Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 051


__ADS_3

"Ved, mana laporan stok opname untuk barang-barang konsumable bulan kemarin?" tanya Verda menghampiri meja kerja Vedra.


Di tangan Verda sudah terdapat data berupa daftar laporan yang harus diperiksa oleh Verda sebelum pekerjaan Vedra diambil alih oleh Verda.


"Maaf, Verda, aku belum sempat mengerjakannya, tapi akan kuusahakan sebelum besok siang," jawab Vedra.


"Sebelum besok siang? Halo??" seru Verda dengan penuh kekesalan.


"Verda, bukan berarti aku tidak mengerjakannya, hanya saja, aku sedang mengerjakan pekerjaan yang menjadi prioritas utamaku saat ini," kata Vedra.


"Vedra! Hari ini hari terakhir Pak Handoko bekerja di cabang ini! Aku harus melaporkan laporan itu ke pusat yang membutuhkan tanda tangan Pak Handoko! Tolong jangan mempersulitku, Ved!" cecar Verda.


Ican, Nita, dan Teti saling melemparkan pandangan saat kepala mereka sama-sama bermunculan dari kubikel masing-masing.


Lagi-lagi mereka harus menyaksikan dua orang itu terlibat adu mulut dalam hal pekerjaan.


"Ved, kau itu ya, makanya jadi orang jangan sok menerima pekerjaan baru sedangkan pekerjaan yang ada saja belum kau selesaikan!" tandas Verda, dingin dan menusuk disertai kesinisan level akut.


Verda kembali ke meja kerjanya, sementara Vedra hanya menghela napas berat sambil melanjutkan kembali pekerjaannya.


Ican menggeser kursinya, mendekat ke arah Vedra.


"Ved," Ican merendahkan suaranya.


Vedra menoleh sekilas ke arah Ican lalu kembali ke layar monitornya.


"Kau yang sabar ya, kata orang, perawan tua itu emosinya meledak-ledak karena tidak tersalurkan. Nanti kalau Verda sudah menikah denganku, emosinya akan jauh lebih stabil karena sudah ada aku yang membantu menyalurkannya. Hehe...," Ican terkekeh.


Vedra mengernyit mendengar perkataan Ican.


"Jadi Ved, apa istrimu sudah hamil?" tanya Ican.


Vedra menoleh ke arah Ican.


"Can, lebih baik kau kembali bekerja!" sahut Vedra.


"Ya elah, ini orang!" gerutu Ican.


"Can, jangan salahkan aku jika bulan depan pengajuan lemburmu kutolak dengan alasan jam kerja yang dipakai tidak efektif!" ucap Vedra dengan tegas.


"Ya, ya! Aku kembali bekerja, belum juga lima menit," gerutu Ican sambil mendorong kembali posisi kursi ke belakang meja kerjanya.


Vedra masih berkutat di meja kerja meski jam sudah menunjukkan waktu istirahat siang. Pria itu sedang berlomba dengan waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Ved," Verda kembali menghampiri kubikel Vedra.


"Ada apa? Apa kau mau mengomel karena merasa aku tidak becus mengerjakan pekerjaanku?" tanya Vedra tanpa teralih dari layar monitornya.


"Aku masih mengerjakan laporan yang kau minta, tunggu saja!" lanjut Vedra dengan dingin.


Verda memutar bola matanya lalu meletakkan satu tas kertas berisi makanan untuk Vedra.

__ADS_1


"Ini makanlah, aku pesan lebih," kata Verda sebelum pergi meninggalkan meja kerja Vedra.


Vedra tertegun melihat isi dari tas kertas yakni dua buah rice bowl porsi jumbo. Vedra menoleh ke arah Verda yang menuju ke arah pantri.


Verda duduk di meja pantri, mengeluarkan menu makan siang yang ia pesan secara daring. Ia malas keluar kantor untuk mencari makan siang seperti rekan-rekan yang lain. Verda mulai menyantap makan siangnya sambil menyaksikan video musik boyband kesayangannya.


Vedra memasuki pantri, langkahnya terhenti di depan dispenser untuk mengisi ulang tumbler kedap panasnya.


"Hmm, Verda," kata Vedra.


Verda nampak tidak mendengar panggilan Vedra karena terlalu asyik mendengarkan video musik Fancy.


Vedra segera duduk di depan Verda.


"Verda," kata Vedra.


"Eh, ada apa, Ved?" tanya Verda.


"Terima kasih untuk makan siang yang kau berikan," jawab Vedra.


"Oh, aku beli lebih," sahut Verda.


