Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 028


__ADS_3

"Jadi, buah-buahan ini mau ditaruh di mana?" tanya Vedra saat mengeluarkan kardus berisi buah-buahan dari bagasi mobilnya.


Verda tidak menyahut, terlihat jelas wanita itu sedang memendam kekesalan pada Vedra. Vedra menghela napasnya, ada rasa bersalah yang segera menyelimuti hatinya.


Verda yang biasanya ceriwis kemudian mendadak diam, jelas membuat Vedra merasa tidak enak.


Verda masuk ke dalam kamar tempat ia menyimpan pakaiannya. Ia terkesiap melihat kamar yang tadi pagi ditinggalkan berantakan oleh Verda, kini jauh lebih rapi. Isi koper Verda bahkan terlihat sudah kembali rapi.


Apa pria itu merapikan pakaianku? pikir Verda.


Lancang sekali dia menyentuh barang-barangku!


Verda keluar dari kamar dengan emosi yang memuncak, namun semua teredam ketika melihat Vedra yang berkutat di depan meja makan sambil memotong-motong buah apel yang telah dicucinya.


"Makanlah, kau pasti lapar kan," Vedra menyodorkan sepiring apel yang sudah dipotong-potong.


Verda mengerucutkan bibirnya lalu mencomot sepotong apel lalu mengunyahnya.


"Apa perlu kulitnya kukupas juga?" tanya Vedra.


"Tidak perlu," sahut Verda sambil duduk di belakang meja makan.


"Verda, aku minta maaf," kata Vedra sambil memotong kembali buah apel dalam ukuran sekali gigit.


Verda masih mengunyah apelnya.


"Maaf jika kau beranggapan bahwa aku iri karena kau kerap mengambil cuti. Jujur saja aku pikir untuk apa aku harus mengambil cuti jika bukan untuk keperluan yang mendesak. Lagipula, jika kau memang merasa keberatan untuk mengerjakan pekerjaanku, kau tidak perlu mengerjakannya. Tumpuk saja di meja kerjaku, nanti pasti akan kukerjakan," kata Vedra.


"Tumpuk saja di meja kerjamu? Sedangkan Pak Handoko sudah meminta laporan itu harus ada di meja kerja beliau pukul sembilan pagi!" celetuk Verda.


"Hmm, ya, katakan saja pada beliau bahwa akan kau koordinasikan dulu denganku," sahut Vedra.


"Oh, jadi sekarang kau sedang menyalahkanku karena tidak melakukan koordinasi denganmu? Kau bahkan begitu sulit untuk diajak berkoordinasi. Belum-belum, wajahmu sudah berkerut-kerut menyebalkan!" cerocos Verda.


"Verda, tolong jangan jadikan wajahku sebagai alasan kau malas berkoordinasi denganku. Wajahku memang sudah seperti ini, jadi jangan berharap aku akan berpose-pose manis seperti yang dilakukan oleh Jehun," tukas Vedra.


Verda melotot ke arah Vedra, sedetik kemudian wanita itu tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Ahaha, ya, kau memang bukan Jehun! Dan jangan pernah berharap menjadi Jehun!" Verda tertawa.


"Oh ya, Verda, aku juga minta maaf, aku tidak bermaksud untuk lancang karena merapikan pakaianmu, hanya saja aku kurang nyaman melihat pakaian dalam yang berceceran, aku juga sudah menyimpan pakaian kotormu di keranjang cucian, jangan dihambur di lantai seperti itu, kesannya jorok sekali," kata Vedra.


"Jorok? Aku tidak main di selokan kok!" cibir Verda.


"Ya, maksudku, mengganggu pandangan!" sahut Vedra.


Kutang berenda jelas bukan sesuatu yang layak untuk dijadikan pajangan, yang ada malah membuat pikiran Vedra jadi berfantasi untuk mencicipinya.


Oh sial! Aku jadi memikirkannya lagi, Vedra membatin gusar.


"Kalau begitu aku mau mandi dulu," Vedra beranjak dari kursinya.


Verda masih mengunyah apelnya, matanya masih mengawasi Vedra yang kini sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


Verda beranjak dari kursi, ia segera memasuki kamar tidur dan memulai aksi pencarian photo card yang ia yakini tersimpan di suatu tempat di rumah ini.


Pelan-pelan Verda membuka lemari dengan pintu kaca yang ada di sudut kamar tersebut. Di dalam lemari tersusun pakaian pria itu. Tampak rapi dengan dominasi pakaian berwarna hitam, putih, abu-abu, dan biru gelap. Semua kemeja pria itu bermerk yang harganya jelas di atas gaji UMK.


