Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 068


__ADS_3

"Ved, kita dapat info dari PT BAS, pihak mereka menyetujui kerja sama dengan cabang kita," Nita menyampaikan informasi yang didapatnya.


"Syukurlah mereka setuju," kata Vedra.


"Aku juga sudah mengaturkan pertemuanmu dengan pimpinan PT BAS," kata Nita lagi.


"Kapan?" tanya Verda


"'Minggu depan," sahut Nita.


"Baiklah, kalau begitu, siapkan saja semua yang dibutuhkan," kata Vedra.


"Oke, sip!" sahut Nita sebelum keluar dari ruangan kerja Vedra.


"Ada apa, Nit?" tanya Ican mendengar Nita bersenandung riang.


"Hehe, kalian segera pikirkan tempat makan yang ingin kalian kunjungi! Sebentar lagi, bonus kita bisa cair!" Nita terkekeh.


"Bonus?" Verda menyahut dari kubikelnya.


"Bonus dalam rangka apa, Nit?" tanya Ican.


"Kantor cabang kita dapat projek dari PT BAS!" jawab Nita antusias.


"Hee, serius? Itu bukannya tender dari tahun lalu yang belum ada jawabannya?" Teti menimpali.


"Yoi, baru dapat sekarang! Mantap kan?!" Nita kembali terkekeh.


"Asyik, makan makan!" seru Ican antusias.


Verda mengulas senyumnya, kebetulan album terbaru Fancy akan rilis dalam waktu dekat, sehingga Verda sudah harus mengikuti program pre-order.


...*****...


"Ved, ini laporan rekonsiliasi bank, coba dicek dulu, nanti selisih lagi," gerutu Verda.


Vedra mengambil laporan dari tangan Verda, saat tangan mereka saling bersentuhan, lagi-lagi aliran listrik seakan menyengat mereka berdua.


"Oh, oke," sahut Vedra.


Verda memandangi Vedra yang terlihat serius memeriksa laporan. Verda berpikir mengapa pria ini jadi terlihat jauh lebih seksi?


"Apa ada sesuatu yang salah di wajahku?" tanya Vedra.


"Tidak ada," sahut Verda dengan cepat.


Sial, bagaimana dia bisa tahu aku memandanginya? Apa di jidatnya ada mata yang tersembunyi? Batin Verda.


"'Verda, tolong ambilkan file yang ada di sana," Vedra menunjuk ke lemari yang ia maksud.


Verda beranjak dari kursi dan menuju ke lemari berisi file.


"File bulan kemarin?" tanya Verda.


"Dua bulan yang lalu," jawab Vedra.


Verda mencari file yang dimaksud, tiba-tiba ia tersentak kaget karena Vedra sudah berada di belakangnya.


"Bukan di situ, Verda," kata Vedra sambil memeluk Verda dari belakang.


Mencuri sebuah ciuman yang membuat Verda terdesak di lemari berisi file. Verda segera mengalungkan tangannya ke leher Vedra, menerima kembali gairah pria itu. Keduanya kembali saling mencecap kenikmatan yang tak berkesudahan.


Sejak merasakan kenikmatan hakiki, keduanya sungguh tak bisa menahan diri jika sedang berduaan seperti ini.


Untunglah semua pegawai lain sudah pulang, sehingga mereka bisa lebih leluasa melakukan hal yang ingin mereka lakukan.


"Ved, bukannya ada kamera cctv?" tanya Verda.


"Dari sudut ini tidak akan terlihat," jawab Vedra sambil mengulas senyumnya.


Ia sungguh tidak mampu untuk menahan hasratnya terhadap Verda yang benar-benar membuatnya kecanduan. Rok mini yang dikenakan Verda sungguh mempermudah Vedra untuk melucuti segitiga berenda yang begitu menggoda.


"Verda," Vedra menatap lekat-lekat ke dalam mata Verda.


