Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Cinta Yudha


__ADS_3

"Mau kemana, diam saja di tempat tidur. Kau ini sedang sakit"


Suara itu terus saja terulang setiap Anista bergerak sedikit saja dari tempat tidur. Yudha sampai libur bekerja hanya karena kaki Anista yang keseleo. Terlalu lebay memang, tapi inilah Yudha.


Padahal kaki Anista pun sudah tidak terlalu sakit. Mungkin jika di pakai jalan hanya akan sedikit terpincang saja. Kaki Anista tidak separah itu sampai harus di waspadai seperti ini oleh Yudha seperti orang pesakitan.


"Aku gak papa, kamu kenapa sampe selebay ini si" kesal Anista dengan perilaku Yudha yang menurutnya terlalu berlebihan.


Yudha tersenyum sinis, dia berjalan mendekat ke arah tempat tidur dimana Anista setengah berbaring di sana. Yudha menatapnya tidak suka, dan itu membuat nyali Anista mulai menciut.


"Lebay? Kau bilang aku terlalu lebay? Kau mikir tidak, bagaimana sayangnya aku sama kamu. Bagaimana aku sangat takut kehilanganmu, sampai kau terluka sedikit pun aku tidak akan rela. Lalu, apa aku salah?" Tanya Yudha dingin


Deg


Anista merasa tertampar dengan ucapan Yudha barusan. Dia tahu jika suaminya memang sangat mencintai dan mneyayanginya. Anista pun bisa merasakan semua itu, namun Anista masih saja tidak faham dengan sifat Yudha.


Beginilah cara Yudha menunjukan rasa sayang dan cintanya. Keposesifan nya adalah sebagian besar caranya menunjukan perasaanya. Meski di mata Anista mungkin apa yang dia lakukan terlalu berlebihan. Tapi, sekali lagi inilah Yudha.


Anista menunduk, dia merasa sangat bersalah saat menatap mata Yudha. Tatapan dingin yang menyimpan rasa sedih disana saat Anista berkata seperti tadi.


Cup


Anista mendongak saat sebuah kecupan hangat mendarat di puncak kepalanya. Yudha sudah duduk di pinggir tempat tidur dan menatap penuh cinta pada wanitanya. Tatapan sedih tadi menghilang tergantikan dengan tatapan penuh cinta untuk wanitanya.


Yudha menggenggam tangan istrinya, menciumnya dengan lembut "Jadi, bisakah mulai sekarang untuk lebih berhati hati dan tidak membiarkan dirimu terluka dan membuatku khawatir seperti ini"


Mata Anista sudah berkaca kaca, dia terlalu terharu dengan setiap kata yang terucap dari bibir Yudha. Bahkan dia tidak pernah menyangka jika suaminya secinta ini padanya. Gadis kampung yang tidak sengaja dia hamili beberapa tahun lalu.


Anista mengangguk dan tersenyum "Iya Mas, maaf karena telah membuat mu sedih dengan ucapanku tadi"


Yudha mengusap pipinya dengan lembut "Aku maafkan, tapi tidak sekali kali lagi!"


Anista mengangguk mengerti "Iya" kembali lagi deh mode menjengkelkannya.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Satu minggu berlalu setelah pesta ulang tahun Evan berlangsung. Kaki Anista juga sudah benar benar sembuh sekarang, tidak ada lagi drama Yudha yang melarangnya beraktifitas ini itu.


Keluarga bahagia ini sedang melakukan rutinitas paginya. Sarapan bersama adalah rutinitas pagi mereka.

__ADS_1


Yudha yang dulunya tidak suka sarapan, sekarang bahkan tidak pernah melewatkan lagi sarapan paginya.


"Daddy, Bunda kata Bu Guru besok ada study tour ke kebun binatang gitu" kata Evan setelah menyelesaikan sarapannya


"Daddy ada kerjaan besok, gak bisa nemenin kamu. Sama Bunda saja ya" kata Yudha


"Iya gak papa Daddy, biar sama Bunda saja. Biar nanti sekalian bawa Safira" kata Anista sambil membereskan bekas makan suami dan anaknya


"Yaudah, nanti biar kalian di antar supir saja. Isni juga ikut ya, biar bisa menjaga Safira juga" Yudha berdiri dan mengambil jasnya yang di sampirkan di sandaran kursi


Yudha mencium kening Anista "Aku berangkat dulu Nist, baik baik di rumah"


Anista merengut saat Yudha kembali menggodanya dengan memanggilnya seperti itu "Iya"


Yudha tergelak dan mencium kembali kening istrinya dengan gemas "Gemesnya kalo Sayangnya aku lagi ngambek kayak gini. Aku pergi dulu ya, Assalamualaikum"


"Bunda Evan juga berangkat sekolah dulu" Bocah itu mencium tangan Ibunya "Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Setelah suami dan anaknya berangkat ke tujuan masing masing. Kegiatan Anista hanya menonton televisi, membaca novel dan mengasuh Safira bila Isni sedang ke kamar mandi atau ada pekerjaan lain.


