Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 073


__ADS_3

Setelah berkendara selama lebih dari tiga jam, akhirnya mereka berdua tiba di sebuah tempat yang sama sekali tidak dikenali Verda. Berjalan di tengah kegelapan yang seakan tak bertepi.


Vedra mengambil tas berisi pakaian ganti yang selalu ada di bagasi mobilnya. Ia mengambil jaket dan menyampirkannya ke tubuh Verda yang menggigil kedinginan lantaran udara malam begitu menggigit.


Dalam pencahayaan yang temaram, Verda bisa melihat area perkemahan, tenda-tenda yang berdiri, api unggun, dan banyaknya orang yang masih duduk-duduk nongkrong di depan api unggun sambil menyanyi diiringi genjrengan gitar.


"Ved, ini di mana?" tanya Verda keheranan.


"Hmm, saat matahari terbit, kau akan tahu," Vedra mengulas senyum misterius.


"Oh begitu," sahut Verda.


"Sebaiknya kita menyewa tenda, supaya kita bisa beristirahat, minimal bisa berbaring untuk meluruskan pinggang," kata Vedra.


Vedra segera menuju ke area penyewaan tenda. Kemudian mendirikan tenda di tempat yang masih kosong. Tak butuh waktu lama bagi Vedra untuk mendirikan tenda lengkung berkapasitas dua orang dewasa. Ia segera menggelar matras angin di dalam tenda yang selalu ia bawa dalam mobilnya.


Vedra segera berbaring di atas matras, berbagi matras sempit itu bersama Verda. Verda mengulas senyumnya, berada dalam pelukan Vedra sungguh membuatnya merasa nyaman.


"Ved, kau suka pergi berkemah ya?" tanya Verda sambil memainkan bulu-bulu halus di lengan Vedra.


Yah, pria itu memang memiliki bulu-bulu halus yang panjang di kedua lengannya.


"Hmm, dulu waktu kuliah aku sempat ikut kegiatan pecinta alam," jawab Vedra.


"Oh, kau melakukan pendakian ke gunung-gunung?" tanya Verda.


"Hmm, ya, seperti itu," sahut Vedra.


"Dari semua gunung itu, gunung apa yang paling membuatmu terkesan?" tanya Verda.


"Hmm...," Vedra berpikir. "Aku rasa mendaki gunungmu ini yang paling berkesan buatku," Vedra terkekeh sambil meremas bukit kembar Verda.


"Hmm, Ved! Ditanya serius kok malah mesum sih," cibir Verda sambil mencubit lengan Vedra.


"Habisnya kau bertanya masalah kesan," sahut Vedra seraya tertawa.


Verda merengut sambil memandangi wajah Vedra yang kini masih menyeringai. Vedra segera mengecup bibir Verda.


"Beristirahatlah, saat fajar menjelang, kita sudah harus bangun," kata Vedra.


"Hmm, baiklah," sahut Verda.


Verda mengulas senyumnya lagi, sebelum akhirnya memejamkan mata. Vedra mengusap lembut rambut Verda, dan menciumi puncak kepala Verda sebelum akhirnya ia terlelap.


...*****...


Udara yang begitu sejuk, angin yang berembus lembut menyapu wajah Verda begitu ia keluar dari tenda. Mata Verda terbelalak melihat pemandangan yang membuatnya terkejut dan terheran-heran.


Verda merasa ia seperti berada di negeri yang berada di atas awan. Embun putih yang menyelimuti kawasan tersebut membentuk gumpalan awan-awan putih. Matahari yang terbit di ufuk timur masih nampak malu-malu, bersembunyi di balik mendung yang tebal.


Bukit Embun, begitulah nama kawasan wisata yang saat ini nampak dipenuhi para wisatawan lokal, mereka tengah sibuk mengambil foto sebanyak-banyaknya.


Mata Verda berbinar-binar, terpesona dengan keindahan alam yang kini memanjakan matanya. Verda sungguh antusias karena ini pertama kalinya ia pergi ke tempat seperti ini.


"Ved, foto aku ya," pinta Verda, segera menyerahkan ponselnya pada Vedra.


"Ya, ya," sahut Vedra.


Verda segera berpose dengan latar embun yang mengelilingi puncak perbukitan. Verda bahkan tidak peduli meski wajahnya terlihat sembab, ia bisa mengakalinya dengan memakai kacamata hitam.

__ADS_1


"Ved, ayo kita foto bersama," ajak Verda.


"Haha, kau saja, Verda," tolak Vedra.


"Ayo, Ved," Verda merangkul lengan Vedra.


Verda bahkan mengambil pose saat mengecup pipi Vedra hingga mengecup bibir pria itu.


Verda terlalu senang dan begitu antusias saat menyusuri jalan setapak, menjauh dari kerumunan pengunjung. Verda bergelayut manja di lengan Vedra.


"Ved, bagaimana kau bisa tahu tempat seindah ini?" tanya Verda.


"Verda, kau saja yang mainnya kurang jauh," jawab Vedra. "Oh, tidak, kau kan mainnya tidak ke tempat-tempat yang seperti ini! Kau langsung ke Eropa! Haha!" pria itu tertawa.


"Hmm, iya, ini seperti berada di surga kw super," sahut Verda.


