Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 014


__ADS_3

Gadis itu berkali-kali meneteskan air mata yang seakan terjun bebas dari pelupuk matanya. Mata gadis itu sudah memerah dan nampak bengkak. Perias yang sedang mendandaninya sungguh panik lantaran takut riasan yang menempel di wajah gadis itu akan luntur. Meski sudah memakai riasan tahan air, namun tetap saja was-was.


Gadis itu terlihat begitu cantik dalam balutan kebaya putih, membuat tubuh mungilnya terlihat berisi.


"Duh, cantiknya anak Ibu!"


Bu Eva, wanita paruh baya itu langsung menghampiri anak gadisnya yang sudah bersiap untuk melangsungkan prosesi akad nikah.


"Verda sayang, jangan menangis terus! Ini acara pernikahan, bukan pemakaman!" Bu Eva menepuk lembut kedua bahu Verda.


"Ibu, aku belum mau menikah! Aku masih ingin seperti teman-temanku yang lain," Verda kembali merengek.


Bu Eva menghela napas berat lalu menyeka air mata Verda dengan saputangannya.


"Verda, namanya sudah jodoh," tutur Bu Eva.


"Tapi, Verda menikah dengan Kak Abim kan karena dijodohkan!" keluh Verda.


"Verda, mau dijodohkan atau pun tidak dijodohkan, namanya jodoh pasti tidak akan ke mana," sahut Bu Eva.


"Verda, Kakekmu sungguh ingin melihat cucu perempuan pertamanya menikah, sebagai keinginan terakhirnya. Lagipula Ayahmu dan Pak Baskara sudah saling berjanji di masa lalu, tidak enak jika tidak dipenuhi," Bu Eva berusaha menjelaskan.


Entah sudah berapa kali wanita paruh baya itu menjelaskan kepada puterinya yang masih belum bisa menerima pernikahan ini.


"Kak Verda cantik sekali!" puji Vivie. "Ibu, aku mau menikah juga, supaya cantik seperti Kak Verda."


"Vivie, umurmu masih sepuluh tahun, tidak usah berpikir menikah!" sergah Bu Eva.


"Huuuh," dengus Vivie.


Verda masih tetap murung, ia bahkan begitu berat untuk tersenyum padahal hari ini adalah hari pernikahannya dengan Abim.


Hari pernikahan yang nampak bagai dongeng. Dekorasi ruangan dengan nuansa warna putih dan bunga-bunga berwarna merah muda memenuhi auditorium hotel berbintang lima.


Setelah akad nikah yang begitu sakral, Verda mengganti kebayanya dengan gaun merah muda, membuatnya nampak seperti boneka barbie.


Pujian terlontar dari mulut setiap tamu yang datang, memberi ucapan selamat kepada Abim yang mendapat istri begitu cantik. Verda sampai lelah harus terus menyeringai hingga giginya kering.


Saat itu Verda tak ingin mengecewakan siapa pun kecuali dirinya sendiri. Ia kecewa karena masa mudanya akan ia lalui tidak bersama dengan teman-teman sebayanya. Ia tidak bisa jatuh cinta bahkan punya gebetan seperti gadis-gadis seusianya. Ia kehilangan kesempatan untuk menikmati masa mudanya dan justru harus terjebak dalam pernikahan dini bersama pria yang tidak ia cintai.


Seluruh keluarga besar Verda begitu bahagia saat Verda menikah, terlebih Kakek dan Neneknya. Verda menjadi cucu kesayangan Kakek dan Neneknya karena ia menjadi cucu perempuan pertama.


Semua orang begitu senang, kecuali Verda.


Saat itu Verda hanya ingin pernikahan tersebut segera berakhir, secepat mungkin.


...*****...

__ADS_1


"Sah!"


Seruan dua orang saksi mengakhiri prosesi akad nikah yang membuat Verda tersadar dari lamunannya. Akad nikah yang saat ini dilakukan oleh Verda sungguh berbeda jauh dengan ketika ia menikah dulu.


Tanpa ada dekorasi mewah, tanpa fotografer yang mendokumentasikan setiap momen, tanpa ada keluarga yang datang, dan tanpa kebaya serta riasan yang membuat Verda menuai pujian sebagai wanita tercantik di muka bumi bagi pria yang menjadi suaminya.


Verda menyematkan sebuah cincin emas putih berukir nama wanita yang harusnya menjadi istri dari pria yang kini menjadi suaminya. Verda mengulurkan tangannya saat pria itu menyematkan cincin dengan berlian mungil dengan ukiran nama pria itu ke jari manis kiri Vedra. Cincin itu terasa sesak di jari Verda, Verda sadar bahwa cincin itu memang bukan cincin kawin untuknya.


"Selamat untuk kalian berdua yang telah resmi sebagai pasangan suami istri yang sah di mata agama dan hukum yang berlaku," kata Pak Penghulu usai merobek satu lembar halaman dari buku nikah yang telah ditanda tangani oleh sepasang pengantin baru itu.


"Terima kasih, Pak," Verda mengulas senyum ramah.


Dengan sudut matanya, ia melirik pria di sampingnya yang terlihat sedang membisu. Verda melangkah keluar dari balai nikah tersebut. Ia segera memasuki mobil Vedra, duduk di kursi depan sambil memasang sabuk pengaman.


