
Enam belas tahun yang lalu, Abim baru saja menyelesaikan kuliahnya. Usianya baru dua puluh dua tahun. Teman-temannya sudah banyak yang berencana untuk mencari pekerjaan atau kembali melanjutkan studi magister baik di dalam maupun luar negeri.
Abim sudah berencana untuk mengambil studi ke luar negeri untuk menyusul kekasihnya yang lebih dulu diterima kuliah di Inggris.
Rencana Abim mendapat penolakan dari ayahnya yang bernama Pak Subandi Baskara. Pak Subandi lebih setuju agar Abim bekerja di perusahaan keluarga mereka.
Namun Abim menentang keputusan orang tuanya. Ia tetap ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri. Abim pun akhirnya berusaha mencari beasiswa agar bisa kuliah lantaran Pak Subandi enggan untuk membiayainya.
Alasan Pak Subandi menentang Abim untuk kuliah di luar negeri tentu saja lantaran merasa takut jika Abim salah pergaulan selama di sana. Apalagi budaya luar negeri dianggap terlalu bebas oleh Pak Subandi yang masih begitu kolot.
Selama satu tahun Abim mati-matian belajar sambil mencari beasiswa yang kiranya bisa membiayai kuliahnya dan tentunya sekaligus membiayai hidupnya di luar negeri.
Kerap kali Abim gagal namun ia tidak berputus asa. Ia harus bisa mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah di Inggris agar bisa bersama kekasihnya.
Hingga di tahun berikutnya Abim berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Inggris namun beasiswa yang didapatkannya bukanlah beasiswa penuh.
Abim pun akhirnya memohon kepada ayahnya, berharap ayahnya bisa memberinya bantuan finansial selama Abim hidup di Inggris.
"Baiklah, kalau kamu memang tetap bersikeras untuk kuliah di Inggris, Ayah akan memberi bantuan finansial, tapi dengan syarat, kau harus menikah dengan seseorang yang Ayah pilihkan," kata Pak Subandi.
"A-apa?! Menikah?!" Abim terkejut.
Ayah dan Ibu Abim memberi syarat pernikahan kepada Abim agar selama Abim kuliah di luar negeri, ada istri yang mendampingi Abim.
"Benar, Abim, jadi kau dan istrimu bisa sama-sama kuliah di Inggris," kata Ibu Abim yang bernama Bu Aryati.
"Abim, kau akan menikah dengan Verda, anak sulung Pak Daus. Ayah dan Pak Daus sejak lama sudah berjanji dan Ayah harus memenuhi janji itu," Pak Subandi menjelaskan.
Saat itu Abim merasa dunianya runtuh seketika. Cita-citanya untuk menyusul kekasihnya di Inggris tiba-tiba hanya menjadi wacana saja.
"Ayah, apa jika aku menikah dengan anak Pak Daus, maka Ayah sungguh akan membiayai kuliahku?" tanya Abim.
"Ya, sungguh tidak masalah, kau mau kuliah di Inggris, di Amerika, selama kau bawa istrimu, itu sudah cukup," jawab Pak Subandi.
Jika memang pernikahan adalah syarat dari ayahnya, itu sungguh tidak masalah bagi Abim. Yang penting ia bisa kuliah di Inggris dan bisa bersama kekasihnya.
...*****...
"Abim, ini Verda."
"Verda, ini Abim."
Abim mengulas senyum ramah kepada gadis berperawakan mungil, berkulit putih, dengan rambut panjang lurus yang dikuncir kuda. Gadis itu memakai gaun terusan panjang berwarna merah muda dengan wajah tanpa riasan yang nampak sayu.
"Hai, Verda," sapa Abim.
Verda hanya mengangguk dengan mulut terkunci rapat.
__ADS_1
Pertemuan pertama Abim dan Verda kurang berkesan baik bagi Abim, karena nampaknya Verda hanyalah gadis pendiam dan pemurung.
Bagi Abim, hal itu tentu sangat menguntungkannya. Pernikahan yang terjadi di antara mereka jelas hanyalah sebatas pernikahan di atas kertas.
Saat itu dalam benak Abim sudah terlintas banyak strategi yang akan dikerahkannya untuk menjalani pernikahan tersebut.
...*****...
Pesta pernikahan yang mewah dan meriah itu berakhir. Abim dan Verda pun berangkat ke Paris untuk berbulan madu.
Abim memilih Paris sebagai destinasi bulan madu mereka lantaran Abim akan menemui kekasihnya yang saat itu juga sedang berlibur ke Paris.
"Verda, apa kau ingin kuliah di Inggris juga?" tanya Abim.
Verda hanya diam dan menunduk, Abim menghela napas berat. Bicara dengan Verda sama saja seperti ia sedang bermonolog di depan tembok.
