Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 007


__ADS_3

Menjelang petang, mobil yang dikemudikan oleh Verda memasuki perumahan elit. Verda memarkirkan mobil tersebut di depan taman yang menghadap langsung ke rumah bergaya minimalis dan modern. Verda tinggal di rumah itu bersama Ayah, Ibu, adik Verda yang bernama Vivie, beserta suami Vivie yang bernama Bian.


Verda melepas sepatu bermodel pump berwarna merah dengan hak mencapai sepuluh sentimeter. Verda gemar memakai sepatu dengan hak tinggi dengan tujuan agar tubuhnya yang hanya setinggi 162 cm bisa terlihat menjulang. Verda juga kerap memakai rok pensil di atas lutut yang membuat kakinya terlihat jenjang dan indah.


Verda memasuki ruang tamu dan mendapati semua anggota keluarganya berkumpul. Ayah Firdaus, biasa disapa Pak Daus. Pria paruh baya bertubuh gempal dengan rambut yang telah memutih sebagian. Ibu Verda bernama Bu Eva, beliau adalah wanita paruh baya yang masih tetap terlihat cantik di usia lima puluh tahun lebih.


"Verda, kemari," panggil Pak Daus.


"Ada apa, Ayah?" tanya Verda yang langsung duduk di sofa bersama Vivie.


"Verda, ini mengenai Abim, kata Abim kalian kebetulan bertemu," tukas Pak Daus.


"Ya, hanya kebetulan, setelah sekian lama," sahut Verda.


"Verda, tidak bisakah kalian kembali rujuk?" tanya Ibu Eva.


Alis Verda berkerut mendengar pertanyaan ibunya. Dalam hati ia merutuk betapa gigihnya pria itu.


"Ibu, Ayah, Abim mengatakan padaku kalau dia akan menikah tiga bulan lagi, lantas mengapa dia ingin kembali rujuk padaku?" tanya Verda.


"Abim memang berniat untuk menikah lagi, tapi Abim ingin kau yang menikah dengannya," jawab Bu Eva.


"Abim mengatakan bahwa ia menyesali keputusannya saat itu dan ingin memperbaiki semuanya. Tidak bisakah kau memberinya kesempatan?" tanya Pak Daus.


Verda menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


Omong kosong macam apa itu? Batin Verda.


"Saat itu, Ayah dan Ibu sadar, kalian memang masih terlalu dini untuk menikah, tapi mau bagaimana lagi, pernikahan kalian dulunya kan keinginan dari almarhum kakekmu, Ayah bisa apa selain memenuhinya?" Pak Daus menatap Verda.


"Ayah, Ibu, jika memang harus menikah lagi, aku ingin menikah dengan pria yang kupilih sendiri," tukas Verda.


Ayah dan Ibu Verda hanya bisa terdiam mendengar ujaran Verda.


"Ayah, Ibu, aku lelah," kata Verda.


"'Verda, kamu sudah makan?" tanya Ibu.


"'Sudah, Bu," sahut Verda.

__ADS_1


Vivie mengikuti langkah Verda menuju ke kamar kakaknya.


Verda meletakkan tasnya di atas meja rias. Ia duduk sambil melepaskan jam tangan serta aksesori berupa kalung mutiara pink model tumpuk.


"Ini poster baru lagi ya, Kak?" tanya Vivie yang mengamati salah satu dari sekian banyak poster yang menempel di dinding kamar Verda.


"Ya, dari album terbaru! Lihat, Jehun semakin tampan dengan rambut hitamnya!" Verda terkekeh genit seperti ABG yang pamer gebetan barunya.


"Kak, ingat umur! Kakak sudah bukan ABG lagi!" cibir Vivie.


"Huh, apa ada batasan usia untuk mencintai Jehun?!" Verda berdecih.


"Kak, kenapa Kakak tidak mau rujuk dengan Kak Abim? Usaha Kak Abim makin sukses! Kata Bian, perusahaannya bekerja sama dengan perusahaan Kak Abim, lho," kata Vivie.


"Haha, Vie, tidak ada tempat untuk mantan!" Verda tertawa.


"Kak, apa Kakak sungguh tidak ada keinginan untuk menikah lagi?" tanya Vivie.


"Vivie! Apa kau buta? Jehun adalah suamiku!" sahut Verda.


"Suami halu! Suami sejuta umat!" celetuk Vivie.


"Vivie, tidak usah julid ya!" tandas Verda.


"Vivie!"


