Light Of My Life (Cahaya Hidupku)

Light Of My Life (Cahaya Hidupku)
Pengumuman Penerus Keluarga


__ADS_3

Yudha berdiri tegap di atas panggung yang ada disana. Saat ini dia ingin mengungkapkan perasaannya pada wanita hebat yang telah hadir di hidupnya. Dia juga ingin mengungkapkan siapa penerusnya saat itu, anak pertamanya yang bahkan baru dia ketahui.


Bima menuntun Evan untuk naik ke atas panggung dan berdiri di samping Ayahnya. Bocah itu terlihat tampan dengan balutan jas dan dasi kupu kupu yang dia kenakan. Wajahnya memang mewarisi ketampanan dari sang Ayah.


Semua mata tertuju pada bocah laki laki di samping Yudha. Mungkin sudah dari tadi mereka semua bertanya tanya tentang bocah laki laki yang selalu berada di sekitaran keluarga Walton.


Kusak kusuk wartawan saling berbisik mempertanyakan siapa bocah laki laki itu. Banyak yang mengira jika istri Yudha adalah seorang janda beranak satu.


Apalagi mengingat asal usul Anista yang tidak di publik oleh Yudha dan semua media pun tidak dapat mencari informasi tentang itu karena telah di tutup oleh sia genius kepercayaan Walton.Corp , Bima.


Yudha berdehem sebentar dan langsung menyita perhatian mereka semua. Seketika suasana menjadi hening, kilau cahaya karena jeprtan kamera dari beberapa wartawan stasiun TV ternama.


"Sebelumnya aku minta maaf karena mungkin kenyataan yang akan aku ucapkan disini akan membuat kalian semua terkejut dan mungkin tidak percaya dengan fakta ini"


Yudha sedikit menjeda ucapannya, dia menggendong Evan dengan satu tangannya. Tangan lainnya dia gunakan untuk memegang mikrofon.


"Ini adalah anak pertama saya"


Semua orang begitu terkejut mendengar ucapan Yudha barusan. Kasak kusuk para tamu undangan dan para wartawan mulai terdengar membuat suasana menjadi riuh.


Di sisi lain sang pengantin wanita hanya bisa menatap cemas pada suami dan juga anaknya. Dia menundukan kepalanya saat banyak sekali pasang mata yang menatap remeh bahkan jijik padanya.


"Apa semuanya bisa tenang? Disini kalian para reporter dan wartawan begitu beruntung bisa meliput berita ini. Jika, kalian keberatan dengan ini silahkan keluar"


Bima yang bersuara dengan tegas membuat semua orang kembali diam dan duduk tenang menunggu kelanjutan dari Yudha.


Yudha kembali berdehem sebelum melanjutkan ucapannya "Putra saya yang bahkan saya baru ketahui keberadaannya beberapa bulan ini. Dia hadir atas kesalahan saya di masa lalu"


"Apa dia terlahir dari istri baru Tuan yang sekarang?"


Seorang reporter wanita dengan rambut sebahu bertanya dengan lantang. Rekan kerja seprofesinya ikut mengangguki pertanyaan si reporter wanita itu.


Yudha mengangguk tegas "Ya, dialah wanita hebat yang telah melahirkan dan membesarkan anak saya seorang diri. Maka dengan ini saya tidak terima dengan cemoohan dan hinaan kalian pada wanitaku. Jangan pernah membuat berita yang memojokkan nya. Mengerti!"

__ADS_1


Sebuah perintah keluar dari mulut Yudha begitu tegas dan tak terbantahkan. Seolah terintimidasi dengan tatapan dingin dari Yudha, semuanya mengangguk dengan cepat.


Mereka semua cukup tahu dan tidak mau ikut campur urusan Tuan Muda Walton yang bisa melakukan apa saja yang membuat orang orang yang menganggu hidupnya hancur seketika.


Evan hanya merangkul leher Ayahnya, anak itu belum terbiasa tampil di depan banyak orang seperti ini.


"Dialah penerus keluarga Walton yang akan mewarisi perusahaan Walton.Corp. Bisakah kalian bersikap padanya seperti kalian bersikap padaku?"kata Yudha yang langsung di respon anggukan dari semua orang.


Karena memang itulah yang harus mereka lakukan pada panerus keluarga Walton yang mereka hormati.


