Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Kelahiran Evan


__ADS_3

"Sepertinya lawan bermainnya begitu apik, Tuan. Bahkan saya dan orang kepercayaan saya saja tidak dapat menemukan siapa di balik kedatangan mantan pacar anda itu" jelas Bima


"Apa mungkin dia memang melakukan ini karena kemauannya sendiri?"


Bima menggeleng pelan "Saya rasa tidak, Tuan. Karena dia tidak mempunyai kekuasaan apapun untuk bisa mendapatkan surat pemeriksaan palsu itu"


Yudha menyipitkan matanya "Jadi surat itu palsu? Aku kira dia hanya berbohong soal waktu saja. Aku kira dia benar benar sakit, tapi saat ini bukan waktu dulu. Jadi, surat itu juga palsu?"


Bima mengangguk "Iya, surat itu benar benar di buat dengan sengaja. Dan menurut saya mantan pacar anda itu tidak mempunyai kekuasaan itu untuk melakukan ini"


"Kita tuntut rumah sakitnya, ini tidak benar. Bagaimana jika bukan hanya dia yang melakukan ini, membuat surat kesehatan palsu hanya untuk mengelabui seseorang"


"Saya sudah mengusut semuanya, tinggal menunggu hasilnya. Mungkin orang yang melakukan ini di balik mantan pacar anda itu, juga akan terungkap" jelas Bima


"Semoga saja, aku benar benar penasaran siapa orang yang sudah berani mengusik ketenanganku"


"Oh ya, lusa adalah ulang tahun Evan. Kau siapkan semuanya, aku hanya mengundang teman sekolahnya dan gurunya dan beberapa rekan bisnis saja" kata Yudha


Bima mengangguk "Baik Tuan"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Yudha baru pulang dari kantor dan langsung masuk ke kamar. Namun, Yudha tidak menemukan istrinya di dalam kamar. Hanya pintu balkon yang terbuka membuat Yudha yakin jika dang istri berada di sana.


Anista sedang berdiri dengan tangan berpegangan ke pagar pembatas balkon. Menatap langit malam yang indah dan di penuhi bintang. Angin malam menerpa wajah manisnya membuat rambut yang di biarkan tergerai tertiup angin.


Yudha seperti terhipnotis dengan aura kecantikan istrinya yang bahkan tidak memakai riasan apapun dan hanya memakai gaun tidur di bawah lutut dengan lengan panjang.


Benar, orang yang mencintai kita maka akan selalu melihat kitalah yang paling cantik. Meskipun menurut orang lain hanya biasa saja, tapi berbeda di mata orang yang mencintai kita.


"Sayang"


Anista langsung menoleh mendengar panggilan dari suaminya, dia tersenyum dan segera berjalan menghampiri Yudha. Mencium telapak dan pungung tangan Yudha seperti kebiasaan yang sering dia lakukan.


"Maaf gak nungguin di bawah" kata Anista


Yudha mencium kening lalu beralih ke kedua pipi Anista "Gak papa, ayo masuk. Disini dingin"


Anista mengangguk dan mereka pun masuk ke dalam kamar dengan bergandengan tangan. Anista membantu suaminya membuka jas dan kemeja yang di kenakan oleh suaminya.


"Aku udah mandi di kantor, jadi ambilin ganti saja" kata Yudha yang di jawab anggukan oleh Anista


Anista menyerahkan pakaian tidur untuk Yudha "Mau makan malam dulu?"


"Iya, aku belum makan malam. Anak anak udah tidur?" Kata Yudha


"Udah, aku biasakan sehabis isya mereka harus sudah tidur. Apalagi Evan juga besok sekolah" kata Anista


Yudha mengangguk mengerti, dia menggandeng tangan Anista setelah selesai memakai pakaian tidurnya.

__ADS_1


"Kamu udah makan?" Tanya Yudha


Anista menggeleng "Nungguin kamu"


Yudha membuka pintu kamar dan membiarkan Anista keluar duluan lalu di susul olehnya sambil kembali menutup pintu.


"Lain kali, kalo emang udah laper gak usah nungguin aku. Kamu makan aja duluan, aku kan gak tentu pulangnya jam berapa" kata Yudha


Anista mengangguk saja, keduanya menuruni anak tangga sambil bergandengan tangan. Sampai di ruang makan ternyata Pak Danu masih belum tidur.


"Tolong siapkan makan malam Pak" kata Yudha


"Baik Tuan"


Pak Danu segera menyiapkan makan malam untuk Tuan dan Nonanya. Sebenarnya Anista bisa saja menyiapkan makan malam ini sendiri. Namun, Yudha malah menyuruh Pak Danu.


"Mas kenapa gak Nist aja yang siapin makan malamnya. Kasihan Pak Danu pasti capek" kata Anista


"Dia belum tidur, itu artinya dia belum capek" jawab Yudha santai membuat Anista langsung geleng geleng kepala.


Dasar!


Pak Danu menata makan malam di atas meja makan. Anista juga membantu karena masih saja dia merasa tidak enak saat pelayan di rumah ini melayaninya sebagai Nona Muda di rumah ini. Dia masih merasa tidak pantas untuk di layani seperti ini.