Saat ini Anista juga sedang santai santai di ruang keluarga sambil menonton televisi. Safira bermain di atas karpet berbulu dengan mainan yang berserakan di sekitarnya. Isni duduk menemani Safira bermain.


Ponsel di saku baju Isni berdering, dia mengambilnya dan mengangkat telepon itu. "Hallo"


"Apa? I..iya nanti saya langsung kesana, terimakasih"


Anista langsung mengalihkan fokusnya dari televisi pada Isni yang terlihat begitu panik "Ada apa Teh?"


"I..itu Nona, anak saya sakit dan masuk ke rumah sakit. Kalo boleh saya ingin izin pulang dan cuti beberapa hari" jelas Isni


"Ya ampun, yaudah Teteh siap siap sekarang. Kasihan anak Teteh"


Anista berdiri dan langsung menggendong Safira, dia berjalan ke lantai atas menuju kamarnya.


Beberapa saat kemudian, Anista kembali ke lantai bawah masih dengan Safira di dalam gendongannya.


Dia melihat Isni sudah berdiri di sana dengan tas berukuran sedang di tangannya. Sepertinya Isni telah siap pulang kampung dan ingin berpamitan pada Anista.

__ADS_1


"Mau berangkat sekarang Teh?"


Isni mengangguk "Iya Nona, maaf karena besok saya tidak bisa menemani Nona dan Nona kecil ke acara study tour sekolah Tuan Muda Hervan"


Anista tersenyum lembut, dia mengelus tangan Isni "Tidak apa, aku bisa kok berangkat sendiri besok. Yang penting Teteh harus temui dulu anak Teteh yang sedang sakit itu"


Anista memberikan sebuah amplop berwarna coklat pada Isni "Ini, untuk membantu biaya pengobatan anak Teteh. Semoga bermafaat dan anak Teteh cepat sembuh"


"Ya ampun Nona, tidak perlu memberi saya ini. Gaji dari Tuan Yudha saja sudah sangat cukup untuk saya dan keluarga. Apalagi saya sangat bersyukur saat bisa bekerja dengan Nona sebaik Nona Anista" kata Isni merasa tidak enak hati


Anista tersenyum tulus "Sudah, ambil saja. Anggap saja ini bonus untuk Teteh, semoga anak Teteh cepat sehat kembali. Ohh ya, biar Teteh di antarkan supir ya"


Isni menggeleng cepat "Tidak perlu Nona, saya bisa menggunakan angkutan umum saja. Nona sudah terlalu baik dan banyak membantu saya"


"Sudahlah tidak papa, kita'kan keluarga. Biar Teteh juga bisa cepat sampai, jadi lebih baik di antar supir saja" kata Anista tak ingin permintaannya di tolak


"Terimakasih Nona, terimakasih banyak" Isni mengangguk hormat dan penuh rasa terimakasih pada Anista.


"Iya Teh sama-sama, semoga anak Teteh lekas sembuh"


"Amin"


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


"Kau yakin bisa menjaga Evan dan Safira sekaligus. Aku suruh pengawal aja ya untuk menjaga kalian" kata Yudha


"Jangan Mas, kalo kamu suruh pengawal buat jagain kita. Takutnya teman-teman Evan dan yang lainnya merasa tidak nyaman. Lagian pasti banyak guru dan penjaga dari sekolah yang ikut mengawasi anak anak. Jadi, aku rasa teh gak perlu bawa pengawal" jelas Anista


Lagian aku akan merasa tidak nyaman jika harus terus-terusan di ikuti pengawal. Apalah aku yang hanya orang kampung dan tidak pernah di perlakukan sesepesial ini.


"Yaudah, tapi kamu harus hati hati ya. Kalo ada apa apa langsung hubungi aku atau Bima" kata Yudha


Anista mengangguk mengerti.


"Karena jika ponselku tidak bisa dihubungi kau bisa langsung menghubungi Bima, dia akan selalu tahu dimana aku" jelas Yudha


Ck. Sudah seperti istrinya saja, Bima ini lebih tahu bagaimana dan apapun tentang Mas Yudha. Apa aku boleh cemburu? Tapi, ini tidak masuk akal. Hah


"Iya Mas"

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, komen. Kasih hadiah juga dong, hadiahnya masih sama kayak minggu lalu. Gak ada kemajuan, votenya juga. Sedih tau, nulisnya juga jadi kurang semangat.


__ADS_2