Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Cemas


__ADS_3

Yudha berdiri di dekat jendela kamarnya, menatap ke luar jendela yang sudah gelap dengan rintik hujan yang terus berjatuhan membasahi bumi.


Dimana dia?? Kenapa belum kembali?


Hati Yudha sedang di landa kegelisahan, dia merasa cemas memikirkan seseorang yang sebenarnya tidak perlu dia cemaskan mengingat status mereka hanya seorang majikan dan pekerjanya.


Ada apa denganku? Kenapa aku merasa khawatir sekali dengan keadaan nya sekarang.


Yudha terus mengamati jalanan di depan rumahnya. Berharap orang yang dia cemaskan segera tiba.


Yudha mengusap wajah kasar "Aku tidak tahu di mana rumah Ibunya itu? Bagaimana aku bisa menyusulnya"


Yudha merasa kesal sendiri sampai dia ingat seseorang yang selalu bisa dia andalkan. Yudha mengambil ponselnya di atas nakas lalu menghubungi seseorang.


"Iya Yudh??"


"Kau tau dimana rumah Ibunya gadis itu?"


Di lain tempat Bima mengerutkan keningnya "Gadis?? Pengasuh Safira maksud kamu?"


"Hmm, cepat katakan dimana alamat rumah Ibunya yang selalu dia kunjungi setiap akhir pekan"


"Aku tidak tahu"


Jawaban Bima barusan berhasil membuat Yudha emosi "Jangan bercanda Bim, kau adalah orang yang paling bisa aku andalkan dalam segala hal. Masa hal sekecil ini kau tidak tahu"


Bima menghela nafas panjang. Sepertinya kau mulai jatuh cinta padanya,Yudh.


"Karna aku tidak memikirkan hal sekecil itu, kau tahu aku juga banyak kerjaan yang lebih penting. Lagian kau mau apa menanyakan rumah Ibunya dia?"


Yudha mendesah kesal "Dia belum pulang sampai saat ini"


Ya kan hujan, mungkin saja dia menunggu hujan reda. Bima


"Mungkin saja dia menunggu dulu hujan nya reda. Tunggulah mungkin sebentar lagi juga pulang, aku banyak kerjaan"


Tut...tut..tut...


Yudha menatap kesal ponselnya karna dengan lancangnya Bima memutuskan sambungan telponnya saat dia belum selesai bicara.


"Sialan kau Bim, aku akan memecatnya nanti" gerutu Yudha


Di sebrang sana Bima menyimpan ponselnya di atas meja kerjanya "Di pecat juga tidak apa, belum tentu dia berani memecatku"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Akhirnya Anista sampai di depan rumah Yudha Abimana Walton. Dia keluar dari taxi setelah membayarnya. Anista langsung berlari ke arah gerbang dan menyuruh pak satpam untuk membukakan gerbang rumah mewah itu.

__ADS_1


"Terimakasih Pak"


Anista langsung berlari masuk setelah berterima kasih pada satpam. Saat baru saja kakinya akan menaiki tangga menuju teras rumah mewah itu. Anista langsung terdiam mematung melihat seseorang yang membuka pintu dengan tatapan tajamnya.


Anista menunduk dalam "Maaf Tuan, saya pulang terlambat"


"Bodoh!!" Teriak Yudha penuh emosi, dia berjalan cepat ke arah Anista yang masih kehujanan.


Yudha langsung menggendong Anista yang sangat terkejut melihat apa yang Yudha lakukan. Refleks Anista langsung mengalungkan kedua tanganya di leher Yudha. Menatap wajah tampan yang basah oleh air hujan.


Deg Deg Deg


Anista maupun Yudha bisa merasakan detak jantung masing masing yang terasa sangat kencang.


"Kau tahu ini hujan, kenapa malah hujan hujanan Hah?" Yudha menatap kesal pada gadis di dalam gendongan nya itu


Anista mendongak dan seketika pandangan mereka langsung bertemu. Untuk sekian detik tatapan itu terkunci dengan langkah kaki Yudha yang tiba tiba berhenti.


Apa ini?? Kenapa aku sangat ingin menciumnya. Bibir itu seolah sangat manis untuk ku rasai.


Yudha langsung menggeleng mengusir fikiran kotor dalam otaknya. Kau sudah gila Yudha, sejak kapan kau menjadi pria mesum seperti ini. Ingat kau sudah mempunyai istri.