Di rak bagian atas dipenuhi dengan tumpukan kaus. Verda dengan sangat hati-hati menenggelamkan tangannya di antara tumpukan kaus. Ia mencari ruang rahasia yang kira-kira tersembunyi di bagian rak tersebut.


Jantungnya berdebar-debar dan keringat dingin mulai bercucuran. Bagaimana jika photo card sultan itu memang disembunyikan oleh pria itu di dalam lemari pakaiannya?


Apakah Verda harus melaporkan pria itu ke polisi?


Tangan Verda menyentuh sesuatu di dasar rak. Verda seketika menegang dan berusaha mengambil sesuatu dalam plastik, nalurinya berkata bahwa itu mungkin adalah photo card.


Verda menarik plastik itu pelan-pelan, berbanding terbalik dengan deru napasnya yang memburu.


Mampus kau, Vedra! Aku benar-benar akan melaporkanmu ke polisi!


Belum sempat Verda menarik keluar foto itu dari dasar rak, terdengar derit dari pintu geser kamar yang membuka. Verda terkesiap, mendorong kembali tangannya masuk di antara tumpukan baju.


"Apa yang kau lakukan, Verda?"


Verda menoleh ke sumber suara, matanya terperangah menatap sosok pria yang berdiri di ambang pintu kamar. Verda menahan napasnya, tertangkap basah seperti ini bukanlah tujuannya. Perhatian Verda seketika terdistraksi pada sosok pria yang kini jelas langsung menyita perhatiannya.

__ADS_1


Vedra tanpa kacamatanya, dengan rambut hitam yang masih basah dan handuk berwarna biru gelap yang terlilit di pinggangnya. Siapa yang akan menduga bahwa Vedra rupanya memiliki tubuh atletis dengan dada bidang dan otot-otot padat yang tercetak sempurna?


Verda masih membeku, tubuh pria itu jelas membuatnya salah fokus. Ia sungguh tak menduga pria cupu dan kutu buku itu bisa memiliki tubuh seperti itu.


Sial, bagaimana dia bisa punya otot-otot abs macam Jehun?! Verda memaki dalam hati.


"Verda?" tanya Vedra dengan ekspresi keheranan.


"Oh, ya!" Verda segera memikirkan alasan apa yang tepat ketika sudah tertangkap basah seperti ini.


Jika ia mengaku sedang mencari photo card yang tersembunyi dalam lemari pria ini, jelas sekali pria ini akan mengelak. Mana mungkin ada maling yang mau mengaku!


Verda harus memikirkan alasan lain, namun lagi-lagi pikirannya terdistraksi oleh keindahan otot-otot Vedra yang jelas dibentuk dengan sengaja mengingat pria itu mengaku pergi nge-gym.


"Ved, aku hanya ingin menyiapkan pakaian untukmu! Hmm, ya, aku rasa kau perlu memakai piyama untuk tidur!" Verda beralasan.


Vedra melangkah mendekati Verda, pria itu masih melemparkan tatapan keheranan pada Verda. Ia jelas bertanya-tanya, mengapa wanita ini membuka lemari pakaiannya? Apa yang dicari oleh Verda?


"Aku tidak pernah tidur dengan memakai piyama, jadi aku tidak punya piyama," tukas Vedra.


Verda kembali menyeringai lalu menarik selembar kaus hitam dari tumpukan kaus yang ada.


"Ah ya, kaus hitam ini memang pantas untukmu!" Verda menyodorkan kaus itu pada Vedra.


Verda menyeringai melihat Vedra yang masih mengerutkan kedua alisnya.


"Aku menyiapkan pakaian untukmu, sebagai bentuk terima kasihku karena kau sudah merapikan isi koperku, dan memotong-motong apel untukku. Oh ya, kalau begitu, segeralah berpakaian! Aku mau mandi dulu!" Verda terkekeh lalu melangkah keluar dari kamar.


Wanita itu mengumpat kesal karena debaran jantungnya yang mendadak tidak bisa dikondisikan. Mengapa ia berdebar hanya karena melihat Vedra bertelanjang dada dan menampilkan bentuk tubuh atletisnya?


Ini bukan pertama kalinya aku melihat pria bertelanjang dada! Tapi kenapa aku berdebar seperti ini?! Oh sial! Verda mengumpat dalam hati.


Debaran ini jelas adalah sesuatu yang wajar terjadi karena aku sudah tertangkap basah menggeledah isi lemari Vedra.


Ya, pasti karena itu!


...*****...

__ADS_1


__ADS_2