
Seorang wanita paruh baya nampak sibuk menjadi mandor untuk pemasangan dekorasi pelaminan yang sebagian sudah terpasang di pekarangan rumahnya. Belum selesai dengan tim dekorasi, ia kembali ke dapur untuk mengontrol jalannya kegiatan operasional di dapur yang begitu sibuk.
Para tukang masak terbaik berkumpul di depan kuali-kuali besar berisi aneka masakan dalam jumlah banyak. Wanita itu berkeliling dan mencicipi semua masakan yang nantinya akan disuguhkan kepada para tamu.
Wajah wanita paruh baya itu nampak lelah, namun sama sekali tidak menyurutkan semangatnya untuk mempersiapkan segala sesuatu di hari bahagia bagi keluarganya khususnya untuk anak laki-lakinya yaitu Vedra.
Selesai mengunjungi dapur, wanita paruh baya itu menemui juru rias yang sedang sibuk menyiapkan busana pengantin.
"Acil Fadlun, menantunya mungil sekali ya," kata juru rias yang tengah menyiapkan busana untuk pengantin wanita.
Wanita paruh baya yang dikenal sangat berpengaruh di lingkungan tempat tinggalnya itu bernama Fadlun. Semua orang memanggilnya dengan sebutan Acil Fadlun, Acil sendiri berarti bibi.
Acil Fadlun memiliki perawakan tubuh tinggi besar untuk ukuran wanita, ia selalu mengenakan daster lengan panjang bermotif batik. Rambut panjangnya yang sudah mulai beruban dicepol tinggi dengan ikat rambut ubur-ubur berwarna merah gelap.
"Ah, nanti besar juga kalau sudah dipompa!" ceplos wanita paruh baya itu seraya tergelak.
"Hihi, Acil Fadlun sudah tidak sabar untuk gendong cucu!" ceplos Reni, keponakan Acil Fadlun.
"Ya, sudah tidak sabar. Anakku Vedra akhirnya menikah juga," sahut Acil Fadlun.
"Ya, Vedra memang terlambat sekali menikahnya! Itu teman-teman sepermainannya sudah punya anak sampai empat!" Acil Inam menimpali.
"Bahkan sudah ada temannya yang sampai menikah tiga kali loh, Cil," sambung Reni.
"Yah, tahu sendiri, Vedra itu bukan macam pria-pria yang sembarangan asal kawin. Vedra itu kalau belum mapan, belum ketemu perempuan yang tepat, mana mau dia menikah," seloroh Acil Fadlun.
"Syukurlah ya, Vedra akhirnya menikah juga, padahal sempat dua kali gagal," kata Reni.
"Yah, namanya juga belum jodoh, pasti ada saja halangannya. Sekarang Vedra sudah ketemu jodohnya. Hari ini dia menikah dan akan membawa istrinya kemari. Pasti Vedra sangat sibuk sampai tidak memberi kabar," sahut Acil Fadlun.
__ADS_1
"Menantu Acil Fadlun itu pasti luar biasa cantik ya? Vedra tampan begitu," kata Acil Titi.
"Oh, jelas! Menantuku itu sangat cantik, kalem, dan penurut. Anaknya orang terpandang di Kota Y, Bapaknya itu juragan kos yang punya kos-kosan dua puluh pintu. Cuma duduk-duduk manis di rumah tiap bulan kipas-kipas uang," beber Acil Fadlun begitu bangga.
Para tetangga saling melemparkan pandangan mereka kepada Acil Fadlun yang memang dikenal sebagai orang tua yang sangat membangga-banggakan anaknya karena Vedra memang pantas untuk dibanggakan. Vedra tumbuh menjadi pemuda paling tampan dan paling pintar di kampungnya. Pemuda yang merantau di kota orang untuk menimba ilmu di perguruan tinggi ternama, mendapat pekerjaan di perusahaan besar, hingga akhirnya mendapatkan istri dari kota jelas menjadi sebuah prestasi yang luar biasa. Tak heran Vedra menjadi buah bibir para tetangga di kampungnya.
Para tetangga bahkan sangat antusias untuk menyambut kedatangan Vedra yang digadang-gadang membawa istrinya yang begitu cantik, berpendidikan tinggi, dan berasal dari keluarga berada.
