
Verda memasuki ruangan tempat penyimpanan barang-barangnya. Di saat moodnya sedang tidak bagus lantaran masalah pekerjaan, baginya hanya wajah para pria tampan, khususnya Jehun-lah yang kiranya dapat menjadi mood boosternya. Verda mengeluarkan satu per satu poster gulung dari dalam pipa paralon yang melindungi koleksi posternya. Menempeli dinding yang kosong dengan poster-poster anggota boyband Fancy.
Ia juga menyusun koleksi album Fancy pada rak gantung yang ada di ruangan tersebut. Terbatasnya ukuran ruangan itu membuat Verda berpikir untuk memasang posternya hingga ke langit-langit.
Verda menatap koleksi photo card milik member Fancy yang didapatnya dari setiap pembelian album. Tidak semua album yang dibeli Verda membawa pulang photo card Jehun secara mandiri. Sehingga Verda harus membeli photo card Jehun dari orang yang memang menjual photo card tersebut. Semakin langka photo card, semakin mahal pula harganya. Terlebih Jehun adalah idola dengan sebutan bias sejuta umat. Hal tersebut membuat segala sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan Jehun jadi begitu berharga bagi para penggemarnya.
Vedra baru saja selesai mandi, ia mendengar suara musik yang mengentak-entak memenuhi rumah. Ia menghampiri Verda yang terlihat begitu asyik menari-nari mengikuti irama musik.
Vedra terperangah melihat ruangan yang sebelumnya merupakan ruang kerjanya, kini dipenuhi poster-poster dari boyband Fancy. Vedra memijat keningnya, memikirkan bagaimana jika nanti lem yang digunakan untuk merekatkan poster pasti akan membuat cat temboknya ikut terkelupas.
Cat tembok itu harganya mahal dan tidak bisa hanya beli sekaleng dua kaleng!
"Verda, menurutku, poster-poster ini lebih baik dilapisi dengan triplek dulu daripada langsung ditempel di tembok, kau bisa menambahkan lampu-lampu kecil guna menambah estetikanya," usul Vedra.
Verda mengabaikan usulan Vedra.
"Nanti aku akan membantumu mendekornya, di sosial media banyak beredar contoh-contohnya," lanjut Vedra.
"Ved, daripada kau merecokiku seperti ini, lebih baik kau belajar saja agar lolos jadi PNS! Daripada jadi manajer yang sok mengatur dan sungguh bossy!" celetuk Verda.
Vedra terperangah mendengar celetukan Verda.
"Verda, manajer itu asal katanya adalah manage yang berarti mengelola, mengatur!" kata Vedra.
Verda mendelik gusar saat bersitatap dengan Vedra.
Vedra menghela napasnya.
"Verda, sebaiknya kita tidak perlu membicarakan masalah pekerjaan saat di rumah, demi menjaga profesionalisme," ucap Vedra.
"Profesionalisme?" tanya Verda.
"Ya, aku tidak ingin kita berdebat masalah pekerjaan karena jam kerja sudah selesai," jawab Vedra.
"Huh! Tapi rasanya aku masih benar-benar kesal padamu, Ved, meski sekarang jam kerja sudah selesai!" geram Verda.
"Verda, katakan padaku alasan mengapa kau kesal? " tanya Vedra.
__ADS_1
"Ya, aku kesal pada sikapmu yang begitu bossy. Seenaknya saja kau memutuskan untuk mengganti peraturan tunjangan makan! Aku sungguh tidak setuju dengan keputusanmu itu!" sahut Verda dengan kesal.
"Kenapa kau tidak setuju? Menurutku bukankah mengganti peraturan tunjangan makan jelas menjadi solusi terbaik agar para pegawai lebih disiplin dengan jam kerja efektif? Jadi tidak ada alasan lagi untuk keluar kantor, mencari makan siang, lalu terlambat kembali ke kantor lantaran berbagai macam alasan!" tukas Vedra.
"Ved! Kau benar-benar keterlaluan! Kan tidak sering kali juga aku terlambat kembali ke kantor!" sergah Verda.
"Tidak sering berarti masih tetap saja ada kemungkinan terlambat lagi," kata Vedra.
"Tidak, Ved! Aku janji, tidak akan melakukannya lagi! Kumohon, Ved, ubah keputusanmu itu!" Verda memohon.
Tunjangan uang makan nominalnya cukup untuk membeli pernak-pernik Fancy, sungguh sayang jika uang tersebut tidak bisa dicairkan lagi lantaran diganti dengan menu katering harian.