"Makanya, nikah Kak! Biar tidak masturbasi lagi! Hihi!" Vivie terkekeh geli dan langsung keluar dari kamar Verda.


Verda mengunci pintu kamarnya dan masih ngedumel sendiri.


Verda masih trauma dengan pernikahan dan rasanya tidak ingin menikah lagi.


Ya, traumanya terlalu dalam dan ia terlalu takut dengan pria. Pria yang terlihat lembut macam Abim benar-benar sangat menakutkan ketika keinginannya tidak dituruti. Terlebih jika pria itu sudah membawa-bawa istilah "Aku Suamimu! Hidupmu adalah milikku!"


Verda benar-benar merinding jika harus mengingat kembali caci maki, sumpah serapah, ketika Abim meluapkan kemarahannya kepada Verda.


Verda yang saat itu masih belia hanya bisa menangis sesenggukan, mengunci diri di dalam kamar yang digedor dengan kencang dari luar hingga akhirnya dibuka secara paksa melalui aksi pendobrakan yang begitu heroik.


Verda cepat-cepat menepis rasa takut yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Perlu bertahun-tahun lamanya bagi Verda untuk mengobati trauma dan rasa takut tersebut.

__ADS_1


...*****...


Vivie kembali ke ruang tamu, bergabung lagi dengan Ayah dan Ibunya yang masih bungkam. Keduanya terdiam seribu bahasa. 


"Ayah, bagaimana ya, jika Verda benar-benar tidak mau menikah lagi? Ibu sungguh cemas," kata Ibu.


"Ibu, rasa bersalah Ayah sungguh amat besar sekali! Ayah hanya bisa pasrah!" tukas Ayah.


"'Ayah, Ibu, Kak Verda mau menikah dengan para pria yang potretnya terpajang di dinding kamarnya!"  sahut Vivie.


"Aduh Vie, jangan lah, masa iya kakakmu menikahi gambar?!" sungut Ibu.


"Ya, habisnya Kak Verda kan masih takut untuk menjalin hubungan dengan pria! Sampai sekarang apa pernah Kak Verda memperkenalkan seorang pria di hadapan kita selain para pria di atas kertas itu?" tanya Vivie.


"Sudah, sudah! Kalian membuat ayah semakin tertekan saja! Entah apa yang harus ayah lakukan untuk menebus semua ini!" keluh Ayah.


"Padahal Abim sepertinya bersungguh-sungguh untuk memperbaiki semuanya. Namanya berumah tangga pasti ada cekcok. Lagipula saat itu mereka berdua masih sangat muda," kata Ibu.


"Yah, mau bagaimana lagi, almarhum ayahku sangat ingin melihat cucu perempuannya menikah sebelum ajal menjemput. Lagipula Ayah juga saat itu tidak enak jika menolak lamaran dari Pak Baskara yang sudah banyak membantu keluarga kita," mata pria paruh baya itu menerawang jauh.


"Daripada Verda menikah dengan pria yang asal usulnya tidak jelas, lebih baik menikah saja dengan Abim, begitulah pertimbangan Ayah saat itu, Vie," Ayah menjelaskan.


Vivie sendiri tidak terlalu ingat pernikahan antara Kak Verda dan Kak Abim karena saat itu Vivie masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu pernikahan.


Vivie hanya mengingat saat itu kakaknya menangis dan menolak untuk menikah karena masih banyak hal yang ingin dilakukannya.


Dan benar saja, sebulan pasca pesta pernikahan yang dilangsungkan secara besar-besaran itu, Kak Verda pulang ke rumah dan setiap hari hanya mengurung diri dalam kamar dan menangis tersedu-sedu.


Setiap kali pintu kamar Verda diketuk agak kencang, kakaknya akan menjerit histeris dan menyuruh semua orang untuk pergi meninggalkannya.


"Sudahlah Bu, terserah Kak Verda saja! Suka-suka dia mau nikah sama Jehun, bihun, atau soun!" tukas Vivie.


"Oh ya, Ibu, Ayah, aku dan Bian berencana untuk pergi liburan bulan depan," kata Vivie.


"Kalian mau liburan ke mana?" tanya Ayah.


"Ke mana saja! Kami mau berbulan madu lagi, apa Ayah dan Ibu tidak mau liburan juga?" tanya Vivie.


"Ibu, bagaimana? Kita sudah lama tidak pergi liburan," usul Ayah pada Ibu.

__ADS_1


"Ibu ikut saja," sahut Ibu.


...*****...


__ADS_2