
Verda dan Teti seakan terjebak dalam keheningan tak berujung. Verda benar-benar merasa tersedot dalam mata besar Teti yang melotot ke arahnya.
"Verda, kau ini masih lajang, lebih baik sama pria lajang juga, jangan sama pria yang sudah punya orang! Dan kenapa juga sih harus sama Vedra? Dia loh bukan pria yang asyik!" Teti masih melanjutkan cerocosannya.
Verda cepat-cepat memutar otak, ia harus meluruskan asumsi Teti yang jelas sekali merupakan asumsi yang salah, namun Verda tidak perlu memperbaiki hal tersebut.
"Teti, aku sungguh berterima kasih sekali, kau begitu perhatian padaku sebagai teman yang baik yang saling mengingatkan," kata Verda menyusun kata-kata yang tepat.
"Hanya saja, aku dan Vedra bukanlah pasangan selingkuhan. Kami tidak berselingkuh," lanjut Verda.
"Verda, kalau kalian memang tidak berselingkuh, mengapa kalian berbohong? Akhir pekan kemarin kalian mengaku tidak ke kota sebelah, padahal dengan jelas aku melihat kalian berdua di sebuah toko perhiasan yang ada di pusat perbelanjaan kota sebelah!" kata Teti.
"Mataku ini masih sehat, Verda, yah walau aku mengidap minus satu setengah, tapi aku sangat yakin bahwa itu kalian! Lihat ini!" Teti menunjukkan layar gawai cerdasnya pada Verda.
Kamera gawai cerdas Teti menangkap gambar Verda dan Vedra sedang berada di toko perhiasan.
Verda berusaha untuk tetap tenang dan tidak panik meski Teti menunjukkan bukti otentik yang tidak bisa dielak oleh Verda. Hanya saja, Verda tidak boleh secara serta merta mengaku bahwa ia dan Vedra adalah pasangan halal.
"Teti, aku sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud untuk berbohong padamu. Hanya saja, aku terpaksa melakukannya atas permintaan dari Vedra," kata Verda.
Teti mengerutkan keningnya.
"Jadi begini, Teti, Vedra minta tolong padaku untuk membantunya mencarikan kado untuk istrinya yang akan berulang tahun. Karena ini kado kejutan, jadi aku dilarang untuk mengatakannya! Sejujurnya aku merasa bersalah pada Vedra, karena saat itu dia pernah memintaku untuk merahasiakan perihal rencana pernikahannya, namun aku justru menyebarkannya! Hehe," Verda terkekeh.
"Kenapa Vedra memintamu merahasiakan rencana pernikahannya?" tanya Teti.
"Hm, ya, dia sih cemas saja, kalau gembar-gembor lalu ujung-ujungnya tidak jadi kan malu," jawab Verda.
"Jujur saja, saat itu Vedra sempat marah padaku, kau pasti lihat sendiri kan, bagaimana hubungan kerja kami yang akhirnya terdampak? Sehingga aku pun berinisiatif, demi menciptakan situasi dan kondisi kerja yang nyaman, aku berjanji akan membantunya kalau-kalau Vedra membutuhkan bantuanku," Verda menjelaskan panjang lebar.
Teti nampak mengangguk-angguk, berusaha mencerna penjelasan Verda.
"Teti, aku ya, kalau mau selingkuh, ngapain selingkuh sama Ved? Sekalian saja jadi simpanan pejabat atau pengusaha sukses yang bisa menafkahiku dan para bujangku!" Verda berusaha meyakinkan Teti.
"Hmm, iya juga ya, tanggung sih kalau kau selingkuh sama Ved," kata Teti sambil mengangguk setuju.
"Teti, sungguh aku berterima kasih, kau teman yang begitu baik dan peduli padaku. Kita kerja di sini sudah lama dan sudah macam saudara saja," Verda segera memeluk Teti.
"Verda, maafkan aku ya, aku sudah berpikir sembarangan tentang kau dan Ved. Aduh, maafkan aku ya," Teti memohon.
