yang sangat tinggi mencapai satu juta delapan ratus derajat fahrenheit. Tidak ada termometer digital di bumi yang mampu mengukur panasnya lapisan korona pada matahari.
Informasi tentang matahari masih tersimpan dalam otak Vedra, informasi tersebut terlintas kembali dalam benaknya saat harus memancing di tengah teriknya matahari bersama Pak Daus.
"Kau memang sudah melampaui ekspektasi saya, tapi itu tidak berarti bahwa saya bisa menerimamu menjadi menantu saya," kata Pak Daus sambil menggulung benang pancingnya.
Vedra hanya diam dan mendengarkan.
"Nanti juga Verda akan bosan dengan hubungan kalian, dan yang akan dicarinya adalah orang tuanya," lanjut Pak Daus.
"Verda pernah menikah dengan Abim, pernikahan mereka bahkan tidak sampai memanen jagung. Mungkin masih proses penyemaian saja," mata Pak Daus menerawang jauh.
"Tujuh tahun saya dan istri saya menanti karunia dari Tuhan yang pada akhirnya memberi kepercayaan pada kami berdua. Tuhan menitipkan Verda untuk saya besarkan dengan penuh curahan dan limpahan kasih sayang. Saya dan istri saya sangat bahagia melihatnya tumbuh dengan baik hingga seperti sekarang ini, menjadi wanita cantik yang begitu didambakan banyak pria."
"Sebagai orang tua, tentu saja saya ingin yang terbaik untuk Verda. Termasuk dalam menentukan pasangan hidup untuknya."
"Sekarang coba kau posisikan dirimu menjadi saya, bayangkan bahwa kau punya anak perempuan yang begitu berharga, apakah kau akan menyerahkannya kepada pria yang bahkan tidak meminta izin secara baik-baik untuk mengambil anak perempuanmu?" tanya Pak Daus.
Vedra masih tetap diam dan mendengarkan.
"Memang, anak perempuan itu ya, kalau sudah menikah akan diambil oleh suaminya. Tapi bagi saya, anak saya masih tetap milik saya selama saya masih hidup. Makanya saya lebih memilih untuk tinggal bersama anak-anak saya meski mereka sudah menikah, karena apa? Saya tidak mau anak-anak yang saya besarkan selama saya hidup malah disakiti oleh orang lain. Saya sungguh tidak bisa menerima hal tersebut."
"Bagi saya, istri adalah ratu dan anak-anak adalah raja dalam hidup saya," lanjut Pak Daus.
"Pak Daus, saya sungguh minta maaf, saya minta maaf karena menikahi Verda tanpa izin dari Anda, saya tahu saya salah, oleh sebab itu saya harus bertanggung jawab penuh atas kesalahan saya," kata Vedra akhirnya.
"Saya terima jika Anda memang tidak menerima saya, hanya saja, izinkan saya membuktikan bahwa saya adalah orang yang bertanggung jawab dan tidak akan lari dari apa yang sudah menjadi tanggung jawab saya," kata Vedra dengan tegas.
"Saya sadar bahwa saya memang tidak berasal dari keluarga berada seperti Anda, saya tidak bergelimangan harta, tapi saya punya tanggung jawab kepada Verda," lanjut Vedra.
Tak ada keraguan dari sorot mata Vedra, membuat Pak Daus terkesan dengan tekad pria yang duduk di sampingnya.
"Yah, pokoknya saya belum menerima kau, jadi kau jangan besar kepala," kata Pak Daus menyerahkan joran pancingnya pada Vedra.
"Masakanmu enak," tukas Pak Daus sebelum pria paruh baya itu beranjak dari duduknya.
Vedra tercengang mendengar pujian Pak Daus.
"Ibu, ayo kita pulang!" ajak Pak Daus.
"Sebentar, Ayah, ini masih giliran Ibu main game!" seru Bu Eva.
Pak Daus mendelik gusar melihat istri, anak-anak dan menantunya bermain game di gawai cerdas masing-masing. Rupanya mereka sedang beradu skor tertinggi.
"Satu menit lagi Ayah tinggal," tukas Pak Daus.
"Ih, Ayah ini, sungguh tidak seru!" cibir Verda.
"Ya sudah, nanti kapan-kapan lanjut lagi mainnya," kata Bu Eva mengakhiri permainan gamenya.
Verda mengambil tasnya dan bersiap mengikuti ayahnya.
"Verda, kamu bareng Vivie saja!" tukas ayah.
Verda melongo mendengar perkataan ayahnya. Bu Eva mencuri pandang ke arah suaminya yang kini sudah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Bian, hati-hati nyetirnya ya, jangan ngebut-ngebut," kata Bu Eva sebelum memasuki mobil.
"Baik, Bu," jawab Bian.
Pak Yanto segera membawa mobil ayah Verda bergerak meninggalkan pemancingan.
Verda menatap ke arah Vedra yang menyeringai ala kuda.
Entah apa yang dibicarakan oleh Pak Daus dan Vedra hingga Pak Daus tiba-tiba melunak seperti itu.
...*****...
"Bian, stop di sini saja."
Bian segera menepikan mobil yang dikemudikannya.
