
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Anista setelah kejadian masa lalu itu?" Tanya Yudha
Sumintar menghela nafas berat, dia kembali teringat bagaimana anaknya begitu terpuruk karna kejadian itu.
"Dia begitu tertekan apalagi saat dia di nyatakan hamil sebulan setelah kejadian itu. Dia frustasi, setiap hari selalu berteriak histeris sambil memukul perutnya. Neng tidak menginginkan kehadiran Evan pada awalnya"
Deg
Yudha merasa sangat sesak, bagaimana anaknya sempat tidak di harapkan oleh Ibunya sendiri. Dan itu semua karna kesalahan nya.
"Sampai Eneng mengalami depresi berat, dia sampai kami kurung di dalam kamar dengan tangan dan kaki terikat. Karna jika tidak di ikat seperti itu, maka Eneng selalu mencoba melukai dirinya dan anak dalam kandungan nya"
"Sampai Ibunya pun ikut tertekan melihat kondisi Neng. Di tambah lagi dengan hinaan dan cacian para tetangga membuat penyakitnya kambuh"
"Meski begitu Ibu selalu memberi Neng pengertian untuk apa yang sedang terjadi padanya. Ibunya juga selalu mengatakan jika anak dalam kandungan nya tidak bersalah dan tidak berdosa"
"Hingga Anista bisa mengendalikan emosinya dan berangsur membaik. Namun, kenyataan pahit kembali menghampiri keluarga kami. Ibunya meninggal dunia sehingga membuat Anista begitu terpuruk dan hampir kembali mengalami depresi jika saja saat itu Abah tidak langsung membawanya berobat"
"Apa yang kamu lihat tadi tidak seberapa dengan histerisnya Eneng waktu dulu" kata Sumintar sambil menoleh ke arah Yudha
Yudha memegangi dadanya yang berdenyut nyeri, betapa berat hidup yang di jalani Anista. Wanita yang dia cintai juga yang telah dia hancurkan segalanya.
Maaf, maaf kan aku.
Yudha menunduk dalam dengan genangan air mata di pelupuk matanya. Dia merasa begitu bersalah dengan apa yang telah menimpa Anista.
Sumintar menepuk bahunya membuat Yudha langsung mendongak dan menoleh ke arahnya.
"Perbaiki semua kesalahanmu di masa lalu Nak. Abah tau kamu salah, tapi Abah juga sadar jika kamu sedang dalam keadaan tidak baik baik saja saat itu"
"Abah mencoba mengerti, sekarang yang Abah harapkan hanya kebahagiaan Evan juga Anista" Sumintar menghela nafas dan menatap ke arah Yudha.
"Jika kamu benar benar mencintai anak Abah, bukan hanya karena kehadiran Evan. Abah minta sama kamu untuk bahagiakan anak Abah dan cucu Abah. Sudah cukup mereka menderita selama ini, apalagi Anista"
"Saya janji Bah, saya membahagiakan Anista juga Evan. Terimakasih karna telah memaafkan kesalahan saya dan mau menerima saya" Yudha meraih tangan Sumintar dan menciumnya sebagai tanda hormat pada sang calon mertua. Amin.
"Sudahlah Nak, tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan khilaf dan mempunya kesalahan. Sekarang adalah waktunya kamu untuk meyakinkan Anista dan menebus segala kesalahanmu" kata Sumintar
Yudha mengangguk "Iya Bah"
__ADS_1
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Setelah mendapatkan restu dari Ayahnya Anista. Yudha semakin bersemangat untuk meyakinkan Anista. Dia harus bisa mendapatkan wanita impian nya. Wanita yang mampu memberikan cahaya kehidupan di dunia Yudha yang penuh dengan kegelapan.
Pagi ini Yudha kembali ke rumah Anista, setelah kemarin dia langsung pulang tanpa bertemu dengan wanita itu lagi. Yudha takut jika Anista masih takut dan trauma dengan kehadirannya. Karna mau bagaiamana pun Anista seperti itu karena dirinya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Pintu di buka oleh Evan, bocah kecil itu tersenyum bahagia saat melihat Ayahnya "Daddy, akhirnya Daddy datang juga. Even sudah menunggu Daddy dari tadi"
Yudha tersenyum, dia mengelus kepala anaknya lalu menggendong anaknya itu "Bunda mana?"
"Bunda ada di dalam lagi cuci piring, Daddy masuk yuk" ajak Evan
Yudha mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam rumah sederhana itu. Ini adalah hari ke empat Yudha berada di rumah Anista. Dia tidak punya banyak waktu lagi untuk bisa membawa Anista pulang ke kota bersamanya.
Safira sudah mulai rewel bersama Neneknya. Semalam Varinda menelpon Yudha dan menceritakan keadaan anak gadisnya itu.
