
Yudha membaringkan tubuh Anista di atas sofa ruang tamu. Dia melihat kaki istrinya yang terlihat sedikit membiru. Sepertinya kaki Anista keseleo.
Yudha mencoba menekan pelan pergelangan kaki Anista "Aw.. sakit Mas"
"Kita ke dokter" kata Yudha
Anista menggeleng "Gak usah, palingan cuma keseleo aja. Di urut juga nanti langsung baikan"
"Gak papa gimana, aku pegang sedikit aja sakit. Kita ke rumah sakit sekarang ya" kata Yudha terlihat begutu khawatir
Anista tetap menggeleng "Kamu panggil aja Bu Nina, suruh supir jemput dia"
Yudha mengerutkan alisnya "Kenapa malah panggil Bu Nina? Memangnya dia dokter?"
"Ish. Bukan, tapi Bu Nina bisa mijit orang yang keseleo atau terkilir gitu" jelas Anista
"Beneran gak mau ke rumah sakit? Lihat kaki kamu sampe membiru gitu" Yudha menatap khawatir pada istrinya
"Gak usah Mas, cepat jemput Bu Nina saja"
"Baiklah, aku akan suruh supir untuk menjemputnya"
Yudha berlalu dan segera menyuruh supir untuk menjemput Bu Nina, sesuai dengan permintaan Anista. Semenatara Anista sedang memijat mijat pelan pergelangan kakinya.
Yudha kembali setelah memerintahkan supir untuk menjemput Bu Nina. Dia duduk di samping istrinya dan menatap cemas pada sang istri.
"Jangan di pijit kalo malah tambah sakit, nanti kalo tambah parah gimana" tegas Yudha saat melihat Anista meringis
"Gak papa, Mas"
"Gak papa gimana? Kaki kamu udah kayak gini, masih aja bilang gak papa" kesal Yudha saat istrinya masih saja bicara seperti itu padahal Yudha lihat sendiri kalo dia begitu kesakitan. Entah Yudha yang terlalu lebay, atau memang Anista benar benar kesakitan.
"Yaudah bawa aku ke kamar aja Mas, gak enak kalo disini" kata Anista, ingin mengakhiri drama yang di lakukan Yudha.
Anista sudah mulai hafal bagaimana sifat suaminya saat orang tersayangnya terluka, maka dia akan melakukan hal bodoh yang bahkan di luar batas manusia normal.
"Yaudah ayok, arghh.. Kamu gak mungkin bisa naik turun tangga dengan kaki seperti ini, apa aku harus pasang lif. Bima pasti bisa mneyuruh orang yang bisa pasang lif hari ini dan harus selesai segera"
Tuhkan benar dugaan Anista, suaminya pasti akan bertindak seenaknya. Anista memegang tangan suaminya yang berdiri dengan berkacak pinggang, menatap ke pagar pembantas di lantai atas.
"Gak perlu Mas, Nist ini cuma keseleo bukan lumpuh" kata Anista
Yudha menoleh "Apa kita pindah kamar saja di lantai bawah. Masih banyak kamar yang kosong untuk di tempati semenatara ini"
__ADS_1
Anista tersenyum menenangkan "Gak perlu Mas, aku bisa kok naik turun tangga. Kalo udah di urut, kaki aku pasti langsung baikan"
"Tapi...."
"Assalamualaikum"
Ucapan Yudha langsung terpotong dengan kedatangannya Bu Nina. Mereka menjawab salam dan langsung mempersilahkan Bu Nina untuk duduk di samping Anista.
Sementara Yudha hanya berdiri dengan cemas di samping istrinya. Melihat Bu Nina mulai mengoleskan minyak urut ke kaki Anista dan mulai memijat pelan kaki Anista.
"Kenapa bisa kayak gini Neng?" Tanya Bu Nina
"Gak sengaja kepeleset Bu" jawab Anista, lalu dia meringis pelan saat pijatan Bu Nina mulai terasa semakin kencang.
"Lain kali hati hati atuh Neng" kata Bu Nina lagi
"Iy..iya Bu" Anista berpegangan pada pinggiran sofa, kakinya mulai di putar putar pelan oleh Bu Nina seraya menimbulkan suara khas.
