
Sesampainya di rumah, Verda berencana melakukan pencarian photo card yang ia yakini tersembunyi di suatu tempat di kamar Vedra.
Verda kembali melakukan penggeledahan di dalam lemari pakaian Vedra, mumpung pria itu masih mandi setelah memakan hampir satu kilogram apel sebagai menu makan malamnya.
Verda mewanti-wanti, jika ia tertangkap basah oleh Vedra sedang membongkar lemari Vedra, ia cukup beralasan sedang menyiapkan baju ganti pria itu.
Sungguh alasan yang sangat klise, namun rupanya cukup ampuh.
Srek...
Terdengar bunyi sesuatu yang membuat Verda menegang.
Kali ini tangan Verda menyentuh sesuatu di dasar bagian lemari yang menyimpan celana milik pria itu. Tumpukan celana panjang yang didominasi warna hitam.
Verda yakin bahwa benda yang ditemukannya adalah sebuah amplop. Verda berusaha menarik amplop tanpa harus menyingkirkan tumpukan celana.
Apakah Vedra menyimpan kumpulan photo card milik Verda di dalam amplop tersebut?
Jantung Verda berdebar-debar kencang, tangannya gemetaran, keringat dingin mulai bercucuran dari pori-pori kulitnya.
Bagaimana jika di dalam amplop itu, isinya justru foto-foto Vedra dengan wanita bernama Silvia?
Mendadak Verda menggalau, sebuah perasaan kesal bermunculan bak peradangan kulit dalam bentuk bisul tanpa mata. Dalam benak Verda, bermunculan pose-pose sensual antara Vedra dan Silvia. Misalnya saja foto selfie Vedra dan Silvia yang saling berpelukan di tempat tidur.
Hanya dengan membayangkannya saja, entah mengapa hati Verda jadi memanas.
Verda menarik pelan-pelan amplop tersebut, seiring dan seirama dengan deru napasnya yang memburu.
"Verda?"
Verda terlonjak kaget mendengar suara Vedra. Verda mendorong kembali amplop yang dipegangnya. Seketika Verda menarik salah satu celana sebagai alibi.
Vedra memasuki kamarnya, pria itu hanya memakai handuk yang terlilit di pinggangnya, itulah yang menjadi fokus Verda.
Sial, aku jadi ingin menyentuhnya! Batinnya gelisah.
"Apa yang kau lakukan, Verda?" tanya Vedra.
Verda terdiam, cepat-cepat ia menepis keinginan dari alam bawah sadarnya.
"Ved, aku menyiapkan pakaianmu!" Verda menyerahkan celana panjang dan kaus linen berwarna hitam ke arah Vedra.
Vedra mengerutkan alisnya, ia jadi teringat beberapa waktu lalu, Verda juga melakukan hal yang sama.
"Apa kau serius menyuruhku memakai celana kerja untuk tidur?" tanya Vedra.
Verda terkesiap, namun sebisa mungkin ia berusaha untuk tetap tenang.
"Ahaha, celana panjangnya buat besok saja kalau begitu," jawab Verda seraya tertawa.
Vedra kembali mengangkat sebelah alisnya.
"Verda, apa kau ingin membuatku terlihat seperti Winnie The Pooh yang memakai kaus tanpa celana?" tanya Vedra.
"A-apa? Winnie The Pooh?" Verda balik bertanya.
__ADS_1
"Daripada Winnie The Pooh, Squidward Tentacles lebih mirip denganmu!" lanjut Verda seraya tertawa.
Verda membayangkan, Vedra yang benar-benar mirip dengan tokoh Squidward dalam serial Spongebob Squarepants. Pria berwajah dan pembawaan yang menyebalkan. Vedra yang memakai kaus tanpa celana seketika membuat Verda berhenti tertawa.
Bukannya terlihat lucu, pria itu justru terlihat macam orang dengan gangguan kejiwaan lantaran memamerkan benda pusakanya.
"Ehm, ya, terima kasih," Vedra mengambil kaus, kemudian selembar celana panjang berbahan linen yang akan ia gunakan untuk tidur.
Vedra segera memakai kausnya, dan disusul dengan celana panjangnya. Verda berguling ke sisi yang berlawanan, menarik selimut untuk menyembunyikan diri.
Kenapa pria itu memakai pakaiannya di depanku? Apa pria itu sengaja mau pamer aset miliknya padaku?
Sungguh tidak masalah aku pakai baju di sini! Toh Verda tak pernah menganggapku sebagai seorang pria! Batin Vedra.
Vedra segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Tempat tidurnya memang yang terbaik dan memberinya kenyamanan. Yah, maklum, tempat tidur dengan harga fantastis ini ia beli secara kredit dan dilunasi begitu mendapatkan bonus tahunan.
"Ved," kata Verda begitu keluar dari selimutnya.
"Hmm?" jawab Vedra tanpa teralih dari gawai cerdasnya.
"Kenapa kau tidak punya piyama?" tanya Verda.
"Jadi kau membongkar lagi lemari pakaianku karena kau tidak percaya bahwa aku tidak punya piyama?" tanya Vedra.
"Hmm, ya, begitulah," jawab Verda cepat-cepat.
Vedra meletakkan ponselnya di rak yang berada di bagian kepala tempat tidurnya. Pandangannya saat ini tertuju pada Verda.