"Apa jaminan bahwa kau tidak akan terlambat lagi kembali ke kantor usai jam makan siang?" tanya Vedra.
"A-apa? Jaminan?" tanya Verda.
"Ya, bukankah semua hal akan lebih adil jika ada jaminannya?" Vedra balik bertanya.
"Aku bahkan menjadikan diriku sebagai jaminan utang padamu," kata Vedra.
Verda memandangi wajah Vedra, pria itu nampak mengulas senyum miring. Mungkin merasa sudah menang dalam beradu argumentasi dengan Verda.
"Apa maksudmu, Verda?" tanya Vedra.
Verda mendekat ke arah Vedra.
"Apa kau iri padaku karena aku bisa bebas pergi ke mana saja, sementara kau tidak bisa ke mana-mana dan harus menjaga kantor?" tanya Verda.
"Astaga, Verda! Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?" Vedra balik bertanya.
"Ya, kau pasti iri padaku! Kau bahkan iri karena aku mendapatkan hak cuti haid! Sementara kau tidak dapat!"
"Vedra, aku tidak melakukan hal itu karena aku iri padamu! Aku hanya ingin para karyawan bekerja dengan baik dan benar. Memanfaatkan waktu kerja seefektif mungkin tanpa membuang-buangnya dengan hal yang kurang berfaedah!"
"Untuk apa kau repot-repot mengantri hanya untuk makan ayam geprek yang lokasinya jauh dari kantor, biar kata sedang diskon! Belum lagi harus terjebak macet, bahkan pengemudi daring pakai acara salah jalan segala! Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu di jalan?"
Vedra masih menyampaikan argumentasinya.
__ADS_1
"Ved, bagaimana kau bisa berpikir sampai sejauh itu? Aku kan pergi bersama teman-teman kantor!" sergah Verda.
"Ya, justru itu kalau ada apa-apa dengan kalian semua, siapa yang harus bertanggung jawab? Pasti aku yang ditunjuk karena aku manajer yang bertanggung jawab terhadap karyawan!"
"Bagaimana jika seandainya sopir daring sampai membawamu kabur? Kau diculik, diperkosa, lalu dibunuh!" lanjut Vedra.
Verda terperangah mendengar penuturan Vedra.
"Astaga, Ved! Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? Pikiranmu terlalu jauh!"
"Bagaimana aku tidak berpikir terlalu jauh, sedangkan kau selalu membuat pikiranku berpetualang terlalu liar!" tukas Vedra.
"Ved, apa maksudmu?" tanya Verda.
"Verda, terus terang kukatakan padau, bahwa aku mencemaskanmu! Terlebih saat kau bersama pria! Jujur saja, aku jadi merasa tidak tenang!" jawab Vedra.
"Ved, apa maksudmu?" tanya Verda keheranan.
Vedra terdiam, entah mengapa ia jadi tidak berani mengutarakan maksudnya. Jika mengingat betapa ia gagal mengendalikan diri saat bersama Verda, dan Verda pun nampaknya sama sekali tidak keberatan, maka Vedra pun dapat menarik kesimpulan bahwa Verda sungguh tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Ved, apa maksudmu dengan kau begitu mencemaskanku, terlebih saat aku bersama pria?" Verda mengulangi pertanyaannya.
Vedra merasa tenggorokannya tercekat, ia merasa wajahnya memanas seketika karena teringat momen-momen erotis yang ia lakukan bersama Verda. Mencium Verda dengan segenap hasrat yang menggelora dalam dirinya.
Vedra bahkan belum pernah mencium wanita-wanita yang menjadi kekasihnya, terlebih Silvia yang akan menjadi istrinya. Ia takut tak bisa mengendalikan diri jika hasrat menggelapkan matanya.
"Verda, maaf, aku sungguh minta maaf! Aku tahu, aku salah karena beberapa kali aku mencoba melakukan hal yang tak sepantasnya kulakukan terhadapmu! Sungguh, aku hanya tidak bisa mengendalikan hasrat yang kumiliki! Kau seharusnya marah padaku, memukul, bahkan menamparku!" jawab Vedra.
"Kau justru diam, dan membuatku berpikir, bahwa itu bukan hal besar! Hal yang tidak masalah bagimu," lanjut Vedra.
Verda terdiam mendengar penjelasan dari Vedra.
"Sehingga aku pun beranggapan, bahwa mungkin saja kau juga melakukan hal yang sama dengan pria lain."
"A-apa?! Bagaimana kau bisa berpikir begitu, Ved?" tanya Verda.
"Karena kau yang membuatku berpikir seperti itu, Verda," jawab Vedra.
__ADS_1
...*****...