Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Siapa Ayahnya?


__ADS_3

Di dalam mobil menuju perjalanan pulang, suasana terasa snagat hening dan mencekam. Pak Supir juga merasa heran, tadi sewaktu dia mengantar Tuannya dan juga calon Nona Mudanya tidak terjadi apa apa. Semuanya terasa baik baik saja.


Namun, saat Tuannya menelpon dan ingin di jemput lebih cepat dari waktu yang di tentukan tadi. Pak Supir sudah merasa heran.


Anista bingung harus bagaimana sekarang. Mengingat bagaiamana sikap Yudha tadi. Dia tidak banyak bicara, hanya sesekali menjawab pertanyaan Ibu Nina saja.


"Dia adalah anaku"


Deg


Yudha terdiam, dunia seolah berhenti berputar. Benarkah apa yang di katakannya? Selama ini yang Yudha ketahui jika Anista belum pernah menikah. Lalu kenapa dia bisa mempunyai anak?


"Aku tidak akan meminta penjelasanmu sekarang. Aku menghargai Ibumu, aku tunggu semua penjelasanmu nanti"


Begitulah yang Yudha katakan sehingga membuat Anista menjadi gelisah sekarang. Saat mobil yang mereka tumpangi sampai di pekarangan rumah mewah ini.


Kepala Anista langsung berdenyut, bingung harus menjelaskan darimana pada Yudha. Sementara Anista pun tidak ingin mengingat apapun lagi tentang kehadiran Evan dalam rahimnya 4 tahun lalu.


Yudha menarik tangan Anista menuju kamarnya. Dia ingin tempat yang aman untuk mendengar penjelasan dari wanitanya. Tidak ingin terganggu oleh pelayan di rumah ini.


Yudha duduk di sofa, menatap Anista yang berdiri gugup di depannya. Bahkan Yudha tidak menyuruh Anista untuk duduk, dia sudah merasa kecewa karna merasa di bohongi dan di bodohi oleh Anista. Gadis polos yang dia kira tidak akan membuatnya kecewa.


Yudha mengingat pada pesan yang muncul di ponselnya beberapa hari lalu. Namun, dia tidak menghiraukan nya karna Yudha sangat sangat percaya pada gadisnya. Tidak menyangka jika Anista akan membohonginya seperti ini.


Kekasihmu itu wanita tidak baik, dia memiliki anak yang tidak jelas ayahnya siapa. Mungkin dia memang seorang ja*lang.


Yudha bahkan sempat tertawa membaca pesan yang masuk ke ponselnya itu. Dia mengganggap jika itu hanya orang iseng atau saingan bisnis nya yang ingin menjatuhkan nya.


Aku tidak akan percaya apapun jika tidak aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Tapi, sekarang aku tidak mungkin tidak percaya. Saat aku mendengar sendiri faktanya dari mulut wanita yang sangat aku cintai.


Yudha menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan bersidekap dada, menatap tajam pada Anista. Tatapan yang penuh dengan kekecewaan dan Anista cukup mengerti itu.


Mas Yudha pasti merasa di bohongi olehku. Dia pasti sangat kecewa dengan semua ini. Lalu, apa yang harus aku lakukan.


"Siapa Ayahnya?" Tanya Yudha dingin dan datar.

__ADS_1


Tidak ada lagi senyuman di wajahnya, hanya ada wajah datar dan dingin. Ekspresi yang sama seperti pertama kali Anista datang ke rumah ini.


Anista menggeleng dengan tubuh yang bergetar, sungguh saat ini dia tidak ingin mengingatnya lagi.


Yudha tersenyum sinis "Hah.. Kau bahkan tidak tau siapa ayahnya. Memangnya berapa banyak yang menidurimu sampai kau tidak tahu siapa ayah dari anak har*am mu itu"


Deg


Anista merasa dunianya runtuh seketika, dadanya begitu sesak. Tidak pernah menyangka jika pria yang dia cintai akan berkata kotor seperti itu padanya.


Yudha berdiri dan menghampiri Anista yang masih berdiri mematung "Cukup kau berpura pura menjadi gadis polos menyedihkan. Jika pada kenyataan nya kau tidak sepolos itu. Kau tidak lebih baik dari wanita panggilan"


Plakkk...