"Verda, apa kau tahu, biasanya aku lebih suka tidur tanpa memakai pakaian? Berdasarkan penelitian yang kubaca, tidur tanpa mengenakan pakaian jauh lebih sehat dan dapat meningkatkan kualitas tidur," sahut Vedra.
Nanti aku bisa mencabulimu kalau aku tidur tidak pakai baju! Ingin rasanya Vedra menjawab seperti itu. Namun ia cukup santun untuk tidak mengatakan hal sefrontal itu.
Sudah cukup beberapa kali Verda menjadi objek mimpi erotisnya! Vedra sungguh harus menahan diri agar tidak menyentuh Verda selama dua tahun ke depan sesuai dengan kesepakatan mereka.
Vedra mencoba memikirkan alasan yang lebih mengedepankan logikanya daripada hasrat terpendamnya.
"Hmm, ya, aku harus pakai pakaian karena suhu kamar ini benar-benar dingin, entah bagaimana kau terlihat baik-baik saja dengan suhu sedingin ini," jawab Vedra.
"Meski sudah memakai selimut tebal, tetap saja rasanya menggigil terlebih menjelang subuh," lanjut pria itu.
"Ahaha," Verda tertawa.
"Kau ini payah sekali, Ved! Bagaimana bisa kau tinggal di Eropa kalau dinginnya AC saja kau sudah menggigil begitu?" tanya Verda dengan nada mengejek.
"Ya, tidak mungkin juga aku tinggal di Eropa, mau ngapain di sana?" sahut Vedra.
"Kau bisa pergi liburan ke Eropa, pergi bulan madu begitu," Verda terkekeh.
"Haha, kalau aku punya uang, daripada pergi bulan madu ke Eropa, lebih baik aku bayarkan untuk foto si Jehun!" Vedra tertawa.
"Begitukah menurutmu?" tanya Verda.
"Ya, toh kalau menurutku secara pribadi, apa pentingnya bulan madu?" Vedra balik bertanya.
"Ya, bulan madu kan, momen yang sangat istimewa bagi pasangan suami istri. Bisa liburan bersama, jalan-jalan, berpetualang ke tempat baru untuk menghabiskan waktu berdua tanpa ada yang mengganggu," jawab Verda.
__ADS_1
"Hmm, apa dulu kau dan mantan suamimu pergi berbulan madu ke Eropa?" tanya Vedra.
Verda mengerutkan keningnya, sorot mata Vedra memancarkan keingintahuan yang membuat Verda mendelik gusar.
"Hmm, ya, dulu kami pergi ke Paris," jawab Verda.
"Wah, luar biasa! Di saat aku mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, kau sudah pergi ke Paris untuk berbulan madu! Ck, level kita memang berbeda ya," Vedra menanggapi.
"Oh, sepertinya memang seperti itu! Karena saat itu, tidak ada teman-temanku yang datang ke pesta pernikahanku! Ahaha! Ya ampun, itu sungguh sudah lama sekali!" Verda tertawa.
"Apa kau tahu, di kampungku pernikahan dini itu sudah biasa, banyak teman-temanku di kampung yang menikah bahkan sebelum lulus SMA, dan aku tidak menyangka saja, ternyata di kota ada pernikahan dini juga, dan kau adalah salah satu pesertanya," kata Vedra.
"Ved, aku menikah dini karena dijodohkan! Bukan karena aku ganjen ya!" cibir Verda.
"Hmm, ya, ya, pasti tidak enak ya dijodohkan?" tanya Vedra.
"Memang!" jawab Verda.
"Baiklah, sebaiknya kita tidur," Vedra membenarkan posisi tubuhnya.
Pria itu segera memadamkan lampu kamar, menarik selimut dan memeluk gulingnya.
Verda memandangi pria yang saat ini sedang memunggunginya. Ia mendekati Vedra, menyusupkan tangannya ke dada Vedra, memeluk pria itu dari belakang.
Vedra tertegun karena tiba-tiba Verda memeluknya. Ia jadi merinding karena merasakan bibir Verda menyusuri tengkuknya.
"Ved," kata Verda.
"Hmm," jawab Vedra singkat.
Ia harus menahan diri dari hasrat dalam dirinya yang mulai bergejolak.
"Kau...," kata Verda tertahan.
"Ada apa, Verda?" tanya Vedra.
"Kau pakai sabun dan shampoku ya?" tanya Verda sambil mengendus aroma tubuh Vedra.
Vedra terdiam, tubuhnya berputar menghadap ke arah Verda.
"Maaf, Verda, aku bukannya lancang memakai sabun dan shampomu. Sabun dan shampoku habis, jadi aku pakai yang ada di kamar mandi saja," jawab Vedra.
"Besok aku tidak akan pakai sabun dan shampomu, aku akan pakai sabun cuci piring saja," tukas Vedra dengan cepat.
"Tidak, Ved, sungguh tidak masalah kau mau pakai sabun dan shampoku. Toh aku suka aroma sabun dan shampoku," kata Verda sambil kembali memeluk Vedra.
Membenamkan wajahnya di ceruk leher Vedra.
"Aku suka aromanya," kata Verda.
Vedra terdiam, namun ia merasakan kehangatan yang lebih saat Verda memeluknya seperti ini.
"Ya, aku juga suka," jawab Vedra sambil mengendus aroma rambut Verda.
Tangannya pun segera memeluk Verda. Rasa nyaman yang membuat kesadarannya berangsur-angsur menghilang.
__ADS_1
...*****...