Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 037


__ADS_3

Verda tengah mengamati Vedra yang masih tetap memasang ekspresi datar, seolah pria itu hanyalah makhluk sejenis dedemit penunggu lift. Hingga akhirnya terdengar bunyi denting yang diikuti dengan terbukanya pintu lift.


Vedra segera melangkah keluar dari lift, diikuti Ican yang masih terdengar bercanda dengan Verda.


"Wah, pengantin baru kita sudah datang!" Nita berseru heboh ketika Vedra memasuki ruang kerja.


Ican yang berjalan di belakang Vedra dengan sigap mengaitkan tangan Verda ke tangannya.


"Ohh, terima kasih, teman-teman!" Ican melambaikan tangan kirinya bak kontestan yang memenangkan kontes ratu kecantikan sejagad.


"Apa sih, Can!" Verda tertawa sambil melepas tangan Ican.


"Yee, kok kau sih yang kegirangan, Can! Dasar gatal!" Teti menimpali.


Vedra segera menuju ke meja kerjanya. Ia tidak terlalu terkejut melihat tumpukan dokumen yang kini tidak menyisakan ruang kosong meski hanya untuk meletakkan satu gelas kopi.


Begitu pula Verda yang segera meletakkan tasnya di atas meja, menarik kursi lalu menjatuhkan bokongnya. Sudah ada tumpukan dokumen di meja kerjanya.


Teti menyambangi meja kerja Vedra, perempuan beranak satu itu memiliki rasa ingin tahu yang terlalu besar. Terlebih setelah mendengar pengakuan Ican yang kebetulan bertemu dengan Vedra beberapa hari yang lalu.


"Selamat atas pernikahanmu ya, Ved," kata Teti.


"Terima kasih," sahut Vedra dingin.


"Apa kau tidak membuat acara di sini, Ved?" tanya Teti.


"Iya, masa sih kau tidak mengadakan acara? Jadi kami semua bisa mengenal istrimu yang kata Ican sangat cantik, manis dan jelita," sahut Nita yang ikut menyambangi meja kerja Vedra.


"Hmm, maaf, tapi kami berdua sangat sibuk," jawab Vedra.


"Oh begitu, memangnya istrimu bekerja apa?" tanya Nita.


"Teman-teman, permisi," Verda menyela dua rekan kerja yang saat ini sedang menginterogasi Vedra.


Verda membawa setumpuk dokumen yang dipeluknya dengan erat. Melihat gunungan dokumen membuat Teti dan Nita langsung sadar diri untuk kembali ke meja kerja mereka masing-masing.


"Ini laporan dari pihak workshop, mereka memintamu untuk segera mengatur jadwal stock opname," Verda meletakkan dokumen yang dibawanya ke salah satu tumpukan yang ada di meja kerja pria itu.


Vedra tidak menyahut, pria itu kembali ke mode yang begitu cuek lantaran sudah terfokus pada layar monitor komputernya.

__ADS_1


Verda kembali ke meja kerjanya, entah mengapa rasanya ada yang aneh. Padahal beberapa saat yang lalu mereka masih berbincang santai.


Yah, mungkin karena ini di kantor, sehingga mereka benar-benar dituntut untuk menjalankan peran masing-masing secara profesional.


Notifikasi muncul di layar monitor Verda. Ican mengirimkan pesan via aplikasi percakapan internal perusahaan.


Juliansyah : Kado pernikahan Vedra bagaimana?


Verda tidak segera menjawab, entah apa yang harus ia tuliskan. Hadiah pernikahan itu tentunya haruslah sesuatu yang bisa ia dan Vedra nikmati bersama. Sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh mereka daripada harus menerima barang yang tidak digunakan atau parahnya hanya menjadi macam taperware yang dipajang di lemari kaca tempat emak-emak memamerkan koleksi taperware mahal mereka.


Verdanica : Masih aku pikirkan


Ican mengerutkan keningnya, menengok ke kubikel Verda. Sewaktu mencari kado, Verda menolak semua barang yang diusulkan Ican. Seolah kado yang akan mereka berikan bukanlah untuk Vedra.


Telepon di meja kerja Verda berdering, ia segera menjawabnya.


"Pagi, Verda," jawab Verda dengan riang.


"Verda, tolong ke ruangan saya," kata Pak Handoko.


"Baik, Pak," jawab Verda sambil menutup teleponnya.


Verda mematut dirinya di depan cermin kepala hello kitty miliknya sebelum beranjak dari kursi lalu menuju ke ruangan kerja Pak Handoko yang berada di ujung dari ruangan tersebut.