"Ya ampun, Teti, sungguh tidak masalah, toh aku sih santai saja, aku dan Vedra kan tidak berselingkuh," kata Verda.
"Aduh, aku jadi tidak enak padamu dan juga Ved," Teti nampak gelisah.
"Teti, kadang segala sesuatu itu tidak terlihat sama seperti yang kita pikirkan," tukas Verda sok bijak.
"Hmm, kau benar, Verda, aku sungguh bodoh langsung menghakimi seperti itu," kata Teti.
"Ya sudah, pulanglah, aku masih harus mengerjakan pekerjaanku," ucap Verda.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang duluan ya," Teti beranjak dari tempat duduknya.
"Sampai besok, Verda!" Teti berpamitan.
"Ya, sampai besok, Tet!" Verda melambaikan tangannya.
Hufh...
Verda bernapas lega, setidaknya hal yang ia lakukan membuatnya lepas dari tuduhan perselingkuhan. Toh, siapa yang berselingkuh?
__ADS_1
Ia dan Vedra kan memang suami istri yang sah, namun situasi dan kondisi mereka saat ini mengharuskan untuk menyembunyikan pernikahan mereka.
...*****...
Verda melangkah ke luar dari lift yang membawanya ke area basement. Sebelum memasuki mobil Vedra, ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada orang yang melihatnya masuk ke mobil pria itu.
"Ada apa, Verda?" tanya Vedra keheranan.
Verda menatap Vedra yang terlihat masih berkeringat, di mata Verda, pria itu benar-benar terlihat seksi saat berkeringat. Verda segera mengalungkan tangannya ke leher pria itu dan langsung menautkan bibir mereka.
Satu, dua, lima menit berlalu, mereka masih saling mencecap dengan hasrat yang menggebu.
"Verda," Vedra menahan Verda yang benar-benar seakan ingin melahapnya.
"Ved!" Verda merengek, tangannya mulai menggerayangi tubuh Vedra.
"Jangan di sini, Verda, kita pulang ke rumah saja," kata Vedra segera menahan tangan Verda.
Verda mendengus, ia mendorong tubuh Vedra, gairahnya seakan sirna karena Vedra nampak menolaknya.
"Kau tidak mau melakukannya denganku?" tanya Verda.
"Verda, siapa yang bilang tidak mau? Maksudku, kita jangan melakukannya di sini," jawab Vedra.
Verda terdiam, melipat tangannya di depan dada dan menyandarkan kepalanya di kaca mobil yang gelap.
Vedra segera menginjak pedal gas, membawa mobilnya meluncur dari area basement.
Sepanjang perjalanan, Verda hanya diam.
"Verda, kau mau makan apa?" tanya Vedra.
"Verda, aku benar-benar merasa lapar," kata Vedra.
Verda masih tak menjawab, Vedra menghela napas berat lalu menepikan mobilnya di jalan yang kosong.
"Verda, ada apa lagi?" tanya Vedra.
"Ved, apa kau sudah bosan denganku makanya kau menolakku?" tanya Verda.
"Verda, apa maksudmu?" Vedra balik bertanya.
"Kau sudah bosan kan? Kau bosan makanya kau tidak mau bercinta denganku! Apa kau tahu, Ved? Aku benar-benar sangat menginginkanmu dan rasanya tidak bisa menahan diriku!" cecar Verda.
Vedra menatap Verda yang terlihat benar-benar kesal padanya.
"Verda, aku sungguh tidak bermaksud menolakmu, tapi ya, kita harus lihat-lihat situasi dan kondisi juga. Aku hanya tidak ingin kita kepergok berbuat mesum di tempat parkir," Vedra menjelaskan dengan tenang.
"Tapi aku menginginkanmu, Ved!" sergah Verda.
"Seberapa besar inginmu?" tanya Vedra.
Verda menatap ke arah Vedra yang melepas sabuk pengaman yang membelit tubuh Verda.
"Apa sebesar inginku, atau lebih besar dari inginku?" tanya Vedra sambil menarik Verda ke pangkuannya.