"Kenapa kau bengong seperti itu?" tanya Verda ke arah Vedra.


"Aku sungguh tak menyangka, bahwa kita sudah resmi menjadi suami dan istri semudah ini," jawab Vedra.


"Ya, menikah memang sangat mudah. Hal yang sulit adalah menjalani pernikahan itu," sahut Verda.


Vedra terdiam, wanita di sampingnya ini memang sudah sangat berpengalaman. Yah, namanya juga menikahi seorang janda. 


"Hmm, tapi pernikahan kita kan bukanlah pernikahan semacam 'itu', jadi aku rasa tidak akan sesulit itu! Haha," Verda tertawa.


"Hmm, ya, kau benar," sahut Vedra mengiyakan.


"Aduh, cincin ini benar-benar sesak di jariku! Mantan calon istrimu sungguh mungil sekali!" Verda mengangkat tangannya ke udara.


Nada bicara pria itu terdengar sinis di telinga Verda. Verda melepas cincin yang terasa begitu menyesakkan jarinya.


"Ini berlian imitasi ya?" tanya Verda.


"Itu batu zirkon," jawab Vedra.


"Berlian imitasi," komentar Verda.


"Zirkon adalah batu mineral dengan rumus kimia ZrSiO4 zirkonium silikat. Sedangkan berlian merupakan bentuk kristal atau alotrop dari karbon. Dari rumus kimianya saja sudah jelas berbeda maka dapat disimpulkan bahwa Zirkon bukanlah berlian imitasi," Vedra menjelaskan.


"Oh, waah, kau seperti Mbah Google berjalan saja!" Verda terkekeh sambil memainkan cincin itu di udara.


"Ini, aku kembalikan padamu," Verda menyerahkan cincin itu pada Vedra.


Vedra menyimpan cincin tersebut di saku kemejanya.


"Jadi, kita mau ke mana? Jika kau membawaku ke hotel untuk mengajakku bercinta, aku rasa kau melakukan kesalahan besar dengan berpikir bahwa aku mau bercinta denganmu!" tukas Verda dengan penuh percaya diri.


Vedra memutar bola matanya sebagai bentuk ketidaksetujuannya pada Verda.

__ADS_1


"'Kita akan mengunjungi rumah orang tuaku, akan ada acara resepsi pernikahan yang harus digelar di sana," ucap Vedra.


"'Oh, maksudmu, kampung halamanmu?" tanya Verda.


"'Hmm, ya, begitulah," jawab Vedra.


"Wah, di mana kampung halamanmu? Apakah jauh sekali?" tanya Verda.


"Jika perjalanan lancar dan tidak ada masalah yang berarti, perjalanan akan memakan waktu selama kurang lebih sepuluh jam," jawab Vedra.


"Apa? Sepuluh jam? Yang benar saja!" Verda terperangah.


"Apa tidak ada jalur pesawat?" tanya Verda.


"Tidak ada bandar udara, mau mendaratkan pesawat di mana?" Vedra balas bertanya.


Verda mendelik gusar, beberapa detik kemudian ponselnya berdering.


"Iya, halo, Vie," jawab Verda.


"Kak, aku kirimkan gambar beberapa dress pantai, ada juga sandal, dan tas anyaman, masing-masing pilih satu saja!" tukas Vivie.


"Ih, jangan satu, aku maunya satu lusin!" sungut Verda.


"Yee, kalau satu lusin, minta saja pada suami kakak!" sahut Vivie. 


"Hmm, ya, nanti aku minta suamiku saja," Verda melirik Vedra yang mematung di belakang kemudi.


"Ya, ya, aku sungguh tidak sabar untuk bertemu dengan Jehun yang akhirnya menikahi Kakak! Berhati-hatilah jangan sampai pernikahan rahasia kalian terciduk media! Kakak bisa diamuk penggemar Jehun!" Vivie tertawa lagi.


Wanita itu sungguh senang membalas kehaluan kakaknya.


"Ya, terima kasih atas saranmu! Sudah ya, aku mau pergi ke rumah mertuaku!" sahut Verda sebelum menutup teleponnya.


Vivie tertawa terbahak-bahak.


"Ada apa sih, Vie, kamu tertawa sampai bengek begitu?" tanya Bian yang sedari tadi mengawasi istrinya.


"Ini loh, Bi, Kak Verda makin halu saja! Mengaku menikah dengan Jehun, sekarang malah mau ke rumah mertuanya! Haha," jawab Vivie masih tertawa.


"Wah, kasihan sekali ya, Kak Verda, apa perlu aku bantu carikan jodoh?" tanya Bian.


"Kak Verda sudah ogah dengan perjodohan, Bian," sahut Vivie.


"Hmm, tapi kebetulan aku dapat informasi, Bosku sedang cari jodoh, aku rasa bagus juga jika merekomendasikan Kak Verda kepada Bosku," usul Bian.


Vivie mengedikkan bahunya, pertanda ia tidak setuju dengan usulan Bian.

__ADS_1


"'Daripada Kak Verda diminta rujuk ke mantan suaminya, lebih baik sama Bosku saja," pungkas Bian.


...*****...


__ADS_2