"Sudah, insya Allah besok juga bisa jalan. Ini cuma keseleo aja" kata Bu Nina setelah menyelesaikan tugasnya
"Makasih Bu, Ibu nginep aja ya disini. Besok biar di anterin aja sama supir" kata Anista
"Kapan kapan saja ya Neng, nanti malem datang barang ke toko" jelas Bu Nina
Anista menghela nafas "Yaudah, nanti kalo Evan libur Nist juga akan main ke rumah Ibu"
"Iya Bu"
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Setelah Bu Nina pulang dengan di antar supir, Yudha membawa Anista ke kamar mereka setelah melewati perdebatan seperti tadi.
Yudha yang ingin memindahkan kamarnya ke kamar bawah, sementara Anista merasa itu terlalu berlebihan dan tidak perlu sampai melakukan itu. Lagipula kakinya juga sudah lebih baik setelah di urut oleh Bu Nina.
Yudha keluar dari ruang ganti, rambutnya masih terlihat basah dan acak acakan karena belum dia sisir. Wajahnya terlihat lebih segar setelah mandi dan berendam.
Yudha menghampiri istrinya yang duduk di tempat tidur dengan mata yang terus menatapnya dengan lekat.
"Aku tahu aku memang tampan, sampai kau terpesona seperti itu pada suamimu ini"
Kekehan Yudha menyadarkan Anista dari pikiran kotornya. Ya ampun Nist, apasi yang kamu pikirkan itu. Bikin malu aja.
Yudha tergelak melihat wajah merah malu istrinya itu. Dia yakin pasti Anista sedang memikirkan hal hal yang membuatnya malu sendiri.
__ADS_1
Menggemaskan sekali.
Begitulah rasa cinta Yudha, apapun ekpresi wajah Anista akan selalu terlihat menggemaskan di matanya.
Seolah hanya ada Anista, perempuan satu satunya yang paling cantik dan menggemaskan di matanya. Yang lain dia anggap angin lewat. Sebucin itulah Yudha pada istrinya.
Cup
Yudha memberikan kecupan hangat di kening istrinya "Tidur! Udah malem"
Anista menghembuskan nafas kasar "Mau ke bawah dulu, liat anak-anak. Mereka udah tidur apa belum ya"
Yudha menatapnya tidak suka "Lupa? Kakimu masih sakit, jangan banyak bertingkah!"
Apa dia bilang? Bertingkah, apanya yang bertingkah coba? Aku'kan cuma mau lihat anak-anak sebelum tidur. Biasanya juga begitu.
"Tak perlu mengumpatku Sayang" kata Yudha penuh dengan penekanan seolah tahu apa yang di pikirkan oleh Anista
Dia ini bisa menebak pikiran orang juga ya.
"Yaudah, kalo Nist gak boleh ke bawah. Mas aja yang ke bawah, liat anak-anak udah tidur apa belum" kata Anista
"Iya"
Yudha pun keluar kamar dan menuruti permintaan istrinya. Dia tahu jika Anista selalu melihat dulu anak-anak sebelum dia tidur. Memastikan jika anak-anak tidur dengan nyaman dan lelap.
Yudha membuka pintu kamar anak-anaknya. Dia berjalan pelan masuk le dalam kamar, Isni sedang duduk di sofa dan langsung berdiri dan menunduk hormat saat Tuannya datang.
"Mereka sudah tidur, apa susunya di minum habis?" Tanya Yudha menatap pada dua tempat tidur single yang berada di kamar itu.
Tempat tidur single dengan warna berbeda itu hanya berjarak 2 meter saja. Sengaja Yudha satukan anak-anaknya dalam satu kamar supaya Isni lebih mudah menjaga mereka saat malam.
"Nona Safira menghabiskan susunya Tuan, tapi Tuan Muda Hervan tidak menghabiskannya. Dia memang sangat sulit jika disuruh minum susu. Mungkin tidak terlalu suka" jelas Isni
Yudha mengangguk mengerti "Baiklah tak apa, yang penting nutrisi anak-anak ku terpenuhi"
Setelah memastikan anak-anaknya sudah terlelap dengan nyaman dan memberikan kecupan selamat malam pada keduanya.
Yudha kembali ke kamarnya, dia sudah menjalankan perintah sang istri dan sudah saatnya dia meminta hadiahnya.
"Hanya mengelus kepalaku dan memanjakanku dengan bibirmu. Itu sudah lebih dari cukup untuk hadiahku. Karena kau sedang sakit, jadi aku tidak meminta lebih dari itu"
Begitulah ucapan Yudha yang menyebalkan untuk Anista. Akhirnya mau tidak mau malam ini Anista harus memanjakan bayi tuanya ini. Mengelua kepalanya dengan sesekali mencium keningnya juga bibirnya.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah juga..