Wanita di hadapannya ini benar-benar sudah membuatnya kecanduan. Munafik jika ia mengatakan bahwa enggan untuk menyentuhnya barang seujung kuku. Ujung jari wanita ini bahkan begitu nikmat saat ia mengulumnya.

__ADS_1


Verda adalah esensi dari kenikmatan dunia bagi Vedra. Itulah yang diyakini oleh Vedra saat melakukan eksploitasi terhadap tubuh Verda yang benar-benar membuatnya selalu menginginkan wanita ini.


Aroma tubuh Verda, aroma napasnya, lenguhan dan erangan wanita itu sungguh membakar gairahnya.


"Oh, Ved, lebih cepat! Ah!" Verda meracau di tengah hujaman keras yang mengentak-entak tubuhnya.


"Ssh, Verda," desis Vedra sambil membungkam Verda dengan ciumannya.


Verda memejamkan matanya, menikmati setiap hujaman yang menghantam dirinya. Ada rasa was-was yang membuat adrenalin mereka terpacu. Bagaimana jika ada yang memergoki mereka seperti ini?


Ah, masa bodoh! Itu urusan nanti! Yang penting sekarang jangan sampai ketahuan!


"Ved, aku sudah mau keluar!" Verda melenguh tak tahan.


"Ya, aku juga sudah tak tahan, Verda," Vedra menekan tubuh Verda.


Mereka kembali berciuman sambil sama-sama mendulang kepuasan.


Beberapa saat kemudian, Verda yang sudah merapikan diri kembali duduk di hadapan Vedra yang kembali berkutat di depan tumpukan dokumen.


Seperti biasa, Vedra sudah kembali ke mode seriusnya yang entah mengapa kini begitu menggemaskan di mata Verda.


Padahal beberapa saat yang lalu mereka baru saja melakukan petualangan panas yang menggairahkan.


"Verda, coba kroscek biaya ini, dua bulan yang lalu biaya ini belum ada," kata Vedra.


"Oke, nanti akan kuperiksa," sahut Verda.


"Hmm, ya, tolong lebih diperhatikan," kata Vedra.


"Oh ya, Ved, katanya cabang kita dapat projek dari PT BAS ya?" tanya Verda.


"Benar," jawab Vedra.


"Apa kau tahu besaran nominal untuk bonusnya?" tanya Verda.


"Verda, projeknya saja belum jalan," sahut Vedra.


"Hmm, ya, siapa tahu lumayan untuk tambah-tambah beli satu set album Fancy, sebentar lagi rilis, biasa ada empat versi," kata Verda.


"Semoga saja aku bisa membawa pulang semua photo card Jehun," Verda terkekeh.


Vedra menyunggingkan senyum, memandangi Verda yang terlihat mengulas senyum yang cerah.


"Verda, ayo kita pulang," ajak Vedra.


"Loh, memangnya pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Verda.


"Belum, tapi aku ingin menyelesaikanmu di rumah," jawab Vedra tanpa ragu.


Verda mengulas senyumnya, ia benar-benar sangat menyukai sisi lain pria itu. Sungguh seksi dan sangat menggairahkan.


...*****...


Vedra memasuki sebuah restoran bernuansa etnik di salah satu hotel berbintang lima. Matanya mencari sosok seseorang yang harus ditemuinya bersama Nita.


"Pak Vedra dan Ibu Nita dari Valid Corp. ya?" sapa seorang pria menyambut kehadiran mereka.


"Benar, itu kami," jawab Nita.


"Nama saya Hengki, saya sekretaris Pak Abimanyu," pria itu memperkenalkan diri, menjabat tangan Vedra dan Nita secara bergantian.


"Silakan duduk, Pak Abimanyu masih terima telepon," Hengki mempersilakan.


"Terima kasih," sahut Nita.


"'Sudah disiapkan kontraknya, Bu Nita?" tanya Hengki.


"Sudah, Pak," jawab Nita sambil mengeluarkan dokumen dari dalam tas yang dibawa Vedra.


