
Aku tidak menyangka jika priaku juga sangat terluka dengan kejadian kelam itu. Di sini aku selalu merasa jika akulah korban dari semua ini. Tapi, ternyata suamiku juga sudah banyak berkorban.
Anista menatap suaminya yang sedang duduk di kursi meja kerjanya. Di depannya ada laptop yang menyala. Mungkin suaminya tengah mengerjakan pekerjaan atau memeriksanya.
Anista berjalan menghampiri suaminya dengan secangkir kopi capuchino kesukaaan nya.
"Kopinya, Mas" Anista meletakan cangkir kopi yang dia bawa di atas meja kerja Yudha.
Yudha menoleh pada istrinya, dia tersenyum lalu membuka kaca mata minusnya dan menyimpannya di atas meja kerja.
"Sini, Sayang" Yudha menepuk pahanya, menginginkan jika istrinya duduk di pangkuannya.
"Lagi kerja, gak usah aneh-aneh Mas" tolak Anista
Yudha tersenyum, kembali menepuk pahanya "Sudah selesai, hanya memeriksa beberapa laporan yang di kirim oleh Bima"
Yudha menarik pelan tangan istrinya dan mendudukan di pangkuannya. Kedua tangan Yudha melingkar di pinggang istrinya. Kepalanya dia sembunyikan di ceruk leher Anista. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya.
Anista merasa jika suaminya sedang ingin bermanja padanya. Hasil pemeriksaan tadi dari dokter pasti cukup membuat Yudha kepikiran. Di kecupnya kepala suaminya itu. Tangan Anista naik untuk mengelus kepala suaminya.
"Jangan terlalu di pikirkan, Sayang. Semuanya pasti baik-baik saja. Kita pasti bisa melewati semua cobaan dan rintangan dalam rumah tangga kita. Kita lewati semuanya bersama" kata Anista lembut
Yudha mendongak, menatap wajah wanitanya dengan tatapan sendu. Tak terbayang bagaimana hidup Yudha jika Anista tidak hadir dalam kehidupannya.
Wanita yang begitu di cintainya ini, benar-benar membantu Yudha keluar dari keterpurukan yang sedang dia alami di kehidupannya.
Yudha mengelus pipi istrinya, matanya mulai berkaca-kaca "Terimakasih Sayang, terimakasih karena sudah bertahan di sampingku. Terimakasih, sudah mau menemani pria arogan dan penuh kekurangan ini"
Anista menghapus air mata Yudha yang menetes begitu saja, dia tersenyum lembut pada suaminya "Saat aku siap menikah denganmu, maka aku siap menerima semua kelebihan dan kekuranganmu. Aku siap mendampingimu sampai hayat memisahkan kita. Karena aku mencintaimu, Mas"
Yudha tersenyum haru, betapa beruntungnya dia mendapatkan wanita seperti istrinya ini. Meski sudah beberapa kali dia lukai, tapi Anista tetap bertahan berada di sampingnya.
"Aku juga sangat mencintaimu Sayang. Kau adalah cahaya hiudpku, Light Of My Life" kata Yudha
Anista terkekeh "Aku gak ngerti, Mas. Hehe"
Yudha mencubit gemas hidung mungil istrinya "Sayang, kamu emang sekolah sampe lulusan apa?"
Sudah sangat penasaran Yudha dengan kehidupan istrinya. Meski dia mulai tahu sedikit demi sedikit. Tapi belum sepenuhnya Yudha mengetahui bagaimana kehidupan istrinya itu.
__ADS_1
"Nist teh cuma lulusan SMP" kata Anista, terlihat santai dan biasa saja
Sementara Yudha menatap tidak percaya pada istrinya "Yang bener, Sayang? Emang kamu gak mau lanjutin sekolah, dulu?"
"Yaa, selain karena Abah tidak punya cukup biaya Nist juga bukan murid pintar. Nist lemah dalam pelajaran. Jadi, yaudah mendingan kerja aja bantuin Abah" jelas Anista
"Kamu kerja dari usia berapa?" Tanya Yudha lagi semakin penasaran dengan kehidupan sang istri.
"17 tahun"
Yudha menatap iba pada istrinya, menatap tubuhnya yang mungil. Tubuhnya yang kecil mungil ini harus bekerja keras untuk keluarganya dan aku malah menghancurkan masa depannya itu.
"Tapi, baru juga 3 bulan bekerja Nist teh udah mengalami hal buruk itu" lirih Anista, takut jika apa yang di katakannya akan menyinggung perasaan Yudha.