"Silakan masuk," kata Pak Handoko.


Verda segera duduk di salah satu kursi yang berada di depan meja kerja Pak Handoko.


Tok..Tok..


Ketukan pelan dari Vedra membuat Verda menoleh, bersamaan dengan Pak Handoko yang mempersilakan Vedra untuk masuk dan duduk di kursi yang masih kosong di samping Verda.


"Vedra, selamat atas pernikahanmu," kata Pak Handoko.


Vedra dan Verda seketika menegang, seakan pernikahan yang berusaha mereka sembunyikan justru ketahuan secepat ini.


"Hm, ya, terima kasih, Pak," Vedra menanggapi.


"Verda, jadi kapan kau menyusul?" tanya Pak Handoko kini teralih pada Verda.

__ADS_1


Verda hanya mengulas senyum bersamaan dengan helaan napas lega karena pernikahan tersembunyi antara ia dan Vedra harus benar-benar tertutup rapat oleh pihak perusahaan. Mereka memang sepakat untuk menyembunyikan pernikahan dari pihak perusahaan semata-mata untuk melindungi karir Verda. Lain halnya dengan Vedra yang memang telah memutuskan untuk mengundurkan diri dalam waktu dekat ini.


"Verda, Ved, saya memanggil kalian berdua kemari sehubungan dengan adanya keputusan mutasi yang saya dapatkan dari pihak manajemen," kata Pak Handoko.


"Apa? Pak Handoko dimutasi ke mana, Pak?" tanya Verda.


"Saya dimutasi ke kantor pusat," jawab Pak Handoko.


"Mulai kapan, Pak?" tanya Vedra.


"Mulai bulan depan," jawab Pak Handoko.


Verda menatap pria paruh baya yang memegang posisi sebagai manager cabang dari Valid Corp. Perusahaan yang bergerak di sektor industri perminyakan dan pertambangan sebagai line bisnis utamanya. Perusahaan yang telah mempekerjakan Verda selama enam tahun terakhir.


"Saya dan pihak manajemen sempat berdiskusi mengenai siapa yang akan mengisi kekosongan posisi saya di sini, jika harus menunggu karyawan dari kantor pusat atau pun merekrut pegawai baru pasti membutuhkan waktu. Sehingga saya merekomendasikan Vedra untuk mengisi posisi saya sebagai manajer cabang ini," Pak Handoko menjelaskan panjang lebar.


Vedra tertegun mendengar perkataan Pak Handoko.


"Oleh sebab itu untuk saat ini Verda akan mengambil kembali pekerjaan Vedra," lanjut Pak Handoko.


Verda terdiam, selama ini pekerjaan yang dikerjakan oleh Vedra dulunya adalah pekerjaan Verda. Overload membuat Verda meminta rekan kerja untuk membagi pekerjaannya.


Siapa yang akan menduga bahwa tiga tahun kemudian pekerjaan itu kembali pada Verda?


"Pak Handoko, saya sungguh tidak keberatan jika memang promosi saya adalah keinginan dari pihak manajemen, hanya saja terus terang saya akan mengundurkan diri dari Valid Corp. sesuai dengan kontrak kerja saya yang akan berakhir," kata Vedra.


"Ya, saya sudah mempertimbangkan hal tersebut, namun bukankah itu berarti kau bisa mendapatkan kontrak kerja baru dengan posisi sebagai manajer cabang?" Pak Handoko menanggapi.


"Pak Handoko," Verda menyela.


"Ada apa, Verda?" tanya Pak Handoko beralih pada Verda.


"Begini Pak, mohon maaf sebelumnya, saya hanya ingin bertanya, apa yang membuat Pak Handoko merekomendasikan Vedra untuk mengisi posisi sebagai manajer cabang?" tanya Verda.


"Bukannya apa, saya bahkan jauh lebih senior daripada Vedra loh, Pak, masa iya, Bapak tidak mempertimbangkan saya?" Verda melanjutkan pertanyaannya.


"Verda, saya tentu sudah mempertimbangan banyak hal sebelum merekomendasikan seseorang untuk menggantikan posisi saya. Jujur saya terkesan dengan loyalitas dan dedikasimu, Verda, hanya saja beberapa aspek membuat Vedra mendapatkan poin lebih dalam penilaian tersebut. Sehingga pihak manajemen pun akhirnya memilih Vedra," jawab Pak Handoko.


Verda mengulas senyumnya namun dalam hati ia tentu saja merasa kecewa lantaran juniornya kini justru akan menjadi atasannya.

__ADS_1


Bukankah ini sangat menyebalkan?!


...*****...


__ADS_2