Anista datang dari dapur setelah menyelesaikan kerjaan nya di dapur. Dia melihat Yudha sudah duduk di atas karpet di ruang tengah. Terlihat Yudha sedang bermain dengan Evan.
Bahkan saat Evan bermain dengan anak anak yang lain juga tidak pernah seceria itu dan sebahagia itu. Terlihat jelas dari wajahnya. Mungkin Evan sedikit mewarisi sifat Ayahnya. Dia irit bicara dan tidak terlalu menunjukan sikap hangatnya kecuali pada keluarga.
"Nak" panggil Anista sambil berjalan ke arah mereka dan ikut bergabung di sana "Mandi dulu ya"
Evan menoleh, lalu mengangguk cepat "Iya Bunda, Evan bisa mandi sendiri kok. Bunda disini aja temani Daddy"
Anak kecil itu langsung berlari ke arah belakang karna takut jika Bundanya akan menemaninya mandi. Semoga Bunda bisa ngobrol sama Daddy dan mereka bisa balikan.
Anista menghela nafas saat anaknya sudah pergi ke kamar mandi. Suasana begitu hening, keduanya masih belum membuka topik pembicaraan. Mereka masih sibuk dengan fikiran masing masing.
"Nist" panggil Yudha pelan
Anista menoleh "Ya?"
"Abah kemana?" Tanya Yudha
"Ohh.. Abah pergi ke sawah"
__ADS_1
Yudha mengangguk mengerti "Emm.. Maaf"
Anista menatap bingung pada Yudha yang tiba tiba mengucapkan kata 'maaf' itu "Maaf kenapa?"
"Maaf karna aku kamu jadi mengalami hal yang begitu menyakitkan selama ini. Maaf juga karna aku kamu harus kehilangan Ibu kamu. Maaf, maafkan aku Nist" lirih Yudha dengan kepala menunduk
Anista menghela nafas pelan, dia mengerti bagaimana perasaan Yudha. Kini Yudha sudah tau semuanya, mungkin sudah saatnya Anista mulai meluruskan semuanya.
"Itu bukan salah Mas Yudha, ini semua takdir dan Nist menerima takdir ini. Nist cuma shock aja kemarin, pas tau siapa pria yang telah menghancurkan kehidupan Nist" lirih Anista
"Jujur Nist marah, Nist kecewa dengan takdirnya saat itu. Bagaimana Nist yang bahkan tidak pernah ingin tahu siapa pria biadab itu"
"Namun, kini aku tahu kenapa Tuhan mempertemukan aku dengan pria itu. Evan, membutuhkan nya. Evan berhak tahu siapa Ayahnya dan Nist bahagia saat melihat bagaimana Evan begitu bahagia bersama Ayahnya"
Anista tersenyum tipis "Dulu Nist teh berfikir kalo Evan gak butuh sosok seorang Ayah. Cukup ada Nist dengan Abah saja, tapi setelah melihat bagaimana bahagianya Evan saat tau siapa Ayahnya. Nist mulai mengerti jika Evan juga membutuhkan seorang Ayah dalam hidupnya"
Yudha terdiam mendengarkan semua penjelasan Anista. Mungkinkah wanitanya telah luluh demi Evan? Bolehkah Yudha berharap sekarang.
"Jadi apa kamu mau menikah denganku? Kita mulai semuanya dari awal. Membina rumah tangga yang bahagia dan menjadi keluarga lengkap untuk Evan dan Safira" kata Yudha
Mendengar nama Safira, Anista jadi merindukan gadis kecil itu "Bagaimana keadaan Safira? Dia bersama siapa saat Mas disini?"
"Fira aku titipkan sama Mami, dia baik baik saja disana. Tapi saat ini Fira mulai rewel, dia selalu menanyakan kamu" jelas Yudha
"Hmm. Aku juga sangat merindukan dia" lirih Anista
Yudha meraih tangan Anista membuat wanita itu menatap wajahnya, bingung "Ayolah Nist, kita mulai semuanya dari awal lagi. Kita pertemukan Evan dan Safira, mau bagaimana pun mereka juga saudara"
Dengan keyakinan penuh atas keputusan yang telah dia ambil. Anista menganggukan kepalanya. Sejak melihat bagaiaman perjuangan Yudha selama ini. Anista mulai luluh dan mengerti jika semua yang terjadi sudah ada yang mengaturnya.
"Beneran? Jadi, kamu mau menikah denganku?" Tanya Yudha seolah tidak percaya
"Iya, tapi aku belum siap jika harus menikah cepat cepat. Aku masih harus meyakinkan dulu kalo keputusan yang aku pilih adalah benar" kata Anista
Yudha mengangguk mengerti "Oke, tidak masalah. Aku siap menunggu sampai kamu benar benar siap"
Bersambung
Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga ya..
__ADS_1