
"Baik, Pak, sebentar saya koordinasikan mengenai laporan rekonsiliasi yang Anda minta kepada Verda, mohon maaf hari ini Verda sedang tidak ada di tempat karena beliau sedang cuti bulanan," kata Vedra saat menjawab telepon dari pihak keuangan kantor pusat.
"Baik, Pak, terima kasih banyak, nanti akan saya kirimkan ke e-mail anda," ucapnya lagi sebelum mengakhiri telepon tersebut.
Ia memijat kepalanya setelah meletakkan kembali gagang telepon di sudut meja kerja.
Laporan penting harus dikirimkan dan Verda pakai acara ngambek segala, apa maunya wanita itu sih?! pikirnya.
Vedra sungguh kesal dengan sikap Verda yang jujur saja tidak profesional dalam menyikapi masalah internal mereka.
Bagi Vedra, masalah pekerjaan adalah pekerjaan, tidak boleh disangkut pautkan dengan masalah pribadi mereka.
Vedra mengerutkan kening, rasanya ia ingin menghubungi wanita itu. Namun ego menahannya, menahan tangannya yang hendak menekan panel panggil yang ada di layar gawai cerdasnya.
Wanita itu menyalahkan Vedra atas perbuatan yang mereka lakukan bersama. Menyalahkan Vedra atas kehamilan yang mungkin saja tengah dialami oleh Verda.
Memangnya apa salahnya jika Verda hamil? Toh kami pasangan suami istri yang sah! Anak yang dikandung Verda toh anakku juga, lantas apa alasan Verda harus marah dan tidak menerima kehamilannya?
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dalam benak Vedra.
Apa baginya sungguh memalukan mengandung benihku?
Apa dia lebih bersedia mengandung benih Jehun?!
Sial, aku jadi tidak bisa berkonsentrasi kerja, batin Vedra risau.
Tiba-tiba sebuah panggilan masuk dan membuat Vedra tertegun.
Nama Silvia muncul membuat gawai cerdasnya yang berada dalam mode getar itu bergetar keras.
"Halo, Silvia," jawab Vedra.
"Ved," kata Silvia di seberang sana.
...*****...
Vivie berkali-kali menguap menahan kantuknya. Wanita itu merasa bosan melihat kakaknya yang masih saja berputar-putar mengganti semua gaun yang dicobanya setelah merasa satu lusin gaun tersebut tidak ada yang bagus.
Sudah dua jam lamanya Verda mencoba satu per satu gaun yang ada di salah satu butik langganannya. Ia benar-benar bingung memutuskan gaun apa yang pantas dipakainya untuk menemui Vedra.
Verda sudah memutuskan untuk berbaikan dengan Vedra. Jika memang saat ini Verda sedang mengandung anak Vedra, untuk apa dia harus menolak semua itu?
Toh, selama ini ia sadar bahwa telah melakukan semua itu atas dasar keinginan mereka bersama tanpa ada paksaan. Semua hasrat, gairah, dan gejolak yang membuai mereka adalah murni dari mereka sendiri. Tanpa paksaan dan semuanya atas dasar kehendak bersama.
"Vie, apa gaun ini cocok untukku?" tanya Verda sambil berputar-putar di depan cermin.
Gaun putih dengan kerah bermodel sabrina, panjangnya sebatas lutut dengan model mengembang, terlihat sangat pas di tubuh Verda.
"Kak, kenapa sih Kakak sampai berdandan heboh seperti ini hanya untuk menemui Jehun kw?" cibir Vivie.
__ADS_1
"Vie, apa salahnya aku tampil cantik paripurna di depan suami sendiri?" sahut Verda.
"Hmm, jadi ceritanya mau baikan nih," tebak Vivie.
"Haha, baikan ya, hmm, sepertinya begitu," sahut Verda seraya tertawa.
Vivie mencebik melihat kakaknya yang sepertinya memang sudah tergila-gila pada si Jehun kw.
"Kak, Kakak benar-benar serius berhubungan dengan suami Kakak? Ayah bahkan belum merestui kalian loh," kata Vivie.
"Vie, menurutmu, seandainya aku hamil, apa ayah akan merestui kami?" tanya Verda.
Vivie tertegun mendengar pertanyaan Verda. Ia bahkan langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Apa?! Kakak hamil?!" seru Vivie.
"Vie, aku kan bilang seandainya," sahut Verda.
"Kak, jadi Kakak sedang hamil?" tanya Vivie.
Verda mendelik gusar, Vivie mengguncang bahu Verda.