Verda segera menciumi Vedra yang langsung melepaskan kancing kemejanya satu per satu. Luapan gairah mereka tak terbendung.
Dengan cepat Vedra menyusupkan tangannya, melepas pengait penahan dua bukit kembar milik Verda yang benar-benar membuatnya selalu kecanduan untuk menyentuhnya.
__ADS_1
"Aku benar-benar menginginkanmu, Ved!" Verda menyusupkan tangannya ke dalam celana olahraga Vedra.
Melepaskan benda yang sudah mengeras dan menegang sempurna yang sudah siap untuk membuainya lagi.
Verda turun dari pangkuan Vedra, segera membenamkan benda itu ke dalam mulutnya. Vedra tak kuasa menahan keinginannya untuk mengerang, terbuai kenikmatan yang disuguhkan oleh Verda yang makin pandai dalam memanjakan miliknya.
"Verda, stop, ugh!" Vedra mendorong Verda.
Vedra segera menarik kembali Verda ke pangkuannya, menyibak rok mini beserta penutup segitiga yang menyimpan pusat kenikmatannya.
Bibir mereka kembali berpagutan, erat dan liat, dengan gairah yang bertanggung jawab sebagai pemicunya.
Verda mulai menunggangi milik pria itu, ia bergerak seakan kehilangan kendali. Vedra tak bisa menahan dirinya untuk terus bergerak mengimbangi Verda yang menari liar di atas tubuhnya.
Ya, inilah yang paling ia suka dari Verda yang sangat ekspresif saat menginginkannya.
Peluh segera membasahi sekujur tubuh mereka berdua. Dipegangnya dengan erat pinggul ramping Verda yang bergerak naik turun secepat desisan yang lolos dari bibirnya.
Verda yang benar-benar sedang bergairah sungguh membuatnya makin terbakar.
"Ved! Ah! Ah!" Verda memekik tertahan, hentakan keras dan cepat membuatnya menggila.
"Ved, aku mau keluar!" Verda terengah-engah.
"Ya, aku juga!" kata Vedra tertahan.
Verda menegang, memeluk erat Vedra yang menciumnya sambil melepaskan kobaran gairah yang meledak-ledak.
Vedra mengusap lembut punggung Verda.
"Ved, kita bukan pasangan selingkuh," kata Verda sambil menatap mata Vedra.
"Ya, memang bukan," sahut Vedra sambil membelai lembut rambut Verda yang nampak awut-awutan.
Verda segera turun dari pangkuan Vedra, mereka berdua kemudian berbenah.
"Teti memergoki kita waktu kita ke toko perhiasan di kota sebelah, dan dia mengira bahwa kita adalah pasangan yang sedang berselingkuh," ucap Verda.
Vedra tertegun mendengar ucapan Verda.
"Jadi, kau mengaku padanya bahwa kita sudah menikah?" tanya Vedra.
"Ved, apa kau pikir aku sebodoh itu dengan mengatakan kebenarannya?" Verda balik bertanya.
"Hmm, ya, memang sebaiknya jangan sampai pihak perusahaan tahu mengenai pernikahan kita. Peraturan perusahaan melarang sesama pegawai menikah demi menjaga profesionalisme kerja. Jujur saja, saat ini aku dan kau pasti belum siap mundur dari perusahaan. Terlebih saat ini mencari pekerjaan begitu sulit," sahut Vedra.
"Ya, kau benar, Ved," Verda mengiyakan. "Tapi Ved, aku kan juga ingin kita bisa go public," kata Verda.
"Aku ingin semua orang tahu, bahwa kita adalah pasangan suami istri seperti pasangan suami istri pada umumnya," lanjut Verda.
"Hmm, ya, aku juga ingin seperti itu, tapi kondisi saat ini belum memungkinkan," ucap Vedra.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"Jadi, kau mau makan apa, Verda?" tanya Vedra.
"Hmm, aku mau makan apa saja yang kau masak untukku, Ved," jawab Verda.
"Baiklah, di rumah masih ada mie instan dan telur," sahut Vedra.
__ADS_1
...*****...