
Vedra masih bungkam saat kedua orang tuanya mengajaknya untuk bicara empat mata di kamarnya. Ayah dan Ibunya menuntut penjelasan mengenai perubahan istri Vedra.
Kedua orang tuanya jelas terkejut bukan main. Siapa yang dilamar, siapa yang dinikahi. Itulah yang dipermasalahkan oleh kedua orang tua Vedra.
"Ved, ada apa sebenarnya? Kenapa wanita yang kamu nikahi bukan Silvia? Kenapa kamu malah membawa wanita asing yang tidak Ibu kenal?" tanya Ibunya.
"Ved, kamu ada masalah apa dengan Silvia? Apa perlu Ibu menghubungi Silvia dan meminta penjelasannya?"
Bu Fadlun masih terus mencecar Vedra.
"Ibu, Bapak, aku akan menjelaskan semuanya nanti setelah acara ini selesai," jawab Vedra.
"Vedra, kamu selalu seperti ini, kalau ada apa-apa tidak pernah bicara kepada orang tua!" sergah Bu Fadlun.
"Kamu anggap orang tuamu ini apa, Ved?" tanya Bu Fadlun.
Vedra hanya diam, pria itu membuka kacamatanya dan mengusap wajahnya dengan gusar.
"Vedra! Apa jangan-jangan perempuan itu sudah hamil makanya kamu harus menikahinya?" tanya Bu Fadlun.
"Ibu, sungguh bukan seperti itu," jawab Vedra. "Aku sungguh akan menjelaskan semuanya, tapi nanti."
"Vedra! Kamu jangan bikin Ibu gregetan ya!" hardik Bu Fadlun.
"Ibu, sudah cukup!" sergah Pak Padri.
Pria paruh baya yang sedari tadi hanya diam itu akhirnya angkat bicara.
"Ini hari baik, jangan dirusak dengan hal-hal dan pikiran yang tidak baik," kata Pak Padri.
"Ck, Bapak ini!" geram Bu Fadlun.
"Ibu, Vedra sudah bilang akan menjelaskan semuanya," kata Pak Padri kepada istrinya.
Bu Fadlun benar-benar merasa kesal dengan semua teka-teki yang disiapkan oleh Vedra.
Wanita paruh baya itu keluar dari kamar Vedra dengan perasaan gundah yang semakin menjadi. Menantunya tiba-tiba berubah menjadi wanita asing yang tidak dikenalnya. Wanita yang tidak jelas asal usulnya, yang begitu mudah menggantikan posisi Silvia sebagai istri Vedra.
...*****...
Acara resepsi pernikahan Vedra akan dimulai pukul tujuh petang. Sudah menjadi tradisi di kampung Vedra, acara resepsi pernikahan digelar pada malam hari karena pada siang hari semua penduduk sibuk berkebun.
Verda terperangah melihat busana pengantin berwarna kuning menyala yang harus dipakainya. Busana yang jelas membuat Verda enggan untuk memakainya.
"Ayo, cantik, lekas berdandan, waktunya mepet," kata juru rias.
Verda mendelik gusar melihat perlengkapan dan peralatan rias yang digunakan oleh juru rias. Semua make up terlihat sudah buluk dan mungkin sudah kedaluwarsa.
Mampus, wajahku bisa hancur pakai perlengkapan make up mengerikan ini, batin Verda bergejolak.
"Saya rasa, saya dandan sendiri saja," tolak Verda.
"Mana bisa begitu cantik, nanti tidak jadi cantik!" sergah juru rias.
"Tidak cantik juga tidak apa-apa, toh saya sudah laku juga," tolak Verda.
__ADS_1
Juru rias terlihat kebingungan, ia dibayar untuk melaksanakan tugasnya merias pengantin.
"Ada apa ini?" tanya Bu Fadlun yang tiba-tiba muncul.
"Acil Fadlun, menantu pian tidak mau dirias," lapor si juru rias.
"Kenapa kau tidak mau dirias?" tanya Bu Fadlun pada Verda.
"Saya bisa berdandan sendiri, Bu," jawab Verda.
"Tapi ini riasan untuk acara pengantin, bukan riasan sehari-hari!" sergah Bu Fadlun.
"Ibu, saya minta maaf, saya kurang nyaman jika bukan pilihan saya sendiri," kata Verda.
"Baiklah, terserah padamu! Toh, semua ini awalnya memang disiapkan bukan untukmu!" tandas Bu Fadlun, dingin dan menusuk.
Verda mengulas senyumnya.
"Terima kasih sudah memberi kepercayaan ya, Bu," tukas Vedra.
Bu Fadlun mendengus keras sebelum pergi meninggalkan ruang rias.
Saat ini ia pun juga harus segera bersiap-siap karena acara resepsi pernikahan Vedra akan segera diselenggarakan.
...*****...
Suara pertunjukan musik electone menggema, menandakan acara hajatan sudah mulai dilaksanakan. Biduan dangdut sudah mulai memperdengarkan suara melengking bak kontestan acara kontes dangdut di televisi.
