
"Jadi bagaimana Sayang?" Tanya pria tampan dengan bertelanjang dada, di pengakuannya ada seorang wanita cantik dengan keadaan polos tanpa busana.
"Aku sakit hati, aku ingin mereka juga merasakan apa yang aku rasakan. Kau tahu? Mereka mempunyai anak di luar nikah, dan aku tidak tahu itu selama ini. Mungkin saat kami masih menikah, mereka telah berselingkuh di belakangku" kata Eliana dengan menggebu gebu
Roy tersenyum licik "Bukankah kau jugs berselingkuh di belakangnya?"
Eliana berdecak kesal "Itu kan karna dianya juga yang tidak mau mencintaiku. Aku tahu jika dia tidak pernah mencintaiku"
Roy mengelus punggung polos milik Eliana "Sudahlah masalah itu biar aku yang urus. Sekarang kita bersenang senang dulu Sayang"
Eliana tersenyum dan mendahului Roy untuk mencium bibirnya. Mereka berciuman dengan penuh gairah dan naf*su. Perlahan Roy membaringkan Eliana di atas tempat tidur dan mereka pun kembali melakukan hubungan haram itu.
Aku bersumpah akan menghancurkanmu Yudha.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Iya Mam, besok aku akan pulang" kata Yudha dengan ponsel di telinganya
Satu tangannya dia masukan ke dalam saku celana, mendengarkan kembali ucapan Ibunya di sebrang sana. "Iya aku tahu, aku akan segera pulang"
Yudha menghela nafas "Yasudah Mam, aku tutup dulu telepon nya ya"
Yudha menutup sambungan telponnya, dia kembali menghela nafas kasar "Sepertinya aku harus meninggalkan dulu Anista disini. Kasihan juga Safira terlalu lama aku aku tinggalkan"
Besok paginya Yudha langsung ke rumah Anista. Dia ingin berpamitan dulu pada Sumintar dan Anista juga pada anaknya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum"
Yudha berdiri di depan pintu rumah Anista, matanya menatap ke sekeliling halaman rumah ini. Hawa dingin namun segar di pagi hari dapat dia rasakan di sini. Suasananya masih sangat asri.
"Waalaikumsalam"
Pintu terbuka oleh Anista, dia tersenyum ramah pada Yudha "Masuk Mas, tumben pagi sekali datang kesini"
__ADS_1
Yudha begitu bahagia saat senyuman itu kembali tersemat di bibir Anista untuknya. Bahagia sekali saat wanitanya telah bisa menerimanya kembali. Semoga!
Yudha masuk ke dalam rumah itu dan duduk di ruang tengah seperti biasa. Di sana sudah ada Sumintar yang sedang duduk sambil meminum kopi.
"Bah" sapa Yudha tersenyum, lalu mencium tangan Sumintar. Yudha pun ikut duduk di sana bersama calon ayah mertuanya itu.
Anista datang dari dapur dengan menbawa secangkir minuman untuk Yudha "Ini teh jahe Mas, Nist tau kalo Mas pasti belum sarapan. Jadi, minumnya ini dulu aja jangan dulu kopi"
Yudha tersenyum "Iya, terimakasih Nist"
Yudha meminum teh jahe buatan calon istrinya itu "Ohya, aku mau pamit pulang dulu hari ini"
"Loh mau pulang sekarang?" Tanya Anista
Yudha menatap wanitanya lalu dia mengangguk "Iya Nist, Fira demam. Sudah terlalu lama juga aku meninggalkan nya"
"Fira siapa, Daddy?" Tanya Evan yang baru saja keluar dari kamarnya, tangannya masih mengucek matanya yang masih mengantuk
Yudha dan Anista langsung menoleh ke arah Evan. Anista berdiri dan menghampiri anaknya itu. Mengajaknya untuk ikut bergabung dengan mereka.
Tidak ingin menyembunyikan apapun lagi dari anaknya. Yudha berniat untuk menjelaskan secara perlahan pada putranya ini.
Evan mengangguk dan langsung duduk di pangkuan Yudha. Anista menatap Yudha, seolah bertanya apa yang harus dia bicarakan pada putranya ini.
Yudha tersenyum menanggapi tatapan khawatir dan cemas dari Anista "Evan, kalo seandainya Evan mempunyai adik perempuan mau gak?"
Simintar pun hanya diam mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Yudha. Dia akan menyetujui apapun yang akan Yudha dan Anista lakukan untuk Evan, karna Sumintar yakin yang mereka lakukan adalah yang terbaik untuk cucunya itu.
Evan mengangguk dengan semangat "Mau kok, jadi Evan ada temen main"
Yudha tersenyum, dia mengelus kepala anaknya itu "Tapi, adik Evan ini bukan lahir dari perut Bunda seperti Evan. Gak papa Nak?"
Evan terlihat berfikir, dia menatap Bundanya lalu tatapannya turun ke perut sang Bunda "Emang Evan lahir dari perut Bunda ya?"
Pffhtt..
__ADS_1
Anista ingin sekali tertawa meski dia mencoba untuk menahan nya. Yudha hanya mampu menghela nafas melihat kepolosan anaknya itu.
Niat hati ingin memberi penjelasan tentang Safira pada putranya. Tapi, sepertinya Evan masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini.
"Sudahlah Mas, biarkan dengan seiring berjalannya waktu Evan juga bakal mengerti tentang kenyataan ini" kata Anista lembut
Yudha mengangguk dan tersenyum "Yasudah, sekarang Daddy harus pulang dulu. Soalnya adik Evan di kota sedang demam, kasihan dia sangat merindukan Daddy"
Anak kecil itu terlihat murung dan langsung menundukan kepalanya "Daddy bakal pergi lagi? Ninggalin Evan sama Bunda lagi?"
Yudha menggeleng cepat "Tidak Sayang, Daddy hanya pergi sebentar saja. Nanti kalo Bunda sudah puas liburan di sininya. Daddy akan menjemput kalian untuk pindah ke kota dan kita akan tinggal bersama sama"
Anista menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Evan. Tangannya mengelus kepala bocah laki laki itu "Iya Nak, kasihan kan kalo adik Evan sendirian di kota. Nanti Daddy akan kembali kesini bersama adiknya Evan"
Evan menoleh ke arah Bundanya dengan mata berbinar "Beneran Bunda??"
Anista mengangguk dan tersenyum "Iya Sayang"
Akhirnya Evan pun mengizinkan ayahnya untuk pulang dulu ke kota. Anista mengantar Yudha sampai ke halaman rumahnya dimana mobil Yudha terparkir di sana.
"Aku pulang dulu ya, kamu sama Evan baik baik disini. Jangan macem macem, apalagi sama si Surya Surya itu" kata Yudha dengan nada ancaman di akhir kalimatnya
Ternyata masih sama posisifnya.
"Iya, ohya kabarin aku ya gimana keadaan Safira. Aku juga khawatir sama dia"
Yudha mengangguk "Iya, yaudah aku pergi dulu ya "
Cup
Satu kecupan perpisahan tersemat di dahinya. Anista tersenyum lalu dia meraih tangan Yudha dan mencium punggung tangan laki laki itu.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Hati hati di jalan"
__ADS_1
Bersambung
Maaf ya hari minggu gak bisa up, ada urusan mendadak.. Semoga tetap suka dengan karyaku ini.. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiahnya juga. Votenya juga ya.. 😁🤗🤗