"Verda, aku sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud merepotkanmu," kata Vedra. "Sungguh, akan kuselesaikan laporan itu sebelum jam tiga siang ini," kata Vedra.


"Mm, Ved, maaf karena mencecarmu seperti itu, aku hanya kesal dan terbawa emosi," kata Verda.


Mereka saling berpandangan selama beberapa saat. Verda mengamati wajah Vedra yang terlihat sudah membaik, meski masih meninggalkan bekas samar pasca penyerangan yang dialami Vedra minggu lalu.


"Makanlah," kata Vedra beranjak dari kursinya.


"Aku akan makan di mejaku," jawab Vedra.


Verda menatap Vedra yang melangkah meninggalkan pantri. Mereka tidak mungkin terlihat bersama saat makan siang karena jelas akan menimbulkan gosip jika ada yang melihat mereka makan berduaan.


"Verda!" seru Ican begitu memasuki pantri.


"Ada apa sih, Can?" tanya Verda.


"Yah, kau sudah beli makan ya? Padahal aku membelikanmu makanan," sahut Ican.


Verda mencebik lalu beralih ke layar ponselnya.


"Kita makan sama-sama saja ya, Verda! Ini aku beli banyak makanan Korea!" Ican segera mengeluarkan satu per satu wadah makanan dari dalam kantong plastik yang dibawanya.


"Banyak sekali yang kau beli, Can," kata Verda.


"Haha, ini belum seberapa, kalau kau minta satu rombongnya, kubelikan untukmu, Verda!" sahut Ican seraya tertawa.


"Ini aku beli semua karena menyaksikan drama Korea itu loh, apa sih judulnya, yah, pokoknya itu lah, Emak dan adikku sampai maraton nontonnya," sahut Ican.


"Kau sedang ulang tahun, Can?"

__ADS_1


Ican terkesiap melihat Vedra yang bergabung di meja pantri sambil membawa makan siangnya.


"Loh, Ved, kenapa kau makan di sini?" tanya Ican.


"Mejaku penuh dokumen," sahut Vedra.


Ican memutar bola matanya, entah mengapa ia merasa kesal karena gagal makan berduaan dengan Verda. Padahal Ican sudah mengkhayalkan bisa suap-suapan ala-ala drama Korea.


"Verda, coba cicipi kue beras ini, ini aku pesan yang level pedasnya paling tinggi!" kata Ican.


"Tidak mau hihh, terlalu pedas bikin sakit perut!" tolak Verda.


"Verda, lebih pedas mana, kue beras Korea ini atau omonganmu kalau sudah emosi?" tanya Ican.


"Apa maksudmu, Can?!" cibir Verda.


"Verda, kau kalau sudah ngomong, nyelekit, nyelekit hih!" Ican terkekeh.


"Hih, perasaanmu saja itu, Can!" kata Verda.


"Verda, di sini korban perkataan-perkataan pedasmu itu masih hidup loh!" Ican menunjuk ke arah Vedra.


"Hih, perasaanmu saja itu, Can!" tukas Verda.


"Verda, jangan galak-galak begitu, nanti cepat tua loh!" goda Ican.


"Haha! Siapa yang galak sih?" Verda tertawa.


"Verda, biar kau galak, aku tetap suka dan makin suka loh," Ican tertawa lagi. "Kau sungguh tipe wanita idamanku! Hihi! Ayo sini Verda, a...," Ican menodongkan sendok ke mulut Verda.


Brak..


Ican terkejut karena tiba-tiba Vedra menggebrak meja.


"Can, kau bisa makan dengan tenang atau tidak?!" tanya Vedra.


Suara pria itu meninggi satu oktaf, ekspresi wajahnya menggambarkan jelas bahwa pria itu sungguh terganggu dengan cekikikan Ican.


"Ved, slow man! Slow!" kata Ican terkekeh.


"Slow, slow! Makan itu ya makan! Jangan sambil cekikikan! Kalau tersedak kan berbahaya! Apa kau tahu,  banyak kasus kematian yang terjadi karena tersedak saat makan!" tandas Vedra.


"Ved, ja-jangan menakuti begitu dong!" Ican tergagap.


"Aku tidak menakuti siapa pun! Aku hanya menyampaikan fakta yang pernah kubaca," sahut Vedra.


"Tuh, Can, dengarkan sabda dari Vedra Yang Agung! Haha," Verda tertawa.


Ican menggerutu kesal dan mulai makan dengan tenang.


Vedra tidak tahu mengapa ia merasa senang karena pada akhirnya Ican berhenti menggoda Verda.

__ADS_1


Pasti karena Ican berhenti berisik, ya, pasti karena itu.


...*****...


__ADS_2