"Bapak!" seru Acil Fadlun memanggil suaminya.
Suami Acil Fadlun bernama Pak Padri, pria paruh baya itu baru saja kembali dari kebun tempatnya bekerja sehari-hari sebagai petani yang menggarap kebun kelapa dan kebun singkong.
Pak Padri memiliki perawakan kurus dan berkulit sawo matang. Pria itu memiliki wajah sangar namun kepribadiannya sangat bertolak belakang dengan wajah sangarnya. Beliau adalah pria yang penyabar dan pendiam.
"Ada apa sih, Bu, teriak-teriak begitu?" tanya Pak Padri menyimpan peralatan berkebunnya di dalam peti yang ada di kolong rumahnya.
"Iya Bu, Bapak handak mandi, baguring satumat," sahut Pak Padri yang berarti beliau ingin mandi dan tidur sejenak.
"Iya, tapi jangan tidur lama-lama!" tandas Acil Fadlun dengan nada mengancam.
Acil Fadlun benar-benar sudah tidak sabar menunggu kedatangan anak dan menantunya. Ia bahkan sengaja tidak menghadiri prosesi akad nikah Vedra agar fokus mengurus acara ngunduh mantu yang dilakukan secara besar-besaran di kampungnya.
...*****...
Di sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari rumah yang saat ini sedang mengadakan hajatan, seorang wanita nampak duduk termenung di depan teras rumahnya.
Air mata berlinangan membasahi pipi wanita berperawakan kurus dan berwajah pucat, demi melihat dekorasi pernikahan dan sibuknya para tetangga membantu acara memasak untuk hajatan di rumah Acil Fadlun, membuat wanita itu nelangsa.
Siti adalah nama wanita itu. Usianya sudah menginjak dua puluh delapan tahun. Siti sangat menyukai Vedra sejak ia masih belia. Ia bahkan sudah menyukai laki-laki itu ketika ia masih berusia tujuh tahun. Usia Vedra dan Siti terpaut enam tahun yang mana ketika itu, di mata Siti, laki-laki itu sungguh tipe idealnya. Tinggi, tampan, dan terpelajar, itulah kata-kata yang mendeskripsikan sosok Vedra di mata Siti.
__ADS_1
Impian terbesar dalam hidup wanita itu adalah menjadi istri Vedra. Siang dan malam, ia berdoa agar Tuhan mengabulkan impiannya itu. Siti bahkan menolak untuk menikah jika bukan Vedra yang menikahinya.
Ketika mendengar kabar bahwa Vedra sudah dua kali gagal menikah, wanita itu benar-benar senang. Mungkin ini cara Tuhan menjawab doa-doa Siti yang selalu ia panjatkan di sepertiga malam.
Hati Siti sungguh hancur ketika mendengar bahwa Vedra akan menikah dengan seorang wanita yang berasal dari kota besar.
Siti seakan kehilangan semangat hidupnya karena sang pujaan hati akhirnya menikah dengan wanita lain dan bukan dengan dirinya.
Siti memang kerap mendapat penolakan saat Siti mengungkapkan rasa sukanya pada Vedra.
"Siti, sudah-sudah menangisnya!"
Anwar, kakak Siti menghampiri adiknya yang menangis tersedu-sedu.
"Sudahlah, lupakan saja si Vedra itu, masih banyak laki-laki lain yang lebih bagus dari Vedra," kata Anwar.
"Kak, aku kurang apa sih, sampai Vedra tidak mau sama aku?" tanya Siti dengan napasnya yang terengah-engah.
"Kamu tidak kurang apa-apa Siti, Vedra saja yang buta mata hatinya!" sahut Anwar.
"Sudah lupakan saja Vedra itu! Vedra itu pembualan! Dia begitu sok, tidak mau menikah dengan wanita di kampung kita! Dia maunya cuma sama perempuan kota yang belum tentu bagus!" lanjut Anwar.
Siti menyeka air matanya dengan tatapan kosong macam mayat hidup.
Anwar sungguh tidak tega melihat Siti yang terpuruk seperti itu. Dulu Anwar bahkan sering memukuli Vedra karena pria itu menolak cinta adiknya.
Apakah Anwar sungguh harus membuat perhitungan dengan Vedra?
...*****...
__ADS_1