
Suasana di rumah ini terasa berbeda, seperti ada yang hilang. Tentu saja semua orang merasakan kehilangan itu.
Balita menggemaskan yang selalu membuat para pekerja di rumah besar ini gemas dengan tingkah lakunya. Gaya bicaranya yang masih cadel.
Pak Danu pun merasakan hal yang sama. Apalagi dia yang mengikuti Yudha dari pria itu belum menikah dengan Eliana. Pak Danu begitu tahu bagaimana sejak lahir Safira tidak pernah merasakan kasih sayang Ibunya.
Namun setelah kehadiran Anista, balita itu terlihat begitu ceria. Anista benar-benar membuat suasana di rumah ini menjadi lebih hangat.
Yudha yang begitu terluka dan selalu di kecewakan oleh kenyataan di hidupnya. Menjadikan dia menjadi pria dingin dan emosional.
Lagi-lagi setelah kehadiran Nona Anista, Yudha berubah. Dia menjadi lebih hangat, meskipun masih belum bisa mengendalikan emosionalnya.
Aku melihat Tuan Muda lebih tegar saat menghadapi ini semua. Anista benar-benar menjadi penguat untuk Tuan Muda dengan masalah yang selalu di hadapinya.
Kegelapan yang Yudha rasakan di kehidupannya mulai menemukan titik cahaya di kehidupannya. Anista adalah cahaya hidupnya.
"Dimana yang lainnya Pak?" Tanya Anista yang baru saja datang ke ruang makan
"Yang lain sudah makan siang duluan Nona. Tinggal Nona dan Tuan saja yang belum makan siang" jelas Pak Danu
"Jangan panggil Nona lah Pak, kan udah sering Nist bilang" kata Anista, selalu merasa tidak enak saat pelayan atau pekerja lainnya memanggilnya dengan sebutan itu. Anista masih merasa tidak pantas untuk di panggil seperti itu.
"Baiklah Nist"
"Nah gitu dong, kan Nist teh merasa di panggil sama Ayah sendiri. Hehe"
Pak Danu tersenyum tipis mendengar ucapan Anista "Ya sudah kamu panggil Tuan Muda, saya akan menyiapkan makan siang untuk kalian"
Anista mengangguk cepat "Siap Pak"
Dasar anak itu, pantas saja Tuan Muda jatuh cinta padanya. Dia benar-benar apa adanya dan selalu bertingkah menggemaskan. Aku jadi ingat dengan anakku.
"Cepetan Mas, kita sudah telat makan siang nih. Gara-gara kamu si, aku sama bayi aku jadi telat makan siang deh" gerutu Anista sambil berjalan menarik tangan suaminya.
"Bayi kita, Sayang!" kata Yudha penuh penekanan
"Hehe. Iya bayi kita, cepetan atuh jalannya udah laper nih"
Ansita masih saja menggerutu kesal. Sebenarnya bukan kesal karena mereka tidur siang dan akhirnya terlambat makan siang. Tapi, Anista masih kesal karena ulah suaminya di kamar mandi tadi.
__ADS_1
Yudha mengucek matanya yang masih terasa mengantuk "Yaudah ayok kita makan, maafin aku ya Sayang"
Anista hanya mendengus kesal sambil terus menarik tangan suaminya menuju ruang makan.
Bahkan anggota keluarga yang sedang berkumpul di ruang keluarga sampai terbengong melihat seorang Yudha yang tidak bisa berkutik saat istrinya mengomelinya.
Semoga saja aku tidak seperti itu nanti.
Bima menatap gadis yang duduk di sampingnya sedang terkekeh melihat kelakuan Anista yang mengomeli Yudha dan suaminya itu hanya diam saja.
Cantik. Eh
"Setelah ngomel ngomel karena telat makan siang. Terus ini apa? Kenapa malah liatin aku makan dan kamu gak makan? Katanya tadi laper" kata Yudha heran saat istrinya malah melihatnya makan tanpa berniat ikut makan bersamanya
Anista menopang dagu dengan kedua tangannya. Dia juga tidak tahu kenapa, tapi melihat suaminya makan saja sudah membuatnya kenyang dan melihat makanan di atas meja malah membuatnya mual dan tidak ada lagi naf'su makan.