Yudha kembali memeluk Anista, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya itu. "Maaf" lirihnya
Anista tersenyum "Sudah berlalu, gak perlu terus menyesalinya'kan. Mari kita lupakan kejadian kelam itu, dan mulai hidup baru dengan bahagia"
"Ingat kata dokter Mas, kamu harus bisa melupakan semua kenangan buruk dalam hidup kamu. Jangan terus menerus terperangkap dengan penyesalan itu. Kamu harus bangkit dan bisa kembali menjalani hidup dengan baik. Tanpa ada bayang-bayang kenangan buruk itu"
Yudha mengangguk pelan, masih memeluk istrinya. Tangannya mengelus lembut perut Anista yang mulai terasa keras dan membuncit.
"Ohya Sayang" Yudha mendongakan wajahnya yang sedari tadi berada di ceruk leher Anista. "Apa kamu gak mau lanjutin sekolah?"
"Hahaha... Mas ini lagi ngelindur ya, mana bisa sekolah lagi kalo Nist aja udah punya anak dan suami. Malah sekarang udah mau punya anak dua. Aneh-aneh aja kamu mah" kata Anista masih terkekeh di akhir ucapannya
"Maksudnya kamu bisa ikut ujian dan mendapatkan ijazah SMA. Lalu kamu bisa ikut kuliah, kalau kuliah'kan tidak papa meski sudah menikah dan mempunyai anak" jelas Yudha
"Oh" Anista hanya mengangguk saja
"Jadi bagaiamna? Apa kau mau?" Tanya Yudha, merasa gemas dengan istrinya yang malah tidak memberi jawaban yang jelas.
Anista manggeleng mantap "Tidak. Cukup jadi istri dan ibu yang baik saja. Bisa mengurus suami dan anak dengan baik sudah menjadi kebanggan untuk aku sebagai seorang wanita"
"Mungkin memang berbeda dengan wanita di luaran sana yang tentunya mementingkan karier mereka"
"Tapi, selain otak Nist yang pas pas'an dan juga Nist sudah bahagia dengan status dan pekerjaan Nist saat ini. Menjadi istri dan Ibu yang baik untuk kamu dan anak-anak kita"
Begitulah Anista menjelaskannya membuat Yudha begitu terharu dengan segala ungkapan istrinya.
__ADS_1
"Terimakasih Cintaku, Sayangku, Anistaku" Yudha mencium seluruh bagian wajah istrinya dengan perasaan begitu bahagia.
Ruang kerja itu menjadi saksi bagaimana bahagianya Yudha memiliki istri seperti Anista. Bahkan dulu tidak pernah ada adegan seperti ini selama dia menikah bersama mantan istrinya.
...πππππππππ...
Kehamilan Anista sudah mau 4 bulan, Anista ingin mengadakan syukuran empat bulanan untuk kehamilannya.
"Nist teh pengen undang Bi Nenti sama..."
Aduh gimana bilangnya ya, pasti langsung marah lagi. Tapi, mau bagaimana pun dia adalah orang yang sering membantuku saat keluargaku kesusahan.
Yudha mengangkat satu alisnya "Sama siapa?"
"Emm.." Anista terlihat bingung dan ragu untuk mengatakannya "Sama...Sama.. Emm.. Sa..ma A Sur..ya"
Anista begitu salah tingkah dan takut, tentunya saat mengatakan itu. Melihat tatapan Yudha yang menajam. Jelas sekali dia tidak suka dengan apa yang di ucapkan istrinya.
"Kangen? Iya? Ngapain kamu undang dia?" Tanya Yudha penuh dengan penekanan
Anista tersenyum masam "Apaan si Mas, Nist teh cuma mau undang orang-orang yang dulu banyak sekali membantu Nist di saat keluarga Nist teh kesusahan. Yaa, termasuk A Surya dan Bapaknya. Aku ingin mengundang mereka sebagai saudara dan teman. Tidak lebih"
Yudha merangkul pinggang istrinya, menariknya sehingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Yudha menatap tajam wanitanya itu.
"Karena kamu lagi hamil anak ku dan aku sudah berjanji akan menuruti semua keinginanmu" Yudha menghela nafas berat "Hahh.. Baiklah aku izinkan kamu mengundangnya"
Anista tersenyum merekah "Beneran?"
"Hmm. Tapi, jangan harap bisa dekat-dekat atau mengobrol dengannya. Aku akan mengawasimu!" ancaman Yudha dengan tatapan mengintimidasi
Suami Nist teh meni nyeremin gini kalo lagi cemburu.
"Iya Sayang, Nist teh gak akan dekat-dekat sama A Sur...."
"Jangan menyebutkan namanya dengan bibirmu!" Perintah baru keluar dari mulut si suami posesif
Hah...
Anista hanya menghela nafas pelan "Baiklah, baiklah. Sekarang ayo ke bawah kita sarapan. Kamu mau ke kantor, nanti terlambat"
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, komen dan kasih dukungan lainnya. Terimakasihπ€