"Sudah berapa bulan, Kak?" tanya Vivie.
"Vie, please, aku hanya bilang seandainya, bukan berarti aku benar-benar hamil. Sudah yuk, aku ambil gaun yang ini saja," Verda segera menuju ke kasir untuk membayar gaunnya.
...*****...
Vedra memasuki sebuah restoran tempat ia dan Silvia bertemu janji. Begitu melihat Silvia duduk di salah satu meja yang kosong, ia bergegas menghampiri meja tersebut.
Vedra mengamati sekeliling, mengambil sikap waspada, mengantisipasi jika ada Bayu yang mengawasi mereka itu artinya Vedra tidak boleh asal bicara daripada babak belur seperti tempo hari.
Vedra segera duduk di kursi yang ada di hadapan Silvia. Silvia mengulas senyumnya, menyambut kedatangan pria itu.
"Ved, kau tenang saja, aku tidak mengajak Bayu untuk menemaniku," ucap Silvia yang menyadari sikap defensif Vedra.
Vedra hanya mengangguk pelan.
Pelayan segera mengantarkan buku menu untuk mereka berdua kemudian pergi sambil menunggu panggilan.
"Terima kasih sudah bersedia datang menemuiku, Ved," kata Silvia sambil membolak-balik daftar menu.
"Tidak masalah, Silvia, kebetulan aku punya waktu," jawab Vedra.
"Bagaimana kabarmu selama ini, Ved?" tanya Silvia.
"Aku baik-baik saja, Silvia, bagaimana denganmu?" tanya Vedra.
"Ya, aku juga baik-baik saja," jawab Silvia.
__ADS_1
Mereka berdua saling menatap. Vedra mengamati wajah Silvia yang nampak jauh lebih tirus dari terakhir kali mereka bertemu.
Sementara itu Silvia sedang berpikir dengan cepat. Tujuannya bertemu dengan Vedra adalah untuk meminta maaf. Selama ini Silvia benar-benar didera rasa bersalah terlebih pasca insiden pemukulan Bayu terhadap Vedra.
"Ved, aku benar-benar minta maaf atas perlakuan Bayu yang tempo hari benar-benar keterlaluan. Maafkan Bayu ya, Ved, Bayu orangnya memang emosian begitu," kata Silvia.
Nada penuh keraguan terdengar jelas dari Silvia.
"Silvia, menurutku akulah yang salah, jika saja aku tidak mengatakan hal yang keterlaluan, aku yakin Bayu tidak akan melakukan hal tersebut," sanggah Vedra.
Silvia menatap ke arah Vedra. Pria di hadapannya ini selalu seperti itu, selalu meminta maaf padanya meski bukan dia yang sepenuhnya bersalah.
Ponsel Vedra bergetar dalam sakunya. Vedra melihat nama Verda muncul di layar. Vedra menghela napas berat, menimbang-nimbang apakah ia harus menjawab telepon dari Verda.
"Kenapa tidak di jawab, Ved?" tanya Silvia.
"Hm, tidak apa," jawab Vedra sambil menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Sudah siap memesan?" tanya pelayan menghampiri mereka.
"Oh, oke," sahut Vedra ke arah pelayan.
...*****...
Ican merasa menjadi obat nyamuk saat mengikuti acara makan malam bersama teman-teman kuliahnya yang mendadak mengadakan acara reuni kecil-kecilan. Disebut kecil-kecilan lantaran yang ikut hanyalah segelintir manusia yang kebetulan punya waktu luang untuk makan malam bersama.
"Jadi, Can, kapan kau sebar undangan?" tanya Yaser selaku tuan rumah acara tersebut.
"Yah, ditunggu saja," jawab Ican.
"Kalau kau menikah, sekalian reuni akbar kita, Can," Robi menimpali.
"Haha," Ican hanya tertawa namun dalam hati merutuk kesal.
"Aku ke toilet sebentar," Ican berpamitan.
Ican bergegas pergi menuju ke toilet.
Menyesal rasanya ikut ke acara reuni tanpa membawa gandengan seperti teman-temannya yang lain. Seandainya saja ada Verda yang bisa menemaninya, pasti teman-temannya akan luar biasa heboh karena Ican membawa gandengan yang luar biasa cantik dan seksi.
Apa sebaiknya kuajak Verda ya? Siapa tahu dia lagi kosong! Pikir Ican.
Langkah Ican terhenti saat melihat sosok yang dikenalnya.
Vedra! Oh waw!
Ican segera mengambil ponselnya lalu membidik gambar Vedra.
...*****...
__ADS_1