"Nist juga gak tau, tapi udah kenyang liatin Mas makan juga" jawab Anista apa adanya
"Gak mungkin Sayang, makan ya. Sini biar aku suapin, kasihan baby kita kalo Bundanya gak makan" bujuk Yudha sambil menyodorkan sesendok makan siangnya ke mulut Anista.
Anista tetap menggeleng "Gak mau Mas, Nist teh udah kenyang"
"Anista Walton, sedikit saja" suara Yudha yang penuh penekanan dan paksaan, tentunya.
Anista menghela nafas dan akhirnya membuka mulutnya dan memakan makanan yang di suapi oleh suaminya. Rasanya aneh, Anista merasakan makanan yang sedang di kunyahnya terasa hambar dan baunya tidak sedap.
Bau banget, Nist teh malah mual.
Anista menggeser kursi meja makan yang sedang di dudukinya. Dia berdiri dan berlari ke arah wastafel. Anista memuntahkan makanan yang bahkan belum sempat dia telan.
Huwekk...
Bahkan bukan hanya makanan yang barusan di makannya. Anista terus memuntahkan isi perutnya sampai mulutnya pun terasa pahit.
Yudha berlari menghampiri istrinya dengan khawatir "Sayang, kenapa? Apa ada yang salah dengan makanan nya? Pak Danu pasti salah memasukan bumbu"
Anista membasuh wajahnya yang terlihat pucat, dia sudah berhenti muntah. Tapi tubuhnya terasa begitu lemas, kali ini Anista baru sadar jika dia sedang mengandung. Dan hal ini pernah dia alami saat hamil Evan dulu.
Anista kembali menundukan kepalanya ke wastafel saat mual kembali menyerangnya. Cairan bening yang terasa begitu pahit terus keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Sayangg.."
Yudha bahkan sudah tak bisa berkata apa-apa lagi melihat istrinya seperti ini. Setelah melihat Anista berhenti muntah. Yudha langsung menggendong Anista, membuat istrinya itu begitu terkejut.
"Mas"
"Kita ke rumah sakit sekarang!" kata Yudha dengan nada tidak ada bantahan.
Anista hanya diam, Yudha sedang sangat khawatir dengan keadaannya. Melewati ruang keluarga tentu saja membuat yang ada di sana bingung dan cemas melihat Anista yang di gendong oleh Yudha.
"Bim, antar aku ke rumah sakit" kata Yudha dingin
"Hmm"
Tanpa banyak bertanya, Bima langsung berdiri dan mengambil kunci mobilnya yang terletak di atas meja. Bima menyusul Yudha keluar dari rumah ini.
"Anista kenapa Yudha?" Tanya Nyonya Varinda yang sama sekali tidak di hiraukan oleh anaknya.
"Sudah Mam, biar kita susul saja mereka ke rumah sakit" kata David
Hervan sudah menangis di pelukan Hasna. Bocah kecil itu takut jika Bundanya kenapa-napa.
"Evan tenang ya, Bunda pasti baik-baik saja. Sekarang kita do'ain Bunda dan adik bayi agar baik-baik saja" kata Hasna mencoba menenangkan anak laki-laki itu
"Hasna, boleh saya minta tolong" kata David
Hasna mengangguk dan menatap David "Iya Om?"
"Kamu jagain Evan di rumah, kita akan menyusul Yudha ke rumah sakit. Tidak baik jika Evan harus ikut, gak papa'kan kamu jagain Evan?" kata David
"Iya Om, tidak papa. Evan biar di rumah sama saya" kata Hasna tersenyum tulus
"Enggak. Evan mau ikut ke rumah sakit. Aku ingin tahu keadaan Bunda" teriak bocah laki-laki itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
"Evan, rumah sakit itu tidak baik untuk anak seusia Evan. Nanti juga Bunda dan Daddy pasti pulang lagi. Sekarang Evan hanya perlu mendo'akan kesehatan untuk Bunda" kata Hasna sambil mengelus rambut Evan
"Iya Nak, nanti Oma bakalan langsung telepon Evan dan beri tahu bagaimana keadaan Bunda. Nurut ya sama Kak Hasna" kata Varinda
Akhirnya setelah menenangkan Evan, Varinda dan David pun pergi menyusul Anista dan Yudha ke rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung
Masih suka ceritanya gak? Menuju ke end nih.. Masih lanjut baca?? kasih semangat terus buat akunya dong. Like komennya di banyakin, di stiap chapter.