"Tuan, saya turun saja" kata Anista karna Yudha sudah cukup lama berhenti tapi tidak berniat untuk menurunkannya.


"Diamlah"


Yudha pun melanjutkan langkah kakinya menuju kamar Anista. Menurunkan Anista tepat di depan kamarnya. Bahkan Yudha tidak peduli dengan tatapan bingung dari para pekerja lainnya yang berada di rumah belakang.


"Kenapa dia baik sekali, Nist teh tau kalau Tuan Yudha itu perhatian sama Anis. Meskipun kadang dia gengsi menunjukan nya"


Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Anista langsung menuju ruang kerja Tuannya dengan perasaan cemas.


"Bagaimana ini? Kalo sampe Nist di pecat gimana?" Gumam Anista


Tok tok tok


Anista mengetuk pintu ruang kerja Yudha, belum ada jawaban dari dalam sana. Anista kembali mengetuk, namun tetap tidak ada jawaban.


"Masuklah, pintunya tidak terkunci"


Suara dari belakangnya mengagetkan Anista. Dia langsung berbalik dan menunduk saat tahu jika Yudha yang berada di belakangnya.


Yudha membuka pintu ruang kerjanya lalu masuk di ikuti Anista di belakangnya. Ingatan Anista kembali pada hari pertama dia bekerja di rumah ini. Suasana ruang kerja ini masih sama menurut Anista. Dingin dan mencekam.


Ya Allah lindungi Nist.


Yudha tidak duduk di kursi kerjanya, namun dia malah duduk di sofa dekat jendela ruang kerja itu. Menatap Anista yang masih berdiri menunduk di depannya.

__ADS_1


"Duduklah" kata Yudha


Anista mendongak lalu mengangguk cepat "Baik Tuan"


Anista duduk di ujung sofa panjang itu, tidak mau terlalu dekat dengan Yudha karna akhir akhir ini jika Anista berdekatan dengan Yudha maka jantungnya akan berdetak sangat kencang.


Tok tok tok


Suara pintu mengalihkan Anista yang sedari tadi hanya menunduk. Siapa lagi yang datang ya??


"Masuklah" teriak Yudha


Ceklek


Pintu terbuka dan masuk Pak Danu dengan nampan berisi dua minuman juga buah buahan segar yang sudah di potong potong dan juga semangkuk bubur.


"Silahkan Tuan"


Pak Danu menyimpan minuman dan makanan yang dia bawa di atas meja depan mereka.


"Hmm. Keluarlah Pak" kata Yudha


Pak Danu mengangguk hormat lalu pergi ke luar ruang kerja. Anista melirik bingung pada Yudha dan juga makanan dan minuman di depannya.


Apakah Tuan Yudha sakit sampe meminta Pak Danu membuatkan bubur? Apa mungkin karna tadi kehujanan ya gara gara gendong aku??


Yudha mengambil semangkuk bubur itu dan menyendoknya lalu mengarahkan pada Anista "Buka mulutmu!"


Anista terdiam dengan segala rasa terkejutnya. Apa ini? Apa aku di panggil kesini hanya untuk di suruh makan?


"Buka mulutmu, kau tidak dengar" kata Yudha dengan penuh penekanan


"Tap..tapi Tuan"


"Buka mulutmu Anista!!" Yudha semakin menekan nada bucaranya


Akhirnya Anista menurut dan membuka mulutnya dan memakan bubur yang di suapi oleh Yudha.


Sebenarnya dia ini kenapa si? Kalau Tuan Yudha terus seperti ini lama lama Nist teh bakal gak bisa nahan untuk gak jatuh cinta padanya. Ehh


Akhirnya dengan setiap paksaan yang Yudha lakukan, semangkuk bubur pun habis di makan oleh Anista.


"Minum teh hangat itu" kata Yudha lagi


Anista mengangguk lalu meminum teh hijau hangat itu. Jujur saja dia memang sangat kedinginan sehabis hujan hujanan tadi. Bubur dan teh hangat ini sungguh bisa membuat tubuh Anista kembali menghangat.


Aku hanya tidak mau kau sakit, Anistaku.

__ADS_1


Bersambung


Malam minggunya di temani novel Light Of My Life. Aku sengaja up biar kalian bisa baca cerita kelanjutannya sambil malmingan 😁😁.. Jangan pelit pelit buat Like, Komen dan berikan votenya ya..


__ADS_2