Bu Fadlun dan Pak Padri sudah berada di pelaminan yang didekor dengan banyak bunga berwarna warni sebagai latar belakangnya. Bu Fadlun mengenakan kebaya berwarna merah marun sementara Pak Padri mengenakan kemeja batik berbahan satin warna senada. Akhirnya keduanya sungguh berdiri di pelaminan untuk mendampingi anak mereka.
"Aku tidak akan mengenakan busana itu, kalau kau mau pakai, silakan saja," begitulah kata Verda.
Sungguh tidak lucu kan, jika mereka berdua berdiri di pelaminan tetapi memakai busana yang tidak serasi, jelas akan menjadi bahan omongan orang.
Vedra masih menunggu Verda berganti pakaian. Wanita itu memutuskan untuk memakai gaun yang dibawanya.
Mata Vedra tertegun melihat Verda sudah mengenakan sebuah gaun hitam yang mewah dan glamor. Gaun dengan model mermaid line, bertali tipis, menampilkan punggung Verda yang terbuka. Tanpa sadar pria itu meneguk ludahnya karena melihat penampilan Verda yang benar-benar memukau. Verda merias wajahnya dengan tampilan bold, lipstik merah menyala sungguh menyempurnakan penampilannya. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan terurai lembut dengan sentuhan bergelombang di bagian bawahnya.
"Ada apa?" tanya Verda.
Ia menyadari bahwa pria itu memandanginya dengan tatapan skeptis.
"A-anu, apakah kau merasa nyaman dengan pakaian yang terbuka seperti itu? Apa kau tidak takut masuk angin atau digigit nyamuk?" tanya Vedra.
"Setidaknya, gaun ini jauh lebih baik daripada harus memakai busana kuning itu," Verda menunjuk busana pengantin yang teronggok di atas tempat tidur.
"Hmm, ya, baiklah, terserah kau saja," kata Vedra.
Sejujurnya Vedra sungguh harap-harap cemas, entah apa tanggapan kedua orang tuanya jika melihat penampilan Verda yang terlampau glamor hanya untuk menghadiri acara pernikahan di kampung kecil yang belum tersentuh banyak arus modernisasi.
Verda menyemprotkan parfum beraroma maskulin ke seluruh tubuhnya. Bagi Vedra, wanita ini sungguh aneh karena memakai parfum pria.
"Ada apa? Apa kau benar-benar sangat terpesona dengan kecantikanku ini?" tanya Verda.
"Hm, tidak, aku hanya bertanya-tanya, mengapa kau memakai parfum pria?" tanya Vedra.
__ADS_1
"Oh, ini parfum yang dipakai Jehun, jadi aku merasa bahwa Jehun selalu ada di sekitarku," sahut Verda.
"'Jehun?" Alis Vedra berkerut.
"Semua photo card langka yang kau buang begitu saja, itu foto-foto Jehun!" sahut Verda dengan sinisnya.
"Oh, begitu, hmm, ya," sahut Vedra menyeringai kikuk.
Verda mematut kembali penampilannya di depan cermin.
Tok..tok..tok...
Ketukan di pintu yang lebih menyerupai gedoran membuat mereka berdua terkejut.
"Vedra!" seruan dari luar ruang rias. "Cepat keluar! Mau dandan sampai kapan?"
"Iya, Cil, sebentar!" sahut Vedra mendengar seruan Acil Inam.
"Verda, ayo kita pergi," Vedra beralih pada Verda.
Vedra tertegun melihat Verda yang merosot sambil menutup kedua telinganya. Senyuman yang tadi menghiasi wajah wanita itu seketika menghilang dan tergantikan dengan ketakutan yang terlukis nyata.
"Verda?"
Vedra mendekat ke arah Verda yang menggigil ketakutan sambil memeluk erat tubuhnya.
"Hiks..Hikss..pergi! Pergi!" seru Verda tertahan.
"Verda, tenanglah," Vedra berusaha menenangkan Verda yang nampaknya mengalami serangan panik
"Verda, tenanglah, tenang, oke, bernapas, bernapas yang baik," perintah Vedra.
Verda mencoba menarik napasnya dan mengembuskan perlahan. Serangan panik sungguh membuat wanita itu lupa cara untuk bernapas. Perlu beberapa menit hingga akhirnya Verda mulai nampak tenang.
"Verda, apa kau baik-baik saja?" tanya Vedra.
Verda menatap Vedra yang terlihat mencemaskannya.
"Oh, maaf, maaf," Verda segera berdiri.
"Verda, apa kau baik-baik saja?" tanya Vedra lagi.
"Hmm, ya, aku hanya kaget saja, ayo kita pergi," ajak Verda.
Vedra lebih dulu keluar dari kamar rias.
Acil Inam, Bibi Vedra melemparkan tatapan skeptis ke arah Vedra.
"Anak ini, dipanggil dari tadi, tamu sudah nunggu, jangan curi-curi kesempatan, nanti habis acara baru puas-puas, jungkir balik terserah!" cerocos Acil Inam.
"Iya, Cil," Vedra menyeringai kikuk.
Acil Inam berhenti bicara begitu melihat istri Vedra yang keluar dari kamar dengan penampilan yang benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata.
...*****...
__ADS_1