Tamparan keras mendarat di pipi kanan Yudha. "Dengar Tuan, saya tidak sehina itu. Apa haknya anda menilai saya? Anda tidak tahu apa yang saya alami selama ini" teriak Anista dengan air mata mengalir deras


Yudha mencengkram bahu Anista dan membalikannya hingga Anista terpojok di meja kecil dengan laci kecil di bawahnya.


"Beraninya kau menamparku? Lalu jika kau bukan wanita panggilan lalu siapa ayah anak itu?" Teriak Yudha frustasi


Tangan Anista membuka laci kecil di belakangnya. Meraba raba berharap ada sesuatu yang bisa dia pakai untuk melarikan diri dari Yudha.


Tangannya meraba sebuah kotak kecil di dalam. Mengambilnya dan melemparkan ke arah Yudha. Namun, sayang Yudha sempat menghindar sehingga lemparana Anista meleset dan tidak mengenainya.


Kotak itu terjatuh di lantai sudah terbuka memperlihatkan sebuah jam mahal yang ada di dalamnya. Yudha maupun Anista diam mematung menatap jam tangan itu.


Itukan jam tangan... Tidak.. ini tidak mungkin... Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi.. Tidak...


Anista langsung berlari dan menabrak bahu Yudha yang masih berdiri mematung melihat kotak jam tangan yang tergeletak di lantai.


Anista menangis sesenggukan, berlari keluar dari rumah ini tanpa arah tujuan. Tubuhnya bergetar, dadanya begitu sesak. Hidupnya seolah kembali hancur seperti saat itu.


Tidak ini tidak mungkin...


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...

__ADS_1


Bima baru saja menyelesaikan semuanya, dia sudah tahu siapa wanita itu. Dengan di temani Hasna, Bima mencari pemilik Laundry yang dulu karna Laundry itu telah berpindah pemilik.


"Apa Ibu masih mengingat saya? Saya yang mengantarkan pegawai Ibu pada malam itu. Kejadian 4 tahun lalu" kata Hasna


Ibu paruh baya itu terlihat berfikir dan menatap intens pada Hasna "Oh iya saya mengingatnya. Apa kau pernah bertemu lagi dengan Anista?"


Deg


Bima terdiam, benarkah apa yang dia curigai selama ini. Benarkah apa yang Bima fikirkan setelah mendengar ucapan Anista saat di taman waktu itu.


Trauma? 4 tahun lalu?


Sejak mendengar kalimat itu, Bima sudah menyangka jika Anistalah yang di carinya selama ini. Namun, Bima mencoba untuk menyangkal pemikiran itu.


"Anista? Apa namanya adalah Anista?" Tanya Bima


*Ibu itu mengangguk "Iya, dia gadis dari kampung yang bekerja disini untuk membantu perekonomian keluarganya"


"Namun, sayangnya nasib buruk malah menimpanya. Setelah malam itu, Anista langsung pamit pergi ke kampung nya dan tidak lagi kembali ke sini dan aku pun tidak mendengar kabarnya lagi" jelas Ibu itu*


Jadi selama ini orang yang dia cari sudah sangat dekat dengannya dan Yudha. Bima ingin segera sampai dan memberi tahukan kenyataan ini pada Tuannya.


Hasna melirik pria tampan dan dingin yang sedang menyetir di sampingnya. Apa dia yang telah memperkosa gadis itu. Lalu kenapa baru sekarang dia mencarinya?


"Tuan" panggil Hasna pelan


"Hmm" jawab Bima tanpa mengalihkan pandangan nya yang lurus menatap jalanan di depan nya.


"Kenapa Tuan baru sekarang mencari gadis yang telah Tuan perko*sa itu? Apa Tuan tidak ingin tanggung jawab pada dia" kata Hasna


Bima langsung mendelik tajam pada Hasna "Jika tidak tahu apa apa, diamlah"


Ish.. Aku kan tahu. Buktinya dia saja bertanya padaku karna aku saksinya. Aku laporkan baru tau rasa kau.


Bersambung

__ADS_1


Jujur aku juga nyesek pas nulis bagian ini. Ngebayangin sendiri gimana sulitnya hidup Anista selama ini.


__ADS_2