
"Ved!"
Seruan Verda terdengar diikuti dengan derap langkah kaki membuat Vedra yang saat ini sedang mencuci satu lusin piyama menoleh ke arah Verda yang berlari ke arahnya. Vedra baru sempat mencuci piyama tersebut mumpung ada waktu. Ia mendapat setengah lusin piyama set sedangkan setengah lusin lagi adalah milik Verda.
"Vedra! Vedra!" seru Verda heboh.
"Ada apa, Verda?" tanya Vedra sambil memeras air dari piyama yang sudah direndamnya.
"Ved, hari ini kita ke rumah orang tuaku untuk menemui mereka!" jawab Verda.
"Kapan?" tanya Vedra.
"Tahun depan!" sahut Verda.
"Oh."
"Ved! Kok oh sih?!" keluh Verda.
"Kau bilang kan tahun depan," sahut Vedra santai.
Verda memutar bola matanya melihat Vedra yang kini sibuk mengibaskan piyama ke udara sebelum menjemurnya pada seutas tali.
"Ved, kalau kita harus bertemu dengan orang tuaku tahun depan, untuk apa aku mengatakannya padamu sekarang?" Verda bertanya ke arah Vedra.
"Verda, siapa tahu kau hanya mengabarkan saja agar aku bisa mempersiapkan diri," jawab Vedra.
Ya elah, ini orang kaku amat sih! Verda mendelik gusar.
"Kita pergi sekarang, segeralah bersiap!" ucap Verda.
"Sekarang? Aku bahkan belum selesai menjemur pakaian!" sahut Vedra.
"Ya tunggu kau selesai menjemur, Ved! Kau ini sungguh kaku macam kanebo kering saja!" gerutu Verda.
"Verda, aku bukannya kaku macam kanebo kering, aku hanya menanggapi secara apa adanya," sahut Vedra membela diri.
"Aih, tidak perlu banyak alasan, Ved! Setelah urusanmu dengan pakaian itu selesai, segeralah bersiap!" tukas Verda.
"Oh ya, pastikan kali ini kau benar-benar menemui orang tuaku! Jangan kau batalkan pertemuan dengan orang tuaku hanya karena kau menemui mantan kekasihmu! Nanti kau kualat lagi, baru tahu rasa!" nada bicara Verda terdengar mengancam.
Verda segera meninggalkan Vedra. Verda jelas begitu sibuk untuk mempersiapkan pertemuan Vedra dengan orang tuanya.
Verda membuka lemari pakaian milik Vedra, ia harus mencari pakaian yang cocok untuk Vedra. Pakaian Vedra kebanyakan hanya kemeja dengan warna monokrom, hitam, putih, biru gelap, dan abu-abu.
Apakah dia tidak punya pakaian yang lebih fancy? batin Verda.
"Hmm, gaya apa yang cocok untuk Vedra ya?" gumam Verda.
Vedra memasuki rumah dengan menyampirkan handuk yang diambilnya dari jemuran di depan teras.
"Ved!" seru Verda.
Vedra memasuki kamarnya begitu mendengar seruan Verda dari arah tempat itu. Vedra terkesiap melihat tumpukan kemejanya yang sudah teronggok di atas tempat tidur.
"Aduh, Verda, tolong jangan dihambur seperti ini," keluh Vedra.
"Ved, apa kau tidak punya pakaian lain yang bisa kau pakai selain kemeja-kemeja ini?" tanya Verda.
__ADS_1
"Kebanyakan pakaianku memang seperti ini," sahut Vedra.
"Aduh, apa kau tidak punya kemeja yang lebih bergaya? Kemeja bermotif garis, kemeja printing, jaket denim, atau blazer bermotif floral?" tanya Verda.
"Verda, aku hanya memakai pakaian yang akan kupakai," sahut Vedra sambil memasukkan kembali tumpukan kemejanya ke dalam lemari.
Tidak mungkin Verda mau merapikan kembali pakaian yang sudah dihamburnya begitu saja seperti ini.
"Lantas, kau akan memakai pakaian apa untuk menemui orang tuaku?" tanya Verda.
Vedra mengambil selembar kemeja hitam sebagai jawaban atas pertanyaan Verda. Verda mencebik, apa pria ini tidak punya selera fashion yang lebih baik?
"Aku mau mandi dulu," kata Vedra.
"Ya, ya, segera ya!" sahut Verda.
Verda menghela napas berat. Saat ini ia tentu wajib menampilkan sosok pria nyata yang haruslah keren dan bisa memukau keluarganya.
Terutama Vivie yang kerap mempertanyakan kewarasan Verda. Ya, keluarga Verda sungguh tidak memercayai ada pria nyata yang telah menikahi Verda.
"Apa Kakak tidak salah? Pria seperti ini yang menikahi Kakak? Penampilan culun yang jauh dari kata keren! Selera Kak Verda kan haruslah Jehun! Kenapa malah membawa kutu buku yang kutuan begini?"
Kira-kira seperti itulah tanggapan Vivie nantinya.
"Apa yang harus kulakukan ya?" Verda bertanya-tanya sendiri.
Ia segera mencari inspirasi ootd alias outfit of the day atau istilah sederhananya adalah menunjukkan penampilan yang akan dikenakan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Berhubung standar pria idaman Verda adalah Jehun, otomatis ia harus menjadikan style Jehun sebagai kiblat untuk penampilan Vedra.
