
Anista menarik kursi yang biasa di duduki Yudha saat makan. Yudha duduk disana meski merasa tidak enak karna Anista memperlakukannya seperti ini.
Harusnya aku yang memperlakukan kamu kaya gini. Tunggulah saatnya tiba. Yudha
Anista mengambilkan makanan yang sudah dia masak untuk makan siang Tuannya ini.
Yudha menerima piring yang sudah terisi makanan dari Anista "Terimakasih"
Wahh.. Ternyata Tuan Yudha sudah mulai biasa mengucapkan terimakasih ya..
"Sama sama Tuan" kata Anista tersenyum
"Kau duduklah" kata Yudha
Anista menatap bingung pada Yudha "Saya ke belakang saja Tuan"
Yudha menatap tajam Anista "Saya bilang duduk!! Makanlah, temani saya makan siang"
Lagi dan lagi dia selalu menyuruhku menemaninya makan. Bahkan bisa makan semeja dengan nya. Apa ini wajar hanya untuk seorang majikan dan pengasuh anaknya??
"Malah bengong disitu, cepat duduk dan makanlah" kata Yudha dingin
Anista mengerjap tanpa membantah lagi, dia langsung duduk di kursi meja makan. Mengambil makanan sewajarnya dan segera memakannya.
Suasana di meja makan terasa hening saat keduanya masih sibuk dengan makanan masing masing. Di balik pintu yang menghubungkan ruang makan dan dapur, Pak Danu melihat semua adegan di ruang makan.
Semoga Tuan Muda benar benar menemukan belahan jiwanya.
Pak Danu bekerja dengan keluarga Walton sudah sangat lama. Bahkan sejak Ayahnya Yudha masih hidup. Jadi selain Bima, Pak Danu juga salah satu orang yang tahu bagaimana kehidupan Yudha.
Meskipun Yudha jarang sekali bercerita padanya, namun Pak Danu cukup mengerti keadaan Yudha dan rumah tangganya bersama Eliana. Pak Danu juga salah satu orang yang bahagia saat tahu Yudha mengambil keputusan untuk menceraikan Eliana.
Aku yakin Tuan Muda akan bahagia dengan gadis itu.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
"Setelah ini aku ingin mandi, kau siapkan air dan pakaian ganti untukku" kata Yudha setelah selesai makan
Yudha berdiri lalu pergi menuju kamarnya. Sementara Anista membereskan meja makan lalu ikut menyusul Yudha ke kamarnya untuk menjalankan tugas keduanya.
Tok tok tok
__ADS_1
"Tuan.."
"Masuklah"
Anista pun masuk ke dalam kamar Yudha, dia melihat Yudha sedang duduk di sofa dekat jendela dengan majalah di tangannya.
"Cepat siapkan air untuk saya mandi" kata Yudha tanpa menatap ke arah Anista, dia masih sibuk mebolak balikan majalah di tangannya.
"Baik Tuan"
Anista pun segera berjalan masuk ke kamar mandi setelah melewati ruang ganti terlebih dulu. Kamar mandi yang luas dan mewah. Bahkan luasnya lebih luas di bandingkan kamarnya di kampung.
Kamar mandi Sultan mah beda ya. Untung saja dulu saat aku bekerja di laundry tahu caranya menggunakan bathup milik majikan ku dulu.
Setelah selesai mengisi bathup dan menyiapkan peralatan mandi lainnya. Anista keluar dari kamar mandi dan di ruang ganti sudah ada Yudha yang berdiri menunggunya keluar dari kamar mandi.
"Airnya sudah siap Tuan" kata Anista mengangguk hormat
"Hmm"
Yudha berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Anista langsung menyiapkan pakaian ganti untuk Tuannya itu.
Saat sudah mengambil kaos dan celana pendek selutut untuk Yudha. Anista malah bingung sendiri menatap lemari yang masih terbuka.
Setelah menyiapkan pakaian ganti untuk Yudha, tanpa celana d*lam tentunya. Anista langsung keluar dari kamar Yudha dan menuju ke kamarnya di rumah belakang.
...🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝🐝...
Yudha terkekeh saat mendapati pakaian ganti yang di siapkan oleh Anista tanpa adanya celana d*lam. Yudha cukup mengerti karna mau bagaimana pun Yudha belum memperjelas hubungan mereka.
Maklumlah, dia'kan masih gadis. Jadi pasti gugup sekali saat akan mengambilkan celana d*lam ku.
Setelah Yudha selesai berpakaian, dia keluar dari kamarnya. Senyum jahil di bibirnya tak pernah lepas.
Lihat saja aku akan mengerjainya.
"Dimana dia?" Tanya Yudha pada Pak Danu
Pak Danu tentu tahu siapa yang sedang di cari oleh Tuannya itu "Ada di kamarnya, Tuan"
"Baiklah"
__ADS_1
Yudha berjalan menuju kamar Anista, mengabaikan tatapan bingung dari para pekerja lainnya.
Tanpa permisi atau mengetuk pintu terlebih dahulu, Yudha malah langsung masuk ke kamar Anista yang sialnya Anista malah lupa untuk mengunci pintu kamar.
Yudha terdiam mematung, pemandangan di depannya benar benar membuat sisi lain dari diri Yudha kembali terbangun. Bahkan sudah sangat lama dia tidak merasakan gairah ini lagi.
Sial. Kenapa dia tidak mengunci pintu jika sedang berganti pakaian.
Anista sampai menjatuhkan celana dan baju yang baru saja akan dia pakai. Bahkan dia belum menggunakan celana, baru menggunakan celana d*lam nya saja.
"Tu..tuan" suaranya tergagap, fikirannya melayang entah kemana. Tubuhnya bergetar hebat, wajahnya terlihat sangat ketakutan dan tegang.
Yudha tersadar dari lamunan nya "Bodoh! Kau mau menggodaku ya? Sudah tahu sedang ganti pakaian, kenapa tidak mengunci pintu? Untung saja bukan orang lain yang masuk"
Bukan orang lain katanya? Lalu dia siapa? Dia sama saja orang lain.
"Keluar, sa...saya mohon keluar Tuan" teriak Anista dengan suara gemetar
"Hey tenang, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Kenapa kau bereaksi terlalu berlebihan"
Bukannya keluar, Yudha malah mendekati Anista yang terlihat panik. Matanya terlihat gelisah melirik kesana kemari. Maksud hati Yudha hanya ingin menenangkan Anista. Namun, Anista malah semakin ketakutan.
Anista terus berjalan mundur sampai dia terjatuh di tempat tidurnya. Tangganya terus mendekap bagian dadanya yang hanya tertutupi oleh bra saja.
"Jangan, Tuan... Saya mohon jangan, Keluarr!! Keluar Tuan, saya mohon" teriak Anista histeris
"Hey.. Tenang, aku tidak akan melakukan apapun" Yudha memegang tangan Anista yang berontak
"Keluar... Tolong... Jangan lakukan Tuan, saya mohon.. Jangan" teriak Anista semakin histeris dan tidak terkendalikan
"Oke, Oke! Aku keluar sekarang, kau tenanglah"
Yudha pun langsung keluar dari kamar Anista karna takut pekerja yang lain akan mendengar teriakan Anista barusan. Dia juga bingung kenapa Anista bereaksi seperti itu.
Anista menangis sesenggukan sambil memeluk tubuhnya sendiri yang terbalut dengan selimut tipis yang selalu dia gunakan.
Ya Allah, kenapa bayangan itu kembali hadir dalam fikiranku? Nist teh takut.. Hiks hiks.
Sementara Yudha masih bingung dengan sikap Anista barusan. Dia melihat Anista bagaikan kelinci kecil yang akan melompat karna ketakutan tertangkap oleh pemangsanya. Matanya yang menatap kosong dan terlihat melirik ke sana kemari dengan gelisah dan takut.
Sebenarnya dia kenapa?
__ADS_1
Bersambung