Hengki segera memeriksa dokumen tersebut, memastikan tidak ada dokumen yang terlewat guna memperlancar penandatanganan kontrak.


"Pak Abim," Hengki segera menyambut kehadiran bosnya.


Vedra dan Nita reflek berdiri dari kursi mereka dan menyambut kedatangan pimpinan dari PT BAS.

__ADS_1


"Pak Abim, ini Pak Vedra dan Bu Nita dari Valid Corp.," Hengki memperkenalkan Vedra dan Nita.


"Saya Vedra," Vedra menjabat tangan pria itu.


"Abimanyu, panggil saja Abim," kata pria itu ramah.


"Saya Nita," giliran Nita menjabat tangan pria itu.


"'Silakan duduk," kata Pak Abim mempersilakan.


"Baik, terima kasih, Pak Abim," kata Vedra.


"Hengki, bagaimana dengan kontraknya?" tanya Pak Abim.


"Sudah saya periksa dan tidak ada masalah, Pak," jawab Hengki dengan cepat.


"Pak Abim, saya sungguh berterima kasih atas kesempatan yang telah diberikan pihak PT BAS pada Valid Corp. Kami akan bekerja sebaik-baiknya," kata Vedra.


"Itulah yang saya harapkan," Pak Abim menanggapi perkataan Vedra.


Pak Abim mulai membubuhkan tanda tangannya pada setiap dokumen yang disodorkan oleh sang sekretaris.


Nita dan Vedra saling melemparkan pandangan. Nita tak percaya bahwa bisa mendapatkan tender yang bahkan hampir terlupakan karena tak ada kabarnya sejak tahun lalu. 


"Sebentar ya, saya mau menjawab telepon dulu," Pak Abim berpamitan.


"Pak Abim keren sekali ya, ngomong-ngomong, Pak Hengki, Pak Abim masih lajang atau sudah berkeluarga?" tanya Nita ke arah Hengki.


"Nit," tegur Vedra.


"Apa sih, Ved?" cibir Nita.


Hengki mengulas senyumnya, bukan pertama kalinya ia mendengar pertanyaan seperti itu.


"Pak Abim masih lajang," jawab Hengki.


"Wah, benarkah? Pria sukses macam beliau masih lajang?" Nita terbelalak.


"Nita," tegur Vedra lagi.


"Apa sih, Ved!" gerutu Nita.


"Bu Nita, Pak Vedra," Pak Abim kembali menghampiri mereka.


"Saya mohon maaf, ada urusan mendadak, padahal saya ingin menghabiskan makan siang bersama kalian sambil membahas masalah proyek, tapi mungkin lain waktu saja," kata Pak Abim.


"Oh, tidak masalah, Pak, kami mengerti Anda begitu sibuk, bisa meluangkan waktu seperti ini sungguh luar biasa sekali," sahut Nita.


"Baiklah, sampai jumpa lagi, Pak Vedra, Bu Nita," Pak Abim kembali menjabat tangan Vedra dan Nita secara bergantian.


"Kami tunggu kabar baik selanjutnya," kata Hengki sebelum berpamitan.


"Gila! Pak Abim itu keren sekali ya, Ved! Pria yang sukses auranya memang beda! Aromanya saja aroma uang! Hihi," Nita terkekeh.


Vedra memasang ekspresi datar.


"Oh ya, ngomong-ngomong, kau pakai sabun apa, Ved?" tanya Nita.


"Sabun?" tanya Vedra.


"Iya, wanginya enak," sahut Nita.


"Aku beli yang diskon saja," kata Vedra.


"Aromamu mirip seperti aroma sabun yang dipakai Verda," sahut Nita.


Deg..


Vedra tertegun, bukan mirip lagi, tapi Vedra memang memakai semua perlengkapan mandi milik Verda. Bahkan sampai sabun cuci muka Verda juga dipakainya.


"Jadi apa mereknya? Nanti aku mau beli juga," kata Nita.


"Hmm, apa ya, aku asal beli saja yang penting diskon," sahut Vedra sekenanya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2