"Verda, aku mau pergi ke suatu tempat, apa kau mau ikut?" tanya Abim.
Verda hanya menggeleng, gadis itu hanya duduk di kursi yang ada di kamar hotel mereka.
"Baiklah, kalau kau perlu apa-apa, panggil saja layanan service, aku pergi dulu," Abim berpamitan.
Abim menghela napas berat, entah mengapa ia merasa kesal sendiri karena gadis itu terus mengabaikannya.
Abim pun segera menuju ke salah satu kafe, tempat ia dan kekasihnya akan bertemu.
Rahayu, panggilannya Ayu, gadis berkulit eksotis dengan senyum manis itu sudah menjadi kekasih Abim sejak mereka sama-sama kuliah. Ayu mengambil jurusan komunikasi bisnis, sedangkan Abim mengambil jurusan managemen bisnis.
Selama satu tahun mereka berdua menjalani hubungan jarak jauh. Ayu langsung memeluk Abim untuk meluapkan rasa kangennya.
Plak..!
Satu tamparan keras dari Ayu membuat Abim tersadar dari khayalannya.
"Tega kamu, Bim! Tega!"
Ayu berusaha menahan kemarahan yang membuncah dalam dadanya.
"Ayu," kata Abim.
"Tega kamu, Bim! Aku menunggumu tapi ternyata kamu malah menikah dengan wanita lain!" geram Ayu.
"Ayu, please, aku bisa menjelaskan semuanya! Coba kau tenang dulu, kita duduk dan bicarakan masalah ini baik-baik, oke?" kata Abim mengajak Ayu untuk duduk.
Ayu menyeka air matanya, rasanya sia-sia saja ia membuang-buang air mata untuk pria pecundang macam Abim.
Ayu baru saja mendapat kabar dari salah satu temannya yang kebetulan menghadiri acara pernikahan Abim.
__ADS_1
"Ayu, please, dengarkan dulu penjelasan aku! Please, Baby," Abim memohon.
Ayu masih bersikap defensif.
"Ayu, aku menikah karena dijodohkan oleh orang tuaku! Bukan keinginanku sendiri! Aku hanya mencintaimu, Yu," kata Abim.
"Omong kosong, Bim!" sergah Ayu.
"Ayu, pernikahan adalah syarat yang harus kupenuhi agar ayahku setuju aku kuliah di luar negeri untuk menyusulmu! Aku sudah dapat beasiswa, Yu, kau tahu sendiri kan, bagaimana perjuanganku?"
Ayu menatap Abim yang terlihat bersungguh-sungguh.
"Ayu, aku melakukan segala cara yang kubisa, demi kamu, demi kita berdua! Kamu tenang saja, aku sudah mengatur banyak rencana! Yang kubutuhkan adalah dukunganmu," kata Abim.
"Abim! Tetap saja kamu tega!"
"Ayu, aku hanya ingin kau percaya penuh padaku. Please, aku benar-benar berusaha agar kita bisa bersama," pinta Abim.
Ayu menghela napas berat, rasanya ia tak percaya bahwa kekasih yang begitu dicintainya malah menikah dengan orang lain.
"Ayu, wanita yang kucintai itu kamu, bukan dia. Jadi kamu tenang saja, aku tidak akan berpaling dari kamu," kata Abim.
Abim menatap Ayu yang mengulas senyumnya. Lalu Ayu pun mengajak Abim untuk menyambangi kamar hotelnya.
Di dalam kamar itu, Abim dan Ayu saling melepaskan rindu seperti yang biasa mereka lakukan. Meski Abim bukan laki-laki pertama yang meniduri Ayu, namun bagi Abim sungguh tidak masalah. Toh selama ini Abim merasa terpuaskan dengan sikap manja Ayu.
"Bim, apa istrimu cantik?" tanya Ayu.
"Ayu, bagiku hanya kamulah satu-satunya wanitaku," jawab Abim.
"Semester depan, aku akan ke Inggris menyusulmu, jadi tunggu saja ya," kata Abim sambil mencium puncak kepala Ayu.
"Bim, kamu jangan menyentuh dia seperti kamu menyentuhku ya," pinta Ayu sambil memainkan jari-jarinya di dada Abim.
"Ayu, kamu tenang saja," kata Abim.
Abim melirik jam tangannya.
"Ayu, aku harus kembali ke hotel," kata Abim.
"Kenapa tidak menginap saja, Bim? Kita bahkan sudah lama tidak bertemu, aku kangen sekali," tukas Ayu.
"Yu, besok aku kembali lagi kok," kata Abim.
Abim beranjak dari tempat tidur dan kembali memakai pakaiannya.
"Sampai besok, Yu," Abim mengecup bibir Ayu sebelum pergi.
__ADS_1
...*****...