Verda mengulas senyumnya, mengalungkan tangannya di leher Vedra kemudian kembali berciuman dengan pria itu.


...*****...


Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi saat Vedra mengemudikan mobilnya menuruni Bukit Embun yang menyuguhkan pemandangan alam, membuat Verda lagi-lagi terpesona. Semalam jalan yang mereka lalui hanya berisi kegelapan.


Pemandangan alam berupa perkebunan kelapa sawit menjadi pemandangan utama kawasan tersebut. Berbondong-bondong kendaraan naik dan turun dari dan menuju ke Bukit Embun.


Mereka mampir ke salah satu rumah makan untuk menyantap sarapan bersama.


"Ved, apa kita akan langsung pulang?" tanya Verda.


"Hmm, memangnya kau mau ke mana lagi, Verda?" Vedra balik bertanya.


Verda mengulas senyumnya.


Vedra menatap Verda. Wanita itu memasang ekspresi yang membuat Vedra yakin bahwa Verda sedang memberinya undangan erotis.


"Ayo kita pergi," ajak Vedra.


...*****...


Vedra membuka pintu kamar penginapan lalu mempersilakan Verda untuk masuk.


Verda mengulas senyumnya, Vedra segera menyandarkan Verda ke tembok dan langsung mencium Verda dengan buasnya. Verda menyambut gairah dan hasrat yang membara dari pria itu dengan antusias.


Verda mengerang, mencengkeram erat seprai, tubuhnya terguncang keras, peluh membasahi sekujur tubuhnya, ia mendesah selaras dan seirama dengan entakan bertubi-tubi yang diterimanya. Saat ini yang ia rasakan hanyalah kenikmatan yang membuatnya tak berkutik. Vedra yang terbakar gairah, terus memompanya dari belakang.


"Verda, hmm, kau benar-benar sangat nikmat," Vedra berbisik sambil menjilati telinga Verda.


"Ved, lebih cepat! Lebih cepat! Ah! Ah!" Verda merengek.


"Hmm," Vedra memperlambat gerakannya, tangannya saat ini sedang bergerak lembut di pucuk bukit kembar Verda.


Verda menggelinjang makin tak tertahankan, terlebih saat jari Vedra ikut memorak-porandakan miliknya yang dipompa dengan segenap hasrat yang bergelora.


"Ved! Aku mau keluar," Verda kembali merengek.


"Bertahanlah, Verda, aku belum sampai!" cegah Vedra.


Tubuh Verda terguncang makin keras begitu Vedra mempercepat gerakannya. Verda merasa jiwanya seakan terlepas dari raga. Terbang tinggi, lalu terempas gelombang kenikmatan yang begitu dahsyat. Kenikmatan yang sungguh membuatnya kecanduan. 


Hosh...

__ADS_1


Hosh...


Vedra menciumi punggung Verda sambil menikmati sisa-sisa pelepasannya. Verda berbalik lalu melahap kembali bibir Vedra. Mereka kembali berpagutan, begitu lembut sambil mengatur kembali napas yang berantakan.


Beberapa saat kemudian, Vedra melepas pengaman yang mengamankan miliknya. Rasanya merepotkan harus bongkar pasang seperti ini. Tapi demi keamanan, mau tidak mau harus ia lakukan.


"Ved," Verda bergelayut manja.


"Ada apa, Verda?" tanya Vedra.


"Aku mau lagi," jawab Verda tanpa rasa sungkan.


"Hmm, Verda, tapi, pengamannya habis," sahut Vedra.


Verda sungguh tak menerima penolakan, saat ini gairahnya kembali berkobar bak api yang disiram bensin.


Verda segera naik ke pangkuan Vedra, membenamkan milik pria itu ke dalam dirinya. Vedra mengerang menikmati sensasi hangat yang membuatnya kembali terbakar gairah.


Verda sungguh pandai menyulut gairahnya dan ia sungguh menyukai hal tersebut. Gairah yang selalu berkobar setiap kali mereka bersama seperti ini. 


"Ved! Ah!"


"Verda!"


Seruan mereka menandakan selesainya sesi percintaan panas mereka.


Mereka saling mengulas senyum dan berpelukan.


"Ved," Verda mengusap lembut punggung Vedra.


"Ada apa, Verda?" tanya Vedra.


"Aku mengantuk," jawab Verda.


"Iya, aku juga," sahut Vedra. 


Kemudian mereka berdua terlelap bersama-sama.


...*****...


Usai mandi dan kembali berpakaian, Verda dan Vedra segera meninggalkan penginapan tempat bagi mereka untuk sejenak beristirahat dan melepaskan hasrat yang menggebu.


"Kita cari makan dulu ya," ajak Vedra.


"Iya, aku lapar, Ved," Verda mengiyakan.


Mereka menuju ke sebuah rumah makan yang nampak ramai dikunjungi pengunjung. Kebanyakan dari pengunjung merupakan pengendara sepeda motor yang sedang berkonvoi.


"Kau mau makan apa, Verda?" tanya Vedra.


"Hmm, aku apa ya?" Verda bertanya-tanya sambil membaca menu.


"Sepertinya makan soto enak," jawab Vedra.


"Ya, terserah saja, aku lapar sekali," sahut Verda.


"Loh, Vedra! Verda!"


Seruan seseorang membuat mereka menoleh ke arah orang yang memanggil mereka.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2