Vedra sudah selesai mandi dan segera memakai pakaian yang tadi sudah ia siapkan. Ia mulai mengenakan celana panjangnya.
"Ved!" seru Verda memasuki kamar.
Sial, kenapa dia selalu terlihat seksi setiap habis mandi? Verda menyeringai kikuk.
"Verda, kau sungguh mengagetkanku," keluh Vedra.
"Ved! Tolong duduk!" Verda mendorong Vedra ke tempat tidur.
"Aduh!" seru Vedra terpelanting ke atas kasur.
"Ahaha, maaf, Ved," Verda terkekeh.
"Ada apa, Verda?" tanya Vedra sambil duduk di tepi tempat tidurnya.
"Aku akan memberimu sedikit riasan," jawab Verda.
"A-apa? Kau mau merias wajahku? Astaga, Verda, tolong jangan aneh-aneh!" sergah Vedra.
"Ck! Vedra, tolong bersikap kooperatif!" tandas Verda.
Vedra mendelik gusar saat Verda mulai menyapukan cushion ke wajahnya.
"Wah, Ved, kau punya kulit yang sehat, kau pakai perawatan apa?" tanya Verda.
"Aku hanya pakai sabun cuci muka yang ada di kamar mandi," sahut Vedra.
"Haha, itu berarti kau pakai sabun cuci mukaku dong ya," Verda tertawa.
__ADS_1
"Kalau kau tidak mengizinkanku, aku akan memakai sabun cuci piring," sahut Vedra menyeringai.
"Ahaha, apa kau sungguh berpikir sabun cuci piring bisa digunakan untuk wajah?" tanya Verda.
"Verda, noda, lemak, dan minyak di piring saja bisa bersih, apalagi di wajah," sahut Vedra.
"Ahaha," Verda tertawa lagi.
"Ved, jangan bergerak," perintah Verda.
"Verda, untuk apa pensil itu? Kau mau mencoret-coret wajahku?" tanya Vedra.
"Tidak! Aku hanya ingin membuat alismu yang tebal ini lebih presisi," sahut Verda.
"Kau tidak perlu countur, rahangmu sudah tegas, dan hidungmu sudah mancung," komentar Verda.
"Hmm, tapi ditambah shading saja," Verda bermonolog.
Verda mengeluarkan lip tint berwarna merah yang membuat Vedra terbelalak.
"Verda, tidak, aku tidak mau pakai lipstik!" sergah Vedra.
"Ini bukan lipstik, Ved! Ini lip tint!" sahut Verda.
"Ya, tetap saja, apa kau sungguh ingin membuatku terlihat sepertimu?" tolak Vedra.
"'Tidak, Ved, percayalah padaku!" Verda meyakinkan.
Vedra terdiam saat Verda memulaskan sesuatu ke bibirnya lalu menepuk-nepuk lembut bibirnya. Mata mereka saling bertemu, jarak di antara mereka sungguh tidak berarti.
Vedra meneguk ludahnya mengamati wajah Verda yang begitu dekat, ia bahkan bisa merasakan napas Verda menyapu lembut wajahnya.
Lagi-lagi ia merasa ada magnet yang membuatnya menarik Verda ke pangkuannya. Kobaran gairah yang menggebu jelas terpancar dari tatapan mereka.
Sungguh munafik jika mereka mengabaikan hasrat yang selama ini hanya bisa dipendam masing-masing. Mereka saling menginginkan, hanya saja tak berani mengungkapkannya.
Verda merasakan tangan kokoh pria itu melingkari pinggangnya, memeluknya begitu erat. Hembusan napas pria itu menyapu lembut lehernya. Verda meremas rambut Vedra yang masih setengah basah.
Verda kembali memejamkan mata, menikmati sentuhan bibir pria yang sedang menyusuri garis rahangnya.
Bibir mereka kemudian saling beradu. Verda merasa tenggelam setiap kali menyesap bibir pria itu. Debar jantungnya benar-benar tak mampu dikondisikan.
Bagi Verda, ini jelas ciuman pertamanya dengan pria sungguhan. Selama ini ia tentu hanya bisa menciumi layar gawai cerdasnya atau pun menciumi poster yang menempel di tembok kamarnya.
Awalnya terasa kaku, namun seiring detik yang berlalu, kekakuan itu pun sirna. Semuanya mengalir begitu saja sesuai dengan instingnya.
Verda benar-benar tak mampu menguasai diri, ia menginginkan lebih dari sekadar pertautan bibir, ia membuka mulutnya, membiarkan insting membawanya sampai ke mana.
Vedra pun masih belum bisa mengendalikan dirinya, ia masih membiarkan hasrat menguasai. Verda sungguh membangkitkan nalurinya sebagai seorang pria yang normal dan sehat.
Dering ponsel Verda membuat mereka berdua terkejut. Verda beranjak dari pangkuan Vedra. Ia
segera keluar dari kamar, menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja makan.
Vedra terhuyung, tubuhnya kembali rebah di atas tempat tidur. Bagaimana bisa lagi-lagi ia bertindak di luar kendalinya seperti itu?
Oh tidak! tidak! Aku pasti sudah gila!
__ADS_1
...*****...