"Kak Verda, kenapa berhenti di sini? Bukannya ke arah kota masih jauh?" tanya Bian.
"Kami mau menjadi bocah petualang," jawab Verda seraya terkekeh.
"Kak Verda, apa maksud Kakak?" tanya Vivie keheranan.
Verda mengulas senyumnya, lalu berbisik ke telinga Vivie.
"Vie, kau serius ingin melihatku dan suamiku bercinta secara langsung di depan kalian?"
"Kak Verda?!" seru Vivie tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Hihi," Verda terkekeh geli.
"Sampai nanti, Vie, Bian," Verda berpamitan.
Vedra dan Verda segera turun dari mobil Bian. Mereka berdua melambaikan tangan melihat mobil Bian bergerak menjauh.
"Kak Verda benar-benar sudah gila! Aku rasa dia pasti sudah kerasukan setan genit! Bagaimana dia bisa jadi maniak se*ks begitu sih?!" Vivie terperangah.
"Haha," Bian tertawa. "Vie, maklumi saja, namanya juga masih pengantin baru, jadi ya, masih serakah-serakahnya! Bukannya dulu kita juga pernah serakah seperti itu ya, Vie?"
"Ih, apa sih, Bi!" cibir Vivie.
"Hehe, yuk, kita cari hotel juga," Bian terkekeh.
"Ih, Bian!" omel Vivie.
...*****...
"Terima kasih atas tumpangannya ya, Om, hati-hati di jalan," kata Verda begitu turun dari kursi depan sebuah pick up.
"Sampai jumpa lagi, cantik!" sahut si sopir pick up dengan genitnya.
Vedra memasang tampang cemberut begitu turun dari pick up pengangkut kambing yang membawa mereka ke kota terdekat. Tak ada kendaraan lain yang melintas membuat mereka akhirnya terpaksa menumpang pick up pengangkut kambing.
"Ved, kenapa cemberut begitu?" tanya Verda.
"Aku bau kambing! Sana jauh-jauh," sahut Vedra.
"Haha!" Verda tertawa. "Ayo kita ke hotel terdekat," ajak Verda.
__ADS_1
...*****...
Vedra segera mengguyurkan air hangat ke tubuhnya dan juga tubuh Verda. Ia mengambil sabun cair dan membuat banyak busa sebelum menyapukannya ke tubuh polos Verda. Begitu pun yang dilakukan oleh Verda. Menyabuni setiap jengkal kulit Vedra dengan busa sabun yang melimpah.
Sudah lama rasanya mereka tidak mandi bersama seperti saat ini. Dan mereka masih saja berdebar-debar saat melakukannya.
"Ved," kata Verda sambil menyapukan sabun ke punggung Vedra.
"Ada apa, Verda?" tanya Vedra.
"Apakah kau adalah spiderman?" Verda balik bertanya.
Vedra mengerutkan keningnya, ia berputar menghadap ke arah Verda.
"Aku adalah Iron Man," jawab Vedra sambil merentangkan tangannya.
"Ahaha!" Verda tertawa lalu memeluk Vedra di bawah guyuran air hangat.
"Ved, kau benar-benar hebat! Kau sudah membuat Abim mati kutu begitu!" kata Verda.
"Hmm, bukan aku yang hebat, Abim saja yang terlalu lemah, dan nampaknya ayahmu sungguh salah menilaiku," lanjut Vedra.
"Haha," Verda tertawa lagi.
"Tapi, menang tetaplah menang kan?" tanya Vedra.
Verda mengangguk.
"Jadi, apa aku boleh meminta hadiahku?" tanya Vedra.
Verda mengulas senyumnya sebelum akhirnya mereka berciuman kembali dengan penuh gairah.
Verda melenguh, tubuhnya yang panas terbakar belenggu hasrat, bersandar di dinding yang dingin. Satu kakinya terangkat melingkari pinggang pria yang menghujam inti kenikmatan Verda tanpa henti.
"Oh, Ved!" Verda mengerang.
Vedra hanya menyahut hmm singkat lantaran terlalu sibuk mengerjai bukit kembar Verda yang tanpa henti diremasnya dengan penuh kelembutan.
"Ved! Ah!"
Tubuh Verda terguncang makin keras lantaran hujaman yang lebih cepat menyentak lebih dalam saat Vedra mengubah posisinya.
Vedra memejamkan matanya menurunkan kecepatannya menikmati kehangatan Verda yang lagi-lagi membuainya.
Vedra kembali memutar tubuhnya, Verda masih terengah-engah, merasakan sensasi bak pecandu narkoba yang sedang nge-fly.
"Verda," kata Vedra.
Verda langsung membungkam Vedra dengan ciuman yang seirama dengan gerakan Vedra yang makin cepat hingga pelepasan pria itu pun tiba.
Verda merasa tulangnya kembali lumer bak mentega di atas wajan panas.
Mereka saling tersenyum dan kembali berciuman meluapkan kobaran gairah yang belum juga menandakan tanda-tanda mereda.
Hasrat untuk memuaskan satu sama lain membuncah tak terbendung.
...*****...
__ADS_1