"Terimakasih Pak, Bapak boleh tidur sekarang. Biar ini nanti Nist aja yang beresin" kata Anista sopan


"Ikuti saja perkataannya Pak" suara datar dan tegas Yudha memotong ucapan Pak Danu.


"Ahh. Baiklah"


Akhirnya Pak Danu pergi ke kamarnya, Anista segera mengambilkan makan malam untuk suaminya. Lalu mengambil makanan juga untuk dirinya sendiri.


"Kenapa tidak pakai nasi?" Tanya Yudha


"Malem aku gak suka makan nasi, nanti gendut" kata Ansita sambil cengengesan


Yudha menatap istrinya dari atas sampai bawah "Badan sekurus itu masih bilang takut gendut? Pake nasi!"


"Tapi'kan aku..."


"Pake nasi, Sayang!" Suaranya sudah naik satu oktaf


Anista menghembuskan nafas kasar dan akhirnya mengikuti apa yang di katakan oleha suaminya.


"Lusa ulang tahun Evan" kata Yudha di tengah tengah makan malamnya.


Anista mengangguk lalu menyuapkan kembali suapan terakhir ke mulutnya "Kenapa memangnya?"


Yudha mengambil minum yang sudah di sedikan oleh istrinya, meminumnya lalu mengelap mulutnya dengan tisu.

__ADS_1


"Aku akan merayakannya"


Uhuk.. uhuk...


"Pelan pelan makannya! Minum dulu" kata Yudha sambil menyodorkan segelas air putih pada istrinya


Anista langsung meminumnya, dan kembali menatap Yudha setelah selesai dengan acara tersedaknya yang tiba tiba itu.


"Maaf, aku cuma kaget aja. Karena ini pertama kalinya loh Evan rayain ulang tahun" jelas Anista


Yudha menatap penuh tanya pada sang istri "Kenapa? Apa kau tidak pernah merayakannya?"


Anista menghela nafas "Bukannya tidak mau, tapi aku tidak punya cukup uang untuk hal yang sia sia. Mendingan aku belikan untuk kebutuhannya kalau punya lebih uang"


"Lagian aku selalu ingat saat hari itu, hari dimana aku melahirkannya yang bahkan aku tidak menginginkan kehadirannya. Aku selau merasa bersalah atas itu" lanjut Anista dengan tatapan menerawang ke depan


Yudha menatap nanar pada istrinya, dia tak tahu bagaiana perasaan dan keadaan istrinya saat itu. Melahirkan tanpa seorang suami di sampingnya.


"Teh kudu kuat ya, ayo mengejan dengan sekuat tenaga. Anak teteh sudah mau lahir" begitulah suara bidan desa yang sedang membimbing Anista yang akan melahirkan


Di dalam ruangan sempit ini, Anista hanya sendiri. Tidak ada yang menemaninya, Abah Sumintar juga tidak mungkin ikut masuk sementara dia adalah kakek dari bayi yang akan lahir itu bukan ayahnya.


Tetap dia merasa canggung karena anaknya sudah bukan gadis kecil lagi yang biasa dia mandikan dulu. Sekarang Anistanya sudah mau jadi seorang Ibu. Jadi Sumintar hanya menunggunya di luar dan mendo'akan anaknya itu.


"Sakit Bu Bidan, kenapa harus sesakit ini. Nist benci bayi ini, karena dia Nist harus kesakitan seperti ini. Dasar pria berengsek" teriak Anista dengan air mata dan keringat yang bercucuran menjadi satu


"Gak boleh gitu Teh, bayi ini gak salah. Kalo teteh kayak gini kasihan atuh bayi gak berdosa ini" kata Bu Bidan mencoba menasihatinya


Mengejan.. Anista mengejan dengan sekuat tenaga seiring dengan dorongan bayi yang ingin keluar dari perutnya. Sampai suara tangisan bayi menyadarkannya dan membuat Anista akhirnya tahu berapa sakitnya perjuangan seorang Ibu.


Untuk pertama kalinya Anista tidak memaki lagi bayi dalam perutnya saat bidan menyerahkan bayi yang sudah di bersihkan itu untuk menyusu yang pertama kalinya pada sang Ibu.


Anista merasa hatinya menghangat saat tangan mungil itu menggenggam jarinya. Mulutnya terus mengemut meminum asinya.


Ya, benar kata bidan tadi bayinya tidak bersalah. Dan tidak sepantasnya bayi tidak berdosa ini menerima kebencian Ibunya karena kelakuan Ayahnya.


Sejak saat itulah, Anista benar benar menerima kehadiran Evan dan tidak lagi memaki dan menyesali kehadiran Evan di hidupnya.


Anista menghela nafas panjang saat kembali mengingat hal menyedihkan itu. Tapi, sekarang dia tidak menyesali semuanya karena semua takdir Tuhan pasti yang terbaik untuknya.


"Ayo tidur"


Uluran tangan kekar di depannya cukup menyadarkan Anista dari fikirannya. Dia menerima uluran tangan itu dan ikut berdiri dan berjalan menuju kamar mereka.


Aku bahagia saat ini.


Bersambung


Jangan lupa like, komen nya ya..

__ADS_1


__ADS_2