"Baiklah, hanya itu yang perlu saya sampaikan. Silahkan buat berita dan artikel yang kalian mau, hanya jangan sampai memojokan istriku"


Setelah berkata seperti itu Yudha turun dari panggung dengan masih menggendong Evan. Menyerahkan Evan pada Neneknya sebelum dia kembali menghampiri istrinya.


Anista terlihat begitu tegang dan cemas, ekspres wajahnya tidak bisa membohongi Yudha jika dia benar benar gelisah.


Cup


Satu kecupan Yudha berikan di kening istrinya seiring dengan kilatan cahaya kamera yang memotret adegan manis mereka berdua tanpa permisi. Namun, Yudha membiarkan saja.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Pagi hari setelah hari melelahkan kemarin, keluarga kecil ini telah kembali ke rumah. Dimana si pasangan pengantin bangun terlambat dan sarapan terakhir karena kegiatan mereka semalam.


Sementara anak anak sudan aman bersama pangasuhnya dan juga Neneknya yang sengaja menginap karena mengerti situasi.


Kini di meja makan tinggalah sepasang suami istri ini. Menikmati sarapan mereka dengan tenang.


"Sayang" Yudha mengelap bibirnya dengan tisue lalu meminum kembali air putih dari gelasnya "Aku mau mendaftarkan Evan ke sekolah baru dia. Dulu dia juga pernah sekolah kan?"


Anista mengangguk "Iya, waktu masih tinggal di rumah Bu Nina Evan sekolah Paud. Mungkin sekarang bisa masuk Taman kanak kanak karena usia Evan juga sudah mau 4 tahun"


Yudha mengangguk mengerti "Baiklah aku akan memasukan dka ke taman kanak kanak dan juga bebarapa les privat untuknya agar dia siap menjadi penerusku"

__ADS_1


Ada yang mengganjal di hati Anista, dia tidak ingin anaknya yang masih kecil harus terbebani dengan tanggung jawab besar seperti ini.


"Aku tidak mau Evan harus terbebani seperti itu, biarkan dia merasakan masa masa kecilnya seperti kebanyakan anak kecil lainnya" kata Anista


"Aku mengerti sayang, aku juga tetap akan memberi dia waktu untuk bermain. Aku hanya akan memberikan satu atau dua les privat untuk saat ini" kata Yudha


Anista hanya menghela nafas, mungkin memang ini takdirnya Evan. Tidak mungkin juga Anista melarang karena Evanlah yang pasti akan menjadi penerus keluarga nantinya sebagai anak pertama.


Dan Yudha akhirnya mendaftarkan Evan ke sekolah ternama. Sekolah yang dimana anak anaknya sudah di ajarkan mandiri sejak dini. Tidak ada orang tua murid yang menunggui anaknya di depan kelas seperti kebanyakan sekolah taman kanak kanak pada umumnya.


Disini orang tua atau wali hanya perlu mengantarkan anaknya sampao gerbang dan menjemput lagi saat pulang sekolah. Tidak ada yang menunggui anaknya karena semuanya telah menjadi tanggung jawab guru selama anak anak berada di sekolah.


...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...


Pernikahan Anista dan Yudha sudah memasuki bulan ke tiga. Semuanya berjalan dengan begitu baik. Bahkan Yudha sekarang seolah tidak lagi kekurangan semangat apalagi jika setiap malam selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dari istrinya.


"Sayang, nanti kayaknya aku akan pulang telat ada client dari luar negara dan aku harus menemuinya langsung" kata Yudha


Anista mengangguk "Iya Mas gak papa, yang penting jangan sampai lupa makan"


Yudha mengangguk lalu mencium kening Anista "Iya Sayang"


Rutinitas pagi yang kini menjadi kebiasaan baru untuk Yudha setelah menikah. Yudha yang awalnya jarang sekali sarapan, kini dia selalu sarapan bersama keluarga kecilnya. Hal ini tentu membuatnya begitu bahagia.


Kini setelah Evan masuk sekolah, Yudha selalu mengantarkan dulu anaknya itu ke sekolah dan pulangnya baru akan jemput oleh supir.


Anista tersenyum memandang mobil suaminya yang sudah ke luar dari gerbang rumah. Rutinitas pagi seperti ini adalah hal yang membahagiakan. Hal sederhana yang mampu membuat keluarga harmonis.


"Ayo Sayang kita main di dalam" kata Anista sambil mencium Safira


"Main daam" kata bocah itu dengan suara khas anak balita


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like komen sama kasih hadiah ya. kasih vote juga dong.. selamat membaca.. 🤗


__ADS_2